
...Akal sehat akan hilang ketika cinta dan uang yang sudah mendominasi segalanya ...
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Jantung wanita itu berdegup kencang. Bahkan tangannya sampai gemetaran saat mendengar kenyataan yang baru saja dia dengar. Matanya menatap tak beraturan karena masih merasakan shock yang begitu mendalam.
Dia berbalik, berjalan dengan cepat seakan takut ketahuan. Sampai perempuan tanpa sadar menabrak tubuh orang yang berlalu lalang dan dirinya terjatuh di lantai.
"Mbak baik-baik aja?" tanya orang yang berada didekat wanita itu.
"Ya. Saya baik-baik saja," katanya dengan berusaha berdiri.
Dia lekas berjalan dengan cepat. Menjauh dari ruangan itu dan melupakan niatnya untuk mengambil kotak salad yang ada disana. Dirinya berjalan memasuki salah satu toilet. Mengunci pintu dan menyandarkan punggungnya.
Nafasnya masih naik turun. Keringat membasahi dahinya saat ini. Kepalanya menggeleng, dia masih tak percaya ada orang jahat seperti mereka.
"Ini benar-benar gila. Mereka bukan manusia melainkan iblis," katanya dengan memegang dadanya yang masih berdebar. "Aku harus mengatakan ini pada Kak Jimmy dan dia harus segera menjelaskan semuanya pada Mas Bara."
Sebelum keluar, ibu dua anak itu segera melepaskan jilbabnya. Dia membasuh wajahnya dengan air dan berusaha menetralkan jantungnya. Ia tak mau menunda apapun lagi. Tak mau menyembunyikan hal yang menurutnya bisa membahayakan semua orang.
Setelah hijabnya kembali rapi, Almeera segera keluar dari sana. Dia berjalan dengan langkah cepat agar segera sampai di tempat suami, kakak dan putrinya. Taman indah itu sudah ada di depan mata. Namun, saat Almeera hendak menginjakkan kakinya di rumput taman, sebuah tarikan di tangannya membuat wanita itu menoleh.
"Kakak," ucap Almeera dengan terkejut.
"Aku...aku…"
"Kakak sudah tau," kata Jimmy membuat mata Almeera terbelalak.
"Hah! Tentang…"
"Narumi dan kekasihnya?" tebak Jimmy dengan cepat.
Almeera mengangguk. Wanita itu menatap Jimmy dengan pandangan kagum. Dia tak percaya jika kakaknya adalah orang yang tanggap.
"Bagaimana Kakak bisa tau?"
Jimmy mengeluarkan sebuah alat yang diletakkan di telinganya. Almeera sampai berdecak kagum saat kakaknya itu bisa memikirkan sampai sedetail ini.
"Aku sudah meletakkan perekam disana dan kamera pengintai. Jadi apa yang mereka bicarakan dan lakukan sudah aku simpan semuanya," kata Jimmy yang membuat senyuman lebar muncul di bibir Almeera.
"Kakak benar-benar luar biasa," kata Almeera menatap Kakaknya dengan sayang.
__ADS_1
"Demi adikku, apapun akan aku lakukan," sahut Jimmy dengan tulus.
"Lalu apa yang harus kita lakukan setelah ini?" tanya Almeera pada Kakaknya. "Apa kita akan membawanya ke kantor polisi?"
"Tak semudah itu." Jimmy menggelengkan kepalanya. "Pemain terbaik, bukan menghindar. Melainkan kita harus masuk ke permainan yang mereka ciptakan."
"Jadi…"
"Ya. Apa yang kamu pikirkan benar. Kita ikuti saja apa yang akan dilakukan Narumi dan kekasihnya," kata Jimmy memperjelas.
"Baiklah. Aku akan menurut, yang terpenting, anak-anakku aman," kata Almeera dengan serius.
"Kita harus bekerja sama dengan semua orang," kata Jimmy membuat Almeera menoleh. "Ya. Kakak akan memberitahu Bara semuanya. Dia adalah pemeran utama disini."
Akhirnya Almeera mengikuti alur yang dibuat kakaknya. Keduanya berjalan bersama menuju ke arah papa dan anak yang sedang duduk berdua dengan canda tawa disana. Almeera bisa melihat bagaimana sayangnya Bara pada Bia.
Pria itu benar-benar tak berubah sedikitpun. Dia selalu mengutamakan anak-anaknya dan menyayangi mereka begitu dalam. Hal itulah yang membuat Almeera berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk memberi kesempatan.
Dia tak mau menghapus ingatan tentang kebaikan Bara hanya karena 1 kekhilafan pria itu. Dia mengerti pasti ada sebab akibat seseorang melakukan sesuatu. Almeera adalah orang yang berpikiran luas. Dia tak pernah berpikir dengan satu pola pikir, melainkan selalu memposisikan dirinya di posisi mereka.
"Bar," panggil Jimmy yang membuat ayah dan anak itu menoleh.
"Ya?"
"Keluar yuk!" ajak Jimmy yang membuat Bara mengernyitkan alisnya.
"Menghirup udara segar," kata Jimmy dan semakin membuat Bara heran.
"Kalau kita pergi, istri dan anakku bagaimana?"
"Aku akan kembali ke ruangan Narumi, Mas. Aku akan menunggu kalian disana."
Bara merasa curiga dengan tingkah laku kakak iparnya. Namun, dia tak menolak. Bara akhirnya mengikuti Jimmy dan melambaikan tangannya pada kedua wanita kesayangannya.
...🌴🌴🌴...
Jimmy membawa Bara menuju ke suatu tempat. Pria itu hanya diam saat suami dari adiknya terus bertanya hendak kemana. Dia tak ingin mengatakan apapun. Biarlah Bara mengetahuinya sendiri bagaimana buruknya wanita yang pernah menjadi istri keduanya.
Jujur bukannya Jimmy ingin menunda terlalu lama. Melainkan dia kemarin memiliki pekerjaan dadakan yang tak bisa ia tinggalkan. Maka dari itu, dia hanya diam sampai saat Jimmy ingin mengatakan semuanya, kejadian naas itu harus terjadi.
"Ayo turun!" ajak Jimmy yang membuat Bara menatap kakak iparnya dengan heran.
"Ini rumah siapa, Kak?" kata Bara sambil menurunkan kakinya dari mobil.
"Rumahku," sahut Jimmy yang langsung berjalan menuju pintu rumah yang tertutup.
__ADS_1
Bara menatap sekeliling. Rumah ini begitu minimalis dengan dua lantai. Di samping rumah terdapat taman kecil yang menyejukkan. Hingga pandangan ayah dua anak itu tersihir melihat bangunan ini.
"Ayo!" ajak Jimmy mengejutkan Bara yang sedang terpikat dengan keindahan rumahnya.
Dia segera mengikuti langkah Jimmy. Memasuki rumah itu sampai berhenti di sebuah pintu berwarna hitam.
"Ada apa, Kak?" tanya Bara yang melihat Jimmy membuka pintu itu.
"Ada sesuatu yang harus kamu tau," kata Jimmy ambigu.
Bara tak mengatakan apapun lagi. Dia segera memasuki kamar itu sampai saat lampu dinyalakan, tubuh Bara mematung.
Disana, di ruangan itu terlihat banyak sekali gantungan foto. Bara menyipitkan matanya dan mengenal sosok yang di kertas itu.
Dia menarik salah satu potret itu hingga matanya membelalak. Disana, sepasang pria dan wanita saling bergandengan tangan terlihat begitu mesra. Wajah sumringah di antara keduanya begitu terlihat seperti sepasang kekasih.
Mata Bara kembali menjelajah. Sampai dia melihat sebuah potret yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.
"Apa maksud semua ini, Kak?"
Bukannya menjawab, Jimmy menghidupkan layar lcd miliknya. Saat layar itu menyala, terpampanglah sebuah video yang memperlihatkan semua kebejatan sepasang kekasih itu.
Bara benar-benar dibuat terkejut. Bahkan mata pria itu sampai berpaling saat melihat adegan tak senonoh yang ditampilkan di sana. Tak ada yang disensor sedikitpun oleh Jimmy. Pria itu bisa melihat semua kebenaran dengan matanya sendiri.
Tangannya terkepal kuat saat mengingat pemikiran Reno benar-benar nyata. Dia tak pernah menyentuh Narumi sebelum mereka halal. Dirinya tak melakukan pemerkosaan itu.
"Jadi mereka sudah merencanakan ini?"
"Ya," sahut Jimmy setelah video itu berakhir.
"Aku tak percaya wanita yang dulu aku cintai ternyata seorang iblis," kata Bara dengan kemarahan tertahan. "Aku harus ke rumah sakit sekarang!"
"Jangan!" Hadang Jimmy yang membuat Bara tak jadi melangkah.
"Kenapa Kakak menghalangi aku? Aku harus membuat mereka masuk penjara," seru Bara dengan dada bergemuruh.
"Belum saatnya, Bar," kata Jimmy dengan menggeleng. "Kita harus bekerja sama dan membuat mereka terjebak dalam permainannya sendiri. Setuju?"
Bara terdiam. Dia menatap kakak iparnya begitu lekat. Namun, melihat keseriusan wajah Jimmy membuat ayah dua anak itu tanpa ragu menerima jabat tangan itu.
"Setuju."
~Bersambung
Perang akan segera dimulai. Ahh aku bahagia kalau gini ini, hahaha. Selamat datang di permainan gila, wewewe..
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Untuk cerita Abang Jim, otw bikin sinopsis. Sabar yah.