
...Sebuah perhatian kecil seperti ini saja, mampu membuat jantungku tak aman....
...~Reno Akmal alfayyadh...
...🌴🌴🌴...
Perjalanan keduanya berhenti tatkala adzan dzuhur kembali menyapa telinga mereka. Bara segera mencari masjid terdekat untuk keduanya melakukan ibadah berjamaah.Â
Baik Bara dan Almeera adalah tipe makhluk tuhan yang memang taat. Biarpun keadaan keduanya terpuruk pun, tempat curhat paling utama yaitu ketika mereka sholat.
Setelah selesai sholat, Bara kembali melanjutkan perjalanan menuju sebuah air terjun yang dinamai Coban Rondo. Sebuah destinasi yang berbau alam murni itu terlihat begitu ramai dengan beberapa mobil dan bus yang berjajar rapi di parkiran.Â
Hari libur tentu saja membuat banyak sekali keluarga yang menjadikan tempat ini sebagai healing diri sendiri dan cuci mata. Keempatnya segera turun bersama dengan Bia yang menggandeng tangan Mamanya.Â
"Mama laper," celetuk Bia yang membuat pasangan suami istri itu menoleh.Â
"Bia mau makan apa, Nak?"Â
"Itu!" Bia menunjuk seorang penjual bakso dengan gerobak di atas motor.
Tanpa menolak Almeera langsung membawa putrinya mendekat. Dia tak mau anak-anaknya kelaparan.Â
Sebenarnya tadi pagi dia berniat untuk membawa bekal. Namun, Bara sendiri mengatakan tidak perlu agar mereka bisa mencoba masakan para pedagang yang ditemui keempatnya nanti.Â
"Sepuluh ribuan 4 bungkus ya, Pak. Dikasih lontong juga deh," kata Almeera memesan.
"Siap, Neng."Â
Sedangkan ayah dan putra pertama mereka, sejak tadi entah apa yang sedang dibahas. Keduanya terlihat begitu kompak sedang membahas sesuatu sampai tak menyadari kehadiran Almeera yang mendekat.Â
"Kalau Papa sih, ngikut Abang. Papa gak bakal minta Abang sekolah disini, jurusan ini, biar jadi pengganti Papa. Nggak!" Bara menggeleng. "Papa bakalan wujudin apa yang Abang inginkan."Â
"Apa yang sedang Papa dan Abang bahas?" sela Almeera mendekat.
Bara menoleh. Dia meraih pinggang istrinya dan menghadiahi sebuah kecupan di pipi.Â
"Abang bingung, Ma. Lulus SMP, Abang sekolah dimana dan ambil jurusan apa," ujar Abraham menyampaikan uneg-unegnya.
"Ya Abang sekolah di tempat yang Abang inginkan," ujar Almeera apa adanya.
"Apa Mama dan Papa, gak mau rekomendasi sekolah buat Abang?"Â
Almeera menggeleng. Dia mengusap sisi wajah putranya dengan lembut.Â
__ADS_1
"Mama dan Papa gak mau maksain kamu, Bang. Mama dan Papa gak mau Abang tersiksa. Pilihlah sesuka kamu. Apa yang kamu cita-citakan, raihlah! Mama dan Papa hanya bisa support kamu sampai sukses."Â
Mata Abraham berkaca-kaca. Dia tak menyangka jika orang tuanya selalu mengandalkan keinginan anak-anaknya sendiri demi masa depan mereka. Keduanya mungkin hanya akan memberikan solusi. Namun, keputusan utama tetap di tangan anaknya sendiri.Â
"Terima kasih Ma, Pa," ucap Abraham tulus pada orang tuanya. "Mama dan Papa adalah orang tua yang berbeda dari yang lain. Mama dan Papa gak pernah maksain apapun sama aku. Abraham janji akan membuktikan bahwa apa yang Abraham lakukan bakalan bisa membuat Mama dan Papa bangga."Â
"Aamiin."Â
...🌴🌴🌴...
Mereka akhirnya kembali meneruskan perjalanan setelah berhenti untuk makan bakso bersama mengisi perut yang mulai meronta. Langkah kaki mereka terlihat bersemangat. Melewati sebuah jalan yang kanan kirinya terdapat pohon-pohon tinggi menjulang.Â
Belum lagi di setiap jalannya terdapat monyet liar yang sangat lucu untuk diabadikan momennya. Hingga beberapa kali Almeera mengambil potret Bia dan Abraham secara candid agar lebih natural.
Semakin mereka hampir sampai di air terjun. Terlihat banyak sekali wisatawan yang berlalu lalang memadati area tersebut. Hingga mata mereka kini dimanjakan oleh air yang meluncur bebas di ujung sana.
Air terjun dengan suara deburan air yang berjatuhan membuat suara berisik yang sangat mengasyikkan. Bibir keempatnya tersenyum penuh kebahagiaan. Akhirnya satu per satu tempat yang mereka kepoin di dunia sosial media, kini bisa mereka nikmati secara langsung.
"Foto bareng yuk Ma, Pa!" ajak Abraham sambil mencari sosok siapa yang bisa dia andalkan.Â
"Boleh tapi siapa yang pegang ponsel atau kameranya?" tanya Almeera yang ikut bingung.
"Oh maaf, Mbak!" panggil Abraham sopan.
"Ya ada apa, Dik?"Â
"Boleh." Perempuan itu menerima ponsel yang diberikan oleh Abraham.
Kemudian mereka segera berpose dengan saling bergandengan tangan, saling merangkul bahu, lalu Bia yang digendong oleh Bara. Semua itu tentu langsung dibidik oleh ponsel pintar Abraham dengan cepat.
"Terima kasih banyak, Mbak."Â
"Sama-sama."Â
Abraham segera memperlihatkan hasil jepretan atas bantuan orang lain. Sebuah hasil gambar yang sangat amat memuaskan. Pemandangan yang indah dengan wajah mereka yang puas semakin membuat cita rasa dipotret itu lebih hidup.Â
"Nanti kita besarin aja ini, Pa. Terus dipajang di rumah baru. Bagaimana?" tawar Abraham sambil senyum-senyuman dengan hasil foto di hpnya.Â
"Oke."Â
Akhirnya setelah puas bermain di Coban Rondo. Mereka segera kembali menuju mobilnya. Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang yang membuat Bara dan Almeera mencari warung pinggir jalan.Â
Ah pasutri ini mah bukan tipe menye-menye. Meski mereka kaya, tak harus makan ditempat restorant melulu. Keduanya sangat amat mengenali makanan pinggir jalan yang rasanya enak-enak ketika jaman pacaran dulu.Â
"Itu aja, Mas!" tunjuk Almeera di sebuah warung yang terlihat sangat rame.
__ADS_1
"Jangan lupa nanti dilihat dulu ya, Sayang. Takutnya anak-anak asal makan aja." Nasehat Bara pada istrinya.
"Iya. Bukankah kita selalu seperti itu jika beli di pinggir jalan. Tetap menjaga kebersihannya sebelum makan agar mereka tak sakit perut," ujar Almeera apa adanya. "Kalau kita mungkin udah kebal perutnya. Anak-anak yang belum."Â
...🌴🌴🌴...
Berbeda tempat berbeda nasib. Di sebuah perusahaan terlihat seorang pria baru saja selesai mengerjakan semua tugas yang dilimpahkan kepadanya.
Wajahnya terlihat begitu lesu dengan otot-otot yang ia renggangkan karena terlalu banyak duduk. Benar-benar acara liburan atasan sekaligus sahabatnya membuat malapetaka untuk seorang Reno.
Pria itu harus mengerjakan pekerjaannya sendiri. Membawanya pulang ke rumah dan melaporkannya langsung pada Bara ketika malam hari.Â
Jadwalnya yang padat seperti ini membuat Reno tak pernah lagi datang ke rumah Adeeva. Bahkan menyapa wanita itu saja, sudah sangat jarang.Â
Pria itu harus berangkat pagi-pagi lalu pulang sore harinya. Sampai rumah makan dan mandi sebentar lalu melanjutkan obrolan via video dengan atasannya.Â
"Ah sepulang Tuan Bara yang terhormat itu. Aku bakalan ambil cuti," gerutu Reno dengan kesal. "Aku juga butuh liburan, Pak Bara Gila!"Â
Pria itu sedikit menjerit yang membuat seorang pria tua yang baru saja keluar dari lift begitu terkejut. Hal itu tentu memancing perhatian Reno.Â
"Ada apa, Pak?" tanya Reno sambil beranjak berdiri.
"Ini ada titipin buat Pak Reno katanya," ujar pria tersebut.
"Dari siapa?"Â
"Gak tau, Pak. Itu tadi kurir yang anter."Â
Reno mengucapkan terima kasih. Dia juga menyelipkan sebuah tips karena sudah mau mengantar paperbag ini di lantai ruangannya.
Pria itu segera membukanya dan mengambil apa isi di dalam paperbag tersebut.
Sebuah kotak makan.Â
Reno mencari nama pengirimnya. Hingga ia menemukan sebuah surat yang diletakkan di dalamnya.
Jangan mikirin kerjaan mulu sampai telat buat makan. Selagi hangat langsung disantap.Â
Adeeva Khumairah
Â
~Bersambung
Ah Bang Ren! lo pasti senyum-senyum sendiri, 'kan? hahaha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.