Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Adeeva Sakit


__ADS_3


...Pasangan suami istri itu harus siap dalam suka maupun duka. Dalam sakit maupun sehat. Dalam susah maupun kaya. Mereka harus saling berbagi, menjaga dan saling merawat satu dengan yang lain....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Pagi kembali menyapa sebuah rumah yang terlihat begitu tenang. Hari libur kali ini sepertinya digunakan untuk berleha-leha. Terlihat sepasang manusia yang sudah berstatus suami istri selama satu bulan lebih, begitu nyenyak dalam tidurnya. 


Sepertinya dua orang itu telah menghabiskan malam yang panas dengan melihat pakaian mereka yang berserakan dan tubuh keduanya yang polos di balik selimut.


Sinar matahari yang menembus sela-sela kaca mulai menyinari kamar yang mulanya temaram. Sebuah lilitan tangan di perutnya membuat perempuan itu mulai menggeliat.


Dia merasa tak nyaman di perutnya. Matanya langsung terbuka lebar saat dia merasakan gejolak dalam dirinya dan hendak keluar.


Tanpa peduli tubuhnya yang polos. Perempuan itu segera berlari menuju kamar mandi. Dia memuntahkan cairan berwarna kuning dari mulutnya yang terasa pahit.


Reno yang mulanya tenang dalam tidurnya. Mulai terusik saat merasakan gerakan di sampingnya. Hingga suara muntahan begitu hebat di kamar mandi, membuat pria itu akhirnya mengambil celana pendek dan mengenakannya sebelum menyusul sang istri. 


"Kamu baik-baik saja, Sayang?" tanya Reno sambil memijat tengkuk Adeeva.


Perempuan itu masih diam. Adeeva masih mengeluarkan semua cairan kuning itu yang terasa pahit dalam dirinya. Kemudian, dia segera menyiram bekas muntahan itu lalu duduk diatas closet. 


"Iya, Ayank. Aku baik-baik saja," sahut Adeeva dengan lemah.


Reno mengangkat wajah istrinya. Dia melihat raut wajah Adeeva begitu pucat. Tak mau membuat istrinya kenapa-napa. Pria yang sudah berstatus suami itu segera menggendong Adeeva dan membawanya ke atas ranjang.


"Ambilkan dasterku, Ayank. Sepertinya aku masuk angin sampai muntah-muntah," kata Adeeva dengan apa adanya.


"Kemarilah! Aku akan memberikan minyak kayu putih di seluruh tubuhmu," ujar Reno lalu mengambil botol kayu putih dari atas meja rias.


Setelah berhasil memberikan minyak ke seluruh tubuh istrinya. Dengan penuh perhatian Reno membantu Adeeva memakai pakaiannya. Pria itu benar-benar menatap tubuh istrinya yang polos biasa saja tak seperti biasanya.


Jika sebelumnya ia akan menggila. Namun, mendengar istrinya muntah-muntah dan wajahnya yang pucat membuat pria itu sadar. 


Ya, Reno menyadari jika ini semua pasti ulahnya. Selama setelah menikah. Setiap malam Reno tak pernah absen membajak rawa-rawanya. Ninjanya selalu berhasil menerobos masuk dan mengeluarkan kekuatannya. 


"Pusing, Sayang?" tanya Reno perhatian.


"Ya, Ayank. Aku ingin tidur. Boleh?" tanya Adeeva penuh harap.


"Tentu. Tidurlah! Aku akan membuatkan bubur dulu untukmu," kata Bara dengan serius.


"Ayank gak ke kantor?" 


"Nggak. Hari ini libur, 'kan?" 


Eh, Adeeva baru mengingat. Yah, dia melupakan bahwa hari ini adalah weekend. Akhirnya Adeeva yang sudah tak kuat dengan kepalanya yang pusing segera memejamkan matanya.

__ADS_1


Sedangkan Reno, pria itu segera membersihkan dirinya sebelum turun ke lantai pertama. 


...🌴🌴🌴...


"Selamat pagi, Ibu," sapa Reno saat pria itu bertemu dengan ibu mertuanya di dapur.


"Pagi, Nak," sahut Ibu Adeeva dengan menatap kehadiran menantunya. "Kok sendirian? Apa Adeeva masih tidur?" 


Reno menggeleng. Dia berjalan menuju tempat penyimpanan beras dengan tatapan mata Ibu Adeeva yang mengikutinya.


"Adeeva sakit, Bu. Sepertinya dia masuk angin," ucap Reno dengan suara pelan di akhir kalimatnya.


"Masuk angin?" 


"Iyah," ujar Reno menjawab. "Apa Ibu mau mengajariku membuat bubur?"


"Duduklah disini dan biarkan Ibu yang memasak," kata Ibu Adeeva penuh pengertian.


"Tapi Reno ingin membuatnya sendiri," kata pria itu sedikit memaksa.


"Baiklah. Ayo! Ibu akan membantumu." 


Akhirnya mertua dan menantu itu terlihat begitu kompak. Ibu Adeeva dengan telaten membantu Reno dengan memberikan arahan satu persatu cara membuat bubur kesukaan istrinya.


Pria itu tak menyerah sedikitpun. Walau Reno mulai merasa kewalahan dan lelah. Dia terus berusaha membuat bubur itu sampai jadi. Hingga akhirnya perjuangannya memberikan hasil yang maksimal.


Semangkuk bubur dengan taburan suwiran ayam di atasnya berhasil terhidang dengan rapi disana! 


"Terima kasih, Ibu. Sudah mau Reno repotin." 


"Sama-sama," sahut Ibu Adeeva bangga. "Cepat bawakan ke kamar. Sekalian punyamu juga nih!" 


"Oke." 


Dengan langkah semangat, Reno berjalan menuju kamarnya. Dia tak sabar melihat reaksi istrinya memakan bubur buatannya ini.


Dengan sekali gerakan, Reno masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar dengan kakinya. Dia mengedarkan pandangannya hingga tersenyum saat istrinya tertidur dengan nafas naik turun di atas ranjang.


Pelan, Reno berjalan ke arahnya. Dia mendudukkan dirinya lalu memberikan kecupan singkat di pipi Adeeva.


"Sayang. Buburmu sudah siap," kata Reno penuh perhatian.


Adeeva menggeliat. Dia yang tak bisa tidur sepenuhnya akhirnya membuka mata. 


Pandangannya sayu dengan wajah yang masih pucat. Hingga hal itu tentu membuat Reno merasa semakin bersalah. 


"Kita periksa ya, Sayang!" ajak Reno pada Adeeva.


"Nggak perlu. Ntar lagi aku pasti baikan," balas Adeeva dengan pelan.

__ADS_1


Wanita itu dibantu Reno duduk sambil menyandar di kepala ranjang. Hidungnya dapat mencium aroma bubur yang sangat lezat.


Matanya berbinar saat semangkuk bubur begitu menyita perhatiannya!


"Ayo buka mulutmu, Sayang!" 


Adeeva dengan semangat menerima suapan dari sendok suaminya. Saat bubur putih itu menyentuh lidahnya. Rasa yang pas dilidah membuat matanya terpejam.


Reaksinya tentu membuat Reno ketar ketir. Dia menunggu istrinya mengatakan penilaian masakannya ini. 


"Perfect," kata Adeeva dengan membuka matanya. "Ini bubur enak banget, Ayank. Kamu bikin sendiri?"


Kepala Reno menggeleng. "Ibu dengan sigap mau membantuku, Sayang. Aku diajari membuat bubur kesukaanmu."


"Tapi rasa bubur ini beda dengan buatan Ibu. Aku suka bubur ini," kata Adeeva dengan cepat.


"Kalau suka. Yuk habiskan! Perutmu akan menjadi hangat nanti." 


Adeeva benar-benar menghabiskan bubur buatan suaminya. Lalu saat dia selesai meneguk air putih sampai tandas. Kepalanya merangsek masuk ke ceruk leher Reno yang membuat pria itu menegang.


"Sayang!" peringat Reno menggeram.


Ah tingkah kegilaan Reno dan Bara itu sama. Mereka tak bisa menahan godaan sedikitpun. Sepertinya terlalu lama menjadi perjaka tua, membuat Reno begitu ganas di atas ranjang.


"Aku pengen, Mas," bisik Adeeva dengan manja. 


"Tapi kamu lagi sakit," kata Reno menolaknya dengan pelan.


Bagaimanapun Reno masih waras. Dia tak mau egois dan memikirkan kepentingannya sendiri. Istrinya itu sedang sakit. Hingga membuatnya bisa tak bisa harus menekan rasa dalam dirinya demi kesehatan Adeeva.


"Mas!" seru Adeeva dengan mata berkaca-kaca.


Perempuan itu sedih karena permintaannya ditolak oleh sang suami. 


"Kamu udah bosen sama aku?" tanya Adeeva dengan menangis.


Astaga, Reno gelagapan. Pria itu segera menarik istrinya ke dalam pelukan untuk menenangkan Adeeva yang sikapnya terlalu manja kali ini. Namun, Reno sangat menyukainya.


"Jangan pernah katakan hal yang tak pernah aku rasakan, Sayang!" kata Reno dengan tegas. "Aku hanya tak mau kamu semakin sakit karena ulahku."


"Tapi aku udah sembuh," balas Adeeva dengan menaikkan tubuhnya hingga berada di atas pangkuan Reno. 


Bisa Reno lihat tatapan berkabut dari mata Adeeva yang membuat pria itu tak bisa menahan lagi godaan yang besar. Akhirnya pria itu segera menggendong sang istri dan bertukar posisi dengan Adeeva di bawahnya.


"Jangan salahkan aku, Sayang. Aku tak akan bisa berhenti walau kamu menjerit minta ampun!" ujar Reno dengan tatapan genitnya sebelum memulai ritual pagi kedua untuk mereka. 


~Bersambung


Trobos terosss sampai menggila tu ranjang yah. Hahahah.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar Author semangat menulis menuju ending.


__ADS_2