
...Entah kenapa jika seperti ini, dia terlihat lebih tampan dan berwibawa. ...
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya sesuai dengan jadwal yang dibacakan oleh Adeeva. Setelah jam istirahat sekretaris dan bosnya itu berada di dalam satu mobil. Keduanya segera menuju sebuah restorant yang menjadi tempat dimana pertemuan dengan Perusahaan Bara akan dilakukan.
Selama perjalanan, jantung Adeeva terus berdetak kencang. Bahkan dia merasa gugup saat ini. Untuk pertama kalinya, seorang Adeeva takut menghadiri sebuah pertemuan. Padahal biasanya jika ada pertemuan dengan rekan bisnis, maka Adeeva selalu percaya diri saat membawa dirinya.
Wanita itu sangat terlihat gelisah. Bahkan ketika mobil berhenti dilampu merah. Jonathan bisa melihat sekretarisnya mencari posisi duduk yang nyaman.
"Kenapa, Deeva? Kamu terlihat gelisah sekali," tanya Jonathan menatap Adeeva heran.
Selama mereka bekerja bersama, baru kali ini Jonathan melihat sahabat adiknya itu seperti sekarang. Tingkah laku yang aneh dan membuatnya yakin jika ada sesuatu yang terjadi dengan Adeeva.
"Tidak apa-apa, Pak," sahutnya berkilah mencoba tetap tenang. "Saya hanya ingin ke kamar mandi.
"Oh." Jonathan mengangguk.
Dia meminta supirnya untuk segera melajukan mobilnya dengan menambah kecepatan karena merasa kasihan pada Adeeva. Namun, ternyata permintaannya membuat perempuan itu gelagapan.
Benar-benar bodoh! Alasanku semakin membuatku gugup setengah mati, jeritnya dengan mulai menyandarkan punggungnya pasrah.
Adeeva sudah menebak jika dia pasti bertemu dengan pria itu. Pria pemaksa dan gila yang mengejar dirinya hanya untuk permintaan maaf. Bahkan jika mengingat kotak misterius yang disimpan di meja kerjanya, semakin membuat Adeeva bingung apa yang harus dilakukan jika bertemu Reno.
Semoga Kak Bara mengajak sekretarisnya yang lain, doanya dalam hati.
Perlahan mobil Jonathan mulai memasuki area parkir restoran. Keduanya segera turun saat mobil berhenti dengan tepat.
"Kamu bawa semuanya, 'kan?" tanya Jonathan saat mereka baru saja turun.
"Iya, Pak." Adeeva mengangguk.
Dia segera berjalan di belakang atasannya dengan cepat. Mengikuti langkah kaki pria tegap di depannya ini hingga memasuki restoran.
Pandangan Adeeva mengedar. Dia mencoba mencari sosok yang tak diharapkan kedatangannya. Saat menyadari bahwa mereka datang lebih dulu, dirinya sedikit bisa bernafas lebih lega.
"Saya izin ke kamar mandi dulu, Pak," pamitnya pada Jonathan.
"Ya, Deeva."
__ADS_1
Perempuan itu segera membawa tas jinjingnya juga. Dia memasuki bilik toilet hingga menemukan sebuah kaca besar di sana.
Adeeva meletakkan tas miliknya di dekat wastafel. Dirinya mulai merapikan riasannya yang sedikit berantakan karena kegugupannya.
Dia benar-benar tak tahu harus melakukan apa jika benar bertemu dengan Reno. Entah kenapa menerima paket tadi, dia merasa hatinya mulai tersentuh. Melihat jerih payah Reno yang mencoba meminta maaf. Membuat Adeeva benar-benar menghargai jerih payahnya.
Kenapa aku memikirkan pria itu! Bisa-bisa aku dibuat gila jika terus begini! Umpatnya dalam hati lalu segera keluar karena takut Jonathan lama menunggu.
Namun, saat Adeeva mulai melangkah menuju ruangan khusus yang sudah disewa oleh pihak Bara. Matanya langsung bisa menatap ke arah dua punggung yang membelakanginya.
Dia sangat hafal betul siapa pemilik dua punggung itu. Lidahnya terasa kelu dan ia menelan ludahnya paksa. Ternyata apa yang dia takutkan benar terjadi.
Reno lah yang ada di sana. Menemani suami sahabatnya untuk pertemuan siang ini.
"Selamat siang, Pak Bara, Pak Reno," katanya dengan menepis kegugupan. "Maaf saya dari kamar mandi."
"Santai saja, Nona Deeva!" kata Bara menyahut. "Kami bisa memaklumi. Bukan begitu, Sekretaris Ren?"
Reno spontan gelagapan. Dia melirik Bara yang sedang terkekeh geli karena tingkahnya.
Bener-bener bos gila, umpat Reno menatap Bara kesal.
"Ah ya, Nona Deeva."
Empat orang itu memulai meeting mereka kali ini. Keempatnya saling menepis kenyataan bahwa saling kenal. Wajah profesional di sana tentu sangat amat terlihat.
Baik Bara maupun Jonathan. Walau hubungan mereka adalah ipar. Tetap saja jika sedang begini mereka tampak serius.
Namun, dibalik itu semua. Terdapat sepasang mata yang memandang kagum ke arah pria yang sedang membacakan presentasinya. Tubuhnya yang gagah, pembawaan yang tenang serta suaranya yang sangat amat tegas, membuat Adeeva berkali-kali terpesona pada sosok Reno.
Jika sedang begini, pria itu sangat amat berbeda dengan Reno yang ketus dan bermulut pedas. Pria itu terlihat begitu berwibawa dan terhormat ketika seperti ini.
"Itulah presentasi dari kami. Semoga Pak Jonathan, bisa mempertimbangkan untuk menerima kerjasama dari kami," kata Reno menutup presentasinya.
Adeeva, Bara dan Jonathan bertepuk tangan. Mereka mengagumi cara pria itu berpresentasi dengan baik dan sempurna. Walau sebenarnya dibalik sikapnya itu, Reno mencoba menetralkan dirinya saat tanpa sengaja matanya bersitatap dengan mata wanita itu.
Wanita yang memenuhi ingatannya. Wanita yang membuatnya bisa bersikap gila untuk pertama kalinya. Beli bunga, coklat bahkan hal gila lainnya.
"Saya menerima kerja sama dengan perusahaan Anda, Pak Bara. Semoga kerja sama ini saling menguntungkan dan berjalan lancar."
"Aamiin."
Akhirnya meeting kali ini ditutup dengan makan siang bersama. Jonathan memanggil pelayan saat mereka ingin memesan.
__ADS_1
Satu persatu mulai mengatakan apa pesanan mereka. Hingga saat giliran Adeeva. Perkataan dari sosok pria yang duduk di depannya membuat gadis itu terbelalak.
"Nasi goreng dan jus jeruk."
Perkataan Reno benar-benar membuat gadis itu tercengang. Namun, ia tak bisa melakukan apapun karena ada atasan dan suami sahabatnya.
Akhirnya mereka segera makan dengan lahap. Keempatnya benar-benar sudah lapar sejak tadi. Hingga makanan itu tentu dengan cepat tandas dalam waktu yang singkat.
"Biarkan aku yang membayarnya, Bar," kata Jonathan dengan santai.
"Tapi, Kak…" sela Bara tak enak hati.
"Udah santai aja."
Setelah semuanya selesai dibayar. Keempatnya segera keluar dari restaurant. Namun, perkataan Bara yang tiba-tiba, membuat Adeeva dan Reno saling pandang.
"Sekretaris Ren, bisakah mengantar Nona Adeeva kembali ke perusahaannya?"
"Memangnya Anda mau kemana, Pak?" tanya Reno dengan bingung.
"Saya dan Pak Jonathan masih ada suatu pekerjaan pribadi. Jadi saya akan ikut ke mobilnya."
"Tidak perlu, Pak Bara. Saya bisa naik taksi saja," kata Adeeva menolak.
Dia benar-benar tak mau satu mobil dengan Reno. Entah kenapa dirinya semakin merasa oleng jika berada di dekat pria itu.
"Kalau Nona Adeeva tak mau, lebih baik saya membatalkan janji saya dengan Tuan Jonathan."
Adeeva yang mendengar tentu merasa tak enak hati. Dirinya merasa sungkan pada Bara dan Jonathan. Akhirnya mau tak mau, Adeeva menerima perintah Bara agar pulang dengan Jonathan.
"Antar Nona Adeeva dengan selamat, Sekretaris Ren," kata Bara saat Adeeva dan Reno mulai memasuki mobil.
"Siap, Pak."
Sepeninggal mobil mereka. Bara terkekeh pelan. Rencana yang sudah diatur akhirnya berhasil juga. Dirinya ingin sekali membuat sahabatnya itu merubah arah pandangnya. Dia juga ingin Reno lebih menghargai perasaan wanita.
"Apa rencanamu akan berhasil?" tanya Jonathan yang ternyata sudah ikut serta dengan rencananya.
"Berhasil, Kak. Aku yakin itu. Kita lihat aja hasilnya nanti."
~Bersambung
Siapa yang satu rencana sama Mas Bara? Kira-kira kalau kucing dan tikus satu mobil, apa yang terjadi yaw?
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.