
...Setelah badai menerpa hubungan keduanya. Maka perubahan sikap suaminya semakin terlihat untuk menjadi sosok yang lebih baik....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Ternyata kegiatan dua anak manusia itu belum berakhir. Keduanya masih saling berpacu cepat dengan posisi Almeera berada di atas. Tubuh wanita itu bergerak ke atas ke bawah. Saling memompa layaknya menunggang kuda dengan kecepatan tinggi.
Hingga suara longlongan dari keduanya menunjukkan kegiatan mereka berakhir. 3 kali ronde, 3 kali pelepasan akhirnya berakhir dengan wajah penuh kepuasan.Â
Entah sudah berapa jam mereka bergulat tapi yang pasti, Almeera merasakan tubuhnya mulai lelah. Dia menjatuhnya bobot tubuhnya di atas tubuh sang suami dengan mata terpejam. Nafasnya terengah hingga tak lama suara dengkuran halus terdengar yang membuat Bara tersenyum.Â
Dia bisa merasakan gairah istrinya yang sangat membara. Bahkan Almeera tak menjadi pasif. Dia ikut aktif bergerak saling memberikan kenikmatan dan kepuasan kepadanya.
Tak peduli bila dirinya tak sanggup. Namun, Almeera sebaik mungkin membuatnya tak berhenti meneriakkan nama Almeera sejak tadi.
Akhirnya Bara mulai memiringkan tubuhnya dan meletakkan tubuh istrinya. Lalu dengan pelan, pria itu segera memakai pakaiannya lagi setelah membersihkan naga miliknya dengan tisu.Â
Dia segera keluar dari kamar untuk mengambil ember dan air hangat lalu membersihkan area kenikmatan sang istri. Dia tak mau Almeera tidur dengan keadaan tak nyaman. Saat Bara baru saja turun, waktu ternyata sudah menjelang sore hari.Â
Disana, dia melihat Humaira tengah berkutat di dapur sendirian. Hal itu membuat Bara merasa kasihan. Saat suami Almeera mulai memasuki dapur, Humai yang sedang berbalik tersentak kaget.
"Maaf mengejutkanmu," kata Bara tak enak hati.
"Gapapa." Humai terlihat menunduk. "Mas ngapain kesini?"Â
"Emm aku bisa meminta air panas?"Â
"Oh bisa. Sebentar," sahut Humai lalu mengambil ember kecil di dekat kamar mandi.
Perempuan itu lekas membawanya ke dapur. Dia menuang termos berisi air panas yang selalu ia simpan untuk membuat teh lalu memberikannya pada Bara.
"Segini cukup?"Â
"Cukup," ujar Bara menerima ember tersebut. "Sekali lagi terima kasih ya, Humai."
"Iya, Mas. Sama-sama."Â
Akhirnya Bara kembali ke kamarnya. Dia mengambil sapu tangan miliknya yang terdapat logo GBA di bagian ujung lalu mencelupkannya di dalam ember yang sudah dicampur dengan air dingin.
Dengan lembut Bara menyibakkan selimut sang istri. Kemudian dia mengusap area lembah Almeera dengan sapu tangan yang terasa hangat.
__ADS_1
Terlalu kelelahan ternyata membuat wanita itu tak melakukan pergerakan apapun. Bahkan Almeera masih asyik terlelap meski Bara melakukan apapun pada bagian inti tubuhnya.
Setelah selesai. Bara lekas menyelimuti tubuh istrinya lagi. Lalu sebelum beranjak pergi, dia mencium dahi Meera dengan sayang.
"Maaf sudah membuatmu lelah, Sayang. Setelah ini biarkan aku yang mengurus anak-anak."Â
...🌴🌴🌴...
Saat mata yang semula terpejam akhirnya kini mulai terbuka. Tubuhnya menggeliat saat dia merasakan sakit luar biasa di seluruh tubuhnya. Suara kretek-kretek pada punggungnya pun, begitu terdengar tatkala ia menarik otot-otot tubuhnya.Â
Dirinya menoleh ke seluruh kamar. Ruangan itu sangat sepi. Tak ada suami dan anak-anaknya. Hingga hal itu membuat Almeera beranjak duduk dan mencari jam dinding yang ada di kamar itu.
"Ya Allah. Jam setengah tujuh malam," pekik Almeera terkejut tak percaya.
Dia segera turun dari sana. Saat kakinya melangkah, dirinya tak merasa lengket di area inti tubuhnya. Hingga tatapan wajahnya langsung tertuju pada sebuah ember kecil yang berada di dekat ranjang. Bibirnya tersenyum saat dirinya pasti menebak bahwa ember itu digunakan suaminya untuk membersihkan miliknya.
Akhirnya Almeera memilih mengganti pakaiannya dengan daster longgar dan panjang. Dia juga memakai jilbab untuk menutupi rambutnya. Perlahan ibu dua anak itu menuruni tangga. Dia mengedarkan pandangannya dan belum melihat anak-anak dan suaminya.Â
Hingga tiba-tiba suara cekikikan dan tawa bahagia dari mulut orang yang sangat ia kenali membuat Almeera keluar dari rumah. Dia segera berjalan ke depan dan melihat pemandangan yang sangat membahagiakan.Â
Suami, anak dan sahabat suaminya disana tengah bermain bulu tangkis dengan wajah mereka yang dipenuhi coretan putih. Almeera menarik sudut bibirnya sampai ke atas saat melihat ekspresi putrinya yang loncat kesana kemari tak kenal lelah.
Dia tak menyangka bila suaminya mau mengurus anak-anaknya. Hingga keasyikan menonton membuat Almeera tak sadar jika Bia melihat posisinya.
"Mama!"Â
"Mama sudah bangun?" tanya Bia sambil memeluk tubuh mamanya.
"Iya.
"Mama kenapa sudah bangun?" tanya Abraham yang membuat Almeera mengerutkan keningnya.
"Loh. Emangnya kenapa?"Â
"Kata Papa, Mama gak turun karena kecapekan abis bikin adik buat kita."Â
"Apa!" Mata Almeera membulat penuh.
Apalagi saat suami dan sahabat suaminya senyum-senyum sendiri yang membuat pipi Almeera mulai memerah.
"Itu!" ujar Almeera kebingungan. "Mama udah sehat. Ya Mama udah gak capek lagi."
"Jadi Mama bisa main lagi sama Bia, 'kan?" tanya anak usia lima tahun itu penuh harap.
__ADS_1
"Iya dong, Sayang. Bisa banget."Â
Wajah anak itu tentu merasa bahagia. Melihat senyuman Bia, membuat Almeera tak mau mengecewakan anaknya itu.Â
Meski dirinya sangat amat lelah. Bahkan merasakan pinggangnya sakit. Almeera berusaha menyingkirkan itu. Dia ingin anak-anaknya tak kekurangan perhatian dari dirinya. Ia tak mau anaknya merasa tak diperhatikan karena dirinya ingin hamil.
Semua harus sama dan seimbang!Â
Saat mereka masih asyik mengobrol. Kedatangan Humaira membuat Almeera mendongak.
"Ya, Humai?"Â
"Makan malamnya sudah selesai, Mbak. Ayo masuk!"Â
Mereka segera pindah ke meja makan. Bia, Abraham, Bara, Almeera dan Syakir sudah duduk mengelilingi makanan yang ada di atas meja makan. Humaira dengan gesit menyiapkan semuanya. Saat gadis itu hendak beranjak, Almeera menahan lengannya hingga perempuan itu menoleh.Â
"Mau kemana?"Â
"Eh itu, Mbak. Ke depan…" ujarnya terbata dengan melirik Syakir takut-takut.Â
Almeera menggeleng. "Ayo makan sama kita. Duduk sini!"Â
Almeera menarikkan sebuah kursi yang berada di dekat Almeera. Namun, gadis itu tak kunjung duduk dan malah mencuri pandangan ke arah Syakir yang menatap keduanya dengan pandangan datar.
"Saya lebih baik makan nanti aja, Mbak."Â
"No! Kamu yang masak dan kita ini sudah keluarga. Jadi kita harus satu meja makan."Â
Akhirnya dengan sangat amat terpaksa. Humaira duduk di samping Almeera. Gadis itu mengabaikan sorot mata penuh ancaman dari mata milik pria yang merupakan suaminya.Â
Humaira merasakan lidahnya keluh dengan rasa takut yang membuat dia makan dengan tak berselera. Apalagi rasa mual yang kembali hadir, membuatnya segera minum teh hangat yang sudah disiapkan.
"Kenapa, Hum?" tanya Almeera melihat raut Humai yang seperti menahan sesuatu.
"Sebentar, Mbak." Gadis itu segera berlari menuju kamar mandi.
Dari tempatnya duduk, Almeera bisa mendengar bagaimana gadis itu mual dan muntah dengan hebat hingga membuat ibu dua anak itu melihat ke arah Syakir.
"Kenapa?" tanya Syakir saat tatapan Almeera mencurigai dirinya.
"Dia siapa, Kir?" tanya Almeera dengan sorot mata tajam. "Katakan padaku! Apa Humaira sedang mengandung?"Â
~Bersambung
__ADS_1
Lalala Mbak Meera kalau curiga mah selalu bener kali yah tebakannya.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.