Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Penyakit Mama Zelia


__ADS_3


...Kenyataan ini benar-benar membuatku kehilangan separuh jiwaku yang hidup....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Almeera hanya bisa mengeratkan pelukannya ke tubuh sang sahabat. Dia sendiri tak tahu harus mengatakan apa lagi. Sahabatnya benar-benar sedang berada di titik terendah. Dia juga tak bisa bersikap egois dengan mengatakan untuk sangat mengerti kesibukan kakaknya.


Bagaimanapun perlu ditegaskan! 


Ini adalah konsekuensi berhubungan dengan Jimmy. Menyakitkan memang, berhubungan jarak jauh dengan komunikasi yang jarang dilakukan. Tanpa pertemuan sampai batas waktu yang tak bisa ditentukan.


"Keluarkan semua beban pikiranmu, Li. Kami disini untuk mendengarnya," bisik Almeera dengan air matanya yang menetes.


Tak lama, dua orang dokter dengan dua orang perawat berjalan menuju kamar Mama Zelia. Perempuan itu tentu lekas menghapus air matanya saat dokter menyapa Zelia.


"Mari, Dok!" 


Zelia segera mempersilahkan dokter dan perawat untuk masuk. Disaat itu juga, saat Zelia membuka pintu ruangan. Terlihat pemandangan yang menyesakkan dadanya.


Sosok Papa yang ia kira paling kuat ternyata adalah sosok yang terlemah. Papanya sedang memeluk mamanya dengan pelan. Mengusap kepalanya dengan sayang dan air mata yang terlihat jelas mengalir dari sudut matanya.


"Papa!" ujar Zelia sambil memeluk tubuh papanya yang terkejut akan kehadiran mereka. 


"Kami ingin mengecek kondisi pasien dan setelah itu, bisa kita bicara sebentar, Pak," kata Dokter itu dengan ramah.


"Boleh, Dok," sahut Papa Zelia dengan cepat.


Zelia masih mengeratkan pelukannya. Dia tak memperdulikan kehadiran dokter dan perawat. Entah kenapa selama ini ternyata dia telah salah menilai sosok papanya.


Sosok yang ia kira paling kuat dari dirinya ternyata menyimpan sejuta kesedihan yang mendalam.


"Maafkan Lia, Pa. Lia…" 


"Ustt." Papa Zelia mengusap kepala putrinya.


Perlahan pria tua itu melepaskan pelukan anaknya dan menghapus air mata yang terus menetes.


"Papa masih kuat, Sayang. Papa kuat demi kamu dan mama," bisik Papa Zelia dengan tatapan matanya yang serius.


Zelia mengangguk. Dia percaya pada perkataan papanya ini. Sejak dulu, Papa Zelia sangat mengutamakan istri dan anaknya. Pria tua itu tak pernah mengeluh sedikitpun.


Waktunya hanya untuk membahagiakan anak semata wayangnya dan istri yang sangat dicintainya.

__ADS_1


"Mari, Pak. Ikut kami!" 


"Kamu tunggu disini yah," pinta Papa Zelia yang langsung ditolak oleh anak itu.


"Aku ingin tau sakitnya Mama," ucap Zelia penuh harap.


Jika Zelia sudah memberikan tatapan penuh harap dan memelas. Papa Zelia tak bisa menolak. Dia segera membawa anaknya mengikuti langkah kedua dokter yang menangani istrinya.


Namun, sebelum itu, Zelia menitipkan mamanya kepada dua sahabatnya yang masih ada di sana. 


"Bagaimana istri saya, Dokter?" tanya Papa Zelia dengan tangan menggenggam tangan putrinya.


Tak ada lagi penguat kecuali mereka berdua. Mereka saling berusaha mendengar kabar apa lagi yang akan menerpa keduanya. 


"Sebelumnya saya minta maaf. Jika kabar yang akan saya bawa ini, pasti akan mengejutkan Anda dan putri Anda, Pak," kata Dokter dengan tatapan yang sulit diartikan.


Jantung Zelia terus berdegup kencang. Dia tak tahu harus mengatakan apa-apa lagi. Perasaannya tak karuan dengan ketakutan yang semakin besar. 


Dia takut apa yang menjadi harapannya ternyata jauh dari kenyataan. Dia takut apa yang ada dipikirannya benar-benar terjadi dan merenggut segalanya.


"Kanker rahim yang diderita oleh istri Anda ternyata berkembang lagi, Pak. Dan penyebarannya semakin luas," kata Dokter dengan pelan.


Bak petir di siang bolong, Zelia merasa jantungnya berhenti berdetak. Dia merasa sesak nafas saat mendengar kenyataan yang terjadi. Kenyataan dari keadaan mamanya yang tak pernah diketahui oleh dirinya selama ini.


"Bagaimana bisa, Dok? Bukankah istri saya selalu meminum obatnya dan melakukan kemoterapi dengan rutin?" 


Pendengarannya benar-benar tak salah dengar. Ternyata selama ini papa dan mamanya menyembunyikan ini semua dari dirinya.


"Jadi Papa sudah tau?" tanya Zelia dengan tatapan memilukan. 


Papa Zelia tak menggubris perkataan anaknya. Dia menatap dokter di hadapannya ini dengan pikiran yang masih sepenuhnya tak percaya.


"Katakan jika Dokter bercanda, 'kan? Iya, 'kan, Dok?" 


"Tapi ini kenyataannya, Pak. Kanker yang ada di rahim istri Anda mulai kebal dengan obat dan terapi yang dilakukan." 


Papa Zelia seakan terhempas ke dasar laut. Dia menyandarkan punggungnya di kursi yang diduduki dengan wajah begitu menyedihkan. Air matanya tak bisa dibendung saat harus mendengar kenyataan yang membuatnya takut.


Setelah beberapa tahun ia bisa bernafas lega dengan kesehatan istrinya. Namun, hari ini dia harus kembali menghadapi ketakutan itu lagi. 


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok? Apakah istri saya harus dioperasi lagi? Atau melakukan terapi?" tanya Papa Zelia dengan serius. "Berapapun biayanya saya akan bayar tapi tolong selamatkan istri saya." 


"Saya tahu Anda mampu, Pak. Tapi penyakit kanker rahim istri Anda, sudah stadium empat."


"Nggak!" teriak Zelia dengan cepat.

__ADS_1


Kepala gadis muda itu menggeleng. Dia menyangkal perkataan dokter yang baru saja dia dengar. Semua itu pasti salah. Pasti yang diucapkan dokter di depannya ini hanya gurauan semata. 


"Jangan bercanda, Dok! Mama saya pasti sembuh. Mama saya pasti sehat!" seru Zelia menggebrak meja dokter dengan air mata yang menetes deras.


"Saya mohon Anda tenang. Saya tahu ini memang menyakitkan tapi kenyataannya…" 


"Diam!" seru Zelia dengan marah. "Jangan katakan apapun lagi, Dok! Saya tak percaya pada Anda!" 


"Tenang, Sayang. Tenanglah, Nak!" kata Papa Zelua memeluk putrinya.


Dengan sekuat tenaga pria tua itu menahan anaknya yang berontak. Mencoba menenangkan putrinya yang sama tak menyangka dengan kabar yang didengar sambil membisikkan kalimat yang menenangkan. 


"Mama pasti sembuh. Kita pasti menemani mama untuk melewati semua ini," bisik Papa Zelia dengan pelan. 


Tak lama mata Zelia tertutup rapat. Nafasnya teratur karena ternyata perawat yang ada di ruangan itu menyuntikkan obat penenang padanya.


Dengan pelan, Papa Zelia menidurkan putrinya di atas sofa yang ada di ruangan dokter tersebut. Dengan melepaskan jas yang ia pakai untuk menyelimuti putrinya. Lalu pria tua itu kembali duduk di hadapan dokter.


"Apa yang harus saya lakukan jika sudah seperti ini, Dok? Saya benar-benar tak tahu harus mengatakan apa pada istri dan anak saya setelah ini," ujar Papa Zelia dengan helaan nafas berat.


"Kita masih bisa melakukan perawatan untuk memperpanjang angka harapan hidupnya dan sekaligus meredakan gejala yang terjadi pada istri Anda, Pak." 


"Berapa persen perkiraan istri saya masih bisa bertahan hidup, Dokter?" tanya Papa Zelia menatap dokter di hadapannya ini dengan penuh harap.


"Saya…" 


"Katakan saja, Dok. Siap tidak siap. Saya berusaha untuk menerimanya," kata Papa Zelia penuh paksa.


"Kemungkinan istri Anda bertahan hidup sebanyak 17-20 persen." 


~Bersambung


Aku nangis nulis part ini. Bener-bener maaf banget kalau jalan hidup Zelia bakalan kek gini.


GIVE AWAY TIME!!


Kalian mau tau caranya biar bisa dapet hadiah dari author yang super menarik?


Simak Syaratnya di bawah ini :




__ADS_1


TULIS DONE DI KOLOM KOMENTAR FEED INSTAGRAM TENTANG GIVE AWAY INI YAH!


BERIKAN ULASAN TERBAIK KALIAN DI BAB PALING AKHIR UNTUK NOVEL HTS.


__ADS_2