Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Melacak Keberadaan Bara


__ADS_3


...Semoga kamu tak lagi menabur garam di luka yang masih menganga lebar. Sakit itu masih begitu terasa dan menyakitkan. ...


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Lo gak balik?" tanya seorang pria yang baru saja masuk ke sebuah ruangan.


Sosok yang sejak tadi menunduk dan mengerjakan pekerjaannya spontan mendongak. 


"Pekerjaan gue masih banyak," katanya dengan mengusap wajahnya yang nampak lelah.


"Lo yakin? Udah jam 10 malem, Bar," kata pria yang mulai berjalan mendekati meja bosnya. 


"Apa!" Mata Bara menoleh. 


Dia terbelalak tak percaya. Matanya menatap kaca jendela ruangannya yang menampakkan lampu bangunan tinggi di sekitar. 


"Lo fokus sama kerjaan jadi lupa pulang, 'kan!" Kata Reno dan mendudukkan dirinya di depan Bara.


"Gue bener-bener gak nyangka pekerjaan sebanyak ini, Ren."


"Baru nyadar, Lo!" Sungut Reno melempar pulpen ke arah dada sahabatnya. "Gue tiap hari pulang malem mulu." 


Bara terkekeh. Dia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karena malu pada sosok Reno yang selalu membantunya.


"Thanks, Men. Lo selalu ada buat gue." 


"Gak usah gombal. Gaji gue naikin!" Ujar Reno sambil mengedipkan salah satu matanya.


"Oke. Gue naikin!" 


"Lo serius?" tanya Reno tak percaya.


"Gue serius. Thanks banget Lo mau gantiin gue selama ini. Gue bener-bener lagi fokus sama istri dan anak-anak gue." 


Wajah Bara terlihat tertekan. Pria itu menyandarkan punggungnya dan menarik nafas berat. Terlihat sekali jika pria itu banyak memikirkan masalah di kepalanya.


"Lo kenapa sih? Cerita sama gue, Bar," bujuk Reno menatap sahabatnya kasihan.


"Lo inget, 'kan? Kenapa dulu gue ajak Narumi kerja di perusahaan?"


Reno terdiam. Sepertinya pria itu sama-sama sedang memutar ingatan tentang bagaimana sosok istri kedua sahabatnya bekerja disini.

__ADS_1


"Lo ngomong ke gue karena Narumi cari kerjaan, 'kan? Dia lagi nganggur dan akhirnya Lo ajak dia kerja disini."


"Lo bener. Sekaligus itu awal mula kesalahan gue," ungkap Bara dengan kepala menunduk.


Reno bisa melihat sahabatnya sedang memikirkan sesuatu yang berat. Bahkan pria itu seakan susah untuk mengungkapkan apa yang saat ini dia rasakan. 


"Kesalahan apa?" 


"Gue perkosa dia tanpa sadar, Ren." 


"Apa! Gila Lo!" Seru Reno sambil membelalakkan matanya.


"Beneran, Ren. Tapi ada yang aneh, malam itu gue gak inget apapun."


"Lo ceritain dari awal. Gimana bisa Lo gak inget?" 


Perlahan Bara mulai menceritakannya kejadian dimana dia dihubungi Narumi. Dimintai tolong membelikan obat lalu dia mengantarkannya. Tak ada yang disembunyikan oleh pria itu. Semua dia ceritakan secara gamblang hingga tiba-tiba dua pasang mata itu saling menatap.


"Air," ucap Reno dan Bara bersamaan.


"Lo yakin itu cuma air?" tanya Reno dengan tak percaya. 


Pria itu benar-benar tak menyangka dengan kejadian sahabatnya. Bahkan Reno dan Syakir pernah berpikir bahwa Bara menikahi Narumi karena memang mencintainya. Ternyata, dibalik mengabaikan ancaman mertuanya dan menyakiti hati istrinya. Ada ketakutan dalam diri Bara jika Narumi benar-benar akan bunuh diri. 


"Gue yakin saat itu Lo bener-bener panik, 'kan? Lo yang baru sadar terus diancem sama Narumi. Gue kalau jadi Lo juga bakalan ngelakuin hal yang sama daripada dianggep pembunuh," ujar Reno dengan gamblang. 


"Apa itu tandanya Narumi jebak gue?" Tebak Bara yang langsung mendapatkan anggukan kepala Reno. 


"Bisa jadi. Lo aja gak sadar, 'kan?" 


Bara menunduk. Dia menghela nafas berat dengan penyesalan semakin dalam. Semua yang dia cerna dari perkataan sahabatnya ini membuat Bara sadar bahwa dia merupakan pria bodoh. 


"Gara-gara Narumi ngancem bunuh diri. Gue sampai nampar Almeera, Ren." 


"Bajingan! Lo bangsat banget, Bar!" seru Reno sampai menggebrak meja.


"Gue inget banget gimana tatapan Meera yang kecewa sama gue. Seumur hidup baru kali itu gue mukul dia dan gue nyesel banget." 


Tanpa sadar air mata Bara menetes. Mengingat semua yang sudah dia lalui ternyata membuat dirinya menyadari semuanya. Semua hal yang sudah dia lakukan ternyata sudah terlalu menyakiti hati istrinya. Karena ancaman Narumi untuk bunuh diri, dia nekad menghancurkan hubungannya dengan orang tua, keluarga dan istri serta anak-anaknya. 


"Belum terlambat, Men. Lo bisa perbaiki semuanya," kata Reno membuat Bara mendongakkan kepalanya. "Masih ada waktu buat Lo nebus semuanya." 


Bukankah yang dikatakan oleh Reno adalah kebenaran?


Semua ini belum terlambat saat Bara mulai menyadari semuanya. Apa yang pria itu lakukan memang fatal. Namun, sebagai manusia biasa, hal itu tentu tak luput dilakukan olehnya. 

__ADS_1


"Gue mau talak Narumi, Ren. Gue mau semuanya kembali seperti semula," ungkap Bara dengan jujur. "Dulu gue kira, cinta gue ke Narumi lebih besar. Ternyata semua itu salah. Istri dan anak-anak gue adalah cinta terbesar yang gue punya." 


Reno tersenyum bangga. Dia mengangguk lalu mengepalkan tangannya ke atas memberikan semangat. 


"Gue bakalan dukung Lo, Bar. Gue yakin Lo bisa atasi semuanya." 


"Doain gue yah. Semoga besok semuanya selesai tanpa drama apapun lagi." 


...🌴🌴🌴...


"Bara belum pulang?" Tanya Jimmy yang baru saja turun ke lantai satu.


Almeera yang saat itu berada di ruang tamu menggeleng. Wanita itu dengan sengaja berada di sini untuk menunggu suaminya pulang. Matanya mengarah ke arah jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Namun, kehadiran suaminya belum nampak juga.


"Bisa Kakak melacak dimana Bara sekarang?" 


"Tentu. Untuk adikku apa yang tidak bisa," kata Jimmy sambil mengedipkan mata.


Dua orang itu segera berjalan bergandengan tangan. Jimmy bahkan tak segan merangkul bahu Almeera dan mencium kepalanya. Sejak dulu Jimmy adalah sosok kakak yang berbeda dari Jonathan.


Jika Jonathan dengan terang-terangan menunjukkan kasih sayangnya. Jimmy lebih tertutup. Pria itu lebih suka bergerak dan melakukan segalanya daripada mengatakan kata-kata manis. Mungkin hanya sesekali pria itu menggoda adiknya untuk mencairkan suasana. 


Saat pintu kamar yang ditempati Jimmy terbuka. Mata Almeera menatap kagum keadaan di kamar itu. Di atas ranjang, terdapat beberapa laptop dan alat-alat yang disusun sedemikian rupa.


"Ini keren banget, Kak." 


Almeera berjalan mendekati beberapa alat itu. Sejak dulu wanita itu selalu kagum akan sosok kakak keduanya. Kehidupan Jimmy yang selalu jauh dari keluarganya, tentu membuat pria itu lebih tertutup kepribadiannya. 


"Kemarilah. Kakak sudah mendapatkan lokasinya," kata Jimmy memanggil. 


Almeera lekas mendekat. Dia mendudukkan dirinya dan menatap layar laptop milik kakaknya.


"Ini mobil Bara," kata Jimmy menunjuk sebuah lokasi jalan raya. 


"Sedang apa dia disana? Bukankah itu jalan dekat dengan rumah milik…" jeda Almeera dan membuat dua mata itu saling pandang.


"Narumi." Serempak keduanya berkata. 


"Coba hubungi suamimu, Ra. Jika dia tak mengangkatnya. Kakak akan segera kesana!" 


~Bersambung


Awas aja kalau main-main koe Mas Bar-Bar. Tak pegat loh dadi anak didikku, hahaha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2