Aku Tak Salah

Aku Tak Salah
Ganti Pakaianmu.!


__ADS_3

Mentari cerah diatas sana sedang memberi panorama kilauannya pada semua Mahluk yang baru saja bangun dari kematian sesaatnya, kilauan kekuningan yang tampak mempesona itu menyentuh lantai kamar Bidadari yang sedang duduk bersila dengan tubuh yang dibaluti kemban putih yang tampak menyatu dengan kulit putih itu.


ia memejamkan matanya saat sinaran Mentari itu mulai menggerayai tubuh indahnya, ia merasakan desiran halus dari peredaran darahnya yang begitu menyukai kehangatan dari mentari pagi ini, kulitnya seakan bereigenerasi dengan manfaat alami ini.


"Alinnn!"


"hmm!"


"Kau masih hidup?"


"Kalihatannya?"


Renata menghela nafas berat melihat keangkuhan Nonanya ini, ia melangkah ke Walkcloset untuk mengambil pakaian Aliniya hari ini.


"Apa Apaan ini?" pekik Renata melihat Pakaian Aliniya yang sudah koyak koyak tanpa sisa.


"Biar saja! mereka pikir rencana bedebah ini merusak pagi ku apa?" sinis Aliniya melanjutkan kegiatan paginya.


"Cihh! muarah sekali rencananya!"


"Mereka memperlambat aku turun pagi ini supaya citraku dihadapan ayah jelek dan mempertanyakan identitasku karna Ibu tak pernah mempunyai sifat kurang ajar begitu!"


"Baiklah! sekarang ganti bajumu dengan Pakaian yang semalam sudah ku beli!" Renata mengambil Koper yang ada di balik lemarinya,


"Kau belum memberi obat pada ayah?"


"Rencananya pagi ini! ayah masih tidur!"


"Cihh! kau lihat dulu dibawah, Ayah sedang menunggumu turun!"


Srett..


"Benarkah?" tanya Aliniya merampas pakaiannya dari tangan Renata dengan wajah cantik yang terlihat menggelikan.


"hmm! Ganti pakaianmu cepat, jangan sampai kau keduluan Nenek sihir itu!"


"Baiklah!" Aliniya dengan cepat melesat kedalam ruangan gantinya, ia harus terlihat anggun dan sempurna setiap harinya walau ia memang memukau tapi tak cukup dengan apa adanya bukan.


.....


"Dad! Makanlah, dia mungkin biasa tidur jam segini!" ucap Gea pada Tuan Sinmart yang sedari tadi menunggu kedatangan Aliniya, pria itu terlihat tak sabaran menatap tangga dan Lift bergantian.


"Sebentar lagi Nak, kau makanlah dulu!"


Nyonya Ambers menatap Gea yang mengerti akan isyarat Momynya, ia dengan santainya mengambil bungkusan obat yang ada didalam laci dapur disana.


"Dad! minum obatmu!" Tuan Sinmart mengangguk mulai membuka botol dan Tablet obatnya tanpa membaca atau menelisiknya terlebih dahulu.


"Ayah!"


Duarrr...


Gea dan Nyonya Ambers terlihat sudah kelam dengan kedatangan Aliniya dan Renata yang tampak memukau mata melangkah kearah mereka.


"Dad! minum dulu obatmu!" desak Gea tak sabaran, ia tak menduga kalau Aliniya akan turun secepat ini, padahal ia sudah menyibukan gadis itu dengan pakaian pakaian koyak di dalam kamar sana.


"Ayah! kenapa belum makan?" tanya Aliniya cepat lansung menggengam tangan Tuan Sinmart yang ingin meminum pil obat yang diberikan dua iblis ini.


"Ayah menunggumu Nak!"


"iya Nak! sepertinya kau tak biasa bangun pagi, tapi tak apa, itu sudah biasa bukan?" sambung Nyonya Ambers tersenyum palsu pada Aliniya yang membalasnya dengan tak kalah licik.


"Nyonya! saya tak tidur semalaman!"


"Kenapa Sayang? apa..apa ada masalah?" Tuan Sinmart sungguh tak enak hati dengan keluhan putri cantiknya, ia takut Aliniya akan meninggalkannya lagi.


"Ayah!" Aliniya duduk disamping Tuan Sinmart dengan kepala yang di sandarkan ke bahu Pria itu.


"Ada apa Nak?"


"Aliniya mencari ini!"


Tuan Sinmart dan yang lainnya terkejut melihat bungkusan ditangan lembut itu, Tuan Sinmart tersenyum geli membayangkan kehawatirannya yang tak menentu.


"Ini apa Sayang?"


"Ini obat untuk ayah! aku jauh jauh mencarinya semalam ayah, aku baru pulang dinihari tadi!"


"Benarkah? tapi aku tak melihatmu dinihari tadi!" sambung Gea yang mencoba menyudutkan Aliniya yang dengan santainya mengambil butiran pil ditangan Tuan Sinmart lalu ia lempar ke Tong sampah di belakangnya membuat mereka geram.


"Ayah! kau tahu, teras atas sangat dingin! apalagi ternyata disana ada kawat berduri yah ayah, aku susah melewatinya tadi!"


"Kenapa kau lewat disana sayang? kau bisa masuk didepan kan!"


"Dikunci ayah!"


Tuan Sinmart lansung terperanjat kaget, benarkah? setahunya yang memeggang kunci Mashion disini hanya Ambers saja.


"Ambers! kau mengunci semua pintu?" tanya Tuan Sinmart dengan tatapan tajamnya pada Nyonya Ambers yang menatap tak percaya pada Aliniya, Shitt! gadis ini memang licik hingga pandai membuat drama.


"Sayang! aku mengunci pintukan memang sudah biasa kalau sudah malam, aku tak tahu Aliniya akan keluar lagi, Nak! lain kali pamit sama Momy ya"

__ADS_1


"Iya Sayang! jangan melakukan itu lagi!"


"Tapi aku sudah bilang pada Nyonya Ambers semalam Ayah! dan aku ingin pamit ke ayah, tapi dia melarangku, katanya aku mengganggu istirahat ayah! dia juga tak bilang apa apa saat aku pamit!"


"Ambers!" geram Tuan Sinmart pada Nyonya Ambers yang kelagapan, ia harus mengambalikan situasi ini, bisa bisa Tuan Sinmart tak akan percaya lagi padanya.


"Sa..Sayang! aku tak tahu semalam itu Aliniya!"


"Kalau kalian memang tak menyukaiku tak apa! aku mengerti, tapi ayah! siapa yang mengoyak semua Pakaian ku pagi ini, aku tak tahu harus pakai apa karna bajuku semua tak berbentuk lagi !" lirih Aliniya dengan mata yang mengembun menunjukan wajah tersiksanya membuat Tuan Sinmart menggeram marah.


"Bukan begitu sayang! Ambers, bukankah kau yang mengendalikan Sistem semua pelayan dan Keamanan? lalu kenapa kau biarkan penjahat sialan itu masuk kedalam kamarnya?" tanya Tuan Sinmart pada Ambers yang terlihat sudah kelam bersamaan dengan Gea.


"Dad! kau pikir kami yang melakukannya, kami tak tahu apa apa dad! kau tega sekali hiks hiks!" isak Gea menangis Bombay membuat Renata geram.


"Aliniya tak menyebut nama kalian! lalu kenapa jadi menagis begitu, cihh lemah!" ketus Renata menyenggol bahu Gea sinis untuk duduk disamping Kanan Tuan Sinmart.


"Sudahlah Sayang! mungkin ini hanya kesalahan pelayan saja! maaf ya, kau tak apa apa kan?"


"Iya ayah! tapi ayah percaya sama Aliniya kan?"


"Iya Sayang! ayo makan makananmu!"


"Tapi Ayah Minum obat dulu!"


"Baiklah!"


Aliniya membantu kebutuhan Tuan Sinmart dengan telaten dengan tatapan Sinis Renata pada kedua mahluk gaib ini.


"Kalian ingin memandang saja hmm? kalau iya lebih baik pergi!"


"Nak! jangan..!"


"Aku ingin makan!" Renata menyela ucapan Tuan Sinmart yang menghela nafas berat, seharusnya ia beruntung karna Renata putrinya yang selalu tak ingin mendekat bercengkrama selama ini mau makan semeja dengannya.


"Baiklah! kau makan juga ya sayang!" Gea memaksakan senyum lembutnya, ia mulai makan dengan pandangan tak suka pada Aliniya yang tampak lebih memukau darinya.


Whusss..


Aliniya diam saat Nyonya Ambers menyerangnya dalam diam, tekanan yang kuat itu sangat ia rasakan dengan aura kebencian yang nyata.


"Cihh! Tak bisa menyentuhku dengan rencanamu dan sekarang kau mau menyerangku dengan kekuatan rupanya!"


Whussss..


"Uhukkkk!" Aliniya tersenyum licik melihat Gea yang ia serang mendadak terbatuk karna tubrukan dua energi yang berbeda, ia tahu, Nyonya Ambers pasti menggunakan Gea sebagai tameng hingga kalau ia menyerang Ambers maka Gea lah yang akan terkena imbasnya.


"Nak! kau tak apa apa?" Tuan Sinmart khawatir melihat Gea yang tersedak.


"Minumlah! Nona, seharusnya kau makan dengan hati hati, tak usah terburu buru! Makanannya masih banyak!"ucap Aliniya dengan suara terkesan lembut perhatian tapi sangat pedas.


"Minumlah! mati sekarang permainannya tak akan seru!" bisik Renata menyerahkan satu gelas air pada Ga yang geram.


Setelah beberapa lama mereka saling bercengkrama di meja makan tempat perperangan tersembunyi itu, salah satu pelayan datang menghadap Tuanya.


"Tuan besar! Tuan Muda Mohana datang untuk berkunjung!"


Tuan Sinmart lansung berdiri dari duduknya melihat kedatangan Putra temannya yang selalu berkilau ini.


"Apapa apapan ini?" decak Aliniya kesal, jantungnya kembali bereaksi membuat ia panas dingin.


"Nak Exell! Ada keperluan apa Nak? biasanya kau tak pernah kesini!" ucap Tuan Sinmart merasa bahagia dengan kedangan Pria Gagah satu ini.


"Hanya berkunjung!"


"Tuan! ini kiriman dari Tuan"


"Dady menyuruhku memberikan Makanan ini! katanya kau suka masakan seperti Mendiang istrimu tuan, walaupun rasanya tak sama!"


Exell berucap datar tapi matanya tak teralihkan pada sosok sempurna yang sedang duduk dengan anggunnya di kursi makan sana.


"Dad! Makanlah lagi!" suara lembut itu membuat Exell mendesir halus, ia tak mengalihkan pandangannya membuat Gea dan Nyonya Ambers geram.


"Nak! bergabunglah dengan kami! sesekali bukan kau datang kesini!"


"Hmm apa boleh Nona pewaris?"


"Tentu boleh!" sambar Gea yang begitu percaya dirinya menyonsong Exell yang kembali dengan wajah dinginnya.


"Ayo!"


"Permisi Nona!" Asisten Dion lansung mengiring Tuan Mudanya meninggalkan Gea yang menatap mereka marah.


"Kau tinggal disini?"


"hmm!"


"Ayah! Minum obatmu!"


"Jawab pertanyaanku!" desak Exell datar menatap tajam Aliniya yang acuh dan tetap melayani Ayahnya.


"Nak! bisa ambilkan makanan untuk Tuan Exell?" Aliniya bungkam, ia menatap Exell yang menyeringai mesum menatapnya geli,

__ADS_1


"Shitt! Kenapa aku harus terperangkap lagi disni?"


"hmm!" Aliniya mendekat ke samping Exell yang hanya diam dengan wajah datarnya.


Degg..


Aliniya meneggang saat tangan Exell mengelus pahanya lembut dibawah meja sana dengan sensual, ia melotot menatap Exell yang acuh seakan tak terjadi apa apa.


"Ada gunanya juga aku melihat taktik Uncle Johan!" batin Exell merasa puas dengan wajah teggang Aliniya.


"Nak! kau tak apa apa?"


"I..Iya ayah!"


"Ma..Makanlah!" ucap Aliniya gugup ingin melangkah pergi tapi pahanya di peggang erat tangan kekar itu membuat ia terduduk dikursi tepat disamping Exell.


"Baiklah! ini makanan mu Sayang, duduk disitu saja!" Tuan Sinmart memberikan piring Makanan Aliniya tadi.


"Bagaimana dengan kesehatanmu Uncle?" tanya Exell mencari pokok bahasan dengan tangan yang sudah menggerayai paha mulus dan lembut itu, ia mudah saja masuk karna Aliniya memakai Mini Dress yang ketat dan tentu ia tak suka itu.


"Baik Nak! apa lagi dengan Aliniya yang mengurus ku!"


"hmm ! i..iya ayah!" jawab Aliniya bertambah panas dengan sentuhan lembut tangan nakal Pria ini yang mulai naik menuju pangkal pahanya.


"Lepass!" desis Aliniya pada Exell yang hanya menunjukan tatapan datarnya dan terkesan sangat gila.


"Akhhm!" gumam Aliniya bergetar saat tangan Exell sudah menyentuh bagian intinya dibalik daleman sana, ia memeggang tangan kekar itu supaya tak menyentuh lebih.


"Siall! Kenapa mereka malah melakukan ini?" geram Renata tak habis pikir.


"Lepasss!"


"Ganti pakaianmu!" geram Exell terkesan kelam begitu tak menyukai lekuk tubuh Aliniya yang di pertontonkan.


"A..Akan ku ganti!"


"Aku tak percaya!" gumam Exell dengan wajah datarnya seakan tak melakukan apa apa, Asisten Dion menyibukan Tuan Sinmart dengan bincangan Perusahaan mereka masing masing, hingga ia leluasa menggapai wanita ini.


"E..Exelll!" geraman Aliniya merapatkan pahanya saat jari Nakal pria itu malah bermain di bagian goa itu membuat ia tak bisa diam.


"Le..Lepasss!"


"Janji padaku!" Aliniya lansung menganggukinya, bisa bisa ia kelepasan disini terus, Sialnya kekuatannya sama sekali tak bisa menyerang Exell, ia tak tahu apa apa akan hal itu.


"Janji!"


"Aku tak mendengarnya!" goda Exell mendekatkan wajahnya ke wajah Aliniya yang memerah terlihat sangat menggemaskan.


"Janji!"


Cup..


"Dua kali hiks hiks!" batin Aliniya histeris, ia bernafas lega saat tangan Nakal itu sudah terlepas dari hapitan pahanya, Exell menenagkan aliran darahnya yang begitu mendesir hebat membara menyentuh tubuh Molek ini, ia harus menahannya sampai waktunya tiba.


"Renata!" panggil Aliniya pada Renata yang menatapnya kesal, ia berdiri mendekati Aliniya yang tampak gelisah.


"Apa?"


"Kita pergi!"


"ehmmm!" Exell lansung menatap tajam Aliniya yang menelan ludahnya kasar melihat tatapan dingin menohok itu.


"Ganti pakaianmu!" geram Exell menggertakan giginya membuat Renata naik darah.


"Kau bisa melawannyakan?"


"Mana bisa Butek! aku selalu tak tahan kalau berada didekatnya!"


"Sialan!"


Batin keduanya berkecamuk untuk menghindar dari Exell yang tampak tak bisa melepas Aliniya begitu saja.


"Ikut aku !"


"heyyy!" Renata terpekik saat Exell menarik Aliniya paksa menuju kamar diatas sana, Tuan Sinmart heran melihat Exell yang tampak dikuasai amarah dan kegeraman.


"Mau kemana mereka?"


"Tuan Besar! Nona dan Tuan Muda sudah dari kemaren kenal, mungkin mereka punya urusan!"


"Hmm! mungkin memang begitu!" ucap Tuan Sinmart mengangguk mengerti, lagi pula ia percaya pada Exell yang tak menginginkan wanita.


"Momy!" Bisik Gea ketelinga Nyonya Ambers yang menganggukinya.


"Lakukan!"


"Baik Mom!"


.....


Vote and Like Sayang..

__ADS_1


__ADS_2