
Netra indah wanita cantik itu terlihat menatap sendu wajah pucat suaminya, tangannya mengelus lembut kepala keangkuhan itu dengan bibir yang mengecup penuh cinta kening suaminya.
"El!"
"Hmm!"
"Makan ya Sayang?" Exell menggeleng seraya membenamkan wajahnya kegudukan sintal itu dengan tangan yang memeluk tubuh istrinya, entahlah, baru pertama kali ini ia merasa sangat nyaman jika sedang tak enak badan.
Kinan menghela nafas berat, mereka sudah pulang Kediaman Mohana tadinya, Kinan khawatir jika Exell tak mau melakukan apapun jika ia tak ikut pulang, apalagi sedari Kemaren suaminya sangat sibuk hingga jarang istirahat.
"El!"
"Hmm!"
"Kinan mau ambil obat dan Makananya?"
"Tidak usah!"
"El! kau sedang sakit sayang, kau butuh obat dan makanan!"
"Aku butuh kau saja!" gumam Exell dengan mata terpejamnya, ia memang merasa kepalanya pusing dengan tubuh yang panas, tapi dengan memeluk tubuh molek ini ia tak mengeluh sama sekali, sakit ini tak ada artinya dibanding rasa leganya setelah menemukan wanitanya ini.
"Sayang! Kau harus Makan!"
"Tidak mau!"
"Exell!" geram Kinan menunjukan ketegasannya, pria ini memang harus diberi pencerahan untuk lebih memperhatikan kesehatannya.
"Aku tidak sakit! aku hanya ingin seperti ini saja sayang!" rengek Exell semangkin membenamkan wajahnya kedua benda kenyal itu, sesekali ia mengecupnya gemas membuat Kinan menggeleng-geleng jengah saja.
"Lepas!"
"Mau apa sayang?"
"Turun!"
"Tidak mau!" kekeh Exell semangkin mengeratkan pelukannya, ia tak memperdulikan Kinan yang menggeram akan tabiat Exell yang sangat keras kepala.
"Ell hiks hiks, Makan ya Sayang..Kinan nagis ini!" rengek Kinan menagis tanpa air mata membuat Exell gemas bukan main. ia mengecup lama dan penuh tekanan bibir Kinan yang sangat kenyal dan lembut.
"Ummmmmuaah!"
"Ell!" pekik Kinan menepuk punggung suaminya yang kelewat messum ini. tapi Exell tersentak teringat sesuatu.
"Sayang!"
"Apa El?"
"Aku menciumu!"
"Jadi?"
"Akh Shitt! aku sedang sakit, kau bisa tertular nanti!" pekik Exell lansung menjauhi Kinan yang menautkan alisnya bingung, ia bersandar kekepala ranjang menatap sinis wajah Tampan suaminya.
"Kenapa menjauh?"
"Kau bisa tertular nanti sayang!" ucap Exell seraya ingin melangkah Turun, namun Kinan lansung menjentikan jarinya sehingga membuat Exell tumbang kedekat tubuhnya.
Whuss..Bugh..
"Kinan!"
"Apa?" sinis Kinan acuh, ada-ada saja pemikirkan Pria Tampan ini, sakit? cihh, ia tak masalah harus sakit kalau mau berciuman begitu.
"Sayang!" Exell mencengkal tangan istrinya yang ingin melangkah turun dari ranjang membuat Kinan terhenti.
"Ada apa?"
__ADS_1
"Mau kemana?"
"Keluar! kau bilang tadi takut aku tertular!" Exell menelan ludahnya berat mendengar suara Aliniya itu, pasti wanita ini sedang kesal sekarang.
"Baiklah! tapi nanti kembali lagi ya?"
"Tidak mau!"
"Kinan!" rengek Exell seraya memeluk Kinan dari belakang dengan kepala yang tersandar ke tengkuk jenjang itu.
Kinan menghela nafas, sepertinya sekarang ia harus belajar menjadi seorang ibu lewat tingkah Suaminya yang keras kepala dan juga sangat manja, tapi ia suka.
"El!"
"Apa Sayang?" tanya Exell seraya mengelus perut buncit istrinya, ia tak sabar menanti perut ini datar lalu menatap sang buah hati yang pasti akan menggangu kemesraan mereka nanti.
"Menurut ya Sayang?"
Exell mengangguk patuh membuat lekukan indah bibir sensual itu melengkung senang, Kinan kembali memposisikan tubuh mereka seperti semula dengan Exell yang masuk kepelukannya tapi tubuhnya tertutupi kekekaran suaminya ini.
"Mau apa?"
"Mau minta obat sama ibu! pagi ini saja ibu memberi Kinan Ramuan El, jadi Kinan yakin El akan cepat sembuh!"
"Hm Baiklah!"
"Sekarang istirahat dulu!"
"Baik Sayangku!" patuh Exell merasa nyaman dengan belaian tangan lembut itu didekapalanya, sesekali Kinan mengecupnya lembut seraya tangan satunya mencari nomer ibunya.
"Ada apa Sayang?"
"Ibu! El sedang sakit, apa ibu bisa buatkan obat seperti yang diberikan pada Kinan?"
"Suamimu Hamil?"
"Ha?"
Cihh! benar-benar menggemaskan.
"Maksudnya Ibu?"
Terdengar helaan nafas diseberang sana, Kinan berfikir seraya tangan yang masih mengelus kepala suaminya ini.
"Suamimu Demamkan?"
"Iya! lalu?"
"Sudahlah! sepertinya kau harus banyak belajar sayang, nanti ibu kirimkan, kau jangan banyak beraktifitas, biar suruhan ibu yang mengirimnya"
"Iya ibu! Terimakasih"
"Baik Sayang! yasudah, jaga diri baik-baik Nak"
"Ok Bu! Kinan Sayang ibu!"
"Ibu juga Putriku"
Kinan mematikan sambungannya, untung saja ia sempat meminta nomer ibunya tadi, kalau tidak pasti ia akan membatin lagi.
"Prufftt!"
"Kenapa tertawa?"
"Tidak ada!" elak Exell kembali memejamkan matanya, bagaimana bisa sakitnya ini tambah parah jika wanita ini memberikan hiburan yang membuatnya geli hingga tak menghiraukan apapun.
"Apa yang salah dari ucapan Kinan ya?"
__ADS_1
"Tidak ada yang salah sayang! cuman salah arti saja!"
"Hm! begitukah?"
"Yah baby!"
Kinan manggut-manggut mengerti seraya membiarkan Exell mengeksplor tubuhnya sebagai obat penenag pria ini, ia sesekali menggeliat saat puncak bukitnya malah ditoel gemas lidah basah itu.
........................
Sedangkan diruang kerja sana, keheningan melanda dua manusia yang sedang fokus eh bukan fokus, tapi berusaha untuk fokus dalam mengerjakan pekerjaan hari ini.
Mata Elang pria itu sesekali menatap wajah tertutup masker Gea yang juga tak ingin bertatap lama dengan Asisten Dion, ia hanya curi-curi pandang saja.
"Ehm!" Asisten Dion berhem untuk menormalkan kecanggungan ini, ia bersandar kekursi kerjanya dengan tangan yang bertaut melenturkan otot-ototnya yang pegal.
"Kau sudah selesai?"
"Aku?"
"Hm! lalu siapa lagi? hanya kita berdua disinikan?"
"Akh Iya! oh ini masih belum, mungkin aggak lama!"
"Apa yang tak kau mengerti?"
"I..Itu..!" Gea gugup saat Asisten Dion malah bangkit menuju meja kerjanya, tubuhnya bergetar saat menghirup aroma Maskulin yang meruak dari tubuh gagah itu.
"Bisaku lihat?"
"Ah iya! yang i..ini!" Gea menunjuk Kurfa saham yang tiba-tiba menurun ditahun sebelumnya lalu naik ditahun sekarang, apalagi dengan jumlah invstor yang semangkin memuncak membuatnya sulit mencari solusi.
"Hmm!" Asisten Dion lansung melihat berkas dan layar Laptop Gea dengan teliti, ia duduk disamping wanita itu dengan kurisnya yang ia dekatkan kekursi Gea membuat wanita itu semangkin gugup saja.
"Ini hanya masalah kecil, kau bisa bagi mereka menjadi beberapa kelompok lalu adakan pertemuan sebanyak bagian yang kau buat, rangkap semuanya menjadi satu dan untuk Kurfa kau bisa menelitinya dari perlonjakan saham dari Tahun sekarang!" jelas Asisten Dion lugas dan padat, Gea memangku dagunya dengan satu tangan seraya menatap wajah Tampan Asisten Dion yang sangat membuatnya terpesona.
"Aku baru sadar kalau kau sangat tampan!hm.. Manis" batin Gea gemas mengigit bibir bawahnya, untung saja ia memakai masker hingga wajahnya tak terlalu tampak.
Bukannya fokus Asisten Dion malah panas dingin dengan tatapan netra cantik itu, ia menegguk ludahnya berat menghirup aroma parfum Gea yang meneggangkan.
"Ka..Kau sudah mengerti?" Gea diam dengan lamunan yang masih berlanjut membuat Asisiten Dion salah tingkah.
"Ge..Gea!"
Pugh..
"Ha?" Gea terlonjak kaget akan tepukan lembut Asisten Dion dipipinya, ia bersemu saat netranya bersitatapa dengan mata Elang itu.
"Ah Apa?"
"Kau mengerti?"
"A..i..hmm! Me..Mengerti!"
"Apanya?"
Degg..
Gea menelan ludahnya kasar, padahal otaknya tak konek sama sekali, bahkan sedari tadi ia hanya memikirkan wajah tampan pria ini.
"I..Itu hm..A..Aku!"
"Sudahlah! kau mau makan?" tawar Asisten Dion yang menatap jam tangannya yang sudah menunjukan pukul 2 siang.
"Hm belum! kau duluan saja, aku..aaa!" Gea terpekik saat tangannya malah ditarik pria itu hingga berdiri sejajar.
"Aku tak bisa ditolak Nona!" ucap Asisten Dion lalu melangkah diikuti Gea yang merasa begitu nyaman dengan gengaman tangan kekar ini, ia tak berhenti tersenyum mencuri pandang kewajah tampan itu.
__ADS_1
.....
Vote and Like Sayang..