Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Almeera Kabur


__ADS_3


...Mungkin untuk saat ini aku belum terbiasa tanpa kehadiranmu. Namun, aku pastikan hal itu akan terbiasa untukku, ketika banyak waktu yang kulewati dengan sendirian....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Suasana ruang rawat Almeera begitu ramai karena kedatangan dua mertuanya. Ummi Mira dan Abi Hafiz langsung datang ketika Darren mengabari keadaan putrinya. Kedua orang tua Bara tentu khawatir pada menantunya. Pasalnya mereka belum bertemu lagi semenjak insiden meminta restu putrinya untuk menikah lagi. 


"Apa yang sakit, Nak?" tanya Ummi Mira ketika mendekati ranjang menantunya sendirian.


Mata Almeera berkaca-kaca. Dia menggenggam telapak tangan mertuanya dan menciumnya dengan lembut. 


"Maafkan, Almeera, Ummi."


Ummi Mira menggeleng. Dia mencium dahi wanita yang sudah disakiti putranya itu hingga air matanya menetes.


"Seharusnya Ummi yang minta maaf," kata Ummi Mira dengan mengusap wajah menantunya. "Maaf kalau putra Ummi menyakitimu sampai seperti ini."


"Semua bukan salah Mas Bara, Ummi. Ini juga salah, Almeera," lirihnya dengan air mata yang menetes. "Meera sendiri yang kasih izin sama Mas Bara untuk menikah lagi. Jadi apapun yang terjadi, Meera harus siap."


Ummi Mira mengangguk. Apa yang dikatakan menantunya memang benar. Semua yang terjadi saat ini, karena izin dari Almeera untuk putranya. 


Namun, semua yang dilakukan oleh ibu dari dua anak tersebut hanya untuk menyelamatkan suaminya. Dia takut suaminya bertindak terlalu jauh. Lebih-lebih dia takut suaminya semakin terjerumus dalam dosa perzinahan dan menghasilkan anak di antara mereka.


"Ummi, bagaimana jika suatu hari nanti, Almeera menyerah?" tanya Almeera dengan pelan. 


"Ummi akan menghargai keputusan kamu, Nak. Apapun yang akan terjadi antara kamu dan Bara, kamu tetap anak perempuan Ummi." 


Air mata Almeera semakin bercucuran. Dia memeluk tubuh mertuanya itu. Kasih sayang yang selalu diberikan oleh Ummi Mira dan Abi Hafiz kepadanya, membuat Meera sudah menganggap kedua orang tua Bara, sama dengan kedua orang tuanya juga.


"Terima kasih, Ummi. Terima kasih," lirihnya dengan perasaan yang lebih lega.


Almeera memang mulai berpikir. Sepertinya dia harus mulai menyiapkan hatinya untuk bercerai. Entah kenapa dirinya mulai merasa takut dengan perjanjian yang dilakukan dengan adik madunya. 


Melihat Bara yang tak datang menjenguknya, membuat Meera berpikir pasti suaminya itu berada di rumah adik madunya. Dirinya sudah tak ada tempat lagi di hati Bara. Baik Almeera dan kedua anaknya, kedudukan itu sudah terganti dengan adanya Narumi. 


"Ummi kesini sama seseorang loh," kata Ummi Mira mengalihkan Almeera yang sedang melamun.


"Hah! Siapa, Ummi?" 


Saat ibu dari Bara itu menggeser tubuhnya. Pintu ruang rawat Almeera terbuka dan muncullah sosok pria yang memiliki wajah hampir mirip dengan Bara memasuki ruangan. Wajah pria itu tersenyum saat matanya langsung bersitatap dengan mata kakak iparnya.


"Assalamualaikum," ucap pria itu dengan tersenyum.


"Waalaikumsalam, Ibrahim. Kapan kamu datang, Nak?" tanya Darren dengan ramah.


"Semalam, Om," sahutnya dengan ramah. 


Ibrahim Gibran Muzakki merupakan adik kandung dari Gibran Bara Alkahfi. Usia keduanya hanya berbeda dua tahun. Wajahnya memiliki kemiripan dengan ayah Abraham tapi sosoknya lebih ramah dan ceria daripada kakak kandungnya. 

__ADS_1


"Apa kabar, Kak Meera?" tanya Ibrahim dengan sopan.


"Kakak baik," sahut Meera dengan meminta bantuan mertuanya untuk duduk. "Kenapa pulang? Bukankah Turki sangat luar biasa?" 


Ibrahim terkekeh. Dia menggaruk tengkuknya karena pertanyaan kakak iparnya benar-benar membuatnya mati kutu. 


"Aku merindukan Kakak Iparku yang cerewet ini. Mangkanya aku pulang." 


Almeera berdecak. Adik iparnya ini memang pandai menggombal. Namun, gombalan itu tentu tak berarti apapun untuk ibu dari dua anak tersebut.


"Bilang aja, gak nemu jodoh di Turki terus lari ke Indonesia." 


Kekehan kembali muncul di bibir Ibrahim. Kakak Iparnya ini memang dekat dengannya. Sikapnya yang ramah dan baik, tentu membuat siapapun sangat suka untuk dekat dengannya. 


"Ya anggap saja begitu," sahut Ibrahim pada akhirnya. "Wanita Indonesia lebih menarik daripada wanita Turki, Kak." 


"Mau menarik atau nggak, itu tergantung kamu, Ibra," kata Almeera dengan nada serius.


Ibrahim mengangguk. Dirinya paham akan maksud kakak iparnya ini. Tanpa dijelaskan siapapun, dia pasti mengerti arti dari penggalan kata itu.


"Aku tak mau seperti kakakku, Kak. Aku berusaha untuk mencintai istriku dan menjadikan dia satu-satunya." 


Almeera tersenyum tulus. Dirinya yakin jika Ibrahim sangat jauh berbeda dengan suaminya. 


"Kakak doakan semoga kamu segera mendapatkan jodoh yang terbaik."


...🌴🌴🌴...


Sedangkan Almeera sendiri?


Wanita itu tak lepas memandang pintu ruang rawatnya. Entah kenapa dia masih berharap Bara datang menjenguknya. Pria itu benar-benar tak ada kabar sejak kemarin. Baik secara langsung maupun hanya berisi pesan singkat, tak ada yang dikirimkan oleh suaminya.


Mungkin dia sudah melupakanku dan anak-anak, gumam Almeera dengan menghapus setetes air mata yang mengalir.


"Sudah siap?" kata Darren yang baru saja datang dari luar.


"Sudah, Pa," sahut Mama Tari setelah menarik resleting tas yang berisi baju milik Almeera dan yang lain.


Darren berjalan mendekati putrinya. Dua mata yang memiliki warna sama itu saling menatap lekat. 


"Bagaimana?" tanya Darren sekali lagi. 


"Kita pulang ke rumah baruku, Pa."


Final.


Setelah semalam Fadly datang dan menunjukkan lokasi serta keadaan rumah baru untuk Almeera. Akhirnya istri dari Bara itu sudah memutuskan. Dia memilih keluar dari rumah yang penuh kenangan pahit dan mencoba menjauh dari kehidupan Bara.


"Kamu yakin, Nak?" 


Almeera menghela nafas berat. Dia menatap Papanya dan mengangguk.

__ADS_1


"Sangat yakin. Doakan Meera kuat, Papa." 


Darren sebenarnya tak menyetujui aksi kabur anaknya. Namun, melihat bagaimana menderitanya sang anak, tentu sebagai sosok ayah dia tak bisa menolak. Demi kebahagiaan putri dan dua cucunya. Darren rela melakukan apapun. 


"Papa doakan semoga kamu selalu bahagia." 


Akhirnya, Almeera dan keluarga mulai keluar dari rumah sakit. Mereka segera menuju lokasi yang sudah dikirim Fadly pada Almeera. Lokasi dimana bangunan yang akan menjadi rumah baru untuk Almeera dan kedua anak-anaknya.


"Om, kita mau kemana?" tanya Bia saat melihat mobil yang membawanya tak melewati jalan biasanya.


Jonathan menoleh. Dia mengelus kepala ponakannya yang duduk di pangkuan istrinya. 


"Pulang, Sayang." 


"Tapi ini bukan jalan yang biasanya, Om," ujar Bia dengan meneliti keadaan luar. 


Meski umurnya masih 4 tahun. Bia Quinsa Altafunisha atau yang sering dipanggil Bia memiliki ingatan yang tajam.


"Iya, Sayang. Kita pulang ke rumah baru." 


"Rumah baru?" tanya Bia menatap Jonathan dengan bingung. 


"Iya. Rumah punya Mama, Bia dan Abang." 


Keheningan menyapa ketiganya. Di mobil itu memang hanya ada Jonathan, Bia dan Kayla. Sepertinya putri dari Bara dan Almeera sedang menelaah maksud dari perkataan Jonathan barusan. 


"Terus Papa?" tanya Bia pada Jonathan. 


Pria itu tak bisa menjawab. Hingga adik dari Abraham itu .endongak dan menatap wajah Kayla.


"Tante, terus Papa gimana?" 


Kayla memejamkan matanya. Jujur dia tak tega untuk menjawab pertanyaan ponakannya ini. Dirinya lebih memilih membuang wajahnya ke samping tanpa berniat menjawab. 


"Om." Suara Bia mulai lirih. Jika seperti ini, Jonathan sudah paham bila ponakannya itu ingin menangis. 


"Bia dengerin Om, 'yah," kata Jonathan saat lampu lalu lintas berwarna merah 


Dia menatap ponakannya dan mengelus kepalanya dengan lembut. 


"Tidak ada Papa di rumah. Hanya ada Mama, Abang dan Bia. Jadi jangan cari Papa setelah ini." 


~Bersambung


Sebenarnya kalau pas bagian Bia aku gak kuat. Anak umur segitu mah, belum tahu apa-apa. Tapi mau gimana lagi, pelan-pelan dia harus dikasih pengertian, 'kan.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat updatenya. Yang minta crazy update, sabar. Aku mau namatin The Billionaire Twins Baby dulu.


Oh iya geng, kalau semisal aku bikin grup untuk pembaca di whatshapp atau telegram kalian setuju gak? komen dibawah yah


Oh iya jangan lupa mampir ke karya temanku.

__ADS_1



__ADS_2