
Deru Mobil mewah itu melaju ditengah gelapnya malam berbintang ditengah bulan itu, tapi, Keluarga Mohana yang sudah membintuti Mobil pengantin baru itu terhenti saat Dua Mobil dihadapan mereka berhenti tiba-tiba.
"Ada apa Boy?" tanya Dady Arkan bingung, Keluarga Charlos dan Dady Arnold-pun bingung dengan mereka, apalagi Mobil Exell yang tak lagi mereka lihat.
"Dad! kalian pulang saja duluan?"
"Kenapa?" tanya Momy Chalista dan Momy Fania bingung, mereka berbicara lewat kaca Jendela yang dibuka dengan mobil yang saling tertata beriringan.
"Kami ada urusan Mom! bawa semua anggota keluarga ke Mashion, mereka pasti lelah!"
"Baiklah! jaga diri kalian baik-baik!"
"Dady titip cucu!" Teriak Dady Arnold yang tak sabar mempunyai cucu dari Gebriel putranya seperti Exell keponakannya.
"Dua sekaligus! Dion Momy mintak satu!" Teriak Momy Fania dan 3 wanita yang menjadi istri-istri dari paman-paman Gebriel.
"Iya Nyonya!"
Mereka kembali melajukan Mobilnya meninggalkan Mobil Gebriel dan Asisten Dion.
"Kita kemana Tuan?"
"Kemana Kutu itu pergi! kita harus ikut, Proyek putra tunggalku tak boleh gagal!" ucap Gebriel lalu memerintahkan supirnya untuk pergi menuju Hotel Grannam.
.......
Langkah besar pria itu terburu-buru masuk kedalam Kamarnya, Wanita yang hanya dibalut Mantel panjang itu seketika diam tak bersuara, ia hanya bisa pasrah akan permintaan suaminya ini, si kecil Baby Ars juga tampak lelap didalam pelukan Momynya yang digendong Exell ringin.
"Tuan! apa kami menunggu diluar?"
Exell tertegun didepan pintu kamarnya, ia berusaha menirmalkan suaranya yang berat dan serak supaya tak terlalu kelihatan.
"Seperti biasa!" ucap Exell lalu masuk ketika anggotanya sudah membuka kamar itu, pintu itu tertutup otomatis dengan Exell yang sudah melesat keatas ranjangnya.
"Sa..Sayang! Baby sedang tidur!"
"A..aku tak tahan!" desak Exell serak ia memeluk wanita itu dari belakang dengan bibir yang mulai mencumbu leher istrinya, Kinan berusaha tetap tenang supaya Baby Ars tak bangun, dengan hati-hati wanita itu melangkah membaringkan Baby Ars diatas tempat tidurnya.
"Akhmm El Se..Sebentar sayang!" geraman Kinan saat tangan pria itu meremas dua bukit sintalnya memberi rangsangan kuat untuk tubuh Kinan, nafas Exell sudah memburu menerpa telinga wanita itu, dengan sangat terburu-buru, Kinan turun dari ranjangnya takut Baby Ars terbangun.
Srett..
"El!" pekik Kinan tertahan, bagaimana tidak? Exell merobek Mantelnya dengan sedikit kasar membuat tubuh indahnya sudah terpampang nyata dengan begitu menggairahkan.
Exell tertegun menatap pemandangan indah itu, dua bukit sintal itu lepas dengan bebas tanpa bungkusan apapun, tampak kenyal dan bulat, begitu sekang dan padat, kaki jenjang itu tampak menantang dengan lekukan tubuh Kinan yang sempurna, paha yang pas dengan bokong yang bulat dan padat apalagi kulit putih Porselen Kinan tampak berkilau dengan wajah cantik khas Kinan yang memiliki Porsi yang Pas.
"Ehmm!" Kinan menggeram saat satu tangan pria itu meremas bukitnya gemas membuat Dot Pabrik Baby Ars muncrat.
Bugh..
"Elhmm Pelan-Pelan sayang!" lirih Kinan saat tubuh Pria itu menghapitnya kedinding kamar tak jauh dari ranjang Baby Ars.
Kinan hanya bisa mengigit bibir bawahnya menahan desahan lembut itu akibat cumbuan bibir suaminya di leher dan dadanya, ia menggeliat kegelian bercampur rasa lain yang tak bisa ia jabarkan.
Penjelajahan lidah basah pria itu seakan tak berhenti menyusuri kelembutan kulit istrinya, ia memberi cumbuan halus namun begitu membuncah bagi keduanya.
"Akh hmm El!" desahan Kinan lolos saat pria itu membuka selangkahannya dan mendecap Gua basah itu penuh sensasi, Daleman hitam itu sudah tergorok kelantai dengan sangat menyedihkan, Exell seakan haus memutar lidahnya dibawah sana, Pinggang Kinan tak bisa berhenti bertekuk dengan paha yang dipeggang Pria itu, ia terkadah bersandar kedinding akan permainan lidah suaminya dibawah sana.
Slrupp..Ahmm
Exell membuat Kinan ingin terpekik keras dan meledak-ledak, wanita itu hanya bisa menggeram tertahan dengan satu tangan membekap mulutnya menahan desahan.
"E..Elm Akhm El!"
"Kau siap Baby?" serak Exell mengadah dengan mulut yang belepotan, netra keduanya saling pandang berat dengan perasaan yang mendamba begitu besar, aliran darah yang sudah panas dengan gelombang hasrat yang begitu membuncah.
Akh El! kenapa kau selalu membuatku tak bisa menolak sayang!
Teriakan batin Kinan panas, ia tak bisa mengabaikan pria ini, kelihaian yang dimiliki Exell membuat ia tak bisa berkata banyak untuk mengungkapkan bagaimana kepuasan yang ia rasakan.
"Wajahmu merah sayang!" geli Kinan lembut mengusap pipi suaminya yang sudah terbakar api Syahwat itu, belaian Kinan kedada bidangnya membuat api yang membara tadi semangkin membeludah membakar diri Exell yang terpantik bukan main.
"Kau menyukai ini?"
Kinan mengangguk lalu mengecup tonjolan otot suaminya dibagian dada hingga perut keras pria itu, Exell memejamkan matanya menikmati cumbuan bibir sexsi itu ketubuh polosnya karna Exell sudah lebih dulu membuka setiap helaian ditubuhnya.
"Sangat kokoh!"
"Akhm!" Exell terkadah nikmat merasakan cumbuan lidah basah itu dibawah sana, ia sungguh tak bisa berpaling dari Kepuasan yang Kinan berikan padanya, semuanya sempurna membuat jiwa posesif Exell semangkin menjadi.
"Akhm Ki..Kinan Sayang!" Exell mengusap kepala wanita itu dengan lembut, ia seperti ikan kehabisan air setiap bibir dan lidah itu membelit pusakanya nikmat.
Setelah beberapa lama mereka bermain saling memuaskan, Exell tak ingin lagi menunda untuk memasuki lebah kenikmatan inti itu, ia membalikan tubuh istrinya merapat kearah dinding dengan bokong si cicaknya sedikit menungging manja.
__ADS_1
"Akhh!" keduanya mendesah nikmat saat kedua benda itu telah bertemu penuh kelembutan. perlahan Exell mulai memompa lembut dengan satu tangan membelit pinggang istrinya dan satunya lagi bertopang pada Dinding menahan tubuh mereka.
"Akhh Smm El!"
Kinan mengangak merasakan hujaman benda perkasa itu, ia tak bisa menahan desahan kenikmatannya karna ini terlalu memabukan.
"Ehmm Akhh Kinan sayang ssmm!" Exell mengerang keras ia semangkin mempercepat hujaman Benda itu membuat Kinan terpekik-pekik menggeleng tak tahan, Exell tak bisa mengabaikan semua suguhan nikmat ini, ia singguh meledak-ledak dengan apa yang menghisap pusakanya dibawah sana.
"Exell hmm Pe..Pelan Akhm Sayang Exellmm!" pekik Kinan lansung dibekap Exell yang tak mau Babynya bangun, bisa bisa ia frustasi kalau itu terjadi.
"Pelankan suaramu sayang!"
"Hmm!" gumam Kinan dengan tubuh yang bergetar, Exell kembali memompa tubuh mereka untuk mencapai kenikmatan hakiki itu.
Kinan menutup mulutnya dengan Kejantanan Exell yang sudah menggila, mereka merem-melek dengan sensasi bercinta yang selalu membuat peledakan yang sangat memuaskan itu.
Dengan penuh hasrat dan pendakian, Exell memompa keras menciptakan suara erotis dari decipan kulit yang beradu nyaring, ia tak bisa mengerem dengan kepala yang terngangak merasa penyatuan ini begitu memabukan.
Akhh Kinan sayang! kau sangat nikmat hm!
ledakan batin Exell menuai gejolak yang mendesir hebat, ia seakan kesetanan menghujami Goa basah itu gila dengan raungan tertahan dari mulut keduanya.
Drettt..
Exell tak memperdulikan suara ponselnya yang menyala, ia masih sibuk memompa untuk mencapai puncak dari permainan ini.
"Akh El Po..Hm Ponselmu akh sayang!"
"Bi..Biarkan saja hm! Akh Kinan, ini..ini memabukan!"
Semangkin cepat pompaan pria itu begitu pula ponsel Exell yang berdering membuat Baby Ars menggeliat.
Kinan terpadat kedinding akibat pelepasan yang selalu membuatnya lemas ini, tubuhnya ingin luruh, Tapi belitan tangan kekar itu lansung membelit perutnya.
"Siapa yang menelfon malam-malam begini?" geram Exell seraya menggapai ponselnya diatas ranjang sana, ia menggeram saat nama yang tertera di layar benda pipih itu adalah si kakak penggangunya.
"Apa kau tak punya urusan lain selain menelfonku?"
"Kau enak-enakkan disana sedangkan aku kau suruh pulang!"
"Kak! ayolah, di Mashion juga bisa melakukannya!"
"Aku tak mau tahu! kau berikan kunci kamar kami sekarang juga!"
"Ini hotel berbeda! punya kalian sudah terlewat, aku tak ambil pusing!" ketus Exell seraya memangku tubuh istrinya dengan duduk disamping Baby Arsel dalam keadaan sama-sama polos bersimbah keringat.
Tuttt*..
"Kenapa dimatikan?"
"Biarkan saja sayang! dia hanya membual!" decah Exell malas lalu meletakan kepalanya keceruk leher wanita itu menghirup dalam aroma percintaan yang begitu ia sukai.
"Maksudnya El?"
"Dia tak anak TK lagi yang tak punya uang dan kekuasaan! pasti dia sudah memesan kamar dan hanya mengerjaiku saja!"
........
"Bagaimana bisa dia mematikan panggilannya?" gerutu Gebriel yang berdiri diatas balkon kamarnya, ia sudah sampai sedari 1 jam yang lalu, sekarang ia sedang menunggu sang belahan hati yang membersihkan dirinya tadi.
"Sayang!"
"Yah? apa sayang?"
Degg..
Gebriel tertegun melihat Tubuh molek yang dibaluti handuk mini itu sedang memunggunginya, kulit putih dan kaki jenjang wanita itu berkilau menunjukan kuasanya.
Grep..
Renata meneggang saat tubuh gagah itu memeluknya dari belakang, apalagi dengan hembusan nafas berat Gebriel yang menyentuh lehernya sensitif.
"Mau menggodaku hm?"
"Bu..Bukan begitu! tapi aku mencari pakaian, lemarinya kosong!"
ucap Renata gugup saat tangan nakal pria itu mengelus paha lembutnya membuat desiran halus ditubuh mereka berdua. handuk putih ini sangat minim hingga menampakan belahan paha Renata, postur tubuh yang tinggi membuat ini tampak seksi dengan tonjolan yang menggiurkan.
"Tak usah pakai apapun!"
"Eh Sa..Sayang!" lirih Renata gugup saat belitan handuknya ingin dibuka pria itu tapi ia tahan, Gebriel sebenarnya bingung saat Renata tampak gugup, Bukankah ini bukan yang pertama kalinya bagi wanita ini? pikir Gebriel bingung.
"Aku sudah menunggu dari tadi! jadi jangan menunda lagi!" serak Gebriel lalu menggendong Renata menuju Sofa didalam kamarnya.
__ADS_1
"Sa..Sayang ! Itu..tunggu aku..!"
Srett..
Gebriel menarik handuk mini itu membuat Renata terpekik akan serangan ganas suaminya. jakun Gebriel naik turun melihat pemandangan indah ini, lonjakan Syahwatnya semangkin tak terbendung.
"Sempurna!" suara berat Gebriel menatap Renata penuh damba membuat wanita itu pucat.
"Sa..Sayang! Gebriel aku..Akhmmm!" pekik Renata kuat saat Gebriel lansung memasukinya membuat ia terpekik kuat.
"Kenapa? Sayang! aku..apa aku terlalu kasar? maaf!" Gebriel panik melihat Renata yang menggeram memeggangi are larangan itu.
"I..Itumu!" lirih Renata melihat pusaka Gebriel yang sedikit panjang namun tak pas digenggam.
"Hey! ini memang begini, aku tak bisa mengecilkannya sayang! ini sudah nyeri!" serak Gebriel dengan tubuh polosnya yang berotot.
"Apa sakit?"
Gebriel mangut-manggut dengan wajah memelasnya membuat Renata tak tega.
"Lakukanlah!"
Gebriel kembali memposisikan tubuh mereka, ia beberapa kali melihat kebawah merasa ini terlalu susah, bahkan kangkangan wanita itu sudah besar tapi ia sangat sulit memasukinya.
"Sa..Sayang!" lirih Gebriel pucat saat melihat sesuatu yang masih utuh didalam sana, ia gemetar mundur menatap nanar tubuh istrinya.
Jantungnya sungguh berpacu dengan pikiran yang terkejut bukan main, apa itu benar? apa ini hanya mimpi?
"Kau tak percaya?" tanya Renata lembut mendekati Gebriel yang tertegun memandangi area intinya, tatapan pria itu sangat tak bisa ditebak.
"Berbaring!" titah Gebriel tegas pada Renata yang menurut, wanita itu berbaring diatas ranjang mereka dengan kaki yang terjuntai.
"Sayang! kau ..!"
"Buka!"
Renata menghela nafas dan menaikan kedua kakinya keatas, ia membuka gawang putsalnya dengan lebar membuat seraya Gebriel yang berjongkok memeriksa kembali apa yang tadi ia rasakan dan lihat.
"Akhmm Sa..Sayang! jangan disentuh!" geraman Renata meremang saat pria itu memeriksa segel dibawah sana.
Degg..
Gebriel terduduk dilantai kamarnya menatap apa yang begitu ia dambakan ini ternyata masih baru dan bersegel! ia tak bisa berkata apaun lagi dengan wajah yang kosong.
"Kenapa kau tak bilang?"
"Apanya?"
"Ini!" lirih Gebriel memegang area inti istrinya, sungguh, ia sangat menyesal selama ini menghina dan memaki Renata dengan ucapan yang kotor, ia sungguh tak bisa membayangkan bagaimana sulitnya hidup wanita ini, dan dia? Cih.. dia malah membuat Renata semangkin merasa hina dengan ucapan tak realitanya.
"Kenapa kau tak bilang ha?" lirih Gebriel bergetar, dialah manusia yang paling hina yang patut dimaki, ia merasa tak pantas memiliki wanita ini.
"Apa kau akan percaya?"
Duarr..
Gebriel terduduk lemah, ia tersenyum miris dengan semua itu, memang, dia sangat bodoh dan tak berguna.
"Sayang!"
Gebriel hanya diam dengan wajah yang menunduk, Renata turun dari ranjangnya dan duduk diatas pangkuan suaminya ini.
"Tak usah menyesali apapun! aku tak pernah marah atau terhina dengan ucapan orang lain, jadikan saja itu pendorong motifasi bagi diriku sendiri!"
Gebriel sungguh kagum dengan sosok sempurna ini, ia merasa kecil jika dibandingkan dengan istrinya yang sudah lebih tahu bagaimana pahit manisnya kehidupan didunia ini.
"Kau tak benci aku kan?"
"Tidak!"
"Kenapa?"
"Karna aku mencintaimu! aku tak pernah merasakan kenyamanan dan kebahagiaan sebesar ini, aku mempertahankan kehormatanku hanya untuk orang yang mencintaiku dengan tulus! dan nyatanya..kau orangny sayang!"
Gebriel mengecup seluruh wajah cantik wanita itu lembut, ia tak melewatkan satu incipun untuk meluapkan perasaannya.
"Terimakasih! Terimakasih sayang!"
"Hm! oh iya, apa ini tak jadi? kalau tidak kita bisa tidur, kau pasti lelah!"
"Etsss! aku tak mau Proyek Tunggal putraku ditunda! ini sangat menyenagkan dari yang akan kau bayangkan sayang!"
Ucap Gebriel menyeringai mesum, Renata hanya mengulum senyum geli mengikuti kemauan suaminya ini.
__ADS_1
Gebriel dengan gagahnya kembali memberikan pemanasan yang membuncah dari hal yang baru pertama mereka lakukan itu, tak ada lagi yang bisa menjabarkan bagaimana liarnya seorang Gebriel yang sedang memacu kuda betina baru buka segelnya itu dengan sangat ganas.
Vote and Like sayang..