
...Entah kenapa saat melihat dirinya tersenyum bersama pria lain. Ada perasaan tak rela dalam diri ini....
...~Jimmy Harrison...
...🌴🌴🌴...
Bersamaan dengan itu, datanglah Bara, Reno dan para polisi yang bersiap menangkap dua orang itu. Bara benar-benar tak memberikan ampun lagi. Dua orang itu harus masuk penjara dan merasakan dinginnya di balik jeruji besi.Â
Tak peduli keadaan mantan istrinya sekarang. Bara sudah gelap mata. Dia benar-benar tak mau memberikan kesempatan lagi pada Narumi. Dia yakin seberapa banyak pria itu memberikan kesempatan tapi wanita itu tak pernah menyadari kesalahannya.
"Tangkap mereka berdua, Pak!" seru Bara hingga membuat Narumi tersentak kaget.
"Mas Bara!" pekik Narumi terkejut. "Gak, Mas. Aku gak melakukan apapun!"Â
Narumi berteriak histeris. Apalagi ketika kedua tangannya mulai disatukan dan diborgol oleh para polisi.Â
Bara seakan benar-benar menulikan telinganya. Dia tak mau mendengar jeritan Narumi yang mulai dibawa oleh para polisi menggunakan kursi roda yang dibawa oleh dua perawat yang menjaganya.Â
Bara menatap kakak iparnya. Dia memukul pundak kokoh itu dengan tatapan penuh bangga.
"Terima kasih banyak, Kak. Aku sangat berhutang budi padamu," kata Bara menatap Jimmy.
Pria itu mengangguk tegas. "Kamu harus membayarnya nanti "
"Tentu. Kapanpun kamu mau, aku akan membantumu," sahut Bara dengan yakin.
Kemudian suami dari Almeera itu menatap dua perawat yang penampilannya terlihat acak-acakan. Bara yakin betul di balik penampilan mereka yang berantakan, ada perjuangan yang sudah keduanya lakukan.Â
"Terima kasih banyak, Sus. Berkat kalian, kehidupan banyak keluarga terselamatkan," kata Bara menatap dua perempuan yang ia sewa dengan bangga.
"Sama-sama, Pak Bara. Kami juga senang bisa membantu semua karyawan, Anda."Â
Bara mengangguk. Lalu dia segera meminta sesuatu yang sudah disiapkan olehnya dengan Reno untuk diberikan kepada dua perempuan hebat itu.Â
"Ini adalah hadiah kecil dari kami sebagai bentuk syukur atas bantuan kalian, Sus," kata Bara dengan memberikan amplop coklat.
Dua perawat itu saling menatap. Kemudian mereka menggeleng dan menolak pemberian Bara.
"Kami benar-benar ikhlas membantu Anda, Pak," kata perawat yang umurnya lebih tua.
__ADS_1
"Ini hanya hadiah kecil dari kami, Sus. Kami juga ikhlas. Mohon diterima."
Akhirnya atas bujukan Jimmy, Reno dan Bara. Dua suster itu menerima amplop tersebut. Ini bukan perihal seberapa banyak uang atau jasa yang dua orang itu lakukan. Namun, karena perjuangan dua perawat itu yang mau membahayakan dirinya demi keselamatan perusahaan Bara.
Setelah semua urusannya selesai. Akhirnya Bara, Jimmy dan Reno mulai pamit undur diri. Ketiganya harus segera ke kantor polisi untuk menemui pengacara mereka dan mengurus segala bukti kejahatan Narumi dan Ilham.
Ketiganya benar-benar tak mau menunda apapun. Mereka segera melesat dengan cepat menuju tempat dimana pengacaranya berada. Jimmy bahkan membawa semua bukti yang sudah dikumpulkan lalu menyerahkannya pada pria berpakaian rapi di depannya ini.Â
"Semuanya sudah ada di flashdisk ini, Pak. Dari video, rekaman dan foto semuanya lengkap," kata Jimmy pada pengacara Bara.
Pria dengan badan besar dan kacamata bertengger di matanya mengangguk. Dia menatap flashdisk yang baru diterima lalu memasukkannya ke dalam tas.Â
"Saya akan mengumpulkan bukti ini bersama bukti kejahatan milik Pak Ilham, Pak Jimmy," ucap pengacara itu dengan sopan.
"Siap, Pak. Terima kasih atas bantuannya."
"Ini sudah menjadi pekerjaan saya. Saya berjanji akan membuat dua orang itu membusuk di penjara."Â
Bara mengangguk puas. Dia tak memberikan ampun lagi pada seorang pengkhianat. Menurutnya, seekor tikus berdasi selamanya akan seperti itu. Menghancurkan sebuah perusahaan dari dalam lalu menggunakan uang itu untuk kepentingan pribadi.
Benar-benar biadab bukan?
"Saya pamit undur diri, Pak. Saya menyerahkan semua kasus ini pada Anda," pamit Bara sebelum dia meninggalkan kantor polisi.
Akhirnya ketiga pria itu segera keluar dari sana. Mereka menuju kendaraan yang ketiganya gunakan untuk datang kesini.Â
"Kita kemana, Bar?" tanya Reno yang mendudukkan dirinya di kursi kemudi.
"Kak Jim mau kemana?" tanya Bara sebelum menjawab pertanyaan Reno.
"Anterin ke rumah sakit! Gara-gara urusan kalian. Aku belum menjenguk wanita itu," lirih Jimmy di kalimat terakhir.
Bara mengulum bibirnya. Dia benar-benar tak percaya jika gunung es sudah mencair. Bahkan melihat bagaimana Jimmy yang malu-malu semakin membuat Bara yakin jika sudah timbul benih cinta di hati kakak iparnya.
"Selamat berjuang, Kak," bisik Bara saat mobil mereka sudah melaju. "Jangan sampai ketikung sama pria lain."
Spontan ucapan Bara membuat Jimmy menoleh. Pria itu menatap suami adiknya dengan tajam hingga membuat bibir Bara meledakkan tawanya.Â
Pria itu benar-benar tak bisa menahan tawanya lagi. Mengerjai Jimmy tentang Zelia ternyata mampu membuat pria yang biasanya tak acuh dan bodo amat, mulai peduli dan khawatir.
Apalagi jangan lupakan. Mata tajam dan raut terkejutnya menjadi suatu pemandangan yang indah untuk Bara.Â
__ADS_1
"Hati-hati, Kak. Jangan lupa, segera diresmikan sebelum ditikung!" ucap Bara saat pria itu keluar dari mobil miliknya.
"Bedebah sialan! Pergi kau! Mulutmu benar-benar menyebalkan," gerutu Jimmy saat melihat Bara terkekeh karena berhasil mengerjainya.Â
...🌴🌴🌴...
Ternyata ucapan Bara yang hanya candaan membuat langkah kaki Jimmy menuju ruang rawat Zelia diiringi pikiran-pikiran buruk.
Seakan kata yang terucap di bibir Bara menimbulkan rasa ketakutan di hati Jimmy. Pria itu benar-benar merasakan gelisah.
Bagaimana bila Zelia benar-benar memiliki pria lain?
Atau paling tidak, ternyata wanita itu menyukai pria lain selain dirinya?
Ah memikirkan ini membuat Jimmy kesal bukan main.
Dia menyugar rambutnya ke belakang dan menghembuskan nafas kasar agar rasa cemas yang mendera bisa menghilang.
Jangan sampai otakku tercemar karena kibulan Bara. Adik ipar gila itu, membuatku ketakutan, gumam Jimmy dengan langkah melambat saat pintu ruang rawat Zelia sudah ada di depan mata.Â
Setelah menetralkan dirinya yang sejak tadi gelisah. Perlahan Jimmy membuka pintu kamar itu secara perlahan. Pemandangan pertama yang dia lihat benar-benar membuat ketakutan yang sejak tadi dia pendam kembali muncul lagi.Â
Di sana, wanita yang mengobrak abrik hatinya sedang bercanda gurau dengan seorang pria yang umurnya seperti sama dengan Zelia. Keduanya sedang duduk di atas ranjang.
"Nak Jimmy," panggil Mama Zelia saat melihat kehadirannya.Â
Spontan panggilan itu membuat percakapan dua anak manusia yang sejak tadi terlihat asyik lekas terputus. Keduanya segera menoleh dan mendapati wajah Jimmy yang datar tanpa ekspresi.Â
Sahabat Almeera itu seakan kesulitan menelan ludahnya sendiri. Tatapan tajam yang Jimmy berikan kepadanya seakan membuatnya seperti seseorang yang ketahuan selingkuh.
"Kak Jim," lirih Zelia dengan melirik pria di sampingnya.Â
"Terima kasih sudah datang kesini," kata Mama Zelia mencoba mencairkan suasana.
Dia bahkan hampir tertawa saat melihat wajah Zelia dan Jimmy bergantian. Benar-benar menggemaskan bukan. Yang satu berwajah datar karena cemburu dan yang satu menunduk takut seperti ketahuan selingkuh.
Ah sepertinya sebentar lagi aku akan memiliki calon mantu, gumam Mama Zelia dengan menyembunyikan senyumnya.
~Bersambung
Ah sebentar lagi, Te. Author kabulin punya calon mantu cakep, haha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat. BTW yang belum klik like di bab sebelumnya, yok like guye. Jangan keasyikan scroll pas lupa like, hiks.