Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Godaan Istri Cantik


__ADS_3


...Semoga ini menjadi awal hubungan kita setelah badai menyerang. Aku berharap Tuhan kali ini menjaga ikatan kita sampai maut yang memisahkan....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Akhirnya rencana liburan ke Jogja dirubah jadwal oleh Almeera. Perempuan itu menjanjikan pada kedua anaknya jika keberangkatan mereka menunggu jadwal pertemuan dengan psikiater. 


Entah kenapa wanita yang sudah melahirkan dua anak itu ingin sekali memberikan haknya ketika mereka liburan. Dia ingin hubungan keduanya semakin dekat dan tak ada sekat lagi.


Sesuai jadwal, hari ini Almeera berangkat menuju rumah psikiater kembali. Dirinya berangkat sendirian karena wanita itu meminta suaminya membereskan segala pekerjaannya sebelum ditinggal.


Almeera tak mau membuat Reno kewalahan. Bahkan dia merasa kasihan pada sahabat suaminya yang selalu ada untuk Bara. 


"Selamat pagi, Bu Meera!" sapa Mbak Ida dengan ramah.


"Pagi, Mbak."


"Kemana Pak Bara? Kenapa Bu Meera hanya sendiri?" tanya Mbak Ida kepada pasiennya itu.


"Suami saya sedang bekerja, Mbak."


"Oh." Mbak Ida menganggukkan kepalanya. "Bagaimana perasaan Bu Meera setelah pertemuan kemarin?" 


"Saya merasa bisa mulai menghindari ketakutan saya sendiri, Mbak," ujar Almeera mengawali. "Ketika trauma itu datang, saya mulai mengikuti suasana yang diciptakan oleh suami saya."


"Lalu?"


Mbak Ida terus mendengar semua penjelasan Almeera. Perempuan itu masih diam menunggu pasiennya selesai menceritakan semua hal yang dialami selama satu minggu ini.


"Apa tak ada halangan atau apapun saat Bu Meera mencoba menepis ketakutan itu?" 


Kepala Almeera menggeleng. "Saya bahkan hampir kelepasan saat mengikuti ritme suami saya sendiri." 


Tak ada yang ditutup-tutupi oleh Almeera. Perempuan itu menceritakan semuanya dengan jujur. Bagaimana perasaannya selama seminggu ini. Cara dia mengatasi dan cara dimana trauma itu ingin kembali hadir.


Semua ia jabarkan dengan detail. Menceritakan semua yang terjadi pada Mbak Ida sedetail mungkin.


"Suasana memang bisa merubah pikiran seseorang, Bu," kata Mbak Ida dengan serius. "Ketika kita merasa senang, maka otak kita akan mentransfer energi positif dan selalu membuatnya bahagia." 


"Lalu ketika dia sedih, maka pikirannya akan ikut campur aduk. Gelisah, bingung dan khawatir."


"Iya itu benar, Mbak." 


"Jadi saya sarankan tetap ikutin cara Bu Meera selama satu minggu ini. Saya yakin setelah ini ketakutan itu bakalan sirna dengan energi positif yang anda dan Pak Bara ciptakan."


Akhirnya pertemuan kedua itu berakhir dengan harapan yang besar. Almeera berusaha mendoktrin dirinya bahwa ia bisa. Ya bisa melewati semuanya dengan suami dan anak-anaknya.

__ADS_1


Ya dia bisa memberikan waktunya untuk Bara setelah ini. Memberikan suaminya itu kebahagiaan batin yang terus tersiksa setiap hari. 


Setelah terakhir pelepasan itu. Bara selalu memberikan servis setiap malam. Ya walau pada akhirnya pria itu harus bersolo karier di kamar mandi tapi ia bersyukur bisa membuat istrinya begitu lega. 


Baru saja mobilnya terparkir rapi di depan rumah. Anak keduanya sudah berdiri menyambut kedatangannya. Bahkan wajah itu sudah bisa tersenyum ketika Bara menjanjikan jalan-jalan.


Seakan baik Bia maupun Almeera sama-sama membutuhkan healing bersama keluarga untuk meringankan pikiran yang beberapa hari ini tertekan oleh masalah.


"Papa sudah datang, Ma," lapor Bia yang membuat Almeera terkejut.


"Oh, ya? Sejak kapan?" tanya Almeera dengan berjalan bersama putrinya memasuki rumah mereka.


"Barusan. Kata Papa kita berangkat hari ini." 


Mata Almeera membulat penuh. Dia tak percaya hari ini mereka berangkat ke Jogja. Setahu dirinya, Bara mengajaknya besok untuk berangkat liburan.


"Yaudah Mama mau susulin Papa dulu, yah." 


"Oke, Ma. Habis itu ke kamar Bia yah. Bia mau siap-siap sama Mama aja!" pintanya penuh harap.


"Oke, Sayang."


Akhirnya Almeera segera menuju kamarnya. Dia membuka pintu itu pelan dan mulai masuk. Ibu dua anak itu mengedarkan pandangannya hingga pintu menuju walk in closet membuatnya segera melangkah kesana.


"Mas," panggil Almeera yang mengejutkan Bara.


"Ya." Almeera berjalan mendekat.


Dia menerima uluran tangan suaminya sampai perempuan itu jatuh di atas pangkuan Bara.


"Bagaimana kata psikiater?" tanya Bara antusias. 


"Mbak Ida bilang, trauma Meera pasti sembuh. Yang terpenting Meera harus menepis bayangan itu dengan suasana yang kita ciptakan." 


Bara mengangguk. Dia menatap penuh sayang wajah istrinya. Pengorbanan yang dilakukan Almeera tentu membuat sudut hatinya merasa sakit.


Bagaimana istrinya mencoba ingin membahagiakannya hingga sampai berobat untuk mengobati trauma itu. 


Bagaimana dengan dirinya?


Pria yang sudah menyakiti sosok istri yang baik tapi masih diberikan kesempatan. 


Suatu hal yang sangat amat luar biasa bukan? 


"Mas yakin kamu bakalan sembuh, Sayang," ucap Bara penuh ketulusan.


"Aamiin," sahut Almeera dengan tersenyum. "Oh iya. Kenapa kita berangkatnya dadakan?" 


Almeera menatap dua koper yang tergeletak di atas lantai kamar. Dia melihat pakaian apa yang disiapkan suaminya.

__ADS_1


"Aku ikut beresin ya, Mas?" 


"Gak perlu." Bara lekas menolak.


Dia menggelengkan kepalanya saat Almeera hendak membuka satu koper yang sudah tertutup. 


"Mas sudah menyiapkan semuanya. Lebih baik kamu mandi dan bersiap-siap," kata Bara dengan mengangkat tubuh istrinya. 


Pria itu lekas membawa Almeera yang melingkarkan tangannya di lehernya untuk masuk ke dalam kamar mandi. Dengan pelan Bara menurunkan istrinya ketika sudah berada dalam.


"Mas keluar dulu yah!" 


Saat Bara hendak berbalik. Almeera lekas menarik lengan suaminya dan menyerang bibir Bara.


Serangan penuh dadakan itu membuat Bara gelagapan. Apalagi saat tubuhnya didorong sampai menempel di dinding membuatnya belum cukup siap.


Namun, akhirnya kecupan dan sesapan itu perlahan mulai memanas. Keduanya saling menuntut dan membelit ketika tak ada dari mereka yang mengalah. 


Baik Almeera maupun Bara sama-sama saling mengungkapkan keinginan mereka dengan kuat. Menekan tengkuk Almeera lebih dekat yang membuat suasana semakin ricuh.


Tangan mereka sudah saling bergerak lincah. Bahkan tanpa Bara sadari, Almeera sudah berhasil meloloskan celananya sampai turun ke lantai kamar mandi.


Pria itu melepaskan ciumannya. Bara merasa sesak napas saat tangan lembut istrinya menyentuh naga yang siap menyemburkan apinya.


Apalagi ketika tangan itu memberikan pijatan yang membuat mata Bara terpejam. 


Ini benar-benar gila!


"Meera!" jerit Bara dengan suara seksinya.


"Keluarkan untukku, Mas!" pinta Almeera dengan tangan terus bergerak.


Dua mata itu saling bertatapan. Bara dengan cepat memagut bibir istrinya kembali yang sedang menikmati gerakan tangannya.


Usapan dan pijatan itu semakin lama semakin cepat. Hingga membuat Bara mengerang kenikmatan ketika menyadari bahwa dirinya akan sampai.


"Sayang!" 


Bersamaan dengan itu. Naga milik Bara menyemburkan apinya begitu banyak. Bahkan nafas pria itu terengah-engah saat dia merasakan kenikmatan dibantu tangan istrinya.


Walau hanya tangan tapi Bara merasa sudah bahagia. Dia bisa mengeluarkan apinya setelah beberapa hari ini gagal dan membuat kepalanya menjadi sakit. 


"Ini baru permulaan, Mas. Tapi nagamu sudah hebat. Bagaimana jika sudah masuk ke sarangnya sendiri? Mungkin akan lebih hebat dari ini," ucap Almeera sambil mengerling manjah


~Bersambung. 


Mbak Meera bener-bener yah! hahahah. kabur aku, takut diamuk massa.


Jangannlupa tekan like biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2