
...Dia memang langka. Hanya satu dan aku pemenang hatinya....
...~Azzelia Qaireen...
...🌴🌴🌴...
Mata Zelia membulat penuh. Dia menatap Jimmy tak percaya. Apa yang dikatakan pria itu seakan mimpi yang selama ini hinggap di bunga tidurnya.
Dia merasa oksigen di areanya berkurang. Kenyataan ini tentu mengejutkan dirinya. Dia benar-benar masih menatap Jimmy dengan lekat.
"Lia," panggil Jimmy yang menyadarkan wanita itu. "Apa kamu mau jadi pacarku?"Â
Sahabat Almeera itu menunduk. Dia menghela nafas berat seakan menjawab pernyataan dari Jimmy adalah hal tersulit yang keluar dari bibirnya. Zelia menelan ludahnya paksa. Perlahan, dia mendongakkan kepalanya untuk membalas tatapan pria itu.Â
"Kenapa harus aku?" tanya Zelia setelah menetralkan degup jantungnya. "Why?"Â
"Aku tak bisa menjawabnya. Apa mencintai seseorang harus memakai alasan yang tepat?" tanya balik Jimmy dengan serius.
Kepala Zelia menggeleng. "Setidaknya kamu harus memberikan alasan, kenapa memilihku?"Â Â
"Karena kamu adalah wanita satu-satunya yang dekat denganku."
Zelia terperangah dengan ucapan Jimmy. Dia menatap tak percaya padanya. Umur yang sudah hampir kepala empat, tak mungkin jika Jimmy tak pernah dekat dengan wanita lain.
"Tak percaya?"Â
"Tentu saja. Kamu sudah cukup umur. Tak mungkin jika hanya aku yang ada di hidupmu," kata Zelia dengan jujur.Â
Jaman sekarang, pria yang sudah cukup berumur. Memiliki pekerjaan hebat. Bentuk tubuh tinggi, badan tegap. Rahang tegas dan rupa yang rupawan masih tak memiliki pasangan hidup?
Apa masih ada pria seperti itu?
Pria yang hidupnya hanya mengenal satu wanita di umur yang hampir menuju 40 tahun.
"Itulah kenyataannya," jeda Jimmy saat pelayan mendekat.
"Kamu mau es krim apa?"Â
"Coklat," sahut Zelia dengan tatapan mata masih mengarah ke arah Jimmy.
Wanita itu ingin mendengar kisah hidup pria di depannya dengan baik. Rasa penasaran yang hinggap dan jantungnya yang berdegup kencang saat tahu bahwa hanya dia hidup Jimmy. Tentu membuatnya seperti menjadi wanita yang spesial.
"Ceritakan lagi padaku!" kata Zelia yang membuat sudut bibir Jimmy terangkat.Â
"Ah apa kamu tersenyum?" tanya Zelia menatap tak percaya.
Jimmy spontan merubah ekspresinya lagi. Dia menatap Zelia dengan alis terangkat.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Aku suka senyummu," sahut Zelia yang membuat dua sudut Jummy tanpa sadar melengkung ke atas. "Nah teruslah seperti itu. Tersenyum ketika bersamaku."Â
"Tapi kamu harus mau menjadi pacarku!"Â
Zelia mencebikkan bibirnya. Dia menatap Jimmy dengan wajah cemberut.
"Kenapa memaksa sekali?" tanya Zelia dengan heran. "Tak ada romantisnya sedikitpun."Â
Jimmy menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Jujur dia sendiri saja bisa berada disini karena sudah tak sanggup dengan Zelia yang terbuka dengan para pria. Ya tapi dia mengerti jika wanita itu sangat baik kepada siapapun.Â
"Terus kamu ingin apa?"Â
"Ya seperti wanita lain. Ada coklat kek atau bunga," sahut Zelia sambil membayangkan adegan romantis yang sering ia lihat di televisi atau buku novel.
"Apa cukup dengan semangkuk es krim?" tanya Jimmy saat pelayan mengantarkan pesanan Zelia.
Sahabat Almeera itu tersenyum tipis. Dia tak menyangka jika pria yang ada di depannya sangat-sangat langka sekali. Begitu kaku dan tak memiliki jiwa romantis. Bahkan jika dilihat dari wajahnya, bisa Zelia bayangkan bagaimana jika dia berpacaran dengan Jimmy.
Dirinya yang periang, cerewet bersatu dengan pria kulkas dua pintu. Hihi sungguh amat sangat lucu dan menggemaskan yang pasti.
"Apa kamu sedang merayuku dengan semangkuk es krim?" tanya Zelia yang membuat kepala Jimmy mengangguk. "Baiklah. Aku akan menerimanya."Â
"Menerima cintaku?"Â
Zelia mengangguk dengan polosnya. Dia bahkan sambil menyuapkan sesendok es krim coklat itu ke dalam mulutnya.
"Itu berarti apakah kita sudah berpacaran?"Â
"Jika begini, aku percaya kalau kamu tak pernah dekat dengan wanita lain," kata Zelia kepada Jimmy.
"Aku hanya mengenal dua wanita. Mamaku dan Almeera. Hanya mereka yang selama ini aku sayang. Hanya mereka yang selalu berada didekatku selama ini," kata Jimmy menjelaskan. "Pekerjaanku sebagai agen, membuatku tak bisa dekat dengan siapapun."Â
"Apa kamu sedang bercerita?" tanya Zelia dengan pandangan takjub.
Baru kali ini Jimmy bercerita panjang lebar dengan dirinya. Biasanya pria itu hanya akan mengeluarkan sepatah dua kata saja.Â
"Ya. Agar kamu percaya."Â
"Aku sudah percaya," tanya Zelia dengan semangat sambil memakan es krimnya.
Jimmy menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah Zelia yang makan dengan rakus. Bahkan wanita itu sampai tak menyadari jika noda es itu berada di ujung bibirnya.
Tanpa kata, kakak kedua Almeera itu mengambilkan tisu. Kemudian dia segera menyapukan tisu itu dan membersihkannya hingga membuat Zelia tercengang. Wanita itu tak menyangka jika Jimmy bisa melakukan hal seperti ini.Â
"So sweetnya," puji Zelia sambil menatap wajah Jimmy dengan senyum imutnya.
Entah kenapa wajah itu membuat Jimmy merasa malu. Dia memalingkan wajahnya tak tahan melihat rupa Zelia yang sangat menggemaskan.
"Habiskan es krim itu, lalu kita pulang!"Â
Zelia memonyongkan bibirnya. Dia tak menyangka jika Jimmy ingin segera mengantarkannya pulang. Padahal ia masih ingin berlama-lama dengan pria yang menjadi kekasihnya beberapa menit yang lalu.Â
__ADS_1
"Jangan begitu. Kamu jelek sekali!"Â
"Bodo!" sahut Zelia ketus sambil menandaskan es krim itu dengan cepat.Â
"Pelan-pelan saja."Â
"Ya," sahut Zelia dengan kesal.
Jimmy mengerutkan keningnya. Dia tak mengerti kenapa lagi dengan Zelia. Beginilah yang selalu membuatnya menjauh dari seorang perempuan.
Perempuan itu banyak maunya tapi hanya dipendam. Apa dirinya dikira cenayang. Akhirnya Jimmy hanya mengedikkan bahunya lalu dia segera beranjak dan membayar minuman milik Zelia.
Setelah selesai, dia segera kembali ke mejanya dan menggendong sang kekasih yang hanya diam. Bahkan saat Jimmy memasangkan seatbelt, Zelia memalingkan wajahnya dengan bibir cemberut.Â
Jika sudah begini, kakak Almeera itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia benar-benar tak memiliki pengalaman membujuk seorang wanita. Bahkan merayu pun dirinya tak bisa.Â
"Lia," panggil Jimmy pelan.
"Hm?" sahutnya tanpa menoleh.
"Tatap aku!"Â
"Nggak!" sahutnya ketus.
"Lia!"
"No!"Â
Jimmy meraih dagu sang kekasih. Dia menariknya agar mau berhadapan dengan wajah tampannya. Dirinya menatap pahatan Tuhan yang sempurna.Â
Hidung mancung, kulit putih, bulu mata lentik sangat amat membuatnya terpesona. Baru kali ini dirinya jatuh cinta pada seorang wanita. Merasa nyaman ketika ada di dekatnya dan merasa bahagia karena seluruh keluarganya sudah mengenal sosok kekasih barunya itu.Â
"Jangan marah," ucap Jimmy yang membuat perhatian Zelia kembali kepadanya. "Jika kamu ingin sesuatu, katakan kepadaku!"
Entah kenapa perkataan Jimmy membuat hati Zelia berdesir. Wanita itu bahkan tanpa sadar menatap lekat mata Jimmy.
"Aku tak memiliki kemampuan untuk membaca pikiranmu. Jadi kalau kamu ingin sesuatu. Katakan!"Â
Zelia tanpa sadar mengangguk. Dia terpesona dengan perkataan dan mata indah kekasihnya. Setiap kalimat yang keluar dari bibir Jimmy, seakan mampu membuatnya terhipnotis.Â
"Iya. Aku akan mengatakannya."Â
Jimmy mengangguk. Dia mengulas sebuah senyuman tipis lalu mengusap kepala sang kekasih.
"Aku mencintaimu."
~Bersambung
Ah bucin nambah satu. Aku baper pen nabok pantat bang jim, haha.
Jangan senyum-senyum kalian pada! tak cubit ginjalnya, haha.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar semangat ngetik akunya.