Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Car Free Day


__ADS_3


...Tak berhak sesama manusia menilai dosa sesama manusia. Biarkan itu menjadi urusan hambanya dengan Tuhannya tanpa campur tangan orang lain....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Hari libur adalah hari yang sangat dinantikan oleh semua orang. Mereka bisa berkumpul dan menghabiskan waktunya dengan orang-orang yang terkasih. 


Salah satunya seperti keluarga Bara. Kali ini, mereka akan pergi ke jalan ijen Malang untuk mengikuti kegiatan mingguan warga Malang yaitu Car Free Days.


Kegiatan itu sudah merupakan hal lumrah bagi penduduk Malang asli. Ijen selalu menjadi tempat CFD an dan terkenal disana. Kegiatan ini tentu banyak sekali manfaatnya. Selain untuk olahraga, bisa untuk jalan sehat sepanjang jalan, ada kuliner dan berbagai stand jualan aneka produk menarik juga. Benar-benar sangat amat lengkap sekali di sana. 


Akhirnya mereka mulai menaiki mobil yang dikemudikan oleh Syakir. Humaira juga ikut serta karena paksaan Almeera.


Mulanya gadis itu menolak. Namun, saat Meera mengatakan jika jalan-jalan baik untuk anak dalam kandungannya, akhirnya Humai langsung mau. Untuk anaknya yang belum lahir saja, dia tak akan menolak apapun. Yang terpenting anaknya bisa lahir dengan sehat.


"Tante di sana nanti rame banget, 'gak?" tanya Bia yang duduk di antara Humai dan Almeera.


Abraham mengalah. Anak itu duduk di kursi paling belakang. 


"Banget. Banyak muda mudi terus ada banyak pedagang makanan juga." 


"Wah!" Mata Bia berbinar.


Mendengar kata makanan saja sudah bisa memancing selera anak kedua pasangan Bara dan Almeera. 


"Mama nanti kita beli yah?" 


"Iya, Sayang. Tapi Bia harus jalan-jalan dulu. Oke?"


"Oke." 


Akhirnya perjalanan yang memakan waktu hampir 45 menit itu mulai berakhir. Dari arah parkiran, bisa dilihat banyaknya pedagang makanan yang sudah standby disana.


Dari makanan basah, kering. Minuman hangat dan dingin semua tersedia disana. Macam-macamnya saja sangat banyak. Hingga hal itu membuat Bia berulang kali menelan ludahnya sendiri. 


"Ayo! Jangan lihatin makanan mulu. Ntar Bia gendut loh!" goda Abraham menggandeng tangan adiknya itu.


"Ih. Gak bakal gendut!" seru Bia memukul lengan abangnya.


Mereka kini mulai berjalan bersama. Bara dan Syakir ada dibagian belakang. Lalu di depannya diikuti Almeera dan Humai. Kemudian tim paling depan yaitu Abraham dan Bia yang saling berceloteh satu dengan yang lain. 


Dari semua pasangan bicara. Sepertinya pembicaraan Almeera dan Humaira adalah pembicaraan yang paling menarik di antara mereka. 


"Kalau boleh tau, bagaimana kalian bisa menikah?" tanya Almeera menggandeng tangan ibu muda itu.


Humaira belum menjawab. Dia menatap ke depan dengan pandangan kosong seakan sedang mencoba memutar kejadian yang pernah ia lewati sebelum ini 

__ADS_1


Kejadian berat dimana dia harus melaluinya dengan sendirian. Keadaan dimana jiwanya yang hancur semakin dibuat hancur oleh keluarga serta teman-temannya sendiri.


"Jangan dipaksakan!" kata Almeera mengelus punggung Humaira. 


"Mungkin bisa dibilang pernikahan ini karena kecelakaan," ujar Humaira dengan spontan.


"Apa kamu…" 


"Ya aku hamil duluan, Mbak," sela Humai dengan jujur. "Aku…" 


Humaira tak sanggup mengorek masa lalunya. Dia seakan selalu merasa gemetaran setiap kali ingatannya mencoba memutar ke kejadian di masa lalu.


Kejadian dimana masa depannya direnggut. Kejadian dimana dia tak bisa melanjutkan kuliahnya lagi. Hidupnya benar-benar ada di titik terendah paling rendah selama hidupnya.


"Aku hancur, Mbak. Aku bertahan selama ini hanya karena anak ini," jeda Humai menatap istri Bara. "Kalau tak ada anak ini, mungkin aku sudah bunuh diri sejak lama." 


Almeera menggeleng. Dia merangkul bahu Humaira hingga keduanya berjalan sangat pelan. 


"Jangan berpikiran untuk mengakhiri hidupmu, Hum," ujar Almeera menasehati. "Kehidupanmu masih panjang."


"Tapi hidupku sudah tak berarti, Mbak."


"Kata siapa?" tanya Almeera dengan pelan. 


Humaira tak menjawab. Namun, bisa Almeera tebak jika orang yang dimaksud adalah sosok yang ada di belakang mereka berdua.


"Berarti untuk?" 


"Untuk dia," jawab Almeera mengusap perut Humai yang sudah menonjol. "Untuk anak ini, kamu adalah ibu yang hebat."


"Kamu adalah orang terpilih yang dipilih Tuhan bisa melewati ujian yang dia kasih."


Humaira menggeleng. "Aku bukan orang terpilih, Mbak. Aku orang berdosa. Aku orang berzina."


"Dosa dan Zina itu urusan Tuhan. Kita sebagai umat manusia hanya bisa meminta maaf, memaafkan, mohon ampun dan bertaubat."


Apa yang dikatakan Meera memang benar. Perihal manusia berdoa dan berzina, biarkan Allah yang menilai. Kita sebagai umat manusia yang sama rata dan sama kedudukan di mata Tuhan. Tak berhak menilai ibadah seseorang.


Bisa jadi orang yang kalian anggap banyak dosanya ternyata memiliki satu amalan yang mampu mengantarkannya ke surga. 


"Apa Tuhan akan memaafkanku, Mbak?" 


"Bukankah Tuhan maha pemaaf," kata Almeera dengan jelas. "Sebesar apapun dosa setiap hambanya. Jika ia kembali dan bersimpuh di hadapanNya, Allah masih mau menerima taubatnya itu." 


Entah kenapa mendengar setiap nasehat yang keluar dari bibir Almeera ada perasaan tenang dan sejuk dalam diri Humaira. Dia berusaha yakin jika Tuhan pasti akan melihat perbuatan khilaf dan permintaan maaf serta taubatnya sekaligus.


"Terima kasih banyak, Mbak. Aku banyak belajar dari, Mbak Meera." 


"Sama-sama."

__ADS_1


"Mama ayo beli!" ujar Bia menarik tangan mamanya.


Akhirnya Almeera mengikuti langkah kaki anaknya. Ia tak menolak apapun yang diminta putrinya itu. Namun, istri Bara tak lupa mengajak Humaira untuk ikut dengannya.


"Bia mau itu!" tunjuknya pada sebuah penjual sosis bakar yang ada di sana.


"Boleh. Beli dua sama Abang, oke?" 


"Oke, Mama." 


"Kamu mau beli apa, Hum?".


"Nggak mau apa-apa, Mbak," jawab Humai pada Almeera.


"Mbak serius loh, Hum. Kamu mau apa?"


Humaira terlihat menggelengkan kepala. Lalu mata Almeera turun sampai ke tangannya dan baru menyadari bahwa istri Syakir itu seperti sedang mencari sesuatu di dalam tasnya.


Apa Humai tak membawa uang? gumam Almeera dalam hati.


"Ayo!" 


"Eh mau kemana?" tanya Humai menahan tangan Meera yang memegang tangannya. 


"Kita beli makanan dulu. Kasihan anak kamu," sela Almeera tak mau ditolak.


"Tapi, Mbak." 


"Jangan menolak rezeki apapun, Hum. Aku ikhlas membelikan."


Akhirnya Humaira mulai memesan satu makanan ke kedai yang menjual nasi disana. Dengan sabar dua istri itu saling menunggu dengan mata menatap Bia yang asyik membawa sosisnya.


Semua perlakuan yang Almeera berikan tak luput dari pandangan Syakir. Pria itu terus menatap ke arah Humai dan istri sahabatnya dengan lekat. Namun, lebih benarnya adalah, bahwa ia menatap lebih pada sang istri sejak tadi. 


"Aku berdoa semoga Mbak banyak diberikan kesehatan dan kebahagiaan." 


"Aamiin." 


"Semoga Mbak Meera dan Mas Bara bisa segera hadir anak ketiganya!" 


"Aamiin ya rabbal alamiin."


~Bersambung


Langsung kembar 3 hahaha.


Akhirnya aku bisa update 3 bab. Hari ini aku ada acara jadi bener-bener sibuk tapi tetep semalem paksain ngetik biar gak bolong.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.

__ADS_1


__ADS_2