Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Putus asa..


__ADS_3

Dikamar yang ramai itu, terlihat belasan Dokter wanita yang berjejer melihat keadaan Nona Muda mereka, wanita itu terus meringis kesakitan dengan dekapan hangat sang suami yang selalu memeluknya erat.


wajah panik Keluarga Mohana tak lagi bisa di sembunyikan karna hal ini sangat serius, bahkan, Pria Tampan yang biasanya hanya bersikap dingin dan datar itu sekarang seperti sudah kelam mendengar rintihan istrinya.


Dia tak berkata, tapi wajahnya yang mengungkapkan segalanya, bibir Pria itu tak henti hentinya mengecup pelipis sang istri yang berkeringat menahan sakit.


"Sakittt hiks hiks!"


"Bagaimana?" tanya Exell dengan suara beratnya, ia sungguh tak bisa bernafas normal sekarang, sudah beberapa Dokter yang memeriksa istrinya, namun tak satupun yang bisa menghilangkan rasa sakit itu.


"Kami sudah berusaha dengan sangat baik Tuan! Tubuh Nona muda baik baik saja, tak ada luka atau penyakit apapun!"


Mereka terduduk lemah dengan air mata yang menetes melihat Kinan yang terus merintih tak kuat, Exell menatap nanar wajah wanita ini. bibirnya bergetar menahan sesuatu yang ingin keluar.


"Pergilah!"


Mereka terkejut dengan suara yang begitu angkuh itu terdengar sangat putus asa dan penuh rasa sakit, Exell menyembunyikan wajahnya ke ceruk leher istrinya. ia tak ingin menunjukan sisi lemahnya pada mereka.


"Aku bilang pergi dari siniii!" bentak Exell membuat mereka lansung berhamburan keluar, Dokter Denis mengontrol para Dokter Spesialis diberbagai rumah sakit internasional ini dengan anggota keluarga Exell yang masih setia menemani Pria itu.


"Ell! Momy..!"


"Tinggalkan Kami berdua Mom!" pinta Exell dengan suara lembutnya sedikit tersendat karna ia mulai mengeluarkan isakan kecil itu membuat Momy Chalista meneteskan air mata.


baru kali ini ia melihat sang Putra yang sedari dulu kuat sekarang begitu rapuh ibarat abu yang ditiup akan melayang kemanapun.


"Sudahlah! Ayo kita keluar!" ajak Dady Arkan yang mengerti akan perasaan putranya yang sudah tak menentu.


Mereka keluar menutup pintu kamar itu dengan rapat, isakan kecil itu perlahan keluar dari mulut keangkuhan Exell.


ia hanya bisa meluapkan tangisan halusnya diceruk leher istrinya yang mencengkram dadanya kuat untuk meredam sakit, pelukannya menguat dengan keperihan yang melanda pernafasan dan hatinya.


"Sayang hiks hiks! Aku..aku harus apa?" serak Exell putus asa, sungguh ini sangat menyakitkan baginya, saat ia tak berguna sekalipun berada didekat istrinya.


ia hanya bisa melihat bagaimana Perjuangan istrinya menahan sakit tanpa tahu apa yang bisa menghilangkan rasa itu.


"Suttt! Sudah..Sudahlah El! Kinan uhukk Kinan tak apa apa!" jawab Kinan dengan suara tertekan menahan sakit didadanya, ia merutuki dirinya yang tak bisa menahannya sedikitpun.

__ADS_1


"Kau bilang tidak apa apa ha? ini apa..kau Sakit Kinan! lalu kau masih bilang tidak apa apa!" bentak Exell menyala nyala. ia sudah sangat sesak dengan semua ini dan wanita ini malah membuatnya bertambah hilang akal dengan pernyataan tak masuk akal itu.


"Lalu..lalu kinan harus apa El hiks hiks! Kinan memang harus begini!" isak Kinan menatap Exell yang mengalihkan tatapannya pada objek lain. sungguh ia tak kuasa menahan isakan itu.


"apa harus begini?"


"hmmm!" jawab Kinan memeluk Exell yang bungkam mematung ditempatnya, ia membenamkan wajahnya kebelahan dada bidang itu.


Kinan membuka kaos yang membalut tubuh gagah suaminya, ia membenamkan wajah cantiknya ke dada bidang Exell memberikan ketenagan padanya, inilah yang hanya bisa meredam rasa sakitnya itu. ia hanya ingin merasakan kehangatan dari tubuh ini.


"Kinan!" panggil Exell saat tak ada pergerakan dari sang istri, tiba tiba pikirannya tertuju pada suatu hal hingga Exell lansung menagkup pipi pucat istrinya.


"Sayang!" panggil Exell takut apa yang dipikirannya terjadi, namun ia seketika tersadar saat kelopak mata indah itu kembali terbuka menatapnya lembut.


"Ell!"


"Jangan Tinggalkan aku!" isak Exell memeluk Kinan yang mengangguk membalas perlakuan suaminya. ia mencoba terlelap meski rasa sakit itu masih mencabik dadanya.


"Kinan lelah!"


"Tidurlah Sayang!"


Gejolak kesedihan itu terlihat nyata dinetra biru pria itu, ia tak bisa membiarkan ini terlalu lama.


Jiwanya seakan terhisap dalam lembah kematian melihat sang istri yang sudah ia Cintai seluruh jiwa dan raga itu merintih kesakitan.


"Aku akan melakukan apapun Sayang!"bisik Exell pada Kinan yang sudah terlelap, terbukti dengan hembusan nafas wanita ini begitu tenang dengan pelukan yang mengendur.


tangan Pria itu menyingkirkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya, jempolnya mengusap bibir pucat kemerahan itu dengan lembut.


apa ia tahan hidup tanpa wanita ini disisinya? apa ia sanggup menatap dunia tanpa kehadiran Sang istri disampingnya?


Pertanyaan Pertanyaan itu berkeliaran dibenak Exell.


Aku tak bisa hidup tanpa mu! Cihh..bukankah kita hidup karna makanan, bukan karna mereka. Sungguh menjijikan.


Yah.. Mungkin itu pikiran sebagian orang yang tak pernah merasakan bagaimana rasanya diposisi Exell sekarang.

__ADS_1


Ia memang akan Makan, tetap hidup menjalani hari esoknya. tapi apakah situasinya akan sama? apa Nafsu makannya, semangat hidupnya itu seperti semula?


Ohh tentu tidak..Mereka hanya berkata, tapi tak tahu apa yang sebenarnya terjadi! Hidup secara fisik, tapi tidak dengan batin.Memahami ini sangat sulit karna kalian menganggap tak ada lagi cinta sejati itu.


"Kau yang pertama datang padaku Sayang! kau sudah sakit dari awal kita bertemu, kalau kau tak memaksakan dirimu, aku tak mungkin melihat kau menjadi begini! Mengapa kau sangat mencintai ku Kinan?"


Exell mengecup lama bibir manis itu, ia meresapi rasa yang mendesir didalam lubuk hatinya. ia sangat bahagia dengan Cinta tulus dan suci milik wanita ini. tapi, Cinta itu malah membuat diri Kinan sendiri menjadi tersakiti.


Ia tak sanggup. Ini terlalu membuat ia buta dan hilang akal. sikap posesif dan egoisnya sangat meruak mengurung tubuh dan jiwa gadis ini.


disaat bibir mereka saling menyatu. Exell tersadar dengan sesuatu, Bukankah Renata juga berperan dalam hal ini? yah..wanita itu pasti tahu apapun untuk mengobati istrinya.


"Sayang! kau tenang saja, pulang nanti aku akan membuat kau lebih baik! kau tak akan merasakan ini lagi!"


Exell perlahan melepas pelukannya dan mengganti bantalan kepala sang istri dengan bantal disampingnya, setelah beberapa lama. ia selesai menyiapkan segalanya.


"Tunggu aku!" bisik Exell mengecup bibir itu kilas lalu melangkah pergi keluar kamarnya.


Setibanya disana, Exell menatap anggota keluarganya yang terlihat menunggu mereka.


"Boy! bagaimana keadaan Kinan?"


"Kak! Kakak Kinan baik baik saja Kan?"


"apa Kinan sudah baikan?"


deretan pertanyaan itu menyerbu Exell yang merasa sedikit lega karna keluarganya ikut menghawatirkan Wanita itu.


"Istriku tertidur! Tolong jaga dia ya!" pinta Exell pada mereka yang mengangguk lalu menatap Exell yang sudah masuk kedalam Lift sana.


"Kakak tak ada lelahnya!" gumam Serly prihatin. Tubuh Pria itu memang tak sempat istirahat.


Dari perusahaan, Kerja yang kuat, belum lagi kegiatan yang penting Pria itu lakukan hanya demi sang istri tercintanya.


apalagi masalah besar ini. Shitt... kapan semuanya bisa berakhir. ia ingin sekali melihat sepasang pasutri itu hidup aman tanpa gangguan.


....

__ADS_1


Vote and Like..


__ADS_2