Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kang Nyebelin!


__ADS_3


...Aku berharap dia menolaknya tapi ternyata berbanding terbalik. Benar-benar menyebalkan....


...~Adeeva Khumairah...


...🌴🌴🌴...


Jika dirumah Bara keadaan begitu membahagiakan karena ingin liburan. Berbeda sekali dengan keadaan seorang pria yang ada di sebuah ruang kantor.


Beberapa berkas terlihat berserakan dengan penampilan seorang pria yang terlihat awut-awutan. Sejak pagi dirinya sudah menghubungi sang atasan. Namun, sedikitpun pesan ataupun panggilannya tak dibalas. 


Ia yakin jika atasan gilanya itu pasti sedang tidur!


"Dia enak-enakan pacaran. Gue disuruh pusing bareng kertas-kertas ini," gerutunya melempar berkas itu ke atas meja.


Dia menyandarkan punggungnya di sofa. Saat ini dirinya tengah berada di ruangan kerja bos sekaligus sahabatnya. Dasinya sudah berantakan karena ia tarik agar longgar.


Pekerjaannya sangat banyak. Ia harus menjadwalkan kembali rencana meeting dengan para klien, mengecek keuangan perusahaan dan laporannya. 


"Tuhan berikan aku satu orang untuk menemaniku mengerjakan semua ini. Kepalaku sudah benar-benar sakit sekarang," doanya penuh permohonan. 


Akhirnya pria yang tak lain adalah Reno memilih beranjak. Dia keluar dari ruangan Bara lalu menuju ke dapur. Mungkin segelas kopi bisa membuat kepalanya tak pening. 


Dengan cekatan ia menyendokkan gula dan kopi lalu mencampurkannya menjadi satu. Kemudian menuang air panas untuk melarutkannya. Saat dia mengaduk, aroma kopi sudah tercium jelas di hidungnya.


Harum kopinya membuat Reno sedikit tenang. Setelah selesai, dia segera membawanya menuju ruangan Bara. Namun, saat langkah kakinya baru saja keluar dari dapur, manik matanya membesar.


Di sana, di depan ruangan Bara. Lebih tepatnya di depan meja tempat biasa ia bekerja, terdapat seorang perempuan tengah berdiri membelakanginya. Lidahnya terasa keluh, saat dia mengenali siapa sosok itu.


Bahkan memegang cangkir gelas saja, ia mulai gemetaran. Berkali-kali ia mencoba meyakinkan dirinya tentang kebenaran wanita itu. Namun, ternyata dugaannya semakin kuat tatkala perempuan itu berbalik.


"Selamat pagi," ujar wanita itu dengan suara tersendat.


Reno menelan salivanya secara kasar. Dia merasa sesak nafas karena tak percaya. Namun, suara wanita itu sudah menjadi bukti bahwa ia tak sedang berhalusinasi. 


"Ren!" panggil wanita itu lagi meninggikan suaranya. 


"Sedang apa kamu kesini?" tanya Reno tanpa sadar.


Entah kenapa ia merasa dejavu saat melihat wanita itu mau menginjakkan kakinya lagi kesini. Padahal Reno sudah tak pernah berharap. Dia tak akan memaksa wanita itu mau membantunya.


"Almeera menghubungiku dan mengatakan bahwa suaminya tak masuk bekerja karena kesiangan. Alhasil aku diminta untuk membantumu," kata Adeeva dengan jujur. 


Tak ada yang wanita itu tutupi. Saat dirinya sedang mengerjakan laporan dengan Jonathan. Suara ponsel yang berdering membuatnya segera mengangkatnya. Saat melihat nama sahabatnya tertera. Tanpa berpikir hal yang tidak-tidak, Deeva segera menerima panggilan tersebut.


Saat sahabatnya itu meminta tolong. Sebenarnya Adeeva ingin menolak. Namun, mendengar Reno bekerja sendirian. Entah kenapa membuat hatinya merasa kasihan. Dia seperti merasakan sesuatu yang tak bisa dijabarkan. 


"Oh." Reno mengangguk. "Lebih baik kita masuk ke dalam." 


"Dalam?" ulang Adeeva dengan bingung. 

__ADS_1


"Ya. Aku bekerja di ruangan Bara karena berkas-berkasnya memang penting," ujar Reno menjelaskan.


Akhirnya Adeeva tak menolak. Dia membuntuti pria itu masuk ke ruangan Bara lalu segera membantunya dalam diam.


Tak ada pembicaraan apapun. Baik Reno maupun Adeeva hanya berbicara seperlunya. Keduanya sama-sama terlalu fokus dengan berkas-berkas itu, hingga membuat Reno yang semula merasa pusing mulai merasa senang.


Dirinya bisa mengerjakan berkas itu dengan curi-curi pandang. Entah kenapa Adeeva yang fokus dengan laptop di depannya terlihat semakin cantik. Sampai tanpa sadar membuat Reno tersenyum sendiri. 


"Kenapa kamu menatapku seperti itu?" tanya Adeeva yang mengejutkan Reno.


Pria itu gelagapan. Bahkan dia segera membenarkan laptop di pangkuannya.


"Tak ada. Aku hanya sedang melamun bukan menatapmu," kilahnya yang membuat Adeeva tak curiga.


Dia segera melanjutkan pekerjaannya. Membiarkan Reno yang menggerutu dalam hati karena terlalu mencolok.


Dasar bodoh! Bisa-bisanya aku menatapnya tanpa berkedip lalu ketahuan, umpatnya dalam hati. 


...🌴🌴🌴...


Waktu terus beranjak sore. Waktu dimana para karyawan mulai pulang. Semua orang terlihat saling berkemas dan segera meninggalkan perusahaan.


Hal itu juga yang dilakukan oleh dua orang berbeda jenis. Dua manusia yang ada di ruangan Bara dengan detak jantung yang terus berdebar. Keduanya sebenarnya sama-sama gugup. Namun, sebaik mungkin, baik Adeeva maupun Reno saling menutupinya. 


"File yang aku kerjakan ada disini," kata Adeeva menyodorkan sebuah flashdisk lalu diberikan pada Reno. "Jika ada yang salah. Kamu bisa mengatakannya padaku." 


"Oke." reno mengangguk. "Terima kasih, Va." 


Adeeva tersenyum tipis. Dia menganggukkan kepalanya lalu memasukkan laptop miliknya ke dalam tas. 


"Aku akan mengantarmu." 


"Tidak usah!" tolak Adeeva dengan cepat.


Jika terus-terusan berdekatan dengan Reno. Dia tak yakin jantungnya akan terus tenang. Bersama dalam ruangan saja, sejak tadi matanya mencuri pandang. Belum jantungnya yang berdegup kencang ketika pandangan mereka tanpa sadar saling ketahuan. 


"Aku tak menerima penolakan. Toh rumah kita sebelahan!" 


Adeeva meringis. Dia hampir melupakan kebenaran tentang rumah mereka yang bersebelahan. Bahkan hanya beda pembatas pagar saja antara rumah keduanya. 


Namun, semenjak kepindahannya. Adeeva tak pernah muncul ke depan rumah. Entah kenapa ia merasa malu jika harus bertemu dengan Reno. Apalagi jika boleh jujur, rumah keduanya yang bertingkat satu dengan kamar mereka yang berhadapan. Selalu membuat Adeeva bisa melihat aktifitas Reno di balkon kamarnya dari kamarnya sendiri.


"Aku ingin mampir ke warung makan." 


"Aku akan mengantarmu," sahut Reno dengan santai.


"Aku…" 


"Aku tak menerima penolakan, Deeva! Ayo pulang!" 


Akhirnya Adeeva tak bisa menolak. Keduanya segera meninggalkan kantor secara bersama dengan pandangan orang-orang yang terus tertuju pada mereka.

__ADS_1


Dan benar saja. Reno mengantar Adeeva ke warung dekat gang rumah mereka. Gadis itu membeli tiga bungkus nasi goreng tanpa bertanya apakah pria itu mau atau tidak. 


Entah kenapa Adeeva merasa tak enak hati pada Reno karena sudah mengantarnya. Setelah makanan itu selesai. Mereka melanjutkan perjalanan pulang ke rumah.


Saat mobil Reno berhenti depan rumah Adeeva. Bersamaan dengan itu, Mama Adeeva baru saja muncul dari dalam rumah. 


"Assalamualaikum, Tante," sapa Reno yang baru saja turun dari mobil. 


Adeeva tak menyangka jika pria itu ikut turun dan mendekati mamanya.


"Waalaikumsalam, Nak Reno." 


"Tante mau kemana?" tanya Reno menatap wanita paruh baya di depannya dengan hangat. 


"Tante lagi nungguin Adeeva pulang." 


"Ah, anak Tante, Reno antar dengan selamat," ujar pria itu dengan diiringi candaan. 


"Oh. Kalian pulang bersama?" tanya Mama Adeeva menunjuk keduanya.


"Itu, Ma." 


"Iya, Tante," sela Reno cepat yang membuat Mama Adeeva senyum-senyum sendiri.


"Kamu jadi beli makanan, Nak?" 


"Iya, Ma. Ini," kata Adeeva menunjukkan plastik hitam di tangannya.


"Nak Reno sudah makan?" 


"Belum, Tante."


Adeeva merasakan aura tak enak. Meski dirinya membeli tiga bungkus. Dia berniat memberikannya satu pada Reno agar dibawa pulang. 


"Deeva beli berapa?" 


"Tiga, Ma," sahut Adeeva menunduk.


Entah kenapa perkataan Deeva membuat Reno tersenyum tipis. 


"Kalau begitu. Ayo Nak Reno Masuk! Kita makan bersama!" 


"Reno sibuk, Ma!"


"Tidak, Tante. Reno tidak sibuk," sela Reno yang membuat Adeeva membulatkan matanya. 


Perempuan itu segera mengepalkan tangannya saat melihat pria itu berjalan masuk bersama mamanya.


"Pria itu benar-benar. Nyebelin banget sih!" 


~Bersambung

__ADS_1


Hhahaha tancap gas poll Mas Ren.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2