Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Kehamilan Gea!!


__ADS_3

Mereka semua terlihat khawatir menatap wajah pucat seorang wanita yang sedari tadi Muntah-Muntah diruang istirahat sana, pria tampan itu terlihat menopang tubuh istrinya yang sedang mengeluarkan isi perutnya di Wastafel kamar mandi itu.


Oeeekk...Hueeekk..


"Sayang!" lirih Asisten Dion merasa kasihan melihat wajah pucat dan bibir tanpa rona istrinya, keringat dingin itu terus keluar didahi Gea dengan mata yang berair karna muntah terus.


Hueeekkk...Oeeekk..


"A..Air!"


Renata lansung memberikan segelas air ketangan Asisten Dion yang lansung meminumkannya pada Gea, wanita itu tampak sudah lelah dengan tubuh yang bergetar.


"Apa sudah lebih baik?"


"Hm!" gumam Gea mengangguk lemah, Asisten Dion lansung menggendong tubuh istrinya menuju kemar di Istana Selatan ini yang khusus untuk anggota keluarga oleh Exell.


"ada apa dengan Gea?"


"Aku tidak tahu! sedari tadi Gea memang lemas dan hanya suka menyendiri!"


jawab Renata pada Kinan yang baru datang dengan Exell, pria bernetra biru itu tampak menatap wajah Gea intens seakan menduga sesuatu.


"Kinan rasa gejalanya mirip seperti Kinan pas mengandung!"


Duarr..


Asisten Dion meneggang ditempatnya, tatapan netra pria itu terlihat penuh arti memandang perut istrinya, Gea tak menghiraukan pembicaraan mereka karna ia sudah lebih dulu memejamkan mata menahan pusing dan mual bersamaan.


"Itu hanya duga'an, kau bisa memeriksanya kedokter!" ucap Gebriel yang lansung membawa Momy Serlin yang membawa dua cecunguk itu.


"Apa kami punya ponakan?"


"Sutt!"


Gebriel lansung membekap mulut kedua sepupunya itu, mereka sedari tadi tak mau diam.


"Apasih Kak?"


"Diamlah, kalian berisik!"


Serly dan Vina hanya manyun saja, Momy Serlin lansung memeriksa keadaan Gea yang terlihat sangat lemah, Gebriel dan Exell keluar karna tak ingin menganggu kegiatan itu.


"Kapan Kau teakhir datang bulan Nak?"


Gea berusaha mengingat, tapi ia lupa kapan terakhir itu terjadi.


"Satu minggu yang lalu!" sambung Asisten Dion yang sudah memantau semuanya, ia tahu kapan jadwal wanita ini datang bulan, karna ia tak akan berhenti menggempur sebelum cairan merah itu menyiklus.


"Kau yakin?"


"Iya Nyonya!"


Momy Serlin melakukan pemeriksaan lebih lanjut, ia menekan perut Gea pelan untuk memeriksa apakah wanita ini memang benar hamil atau hanya gejala Mag saja?


"Dari semua gejala dan denyut jantung istrimu! dia memang hamil!"


Asisten Dion lansung tersenyum bikan main, ia sudah menduga ini akan terjadi, tapi ia tak mau berharap karna takut kecewa.


"A..apa anda benar Nyonya?"


"Kau meragukan kemampuanku Nak?"


Asisten Dion menggeleng membuat mereka semua tersenyum menahan geli, pria ini sebentar lagi akan menjadi ayah, pantas saja wajahnya sangat berbinar.


"Sayang!" lirih Gea membuka matanya, ia mendengar semua itu tapi masih remang-remang ia rasakan.

__ADS_1


"Hm!"


"Apa ada..!"


Asisten Dion mengangguk dengan wajah yang tak bisa dijabarkan lagi bagaimana bahagianya ia, Gea menagis dengan isakan halusnya dirangkuhan tubuh gagah suaminya.


Renata ikut bahagia dengan semua itu, tapi ia terlihat murung karna ia belum hamil sampai saat ini.


"Renat!"


"Hmm!"


"Apa kau tak suka aku hamil?" lirih Gea takut Renata masih marah dan dendam padanya, ia takut kalau Renata masih belum memaafkannya.


"Kenapa bicara begitu hm?" Renata mendekati Gea yang terlihat mengembun menatapnya sendu, dua saudari sedarah itu terlihat memiliki ikatan batin yang kuat.


"Aku ikut bahagia dengan kehamilanmu! kau Adikku, tentu aku akan sangat senang!"


"Terimakasih!" Gea memeluk Renata yang dengan senang hati membalasnya, setidaknya, Gea sudah menjadi seorang ibu hingga membuat rumah tangganya lengkap.


Mereka saling memberi selamat, tiada hentinya berucap kebahagiaan, Asisten Dion juga terlihat semangkin tak ingin lepas dari istrinya.


"Gea!"


Mereka lansung menatap Ratu Dahliya dan Momy Chalista di ambang pintu sana, Momy Liona dan Momy Mela tampak membawakan buah dan sebuah minuman.


"Habislah Gea!" gumam Kinan sedikit menjauh, ia sangat kenal dan akrap dengan Ramuan hijau yang dibawa Momy Liona, pasti itu si pahit yang terus menggerogoti kerongkongannya dulu!


"Iya Yang Mulia!"


"Tidak usah begitu! panggil saja seperti Kinan memanggilku!"


"Baik ibu!"


Gea menatap Kinan yang terlihat bergidik melihat benda itu, mereka mengulum senyum geli akan kelakuan wanita cantik satu itu.


Momy Chalista dan Momy Liona memberikan benda itu, Baby Ars yang sudah ada digendongan Exell pun menatap sendu Gea dengan sangat lembut, bayi unyil itu seakan ikut senang dengan kehadiran Mahluk bening itu, tapi tentu tak akan sama dengan Spesies langka sepertinya.


"Kinan!"


"Ki..Kinan ada urusan I..ibu!" ucap Kinan lansung berlari keluar, Gea bergidik merasakan bagaimana ngerinya Kinan dengan Minuman satu itu.


"Memangnya sangat pahit ya?"


"Tidak nak! Kinan itu hanya ingin kau merasa takut saja, minumlah!"


Gea mengambil gelas itu, tanpa curiga sama sekali, ia menegguknya lancar.


Namun, matanya terbelalak merasakan pahit yang begitu kental mengalir keseluruh ruang di mulutnya.


"Oeekmmm!"


"Jangan dimuntahkan!"


"Sayang!" Asisten Dion membekap mulut istrinya yang ingin muntah, wajah Gea sudah merah pasih merasakan ini sangat pahit.


Kinan!!!! kau benar!!!


batin Gea berteriak penuh rasa, ia hanya bisa pasrah menelan minuman itu dengan bantuan Suaminya yang mengarahkan untuk menegguknya tandas.


.........


"Sayang!"


Exell menghampiri Kinan yang terlihat gembira mengintip dari balik pintu kamar sana, senyuman wanita itu begitu mekar dan mempesona.

__ADS_1


"Kinan!"


"Ah iya El!"


"Kenapa mengintip begitu?" tanya Exell berdiri dibelakang istrinya, ia baru saja keluar dari kamar itu karna Baby Ars tak tahan dengan aroma Obat yang Momy Serlin suntikan pada Gea tadi.


"Gea juga kena sayang!"


"Kena apa sayang?"


"Gea juga Minum Ramuan ibu Kinan!"


Exell menggeleng geli melihat wajah cantik istrinya yang tampak sangat bahagia.


"Baiklah, sekarang ayo kita pulang! ini sudah mau malam!"


Kinan mengangguk dan melangkah beriringan dengan Exell yang membelit pinggangnya erat, mereka sesekali terlihat bercanda tawa di iringan langkah sana.


"Sayang!"


Renata yang tertegun didepan pintu sanapun tersentak saat suara lembut Gebriel yang lansung memeluknya.


"Ada apa hm?"


Renata memaksakan senyum biasanya, ia menggeleng memeluk pria itu.


"Tidak ada!"


Gebriel menghela nafas halus, ia tahu apa yang dirasakan wanita ini, mau bagaimanapun mereka berdua sudah pas untuk memiliki anak, tapi, ia tak memaksakan itu karna hanya ingin hidup bahagia bersama istrinya saja.


"Kenapa menagis?" tanya Gebriel terkejut saat Renata malah menagis dipelukannya, wanita itu tak mau menatapnya dan hanya membenamkan wajah cantiknya ke belahan dada Gebriel.


"A..Aku..!"


"Sayang!"


"Aku tak bisa punya anak hiks hiks!"


"Hey!"


Gebriel menagkup wajah wanita itu, Renata masih engan menatap suaminya, ia takut, ia sangat tak sanggup jika ia memang tak sesempurna para Saudarinya.


"Kenapa bicara begitu? kau..!"


"Aku takut sayang hiks hiks!"


"Suttt!"


Gebriel menghapus lelehan bening yang keluar itu, Renata terlihat malu sekaligus sedih akan keadaannya sekarang.


"Kau hanya menebak sesuatu yang tak pasti!"


"Tapi, sampai sekarang aku..!"


"Kita baru menikah selama beberapa minggu saja, wajar kalau kau belum hamil sayang, mungkin aku kuras berusaha keras!"


"Tapi, Kita sudah melakukannya hampir setiap hari, tapi kenapa Bayinya tak hadir? hiks hiks!"


Gebriel mengulum senyum geli, antara gemas dan menggelitik hati, Wanita ini sangat parnoan.


"Baiklah, Nyonyaku sayang! ayo kita istirahat supaya Bayinya akan ada!"


Gebriel mengiring istrinya untuk pergi, Renata hanya bisa pasrah, lagi pula, ia sangat ingin mahluk mungil itu.


......

__ADS_1


Vote and Like Sayang..


__ADS_2