Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kebelet Kawin


__ADS_3


...Kebahagiaan sahabatku termasuk kebahagiaanku juga. Apapun yang mereka rasakan pasti aku ikut merasakan....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Jadi apakah Reno jadi dengan sahabatmu itu, Sayang?" tanya Bara lalu memeluk istrinya itu.


Kepala Almeera mengangguk. "Ya. Hasil dari jadi kucing dan tikus akhirnya mereka akur." 


Bara dan Almeera terkekeh. Keduanya sangat amat membayangkan bagaimana dulu Reno dan Adeeva bertemu. Pertengkaran yang membuat Bara meminta sahabatnya membujuk Adeeva sebenarnya hanya bulannya saja. 


Entah kenapa, Bara ingin menjodohkan Reno dengan sekretaris kakak iparnya itu. Melihat bagaimana Adeeva, kinerjanya dan sikapnya sudah sangat membuat Bara menyetujui hubungan keduanya.


Dia tak mau sahabatnya salah memilih pasangan hidup. Bara tahu sendiri Reno tak pernah pacaran. Maka dari itu ketika masalah hadir di antara mereka berdua. Bara mengambil celah di tengahnya. 


"Berarti usaha Mas gak sia-sia, Sayang," kata Bara dengan antusias. "Dulu Mas khawatir Reno guy, mengkanya Mas kerjain buat nyusul Adeeva. Eh ternyata mereka bisa deket-deket sendiri." 


Almeera terkekeh. Namun, kepalanya mengangguk menyetujui perkataan suaminya. Dia pun sama dengan Bara. Ingin Adeeva berubah menjadi sosok yang lebih baik. Melupakan prinsipnya untuk tidak menikah dan membuka pikirannya bahwa tak semua pria itu sama.


Adeeva harus berani membuka hatinya. Mencoba menjalin hubungan agar bisa merasakan perbedaan itu. Lalu ternyata! Saat mengetahui sahabatnya jadian dengan Reno. Satu langkah ke depan sudah di dapatkan dan Almeera yakin mereka bisa ke jenjang yang lebih serius.


Lalu semua itu kini menjadi kenyataan! 


"Jadi gimana, Mas?" tanya Almeera sambil mengusap dada bidang Bara.


"Ya kalau gak keberatan. Besok kita pulang ke Jakarta, Sayang," kata Bara meminta pendapat. "Sahabatku sepertinya sudah tak sabar." 


"Aku setuju. Kita bisa melanjutkan liburan kita setelah mereka menikah." 


Akhirnya Bara segera meminta Reno untuk memesan tiket kereta api. Entah kenapa dia ingin menghabiskan waktunya dengan keluarga dengan kendaraan mesin berjalan itu. 


Suasananya pasti sangat amat berbeda ketika menaiki mobil. Kanan kiri pasti dilewati dengan banyak pemandangan hingga sampai ke kota besar.


Reno dengan antusias segera menjalankan perintah Bara. Pria itu tak menyangka jika sahabat sekaligus atasannya mengabulkan permintaannya ini. Permintaan seorang teman yang ingin ikut merasakan bagaimana indahnya rumah tangga. 


"Kamu memang sahabat yang terbaik, Mas," bisik Almeera menghadiahkan sebuah kecupan di pipinya.

__ADS_1


Bara tersenyum. Dia merapatkan pelukannya dan mengendus ceruk leher istrinya itu.


"Tapi semua ini ada imbalannya," bisiknya yang membuat Almeera terkekeh. 


Ibu dua anak itu melingkarkan tangannya di leher sang suami. Dia berjinjit sejenak lalu menghadiahi sebuah kecupan mesra di bibir suaminya itu.


"Sudah?" tanya Almeera sejenak dengan senyuman nakal.


"Hanya kecupan?" tanya Bara dengan mencebik. "Itu tidak seimbang dengan…"


Almeera segera memagut bibir suaminya itu. Membuat Bara yang sudah siap tentu menyambut ciumannya itu. Sebuah ciuman mesra dan memabukkan yang membuat keduanya lagi-lagi mulai terasa panas.


Gelora yang selalu ada di antara keduanya ketika bersentuhan tentu semakin membuat mereka semakin merapatkan tubuh keduanya. Saling menjelajah, menari-nari dan menyentuh semua sudut yang terasa membuat mereka semakin melayang. 


Hingga akhirnya terjadilah pergulatan panjang itu sebagai penutupan di akhir liburan mereka. Menghabiskan malam panjang yang indah dengan harapan semoga hadirnya Bara dan Almeera kecil di antara keduanya.


...🌴🌴🌴...


Akhirnya Bara dan Almeera mulai menarik kopernya dan melangkahkan kaki di atas lantai stasiun. Didepan mereka terlihat Bia dan Abraham berjalan bergandengan tangan. 


Suasana Stasiun Yogyakarta terlihat begitu ramai. Banyak lalu lalang para wisatawan yang hendak menggunakan kendaraan mesin ini untuk melanjutkan perjalanan mereka.


Bara segera meminta istri dan anaknya duduk ketika mereka sudah memasuki kereta panjang itu. Dia mengatur koper itu dengan baik lalu menyusul duduk di samping putrinya. 


"Secepatnya, Sayang. Tunggu Om Reno menikah dulu yah."


"Iya, Papa. Memangnya kapan Om Reno nikah?" tanya Bia penasaran.


"Mungkin besok," ujar Bara menebak.


"Ya enak dong, Pa. Biar Om Reno gak jadi obat nyamuknya, Papa dan Mama." 


Almeera dan Bara terkekeh. Mereka tak percaya jika anaknya sangat tahu jika Reno selalu menjadi obat nyamuk mereka. Namun, yang dikatakan Bia memang benar.


Reno sering menjadi orang ketiga jika Bara meminta istrinya datang ke kantor. Menemaninya hingga membuat pria itu mengeluarkan sumpah serapah.


Akhirnya perjalanan dari Yogyakarta-Jakarta berakhir. Mereka segera keluar dari stasiun dan bersamaan dengan munculnya pasangan calon pengantin baru dengan wajah bahagia.


Almeera lekas memeluk sahabatnya itu. Dia benar-benar ikut bahagia dengan hidup Adeeva saat ini.

__ADS_1


"Selamat yah. Semoga tak ada halangan lagi di antara kalian," bisik Almeera memeluk sahabatnya. 


"Terima kasih. Doakan semuanya lancar," balas Adeeva dengan hati bergetar. "Aku sudah lelah menangis terus. Aku berharap Reno bisa membawaku meraih bahagia bersama-sama." 


Almeera melepaskan pelukannya. Dia menghapus air mata Adeeva yang mengalir dan menganggukkan kepalanya.


"Percayalah. Apa yang Tuhan berikan pada kita, itu sebuah ujian untuk mendewasakan kita, mengangkat derajat kita menjadi lebih tinggi dan menjadi manusia yang lebih baik," kata Almeera menenangkan.


"Aku tahu tapi ayahku…"


"Ujian dari Tuhan tak memandang siapa mereka. Bisa dari keluarga, teman atau pasangan kita sendiri. Contoh seperti kita berdua, 'kan?" ucap Almeera pada sahabatnya. "Keluargaku dan temanku sangat menyayangiku tapi suamiku, yang memberikan ujian padaku. Sedangkan kamu, Reno dan Ibumu adalah dua orang yang memberikanmu semangat dan ujianmu adalah ayahmu sendiri." 


Adeeva menganggukkan kepalanya menyetujui perkataan sahabatnya ini. Almeera sejak dulu mampu membuat hatinya tenang dan Adeeva merasa bersyukur.


"Jangan pikirkan apa yang sudah terjadi. Jadikan semua sebagai pelajaran hidup dan sekarang pandanglah masa depanmu nanti bersama Reno." 


Pembicaraan keduanya akhirnya berakhir tatkala Reno dan Bara mendekati keduanya. Almeera tentu langsung menjabat tangan sahabat suaminya itu.


"Selamat yah. Aku doain semoga semuanya lancar," kata Almeera pada Reno.


"Terima kasih banyak, Ra. Berkat kamu juga akhirnya aku bisa menemukan tambatan hati," kata Reno meraih pinggang kekasihnya.


Bara mencibir. Pria itu juga tak mau kalah. Dia meraih pinggang istrinya dan mencium pipi Meera.


"Bukan hanya kamu saja. Aku juga bisa," sindir Reno hendak mencium Adeeva tapi baju belakangnya langsung ditarik oleh Bara.


"Bar, sialan Lo!" 


"Belum muhrim. Gak boleh cium-cium! Nyosor banget tu mulut," seru Bara memukul pundak sahabatnya.


Almeera terkekeh. Dia menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua pria dewasa di depannya ini.


"Mangkanya cepet nikah kalau udah kebelet kawin!" 


~Bersambung


Mas Bar sama Mbak Meera emang bikin Reno makin kebelet, eh hahaha.


Dah kepanasan dia pen cepet kawin ehhh.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetik.


Kalau ada typo bilang ya guys.


__ADS_2