
Pandangan Netra Elang itu menatap tajam seorang Wanita yang dengan santainya meminum gelas Kopi ditangannya dengan begitu Elegan tanpa menghiraukan tatapan dari matanya.
"Apa kau memang terlahir Semurah ini?" ketus Gebriel menatap jijik Tubuh Renata yang menggoda dengan lekuk yang memang sempurna tanpa cacat.
"Murah itu hanya pilihan Sayang!" jawab Renata santai tapi matanya terlihat menyimpan sesuatu yang membingungkan untuk dimengerti.
"Berapa mereka membeli mu?" tanya Gebriel duduk disamping Renata yang berfikir dengan sangat tenang dan Santai. tak ada guratan amarah. sedih atau terhina sekalipun.
"Cukup untuk biaya hidup ku!"
"Cihh! Menjijikan!"
"Tapi Sangat mengasikan!" jawab Renata sinis lalu melangkah pergi, namun ia berpapasan dengan Gea yang lansung menunduk mellihat tatapan tajam Renata dan juga tatapan sinis Gebriel pada Wanita itu.
"Siaplah untuk menjadi abu!" ucap Renata sinis pada Gea yang hanya diam menatap penuh arti langkah kaki jenjang itu, entah apa yang telah terjadi diantara kedua Saudara itu hingga mengibarkan bendera perang yang nyata.
"Apa kau tak apa apa?"
"Hmm Yah! aku baik baik saja Riel!" jawab Gea menghela nafas lalu melangkah pergi menuju dapur untuk mengambil minuman.
Gebriel menautkan alisnya melihat interaksi kedua manusia berbeda ahklak itu semangkin hari semangkin dingin saja.
"Entah kapan semua ini akan berakhir!" gumam Gebriel lalu melangkah pergi menuju Lift disudut sana. saat tiba didekat Lift ia bepapasan dengan Exell dan Kinan yang sedang bergandengan melangkah keluar ruangan.
"Kalian mau kemana?"
"Jalan Jalan!" jawab Kinan dengan apa adanya membuat Exell jengah. ia hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan gadis ini.
"Aku ikut!"
"Tidak Boleh!" sewot Exell pada Gebriel yang menyeringai licik. kapan lagi ia bisa menjahili Adik kutub utaranya ini kalau tidak sekarang.
"Ayolah! aku sudah lama tak jalan jalan!"
"Tapi ini hanya khusus kami berdua!"
"Kau tega sama Kakak Ell! ayolah, aku tak akan menganggu!" rayu Gebrial pada Kinan yang menatap Exell Bungkam. apa tak ada acara lain hingga mau menguntit mereka? Cihh.. dasar penggangu.
"Ayo!" Exell Membelit pinggang Kinan merapat kearahnya dengan Gebriel yang berjingkrat kegirangan mengikuti mereka dari arah belakang.
"Pakai Mobil sendiri!"
"Mobil ku dibengkel El!" ucap Gebriel beralasan lansung masuk kedalam Mobil Exell tanpa pamit membuat Exell geram.
"Kau jangan berlagak Miskin Kak!" Kesal Exell pada Gebriel yang menaikan bahunya acuh lalu menarik tangan Kinan untuk duduk disampingnya.
"Kauu.." geram Exell tapi ia malah dibuat kesal pada Kinan yang mau saja duduk disamping Pria itu.
"Ayo El!" ajak Kinan pada Exell yang mendelik gerah, ia masuk dengan rasa terpaksa dan sangat kesal. sungguh Pria ini selalu membuatnya naik pitam kalau soal wanita.
__ADS_1
"Jangan pegang pegang!" sewot Exell menarik Kinan merapat kearahnya saat Gebriel ingin menggengam tangan lembut itu.
"Hanya mengetes dia panas atau tidak! itu saja marah, Katanya Tak akan pernah jatuh Cinta, dan sekarang apa?"
"Terserah!" ketus Exell acuh semangkin membelit erat pinggang Kinan supaya tak bersentuhan dengan Cecunguk dewasa seperti Gebriel ini.
"Kemana Tuan?" tanya Asisten Dion yang sudah siap mengemudi. ia harus siap siaga jika Pria ini memerintahnya setiap waktu.
"Kemana Sayang?"
"Diam!" geram Exell pada Gebriel yang mengucapkan kata Sayang pada Kinan yang terlibat pertengkaran kedua saudarah ini.
"Ayolah El! hanya Sayang sebagai Adik ipar!"
"Tetap tidak bisa!"
"Bisa!"
"Tidak Bisa!"
"Bisa!"
"Diam!" teriak Kinan merasa sesak harus dihapit kedua tubuh gagah ini. dia yang pusing melihat perdrbatan kedua Pria ini tanpa ujung sekali pun.
"Sayang!" panggil Kedua Pria itu membuat Kinan memijat pelipisnya pusing.
"Kalau aku bangkrut aku mau bekerja diperusahaan mu!"
"Aku tak menerimamu!"
"aku punya dady dua El! satu dady Arkan dan Satu dady Arnold! Tinggal pilih Perusahaan mana yang akan ku pimpin!" jawab Gebriel santai menyilangkan kakinya angkuh.
"Woii Udin! Jalan sekarang!" titah Gebriel pada Asisten Dion yang melotot tajam mendengar ejekan Tuan Muda satu ini. ia memang selalu bercanda bersama Gebriel yang Notabenya adalah majikanya.
"Darimana Tuan tahu?"
"Cihh! gelar mu itu sudah tersebar hingga ke semua sudut Mashion!" jawab Gebriel menyeringai sinis pada Asisten Dion yang begitu kesal dengan Pria itu.
" Ke Taman ya Tuan!"
"Hmm!" jawab Exell datar, ia masih menjaga gadisnya dari tangan tangan liar Gebriel yang bisa saja menyentuh secuil saja kulit lembut ini.
"Ell! Sesak" gumam Kinan merasa belitan tangan Pria ini terlalu kencang membuat ia sulit bernafas. Gebriel sungguh tercengang dengan sikap Exell yang kelewat posesif. terlihat sekali Pria ini begitu mencintai seorang Kinan gadis polos yang kelewat batas ini.
"Peluk aku saja Kinan!" tawar Gebriel menepuk pangkuannya, tapi mendapat tendangan dari Exell.
Bughh..
Exell melantingkan Boxs Tisu ke paha Gebriel dengan keras, membuat Gebriel terpekik kaget.
__ADS_1
"Ell! Kau jangan terlalu ganas"
"Cihh! Penggangu!" ketus Exell dengan wajah masamnya. habis dady Arkan yang dulu memonopoli Momynya dan sekarang Gebriel yang merusak kebersamaan mereka.
tapi, ia bingung melihat Gebriel yang membuat sesuatu dari helaian tisu tadi.
"Kinan!apa yang kau suka dari kedua benda ini?" tanya Gebriel menunjukan dua rakitan pesawat dan kapal yang ia buat dari Tisu lemparan Exell tadi.
"Hmm! Yang ini!" Kinan menunjuk kapal yang ada ditangan kiri Gebriel dengan semangat.
"Baiklah!"
"apa isinya?"
"Buka saja! kau akan melihat isi hati ku didalam situ!" ucap Gebriel memulai gombalan mautnya membuat Exell panas.
"Tidak usah dibuka!" sewot Exell mengambil mainan kertas itu membuat Kinan merenggut masam.
"Ell! kembalikan, Kinan penasaran apa isinya!"
"Ini hanya tipu daya babi buluk sepertinya!" ketus Exell pada Gebriel yang terkekeh geli. ia tak akan kehabisan akal untuk membuat Exell frustasi.
"Yang ini saja Kinan!" Exell ingin merampas benda itu tapi Gebriel menyembunyikannya dari cengkraman tangan kekar Exell.
"Etsss! ini Khusus untuk Adik ipar tersayang!"
"Sini!" Kinan mendekat kearah Gebriel yang mulai memanfaatkan keadaan untuk memanas manasi Pria ini.
"Lihatlah!" Kinan membuka lipatan pesawat itu dengan wajah berseri. ia terngangak melihat ukiran tulisan yang ada didalam benda itu.
"Semoga itu terjadi!" bisik Gebriel pada Kinan yang mengangguk lalu berhambur memeluk Gebriel yang dengan senang membalasnya.
"Terimakasih Riel!" balas Kinan merasa senang dengan hal apa yang Gebriel berikan padanya.
"Sayang!" teriak Exell menarik Kinan kedalam pangkuannya dan mengunci perggerakan gadisnya supaya tak kecolongan lagi.
"Jangan memeluknya!" geram Exell pada Kinan yang tersenyum menatap wajahnya dan Gebriel.
Cup..
"Itu hal yang berarti bagi Kinan!" ucap Kinan tersenyum setelah mengecup bibir pria itu penuh cinta. dengan benda yang diberikan Gebriel ia genggam dengan erat.
Gebriel melengoskan wajahnya melihat wajah Kinan yang selalu membayangi pikirannya. ia rela jika Exell menginginkan gadis itu asalkan Kinan bahagia.
Ia hanya mencoba menutupi parsaan memuja setiap Kinan berada disampingnya. wajah lugu yang mempesona untuk pertama kalinya membuat ia jatuh cinta.
tapi sayang, Cinta itu bukanlah miliknya, ia hanya penonton yang terkadang iri melihat semua itu.
"Aku harap kau bahagia!" gumam Gebriel menatap keluar jendela Mobil yang melaju dengan santai
__ADS_1