Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Aksi Zelia Adeeva


__ADS_3


...Bahkan air mataku sudah tak sudi untuk menangisimu, keadaan dan takdir yang ada di antara kita....


...~Almeera Azzelia Shanum ...


...🌴🌴🌴...


Almeera tak mengindahkan perkataan sahabatnya. Matanya bertemu pandang dengan Bara. Tak ada air mata disana. Almeera bahkan menatap datar pasangan yang terlihat begitu romantis itu. 


Hatinya seakan telah mati rasa akan semua tingkah laku suaminya. Almeera mulai memahami semua keadaan. Dia sudah menerima takdir hidupnya. Tak menyalahkan Tuhan dan tak ingin berlarut-larut akan kesedihan. 


Ya, Almeera mulai tersadar. Bukan hanya Bara yang berhak bahagia. Melainkan dirinya juga memiliki hak untuk mendapatkan dan mencari kebahagiaan itu di hidupnya.


Sedangkan Bara, pria itu spontan melepaskan tangannya dari pinggang Narumi. Pria itu seperti pencuri yang ketahuan. Bara seakan mendadak linglung dan tak tahu apa yang harus dia lakukan. 


Berhadapan dengan istri pertamanya saat bersama istri kedua, tak pernah ada dalam bayangannya. Bahkan Bara bisa pastikan, jika ini adalah pertemuan pertama antara Almeera dan Narumi setelah pernikahan keduanya.


Tanpa keduanya sadari, jika Zelia dan Adeeva sudah berjalan mendekati Bara dan Narumi. Kedua orang itu tak perlu menanyakan pada Almeera. Melihat secara langsung dengan matanya sendiri, bagaimana Bara melakukan Narumi dengan mesra. Ikatan tangan di pinggang sudah tentu menunjukkan ada apa di antara keduanya. 


"Zelia….Adeeva." 


"Apa maksud semua ini, Kak Bara?" tanya Adeeva tanpa basa basi.


Hubungan keduanya yang dekat, tentu membuat kedua sahabat Almeera tak perlu takut pada Bara. Perkenalan mereka saat masih duduk di bangku kuliah, tentu membuat hubungan mereka juga dekat. Bara yang menganggap dua sahabat Almeera sebagai adiknya sendiri, lalu Adeeva dan Zelia menganggap Bara seperti kakaknya sendiri. 


"Lalu, kamu!" tunjuk Zelia menatap sahabatnya.


Perempuan itu benar-benar tak habis pikir. Sahabat yang sejak SMA begitu akrab dengan mereka ternyata tak lebih ubahnya seorang pengkhianat. Hal itu tentu membuat Zelia dan Adeeva menatap benci ke arah Narumi. 


"Teman macam apa merebut suami sahabat sendiri!" 


Narumi menatap sengit ke arah keduanya. Tanpa malu, dia melingkarkan tangannya di lengan Bara dan menunjukkan kepemilikan. 


"Menjijikkan. Dasar, Pelakor." 


Nafas Narumi menggebu. Dia tak terima disebut dengan panggilan itu. 


"Aku bukan pelakor." 


"Lalu jika bukan pelakor. Sebutan apa yang pantas untuk wanita sepertimu?" balas Adeeva menyahut. "Perempuan gatal atau perempuan murahan!"

__ADS_1


"Berhenti, Va!" ancam Bara menatap tajam perempuan di depannya. "Narumi adalah istriku." 


"Apa!" Adeeva dan Zelia terbelalak.


Jantung keduanya berdegup kencang dengan pandangan tak percaya. Dia menatap kedua orang didepannya ini bergantian lalu membalikkan tubuhnya untuk meneliti keadaan sahabatnya disana. 


Keduanya tak habis pikir. Bahkan menurut mereka ini adalah hal gila. Bagaimana bisa Bara yang mereka tahu sangat mencintai Almeera dan memperlakukan wanita itu seperti ratu. Bisa membuat pria itu berpaling dan lebih parahnya berpoligami. 


"Kakak bohong, 'kan?" tanya Zelia menggelengkan kepalanya.


"Itu kebenaran, Ze." Itu bukan suara Bara. Melainkan Narumi dengan senyum mengejek. 


"Jangan bangga karena hasil merebut, Rum. Posisimu itu tak lebih ubahnya belatung yang menumpang hidup pada makhluk lain." 


"Kamu!" Narumi melepas kaitan tangannya.


Dia hendak menampar Zelia dengan kuat. Tapi tiba-tiba, saat tangan itu sudah terayun. Sebuah telapak tangan berhasil menangkapnya dengan cengkraman erat.


"Jangan pernah berani memukul sahabatku dengan tangan rendahmu itu." Almeera menepis tangan Narumi dengan muka datarnya.


Seakan dia selesai memegang benda kotor. Almeera mengambil tisu dan membersihkan tangannya.


Narumi menunjukkan bekas cengkraman tangan Almeera. Namun, bukannya takut. Ibu dari dua anak itu spontan membalas tatapan Bara. Dia benar-benar sudah berubah. Tak ada tangisan atau apapun disana. Almeera benar-benar menjelma menjadi sosok wanita yang tangguh.


"Kasihan sekali rengekanmu diacuhkan, 'bukan?" sindir Almeera dengan senyum miring.


"Berhenti, Meera."


"Kenapa berhenti?" sahut Almeera menatap pura-pura bodoh di depan suaminya. "Bukankah wanita itu memang tak penting untukmu, Mas."


"Apa maksudmu?" seru Narumi menatap Almeera dengan tajam. "Aku adalah istri yang dicintai Mas Bara."


"Yakin?" ledek Almeera sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


"Jangan lupakan posisimu, Pelakor," sahut Zelia mengejek. "Kamu hanya istri kedua." 


"Mas." 


"Berhenti menghina istriku!" seru Bara membela.


Namun, sejujurnya pria itu seakan enggan untuk mengatakan hal yang baru saja terlontar dari mulutnya. Bahkan pria itu menatap sosok istri pertamanya dengan lekat. Seakan Bara enggan mengalihkan pandangannya.

__ADS_1


Kenapa Almeera semakin terlihat cantik? Gumamnya dalam diam. 


"Apa kepala Kak Bara habis terantuk dinding?" tanya Adeeva dengan cepat. "Kenapa Kakak menjadi bodoh?" 


"Jangan katakan apapun lagi!" ancam Bara menatap sosok yang sudah dianggapnya adik. "Narumi itu istriku. Jadi kalian harus menghargai dia." 


"Menghargai?" balas Almeera tak percaya.


Dia berjalan mendekati dua pasangan itu. Menunjuk secara bergantian lalu diiringi tawa renyah. 


"Kalian benar-benar lucu! Meminta dihargai tapi tidak mau menghargai orang lain," jeda Almeera sambil menggelengkan kepalanya. "Berteman saja dengan setan. Cocok kok sama prinsip kalian berdua. Setan akan menghargai kalian tanpa meminta balasan."


Setelah mengatakan itu Almeera lekas berlalu dari hadapan dua orang itu. Dengan sengaja dia menabrak bahu Bara dan tak menengok ke belakang lagi. Dia sudah merasa sakit. Ya, sekuat-kuatnya Almeera. Dia hanyalah sosok istri yang mencintai suaminya. Namun, tekadnya yang kuat, membuat dia yakin bisa melewati semuanya.


Almeera berjanji menunjukkan pada dunia bahwa dia baik-baik saja. Dia akan tunjukkan di depan mata suaminya, bahwa dia bisa secantik dan seseksi seperti Narumi. Bahkan Almeera berusaha menjadi lebih baik dari istri kedua suaminya itu.


Sepeninggal Almeera. Tatapan Narumi dan Bara tertuju pada dua orang itu. Zelia dan Adeeva, dia masih berdiri tegak di sana tanpa mengatakan sepatah katapun.


"Sepertinya aku melupakan sesuatu, Kak," kata Zelia menatap suami sahabatnya itu. 


Segera Zelia meraih tangan Bara dan mengajaknya berjabat tangan. 


"Selamat atas pernikahan kedua, Kakak," kata Zelia dengan senyuman miris. "Semoga pernikahan Kakak mendapat balasan karena menzalimi seorang istri yang tersakiti." 


Lalu Zelia menoleh. Dia menatap Narumi dengan senyuman sinis. 


"Memang benar, 'yah! Seseorang yang dulu dipungut, dijadikan sahabat dan diberi kasih sayang, tak melulu bisa membalas kebaikannya." Sindir Zelia dengan tatapan tajam. "Hanya perlu modal GATAL. Kamu sukses menghancurkan pernikahan sahabatmu sendiri." 


Setelah mengatakan itu Zelia berjalan dengan tergesa menyusul Almeera. Dia ingin segera sampai untuk melihat keadaan sahabatnya. 


Disana, tinggallah tiga orang berhadapan. Adeeva, sosok sahabat yang paling dekat dengan Almeera dan Bara benar-benar masih merasa syok. Bahkan melihat siapa istri kedua dari suami sahabatnya saja, Adeeva tak habis pikir.


"Aku tak tahu harus mengatakan apa, Kak," ucap Adeeva dengan pelan. "Namun, percayalah satu hal. Kebahagiaan yang didapat dari merusak kebahagiaan orang lain. Tak akan bertahan lama."


~Bersambung


Ah Mbak Meera, aku padamu.


Apalagi Mbak Ze sama Mbak Deeva, kalau ngomong suka nyelekit ya, haha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2