
...Waktu terasa lebih lama ketika kujalani sendirian....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Entah kenapa walau rumah terasa ramai dengan ocehan banyak orang. Tetap saja perasaan seorang ibu hamil itu merasa sepi. Sejak tadi dia hanya menatap ponsel yang dipegangnya dengan tatapan penuh harap.Â
Dia sedang menunggu kabar. Kabar dari sosok suami yang belum memberikan kabar satu pun. Padahal menurutnya, seharusnya Bara sudah sampai di Singapura karena waktu di Jakarta sudah menjelang sore.Â
Suara celotehan Baby Ane dan keluarga yang sedang bermain di ruang tamu. Tidak membuat Almeera terusik sedikitpun. Tatapannya terus mengarah pada benda pipih yang layarnya masih padam.Â
Seakan layar itu lebih menarik perhatiannya daripada apapun.Â
"Papa belum telepon, Ma? " tanya Bia yang kembali mendekati mamanya.Â
Ini sudah pertanyaan yang kesekian kalinya Bia tanyakan. Bocah kecilnya itu sama seperti Almeera yang menunggu kabar Bara. Namun, entah kenapa Bara tak mengabari dirinya sedikitpun hingga membuat ibu hamil itu merasa khawatir.Â
"Mungkin Bara langsung bekerja, Sayang. Coba hubungi Reno!" kata Mama Tari memberikan ide.Â
Ah Almeera menepuk jidatnya. Kenapa ia tak mengingat asisten sekaligus suami sahabatnya itu. Bukankah jika Bara berangkat makan Reno juga akan ikut serta.Â
Tanpa menunda lagi, Almeera langsung menelpon Adeeva. Sahabatnya yang sedang mengandung sepertinya. Hanya beda satu bulan saja usia kandungan keduanya.Â
"Ya, Ra?" tanya suara dari seberang telepon.Â
"Hmm aku mau tanya, Va. Sesuatu sih. Boleh?" pamit Almeera dengan tak enak hati.Â
"Iya boleh. Ada apa?"
"Apa suamimu ada?" tanya Almeera dengan nada begitu ragu.Â
"Reno?" ulang Adeeva dengan suara yang seakan penuh tanya. "Reno dari kemarin perjalanan ke Singapura. Dia berangkat duluan karena katanya Mas Bara baru bisa berangkat tadi pagi."Â
Entah kenapa penjelasan Adeeva membuat Almeera sedikit lebih lega. Setidaknya suaminya disana itu tidak sendirian. Ada teman yang akan membantunya hingga pekerjaannya cepat selesai.Â
"Kenapa kamu tanya ini, Ra? Apa Reno boongin aku?"
"Eh nggak!" balas Almeera dengan cepat. "Mas Bara belum kasih kabar sampai sekarang. Mangkanya kau khawatir banget."
"Kayaknya mereka langsung kerja, Ra. Reno tadi pagi kabarin aku, kalau hari ini dia sibuk banget."Â
__ADS_1
"Iya. Makasih ya, Va. Udah kasih tau aku. Kalau ada kabar, kabarin yah."
Akhirnya panggilan itu terputus. Almeera meletakkan ponselnya di atas meja ruang tamu dengan mulai menghela nafas lelahnya.Â
Pikirannya yang parno membuatnya berpikir ke mana-mana. Padahal suaminya memang sedang bekerja dan mungkin belum sempat menghubunginya.Â
"Gimana?" tanya Mama Tari yang sejak tadi ada disamping putrinya.
"Reno ikut, Ma. Malahan dia berangkat kemarin," ujar Almeera menceritakan semua yang dijelaskan oleh sahabatnya barusan. Tak ada yang Meera tutupi. Dia benar-benar cerita pada Mama Tari karena ia tahu mamanya itu sama khawatir.
"Udah lega, 'kan, sekarang?" tanya Mama Tari dengan pelan.
"Iya, Ma. Banget!"
"Sekarang kamu makan. Sejak tadi kamu hanya natap ponsel terus tanpa mikirin anak kamu yang butuh nutrisi."
Almeera melupakan itu. Dia baru menyadari jika kekhawatiran kepada suaminya membuat Almeera lupa bahwa ia belum makan.Â
Dengan telaten Mama Tari mengambilkan nasi lalu menyuapi putrinya.Â
"Jangan pernah diulangi lagi hal kek gini, Nak. Bara yang berada disana juga pasti kecewa sama kamu kalau tau kamu mengabaikan si kembar."
Almeera menyesal. Dia mengusap perutnya yang rat dengan tatapan penuh penyesalan. Ibu hamil itu berjanji tak akan melupakan jadwal makan dan meminum obatnya lagi.Â
...🌴🌴🌴...
Waktu terus beranjak naik. Malam semakin larut. Seorang perempuan tengah meringkuk di balik selimutnya. Namun, sejak tadi tubuhnya hanya kesana kemari tak bisa berada di titik ternyaman.Â
Bahkan matanya masih terbuka lebar dan belum mengantuk. Apakah ini efek besar dari sosok suaminya. Ditinggal belum satu hari saja, dampaknya sudah sangat luar biasa.Â
Almeera yang terbiasa tidur di pelukan Bara dan punggungnya dielus. Membuat perempuan itu mulai bergantungan. Dia benar-benar tak bisa memejamkan matanya sejak tadi.Â
Berusaha sekuat tenaga. Namun, nyatanya matanya tetap lebar dan begitu kuat.Â
Bumil satu ini menghela nafas berat. Dia memijat dahinya yang mulai sakit. Hingga tak lama suara ponselnya yang berdering membuat Almeera lekas mengambilnya.Â
"Mas!" pekik Almeera terkejut saat sudah membaca siapa yang menelpon dan segera mengangkatnya.Â
"Assalamu'alaikum, Sayang. Maaf baru kabarin. Tadi keluar dari bandara. Mas langsung kerja," kata Bara yang langsung menjelaskan.Â
Almeera percaya pada suaminya. Bukankah penjelasan Bara dan sahabat nya Adeeva sama. Dia mengatakan bahwa Reno juga sibuk disana.Â
"Waalaikumsalam, Mas. Iya gapapa. Lain kali jangan begitu lagi yah. Kabarin kalau sampai," ujar Almeera dengan nada merajuk.Â
__ADS_1
"Iya," sahut Bara dengan cepat. "Kenapa belum tidur?"
Almeera meringis malu. Ditambah panggilan itu diubah menjadi panggilan video yang membuat Almeera bisa melihat suaminya.Â
"Kenapa hmm?" tanya Bara penuh perhatian.Â
"Aku gak bisa tidur dari tadi, Mas. Sepertinya aku sudah bergantung sama pelukan dan elusan kamu," ujar Almeera dengan jujur.Â
Bara tersenyum. Dia mengusap layar ponselnya itu seakan sedang mengusap wajah istrinya.Â
"Sabar ya, Sayang. Aku akan berusaha mengerjakan semuanya dengan cepat agar segera pulang," balas Bara penuh keyakinan.Â
"Aku percaya kamu, Mas. Kamu gak bakal kuat ninggalin aku dan anak-anak begitu lama."
Bara mengangguk. Kenyataannya memang begitu dia. Sehari belum penuh dia sudah sangat merindukan Bia dan Abra. Wajah Bia yang menangis, suara menyayat hatinya seakan terus terngiang di kepalanya yang membuat Bara juga sedikit tak fokus tadi.Â
Bagaimanapun mereka lama tak pernah berpisah. Bahkan kebanyakan anak-anak nya tak pernah absen untuk ikut dirinya bekerja. Namun, kali ini kondisi tak memungkinkan.Â
Kehamilan si kembar membuat mereka harus berada di rumah. Benar-benar menjaga sosok mamanya yang sudah hamil tua.Â
"Ayo aku temani kamu tidur. Ini sudah hampir pagi, Sayang!" kata Bara yang mulai beranjak dari duduknya.Â
Pria itu masih memakai pakaian kerjanya. Dia mulai. Membuka kemeja yang digunakan serta celananya sambil berbicara dengan Almeera. Dia tak mau istrinya merasa sendirian saat ini.Â
"Udah, Mas? " tanya Almeera yang melihat suaminya sudah berbaring di ranjang hotel.Â
"Udah. Ayo sekarang kamu harus tidur!" Perintah Bara pada istrinya.Â
"Aku bakalan tidur tapi…" Jeda Almeera yang membuat Bara terdiam menunggu. "Jangan dimatiin teleponnya. Biar aja tetap nyambung sampai besok pagi. Oke?"
Bara tersenyum. Dia merasa seperti anak ABG yang sedang berpacaran jika seperti ini. Namun, ia tak menolak. Dia menyandarkan ponselnya di bantal dan Bara mulai memiringkan tubuhnya.Â
"Sudah berdoa, hmmm?"
"Udah, Mas. Kata Almeera dengan mata yang mulai sayup. " Sholawatin kembar ya, Mas. Biar mereka dengar suara kamu walau dari ponsel."Â
Bara mengangguk. Dia merasa bersyukur memiliki istri seperti Almeera. Begitu pengertian dan selalu menyangkut pautkan dirinya pada perkembangan anak yang sedang dikandungnya.Â
"Selamat tidur, My Queen. Mimpi indah," Kata Bara dengan mengusap ponselnya saat Almeera mulai terbuai akan alam mimpi.Â
~Bersambung
TIM LDR yang cuma bisa elus HP doang. Hahaha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar semangat updatenya.