
Mentari telah naik sepenggalan tangan dengan senyuman indahnya, ia seakan tak tahu bagaimana suasana hati, kerendungan jiwa Mahluk yang terus ia sinari setiap harinya.
Itulah Mentari, suatu keluarga tata surya yang tetap tersenyum menjalankan tugasnya walau banyak awan hitam dan petir yang terkadang menganggu peredarannya. Tapi, ia tetap muncul dipagi hari, dan tenggelam jika menginjak malam hari.
Apa ada yang sanggup sepertinya? Cihh..tentu saja tidak, Mahluk manapun tak akan sanggup tersenyum seperti sediakala saat hantaman gelombang besar yang merobohkan kehidupannya, Tak akan ada yang mampu menyainginya, walau ia bisa bermanfaat dan bisa jadi ancaman bagi Mahluk di bumi ini.
Begitulah kiranya, gambaran suasana hati dan rumah tangga gadis cantik ini, wajahnya sangat sempurna, Tubuh yang memiliki pesona yang tak terbantahkan dengan nilai plus tak tertandingi, tapi dia hanya sosok lemah yang mengharapkan belas kasihan dari sang pencipta untuk meraih kehidupan penuh warna dan cinta.
"Makanlah! hmm?"
Kinan menggeleng membuat mereka saling pandang iba, netra indah itu tak henti hentinya menatap kearah Lift dan tangga Mashion, ia beharap Sang suami yang semalam menorehkan luka dihatinya itu, melangkah turun menemuinya dengan senyuman penuh cinta.
"Kak! Kakak Exell pasti akan turun untuk makan, sekarang kakak makan saja dulu!"
"Iya Kak! Nanti Kak El pasti bergabung!"
Serly dan Vina mencoba membujuk Kinan yang tetap saja kekeh dengan pendirianya, namun, Kinan lansung berdiri dari duduknya, matanya berbinar bak seorang anak kecil yang melihat mainan dengan kedatangan sang belahan hati yang ia tunggu.
"Tidak usah!" ucap Exell dingin saat Kinan ingin melayaninya makan, ia hanya mengambil air dan Roti saja.
"El! Kau tak makan?"
"Hmmm!"
"Elll! Makanlah, Kinan ingin..!"
"Kau bisa diam ha?"
Brakk..
"Exell! kau seharusnya jangan begitu!" bentak Gebriel menggebrak meja makan merasa kesal dengan ucapan Pria ini, ia sakit hati melihat gadis yang ia cintai malah di perlakukan tak mengenakan begini.
"Aku tak melakukan apapun!"
"Ell hiks hiks!" isak Kinan ingin menggapai tangan sang suami tapi Exell dengan kasar menepisnya. mereka merasa sungguh aneh dengan perubahan pria ini.
"Lihatlah Dia! apa aku akan berselera makan jika dia hanya menagis dan menagis! kau hanya bisa merusak pandangan mataku disini!" bentakan Exell menatap tajam Kinan yang lansung terlonjak kaget dengan ucapan pria itu, apa lagi mereka lansung berdiri tak akalah kaget.
"Exell! jaga bicaramu?" geram Momy Chalista pada Exell yang hanya bungkam seperti membatu akan tatapan tajam mereka.
"Aku benar Mom! dia hanya bisa menagis membuat aku mauk melihat wajah lemahnya!"
__ADS_1
"Kenapa?" lirih Kinan tak tahan lagi mendengar caci maki ini, ia berdiri dihadapan Exell yang hanya menatap lurus tanpa berani menatap Kinan yang memandangnya penuh luka dan kesedihan.
"Kenapa ha?" bentak Kinan pada Exell yang mengepalkan tangannya erat, sungguh dadanya sesak berada disituasi seperti ini, ia tak kuat.
"Siapa yang mau dengan wanita penyakitan sepertimu?"
Bugh...
Gebriel lansung memberi bongkaman panasnya ke wajah Exell yang hanya diam, dengan setetes air mata yang lewat dipelupuk netranya.
"Kau gila ha?" bentak Gebriel mencengkram kuat kemeja Exell yang hanya diam bungkam.
Momy Chalista melihat itu semua, Keterpaksaan dan luka itu begitu jelas dimata keduanya, Kinan sudah terduduk lemas di kursinya memeggangi dadanya dengan menatap penuh rasa sakit pada Sang suami yang hanya menunduk membendung air mata.
"apa El malu mempunyai istri seperti Kinan?"
"Yah!"
"Exell tak mencintai Kinan?"
"Y..Yah!" lirih Exell dengan suara yang bergetar, sumpah demi apapun ia ingin lari dari semua ini.
Namun, angin kencang itu kembali mengguncang Mashion Mohana, mereka semua kalang kabut melihat gulungan udara yang tadinya tenang terlihat seperti badai kemaren.
"Momy!" pekik mereka saat Momy Chalista terpental ke dinding Mashion, dady Arkan mengamankan istrinya yang terluka akibat benturan penyerangan tiba tiba ini.
"Berlindung!" teriak dady Arkan merasa angin kali ini sangatlah kuat, terbukti dengan perabotan Mashion yang berjatuhan membuat suasana begitu tak terkendalikan.
Prank...Prank....
Kinan hanya berdiri ditempatnya, ia menatap keluarga yang terlihat kacau berlarian kesana kemari mencari tempat berlindung,
"*Bunuhh Merekaaa!"
"Kalian akan Matiii*!"
Suara itu begitu lantang dipendengaran mereka, tak lagi ada persembunyian, ia sudah dengan lantang bersuara pada mereka.
Bugh..
"Momyyy!" teriak Serly saat Momy Serlin terhempas ke lemari kaca disamping mereka hingga terpecah.
__ADS_1
Prankkk...
Pecahan kaca itu berhamburan, Para Pria disana mengamankan para istri mereka, para penjaga Mashion berjaga jaga melindungi Majikan mereka.
"Kinan! Kesini Nak!" teriak Momy Liona pada Kinan yang hanya mematung ditempatnya, air mata gadis itu terus mengalir menatap Exell yang sedang memangku kepala Momynya yang berdarah.
"*Bunuh mereka Adikkkk!"
"Jangan Alinnnnn!"
"Bunuhh! Mereka adalah awal kehancuranmu*!"
"Kinan! Sadarlah!" teriak Gea ingin menggapai tubuh Kinan yang sudah diselumbungi asap hitam. netra gadis itu tak mengalihkan tatapannya dari sang suami yang juga menatapnya tajam.
apa masih ada harapan? Bisa kau tarik ucapanmu Elll?" jeritan kesakitan Kinan meminta belas kasihan pada Exell.
"Hentikan semua ini! berikan Kinan waktu untuk menyelesaikannya!" batin Kinan memejamkan matanya menetralkan rasa itu, ia sudah mengambil keputusan untuk menyelesaikan atau menjalani semua ini.
Ajaibnya, perlahan badai ini berhenti, barang barang yang tadinya pecah kembali tertata dengan rapi, mereka tengangak dengan sihir semacam ini,
"uhukk!" Momy Chalista terbatuk darah saat dadanya tadi terbentur dinding ini dengan keras, apalagi Momy Serlin yang terlihat bersimbah darah dibagian punggungnya.
"Panggilkan Dokter!" titah Exell menggendong Momynya ke kamar atas, ia sekarang sudah panik melihat keadaan keluarganya yang terkena imbas akan masalah ini.
Semuanya sibuk akan urusannya masing masing, terlihat sekali raut kepanikan diwajah wajah keluarga Mohana.
"Nyonya Muda! Kau obati luka dihidung anda!"
Deggg..
Kinan meneggang ditempatnya mendengar semua itu, ia menatap pantulan dirinya di kaca lemari Mashion, alangkah gemetarnya Kinan meraba hidungnya yang mengeluarkan darah segar.
"Sekarang hanya keputusanmu El!" lirih Kinan tersenyum sinis melihat darah yang ada di hidungnya, ia akan berusaha membenarkan retakan rumah tangganya kembali.
tapi jika tidak, Maka..Kinan harus rela melepas nyawanya demi kehidupan aman keluarga ini. ia akan berusaha sampai akhir menentukan jalan kehidupanya.
Sesak? Tentu ia rasakan, otaknya linglung mencari jalan keluar dari masalah ini. ia berharap Exell mau merangkuhnya menenagkan semua rasa sakitnya.
tapi apalah daya, Pria itu hanya menuai luka yang mencabik cabik jantungnya hingga hanya menunggu keajaiban untuk merasakan belaian dan suara halus itu lagi.
....
__ADS_1
Vote and Like Sayang..
Hayoo..yang ngevote dan Likenya..author kesayangan ini menunggu usapan jempol dari jari kalian hihi..maksa bed dah ini author..kagak pengertian baek 😂