
...Aku tak menyangka selelah apapun kamu. Memberikan waktunya untuk menuruti keinginan si jabang bayi selalu kamu utamakan....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Waktu terus beranjak naik. Semua orang mulai tertidur dengan lelapnya. Namun, berbeda dengan seorang perempuan yang sejak tadi hanya menggeliat kesana kemari. Bergerak tak beraturan dengan kegelisahan dalam pikirannya.
Dia terus memikirkan sesuatu yang membuatnya menelan ludahnya sejak tadi. Perutnya seakan merasa lapar terus dan ingin memakan makanan itu. Tak tahan, akhirnya perempuan itu beranjak dari tidurnya.Â
"Aku lapar sekali," gumamnya sambil mengusap perutnya yang masih rata. "Kamu lapar juga, 'kan, Nak?"Â
Perlahan perempuan itu menoleh ke samping. Disana, ia bisa melihat suaminya yang sedang terbaring lelah. Seharian ini memang hari libur. Namun, pria itu berada di sampingnya sambil mengerjakan tugas yang diberikan oleh bosnya.Â
Apa aku membangunkan Reno saja? ucapnya dalam hati.
Tak tega untuk membangunkan suaminya. Akhirnya dia mencoba menahan keinginannya. Ia lebih memilih keluar dari kamar dan berjalan menuju dapur.
Biarlah dirinya mencari makanan lain untuk mengganjal perutnya. Daripada harus membangunkan suaminya di jam seperti sekarang ini dan membuatnya kekurangan jam tidur.Â
Tapi, sepertinya malam ini bukan malam yang beruntung untuk Adeeva. Di dalam kulkas, tak ada makanan seperti roti yang bisa ia makan. Bahkan isi kulkas itu terlihat begitu sedikit yang membuat Adeeva yakin jika mamanya belum belanja.Â
"Aku harus masak apa?" ucapnya pada dirinya sendiri.Â
Saat dia menutup pintu kulkas dengan kecewa. Sebuah lilitan di perutnya membuat Adeeva terkejut. Namun, menyadari jika itu tangan sang suami. Hatinya mulai merasa tenang.Â
"Ngagetin aja sih!" ujar Adeeva memukul pelan lengan suaminya.
"Ranjang kosong tanpa kehadiranmu, Sayang. Aku merasa dingin. Mangkanya aku kesini," bisik Reno dengan suara serak khas orang bangun tidur. "Kamu ngapain di dapur?"
Perlahan tubuh Adeeva berbalik. Pandangan keduanya berhadapan hingga Reno mampu menatap sesuatu dalam wajah istrinya.
"Kenapa? Kamu kok kayak gelisah gitu?" tanya Reno pelan sambil mengusap rambut Adeeva yang ada di dahinya.
"Aku lapar, Ayank," katanya mencoba jujur.
"Lapar?" beo Reno menatap terkejut. "Makan, Sayang. Kalau lapar."Â
"Tapi…" Adeeva terlihat ragu.Â
Perempuan itu seperti sedang kebingungan untuk menjawab pertanyaan Reno.Â
"Kenapa?" tanya pria itu dengan lembut.Â
Dia meraih tangan istrinya dan menciumnya dengan lembut. Kegelisahan dalam diri Adeeva tentu terlihat begitu jelas kentara.Â
"Aku pengen makan sesuatu, Ayank," cicitnya pelan sambil menunduk.
Bibir Reno tertarik ke atas. Dia mengusap kepala istrinya dengan sayang. Pria itu menjadi sadar bila istrinya sedang ngidam dan hal inilah yang ditunggu-tunggu selama proses kehamilan Adeeva.Â
"Kamu pengen makan yang lain, hmm?"Â
__ADS_1
"Iya," jawab Adeeva mengangguk.
"Mau makan apa?"Â
Adeeva mendongak takut-takut. Namun, melihat bagaimana suaminya itu menatapnya dengan lembut membuatnya sedikit demi sedikit memberanikan dirinya untuk jujur.
"Aku pengen makan degan jelly, Ayank."Â
"Makanan apa itu?" tanya Reno yang baru kali ini mendengar makanan itu.
Adeeva mengingat jika dia menyimpan makanan itu di ponselnya. Perlahan bumil itu menarik tangan Reno untuk kembali ke kamarnya. Setelah itu dia meraih benda pipih itu dan mencari bentuk yang ia inginkan.Â
Reno menunggu dengan semangat. Walau dia merasa lelah dan mengantuk. Melihat bagaimana antusiasnya sang istri memperlihatkan makanan yang ia inginkan. Membuat Reno menjadi sadar bahwa istrinya benar-benar sedang ingin.Â
"Ini, Ayank."Â
Reno mengambil ponsel itu. Melihat makanan yang diinginkan istri dan calon anak mereka.Â
"Jadi ini kelapa muda terus dalemnya yang biasanya air kelapa jadi jelly?" tanya Reno saat melihat video tentang makanan yang diinginkan istrinya.
"Iya."Â
"Kamu mau banget?" tanya Reno menatap istrinya begitu lekat.
"Iya, Ayank."
Adeeva tak mau menutupi apapun. Toh melihat bagaimana Reno mencoba mengerti kemauan dirinya. Ia menjadi yakin jika suaminya lebih suka dirinya jujur akan keadaannya daripada memendamnya seorang diri.Â
Toh semua ini juga untuk kebaikan anak yang dikandung. Ini adalah keinginan jabang bayi itu yang membuat Adeeva tak mau menunda.
Mata Adeeva membulat penuh. Ia menatap suaminya tak percaya.
"Beneran?"
"Iya, Sayang. Aku akan mencarinya sekarang," ujar Reno dengan yakin.Â
"Mau ikut!" rengek Adeeva bergelayut manja di lengan sang suami.
"Ini sudah malam, Sayang. Dingin udaranya di luar," kata Reno mengingatkan.
Wajah Adeeva mulai lesu. Bibirnya memberengut saat keinginannya ditolak. Padahal dia ingin ikut karena takut suaminya terjadi sesuatu.Â
Ini bukan pagi dan siang. Melainkan tengah malam yang membuatnya khawatir akan keselamatan Reno.Â
Pria itu akhirnya menghela nafas berat. Melihat bagaimana istrinya yang merajuk membuat hatinya tak tenang. Akhirnya ia menarik lengan Adeeva untuk beranjak berdiri dan membawanya ke ruangan ganti.
"Pakai jaket, topi dan kaos kaki. Biar kamu gak kedinginan," kata Reno sambil mengambilkan barang itu penuh perhatian.Â
"Jadi Deeva boleh ikut?" tanyanya tak percaya.Â
"Boleh, Sayang."Â
Akhirnya mereka mulai berganti pakaian. Adeeva menuruti semua keinginan suaminya. Memakai pakaian tebal. Ditambah syal agar ia tak dingin.Â
__ADS_1
Keduanya langsung melesat meninggalkan rumah Reno untuk mencari makanan yang diinginkan istrinya. Keadaan perumahan sangat terlihat sepi. Malam hari adalah waktu yang pas untuk mengendarai mobil dengan cepat.
Namun, Reno tak bisa melakukan itu karena ia sendiri tak tahu harus mencari dimana nama makanan 'Degan Jelly.'Â
"Kamu tau tempatnya dimana, Sayang?"Â
"Aku tadi siang cari di gmaps. Ada, Ayank," kata Adeeva sambil mengotak atik ponselnya.Â
"Yaudah cari disana!"Â
Mereka segera mengikuti arahan dari maps yang diberikan oleh istrinya itu. Namun, saat di tengah jalan. Reno melihat penjual kelapa muda yang mau tutup. Segera pria itu turun untuk menanyakan keinginan istrinya.
"Maaf, Mas. Mau tanya. Kalau penjual degan jelly itu dimana yah?"Â
"Itu disini gak ada, Mas. Tapi biasanya online shop begitu itu ada," kata penjual kelapa muda memberitahu.Â
"Mas tau gak? Biasanya yang jual dimana?"
"Kurang tau, Mas."
Akhirnya walau kecewa dengan jawaban mereka. Reno tetap mengucapkan terima kasih dan segera kembali ke mobil.
"Bagaimana, Sayang?" tanya Adeeva dengan antusias.
Reno menghidupkan mesin mobil lalu dia menatap istrinya sebelum menjalankan mobilnya lagi.Â
"Gak ada disini," kata Reno dengan pelan-pelan. "Tapi kita bisa mencarinya di tempat yang kamu tunjukkan ini."Â
Wajah Adeeva yang mulanya muram perlahan berbinar. Dia mencoba meletakkan harapannya di alamat yang ia cari dari maps. Dirinya sangat ingin memakan buah itu. Melihat bagaimana enaknya jelly air kelapa muda pasti sangat nikmat sekali.
Namun, saat mata Adeeva melihat bagaimana Reno menguap sambil menyetir mobilnya membuat sesuatu dalam hati bumil itu merasa bersalah. Karena keinginannya, ia membuat suaminya tak bisa tidur dan malah kelayapan.Â
"Sayang!" panggil Reno saat Adeeva melamun.
"Hah!"Â
"Kamu ngelamunin apa?" tanya Reno dengan pelan.Â
Adeeva menghela nafas berat. Dia merasa kasihan pada suaminya tapi dia juga tak bisa menahan keinginan si jabang bayiÂ
"Jujur!" kata Reno saat istrinya itu diam.
"Maafin aku ya, Ayank. Gara-gara aku kamu gak bisa istirahat total. Malam-malam gini kamu harus keluar dan cari makanan…"
Perkataan Adeeva terhenti saat Reno mencium bibir istrinya. Mobil mereka memang berhenti tatkala Adeeva hanya diam. Ciuman itu berlangsung lumayan lama hingga pria itu melepaskannya saat merasakan istrinya mulai kehabisan oksigen.Â
Nafas keduanya terengah-engah. Reno perlahan menghapus bekas air liurnya yang berantakan karena aksinya itu.Â
"Aku tak suka dengan ucapanmu itu, Sayang. Apapun itu, jika untuk kamu dan anak kita. Aku rela melakukan apapun!"Â
~Bersambung
Ah ayank ayank aku. Kamu kok romantis banget sih. Pengen tak cium aja.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.