Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pria Yang Sama


__ADS_3


...Aku tak pernah menyangka bahwa pria yang dulunya sekaku es kini mencair seperti air hangat. Berubah dan hal itu sangat menyenangkan....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya semua keluarga Almeera mulai pamit untuk pulang. Setelah dari pagi sampai siang berada di rumah Reno. Mereka semua mulai berpamitan secara bergantian dan segera masuk ke dalam mobil masing-masing.


Perbedaannya kali ini, Bia dan Abraham berada di mobil Jimmy. Pria yang bersama kekasihnya itu tak pernah merasa keberatan. Kedekatannya dengan anak-anak sang adik membuatnya sangat menyayangi mereka berdua.


"Kita jalan-jalan dulu ya, Om!" kata Bia sambil mencondongkan tubuhnya ke depan. 


"Mau kemana?" tanya Jimmy melirik keponakannya.


"Ya kemana aja, Om. Bia pusing disuruh di rumah terus sama Papa. Waktu itu katanya karena Mama hamil. Sekarang Papa bilang karena adik masih kecil," adunya dengan cemberut. 


Jimmy terkekeh. Dia sangat mengerti kenapa adik iparnya melakukan itu. Dulu saat kelahiran Bia dan Abraham pun sama. Pria itu sangat overprotektif dengan kesehatan di sekitar anak-anaknya. 


"Om kasih tahu yah!" kata Jimmy sebelum menghidupkan mesinnya. "Papa ngelakuin itu bukan maksud lebih sayang ke adik. Tapi karena papa jagain kesehatan kalian." 


"Dulu waktu Mama Meera ngelahirin Bia dan Abang Abra juga sama. Papa Bara gak izinin bawa kalian ke tempat rame karena debunya yang banyak!" 


Akhirnya Bia hanya mengangguk. Dia mulai paham setelah mendengarkan alasan dari Jimny. 


"Jadi Bia jangan berpikiran Mama dan Papa pilih kasih yah?" 


Kepala mungil itu mengangguk. Bagaimanapun bocah itu tetaplah bocah yang belum mengerti keadaan dan kemauan orang dewasa.


"Bagaimana kalau kita jalan-jalan ke taman kota?" 


Bia mengangguk dengan cepat. Tubuh mungil itu terlonjak-lonjak di atas kursi mobil tengah dengan wajah begitu sumringah. 


Jimmy mengalihkan tatapannya kepada sang kekasih. Zelia sejak tadi menatapnya dalam diam. Dengan pelan, Jimmy menarik tangan kekasihnya dan menggenggamnya.


"Sekalian kita bisa kencan!" kata Jimmy yang membuat Zelia tertawa dengan kepala mengangguk.


...🌴🌴🌴...


"Om Bia mau ini, Om?" teriak Bia menunjuk penjual kembang gula.


Jimmy mengangguk. Dia segera membelikan keponakannya dengan cepat.


"Kamu mau, Sayang?" tawar Jimmy menatap kekasihnya yang sejak tadi menggenggam tangannya. 


Jimmy sangat mengerti Zelia rindu kepadanya. Pertemuan setelah sekian lama karena hubungan LDR selalu menjadi kesan paling baik untuk menumpahkan segala kerinduan yang ada. 

__ADS_1


Hal itu juga yang dilakukan oleh Zelia. Perempuan itu begitu bahagia saat kekasihnya tiba-tiba menelpon dan mengabari akan pulang.


"Nggak usah, Sayang. Aku minta punya Bia gakpapa," kata Zelia menolak.


"Gak usah punya Bia. Nanti Bia bakalan habis kok!" ujar Jimmy menjelaskan. 


Maksud Zelia dia takut kembang gula milik Bia akan mubazir. Namun, Jimmy yang sangat mengenal Bia bahwa anak itu suka dengan makanan satu ini. Membuatnya yakin jika keponakannya akan menghabiskan kembang gula miliknya seorang diri.  


Akhirnya mereka kembali melanjutkan perjalanan. Hingga saat sampai di deretan kursi taman. Jimmy dan Zelia serta Bia dan Abraham mulai duduk di disana. Melihat beberapa anak kecil yang bermain kesana kemari dengan lepas.


Wajah Zelia begitu bahagia. Dia menatap tingkah laku bocah-bocah itu yang membuat Jimmy merasa bersalah. Dia segera menarik pinggang kekasihnya agar mereka semakin berdekatan.


Toh Bia dan Abraham di kursi sendiri yang membuat keduanya bebas duduk dengan dekat!


"Kamu bahagia melihat mereka, Sayang?" tanya Jimmy setengah berbisik.


Zelia menoleh. Hidung keduanya yang mancung membuat hidung mereka saling bersentuhan. Sedekat ini membuat aroma minyak wangi Jimmy tercium dengan jelas.


"Sayang!" 


Tatapan keduanya mengarah di bibir mereka. Rasanya mereka ingin sekali menyatukannya jika tak melihat keadaan. Zelia segera menoleh hingga pipinya yang menjadi sarang cium oleh Jimmy.


"Aku pasti bahagia kalau liat anak kecil main, Kak. Lihat!" tunjuk Zelia menunjuk anak-anak itu.


"Mereka bergerak kesana dan kemari. Bermain dengan bebas tanpa memikirkan kerumitan masalah orang dewasa." 


Zelia sebenarnya gugup dan malu. Namun, melihat kekasihnya yang cuek-cuek saja membuatnya mulai menepis rasa canggung di hatinya. 


Pria itu benar-benar tak mau berjauhan dengan Zelia. Dia sudah sangat mencintai gadis ini. Dirinya juga bertekad akan menyelesaikan semuanya dalam waktu satu tahun terakhir ini. 


"Apa kamu ingin memiliki salah satu di antara mereka?" 


"Maksud Kak Jim?" tanya Zelia dengan kening berkerut.


"Apa kamu ingin memiliki yang seperti mereka?" tanya Jimmy melirik wajah kekasihnya.


Zelia tersenyum. Kepalanya mengangguk dengan mata tak lepas memandang anak-anak itu. Hingga tiba-tiba seorang anak kecil datang kepadanya membawakan sebuah es krim.


"Untuk siapa?" tanya Zelia yang belum menerimanya.


"Dari aku, Tante. Ini untuk Tante biar gak suka nangis!" 


Zelia mengerutkan keningnya. Namun, ia tak mau menolak. Melihat bagaimana tatapan polos sekaligus penuh harap itu membuatnya tak tega pada anak itu.


"Es krimnya jangan dimakan, Sayang. Takutnya…" 


"Aduh!" Zelia membulatkan matanya. Ternyata es krim mencair itu terkena bajunya yang membuat dress putih itu kotor.

__ADS_1


"Kan. Buang saja!" 


"Jangan begitu, Sayang!" tolak Zelia sambil menggelengkan kepalanya. "Ini rejeki dari anak itu." 


"Aku takut jika es krimnya…"


"Es krim ini diberikan oleh anak sekecil itu. Hatinya masih tulus, Cinta!"


Jika sudah begini Jimmy tak bisa mengelak. Dia hanya menganggukkan kepalanya. Namun, sebelum kekasihnya memakan es krim itu. Jimmy menarik tangan Zelia dan mencicipinya terlebih dahulu.


Setidaknya jika terjadi sesuatu. Biarlah dirinya terkena terlebih dahulu.


Ahh, sosok pria romantis yang sangat limited ini mah!" 


Zelia memakannya dengan pelan. Namun, tangannya sudah belepotan dengan es karena memang es krimnya mulai mencair. Dressnya pun terkena tetes es krim yang membuat bajunya merasa lengket.


"Bajuku!" ujar Zelia menunjuk dressnya.


Jimmy terkekeh. Dia mengusap sudut bibir kekasihnya karena ada noda es krim 


"Nanti ke rumahku dulu. Ganti baju, Sayang!" 


"Eh kok aku gak langsung diantar?" 


"Aku pengen jalan sama kamu masih. Gakpapa, 'kan?" tanya Jimmy menatap kekasihnya. 


Zelia mengingat sosok ibunya yang dipegang sang Papa hingga membuatnya akhirnya menganggukkan kepalanya. Bukankah dia juga ingin menghabiskan waktunya dengan Jimmy.


Kepulangan pria itu sangat jarang sekali hingga mereka ingin menikmati waktu berdua yang sangat jarang bisa didapatkan!


"Ayo kita balik, Sayang. Kita ganti baju kamu dulu. Takutnya nanti banyak semut," ajak Jimmy sambil mengulurkan tangannya.


Zelia segera menerima tangan itu. Lalu keduanya mengajak Bia dan Abraham pulang. Kedua anak itu yang fokus dengan taman membuatnya tak melihat kemesraan om dan kekasih omnya itu. 


Sepeninggalan mereka. Tanpa disadari jika sejak tadi terdapat sepasang mata pria yang memandang kemesraan keduanya. Dengan seorang anak kecil yang berjalan ke arah pria itu.


"Kerja bagus. Nih Om kasih uang buat beli es krim!" kata pria itu menyerahkan uang seratus ribuan dua lembar pada bocah yang mau memberikan es krim kepada wanita yang pernah ia lihat di taman rumah sakit. 


"Kenapa Om gak kasih sendiri aja?" tanya anak itu dengan polos.


"Belum waktunya!" 


~Bersambung


Wahahahaha kalian makin kepo, 'kan?


nanti aku bakalan kasih info perihal novel bang jim kok kalau udah rilis.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2