Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pertemuan Jimmy dan Narumi


__ADS_3


...Jika ingin melihat apakah orang itu berkata jujur atau tidak, bacalah gerak gerik tubuhnya....


...~Jimmy Harisson...


...🌴🌴🌴...


"Apa yang sedang kalian bicarakan?" tanya sebuah suara yang mengejutkan keduanya.


Spontan Bara dan Jimmy berbalik. Disana Almeera tengah berjalan ke arah mereka sambil membawa sebuah nampan berisi dua cangkir minuman.


"Tidak ada," sahut Jimmy dengan wajah santai.


"Serius? Kalau tidak ada, kenapa kalian menjauh dari semuanya?" cerca Almeera yang membuat Bara dan Jimmy saling melirik. 


"Kita sedang membahas masalah laki-laki. Kaum wanita tidak boleh tau!" Almeera mendengus, lalu dia meletakkan dua cangkir teh itu ke atas meja taman yang ada disana. 


"Selamat diminum, Kaum Laki-laki," ucap Almeera yang membuat Bara dan Jimmy terkekeh. 


Keduanya tahu betul jika anak ketiga dari Darren dan Tari itu sedang kesal. Terlihat dari bibirnya yang memberengut dan alisnya yang mengerut. 


"Kemarilah jika kamu ingin bergabung!" ajak Bara ketika Almeera sudah berjalan meninggalkan mereka.


"Nggak. Udah lanjutin aja. Aku kesini cuma bawain teh kok," kata Almeera sambil melambaikan tangan ke arah keduanya. 


Setelah ibu dari Bia itu tak terlihat. Kedua pria tersebut mendudukkan dirinya di kursi taman. Keduanya meraih cangkir teh lalu menyesapnya terlebih dahulu. Merasakan bagaimana perpaduan teh dan gula yang bercampur menjadi satu tentu membuat keduanya sangat menikmati.


...🌴🌴🌴...


"Kamu dari mana aja, Mas? Kamu dimana? Kenapa baru hubungi aku sekarang?" cerca suara dari seberang telepon. 


"Maaf, Rumi. Aku ada di rumah Almeera."


"Jadi Mas disana! Gak kabarin aku gitu? Kenapa Mas gak adil?" sentak Narumi dengan suara semakin meninggi.


Bara menghela nafas berat. Dia menjauhkan ponselnya karena suara istri keduanya membuat telinganya sakit. 


"Mas...Mas!" seru Narumi yang membuat Bara kesal bukan main.


"Aku ingin mengajakmu bertemu di restoran biasanya, Rumi," ucap Bara yang membuat kekesalan Narumi menghilang.


"Kapan?" tanya Narumi dengan suara terdengar senang.


"Satu jam lagi."


"Oke, Mas. Sekalian nanti berbelanja yah? Aku ingin membeli tas keluaran terbaru," rengek Narumi terdengar begitu manja. 


"Ya."


Setelah panggilan terputus. Bara menatap Jimmy yang sedang mengendarai mobilnya.


"Istri kedua yang posesif, hmm?" ledek Jimmy yang membuat Bara mati kutu. "Diberi Almeera yang sabar, kamu menduakannya." 

__ADS_1


"Maafkan aku, Kak. Aku khilaf," kata Bara dengan suara penuh penyesalan.  


"I know. Semua pria pasti ada masa khilafnya. Tergantung mereka bagaimana menyikapinya saja."


Setelah itu tak ada pembicaraan apapun lagi. Bara termenung dengan pikirannya sendiri. Pria itu tahu bahwa apa yang dia lakukan sangat amat terlambat. Kenapa dia tak menyelidikinya sejak awal. Namun, apapun itu, dia memang sudah sangat amat menyesal. 


Dia tahu bahwa sudah menyakiti hati istrinya. Dia sadar bahwa korban utama adalah anak-anaknya. Maka dari itu, Bara ingin memperbaiki hubungannya. Dia benar-benar tak mau berpisah atau kehilangan Almeera dan kedua anaknya karena memang perasaannya jauh lebih mencintai dan menyayangi mereka.  


Akhirnya perlahan mobil Bara mulai berbelok ke sebuah restoran yang menjadi tempat pertemuan mereka. Keduanya segera memasuki ruangan dengan gaya eropa lalu memilih kursi di dekat jendela. 


"Apa dia akan lama?" tanya Jimmy sambil mengambil sebuah benda kecil lalu diletakkan di bawah meja resto.


"Apa itu, Kak?" tanya Bara dengan rasa penasaran.


"Alat perekam." 


Bara tak lagi bertanya. Pekerjaan seperti ini adalah Jimmy ahlinya. Pria itu sudah sejak lama menggeluti bidang ini. Bahkan dia rela tak tinggal bersama keluarga sejak lulus sekolah menengah pertama. 


Pria itu benar-benar seorang detektif dan mata-mata seperti FBI yang sangat dipercaya bisa membongkar segala kejahatan. Pekerjaannya sangat mulus dan selalu berhasil. 


Setelah semuanya selesai. Mereka segera duduk dengan tenang. Hingga baru saja pelayan meletakkan pesanan mereka. Terlihat seorang wanita menghampiri keduanya dengan penampilan sangat amat seksi dan make up tebal.


"Mas," sapa wanita itu sambil menundukkan kepalanya ingin mencium pipi sang suami. 


Namun, Bara lekas menjauh hingga ciuman itu tak mengenai tubuhnya. 


"Duduklah, Rumi. Ada temanku disini," kata Bara menatap Jimmy yang menunduk menahan tawanya. 


Narumi lekas menoleh. Kedua mata itu saling menatap hingga istri kedua dari Bara spontan menunduk. Dia merasa wajah pria di depannya ini tak asing di matanya. Bahkan mereka pernah bertemu tapi dia lupa dimana. 


Pertemuan yang luar biasa memang. Namun, Jimmy berusaha setenang mungkin agar perempuan itu tak curiga.


"Halo. Namaku Jimmy," kata kakak kedua Almeera mengulurkan tangannya.


Narumi menerima dan menjabat tangan itu dengan ketakutan yang mendalam. "Narumi." 


"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" pancing Jimmy yang membuat tangan Rumi semakin gemetar.


Tentu gestur tubuhnya tidak lepas dari penglihatan seorang Jimmy. Pria itu memiliki daya ingat tinggi dan jiwa psikolog yang kuat. Pekerjaannya yang berbahaya tentu membuatnya harus bisa membaca gerak-gerik targetnya sendiri.


"Tidak." Narumi lekas menggeleng. "Ini adalah pertemuan pertama kita." 


Semoga dia tak ingat. Sialan! Bagaimana bisa aku terjebak dengan pria yang tahu pekerjaanku sebelumnya, umpat Rumi dalam hati. 


"Ah. Mungkin hanya mirip saja. Aku seperti pernah melihatmu sebelumnya," kata Jimmy membuat Bara menatap kakak iparnya.


"Dimana?" tanya Bara dengan penasaran.


"Club malam."


Bara lekas menoleh. Pria itu menatap istri keduanya dengan tatapan curiga. 


"Tapi sepertinya itu bukan istrimu, Bar. Hanya mirip saja." 

__ADS_1


Jimmy memberikan kode lewat matanya saat Bara mulai curiga. Ayah dari dua anak itu hanya mengangguk lalu dia mengelus punggung istrinya yang menundukkan kepalanya.


"Kenapa kamu tegang sekali, Rumi. Bukankah temanku hanya bilang mirip?" 


"Ya aku tau, Mas. Aku hanya terkejut saja," kata Narumi dengan gelagapan. 


Bara mengangguk. Lalu dia menjauhkan tangannya dari tubuh Narumi karena sangat mengingat ultimatum istri pertamanya. Dia berusaha sebaik mungkin agar tak ada interaksi skin to skin. 


Dirinya ingin menjaga kepercayaan yang Almeera berikan kepadanya. Dia tak mau mengecewakannya lagi. Toh barusan dia mengelus punggung Narumi ada kain pakaian yang menghalangi dan juga agar tak membuat istri keduanya curiga.


"Pesanlah minum, Rumi. Kamu terlihat gugup sekali." 


"Mungkin karena bertemu orang baru mangkanya aku gugup, Mas." 


Bara hanya ber oh ria. Lalu saat dia ingin memanggil pelayan. Narumi melarangnya.


"Aku tak bisa berlama-lama disini, Mas. Aku sudah janjian dengan temanku untuk berbelanja." 


"Teman?" kata Bara dengan kening berkerut.


"Iya. Temanku, Mas."


"Bukankah kamu ingin ditemani aku?" kata Bara pura-pura kesal.


"Iya sih, Mas. Tapi Mas sekarang ada teman, 'kan?" kata Narumi berkilah.


"Oh oke baiklah."


"Transfer uangnya ya, Mas!" kata Narumi sambil beranjak berdiri.


"Oke." 


...🌴🌴🌴...


"Ini berbahaya. Tak bisa dibiarkan!" seru Narumi saat tubuhnya memasuki mobil.


"Apa yang berbahaya, Sayang?" tanya suara pria yang mencium lehernya dari belakang.


"Adnan, jangan seperti ini. Aku takut jendela mobil…" 


"Semuanya aman, Rumi," seru Adnan dengan menjauhkan wajahnya.


"Bukan seperti itu," sela Narumi dengan helaan nafas berat.


Ya, tadi dia memang sedang bersama Adnan. Maka dari itu dia mengajak pria itu dan menyuruhnya bersembunyi di kursi belakang karena dia yakin jika dia bertemu Bara dan berbelanja bersama akan menggunakan mobil milik suaminya.


"Aku bertemu dengan teman Bara barusan," kata Narumi yang membuat Adnan mengangkat alisnya.


"Lalu? Apa hubungannya denganmu?" 


"Ada, Adnan!" sentak Narumi dengan mencengkram stirnya begitu erat. "Dia pernah bertemu denganku di club malam saat aku masih bekerja disana." 


~Bersambung

__ADS_1


Loh lak kapok, hihi. Mulai takut ye kamu, 'kan?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Agar author semangat updatenya.


__ADS_2