Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Nama Si Kembar


__ADS_3


...Kebahagiaan ini semakin terasa lengkap ketika badai sudah berlalu dan dilewati secara bersama-sama. ...


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Semua orang memang mendekati brankar Almeera. Mereka sama-sama berebut ingin melihat dua bayi mungil itu yang sangat menggemaskan. Entah kenapa wajah si kembar begitu membuat semua orang ingin sekali mencium pipinya. Namun, kembali lagi, mereka sangat mengerti adab. 


Tak semua bayi memiliki kulit yang sama. Perlu ekstra hati-hati jika menyangkut seorang anak. Hingga membuat semua orang tentu harus benar-benar bersih sebelum memegang kedua bayi tersebut. 


"Apa kalian sudah memiliki nama untuk mereka?" tanya Papa Darren menatap menantu dan anaknya. 


Almeera mendongak. Dia menatap sang suami yang sedang menatapnya juga. 


"Sudah, Pa. Mas Bara sudah menyiapkan nama untuk si kembar," ucap Almeera dengan yakin. 


Bara terkejut. Dia menatap istrinya tak percaya.


"Kamu yakin, Ra? Kamu mau pakai nama dari aku?" tanya Bara tak percaya. 


"Tentu, Mas. Memangnya kenapa? Si kembar anak-anakmu. Mereka berhak mendapatkan nama dari ayah kandungnya." 


Mata semua orang kini tertuju pada sosok Bara. Pria itu terlihat begitu salah tingkah ketika menjadi sorotan banyak mata. Kemudian dia mengalihkan pandangannya ke arah putranya. 


Dia tersenyum dan menatap keluarganya bersiap mengatakan siapa nama bayi mereka ini. 


"Untuk putra kami, aku memberikannya nama Omri Athalla yang artinya umur panjang pemberian dari Tuhan. Sedangkan putri kami, Oneta Athaya artinya wanita mulia yang dianugerahi oleh Tuhan."


Semua keluarga menatap penuh kagum. Nama unik dan khas itu begitu menarik perhatian mereka. 


"Lalu kami harus memanggil mereka apa, Nak?" tanya Mama Tari dengan antusias. 


"Kalian mau panggil Athaya dan Athalla boleh. Panggil Baby Onet dan Baby Omri juga boleh." 


"Bia mau panggil Adik Thaya sama Adik Thalla, Pa," kata Bia yang ikut antusias. 


"Panggilan bagus, Mbak Bia."


"Jadi Bia dipanggil Mbak sekarang, Pa. Mbak Bia sudah besar, 'kan?"


Bara mengangguk. Dia hendak meraih putrinya ke dalam gendongan tapi langsung ditolak oleh Bia. 

__ADS_1


"Mbak Bia sudah besar, Pa. Malu kalau mau digendong," ujarnya dengan kepala menggeleng. 


Bara terkekeh. Namun, dia menurut. Pria itu hanya membantu Bia untuk duduk di atas brankar mamanya agar bisa memegang adiknya itu. 


Kebahagiaan ini tentu sangat dirasakan oleh semua orang. Mereka sama-sama menyambut kehadiran si kembar. Semua orang merasa bahagia setelah badai berlalu di antara mereka.


Ternyata ketika semua keluarga berkumpul dan saling menguatkan. Mereka mampu melewati semua hal yang menyakitkan secara bersama-sama. Seakan rasa sakit, takut dan segala hal bisa ditangani karena bantuan keluarga. 


"Berikan asimu pada mereka, Nak. Si kembar pasti haus," ujar Mama tari saat putra dari pasangan Bara dan Almeera menangis. 


Sedangkan Almeera, gadis itu baru menyadari sesuatu. Menyadari jika dirinya beberapa hari ini tak menyusui. Lalu kedua anaknya minum apa selama ia tak sadarkan diri. 


"Tenanglah, Sayang. Kak Kayla yang memberikan asinya pada si kembar. Dokter juga mengatakan asi Kak Kayla sangat sehat."


"Syukurlah. Meera hanya takut jika diberikan pada orang lain." 


"Untuk si kembar, Mama dan Papa serta suamimu, tidak sembarangan orang, Ra." 


"Maaf, Ma. Bukannya Almeera menyinggung, Mama. Tapi Meera hanya takut."


Mama Tari mengangguk. Dia sangat mengerti perasaan putrinya. Meera adalah sosok anak ketiganya yang sangat mengerti keadaan apapun dan protektif terhadap kesehatan anaknya. Sejak kehamilan dan kelahiran Abraham, pasangan Bara dan Almeera selalu mengutamakan kenyamanan anak-anaknya. 


"Ayo kita keluar. Biarkan Almeera mengasihi anaknya."


Bara melambaikan tangannya pada Reno. Dia meminta sahabatnya itu keluar dengan pandangan mengejek. 


Jika dulu mereka taruhan kuat-kuatan dalam naga dan ninja untuk membuat istrinya hamil. Kalau sekarang siapa yang lebih dulu lahir. 


Benar-benar tim suami gila dan omes ya seperti ini. Hal gak penting aja bisa jadi candaan receh. 


Sepeninggal semua orang. Almeera menurunkan pakaian pasiennya. Bara membuka kancing yang ada di bagian belakang lalu membantu menurunkannya sedikit agar putranya bisa minum. 


Dengan lahap, Athalla mencari sumber asinya. Dia seakan bayi pintar yang langsung menemukan dan menyesap sumber air minumnya. 


Almeera sempat meringis saat sesuatu yang membuat ujung puncak bukit nya tak nyaman. Namun, Almeera mencoba menahannya demi putranya yang baru saja bisa meminum asinya. 


"Dia lahap sekali, Sayang. Beda dengan Athaya… " jeda Bara menatap putrinya. "Dia suka tidur dan jarang minum." 


Almeera terkekeh. Namun, kepalanya tetap mengangguk. Dia membiarkan suaminya mengusap kepalanya. 


"Athaya sama seperti Abraham, Mas. Dulu dia juga gak mau minum, 'kan?"


"Iya. Sikap mereka gak beda jauh memang. Hanya wajahnya saja yang berbeda."

__ADS_1


Bara membiarkan istrinya mengasihi anaknya. Dia sendiri malah mengulurkan tangannya untuk mengusap sosok anak kecil tersebut. 


" Mas! Jangan ganggu," pekik Almeera yang kesal  dengan sikap Bara. 


"Aku hanya ingin melihat bagaimana mereka minum, Sayang," rengek Bara dengan manja. 


"Tapi tangan kamu gak perlu nakal juga," ujar Almeera saat jemari suaminya nakal bermain di bagian dadanya yang terbuka.


Almeera menatap suaminya. Dia tak menyangka jika suaminya masih memiliki otak omes di masalah seperti ini. Ternyata dibalik sikapnya yang selalu cuek di hadapan orang yang tak pernah mereka kenal.


Bara memiliki sikap yang hangat dan mudah bercanda jika bersama keluarga.


Akhirnya setelah putranya merasa tenang dan selesai. Bara meletakkan bayinya ke arah box bayi lalu bergantian membawa bayi perempuannya.  


Wajah cantik duplikat Almeera itu sangat terlihat memang. Pipi gembul yang menonjol serta hidung mancung membuat anak Almeera sangat lucu sekali. 


"Sudah. Sudah. Jangan dihabiskan, Nak!" kata Bara mencoba menarik puncak dada Almeera. "Ini punya Papa!" 


"Astaga!" Almeera geleng-geleng kepala. "Sama anak sendiri, Mas!" 


"Meski anak sendiri yang pasti ini punyaku!"


Mereka akhirnya hanya bisa mengalah. Setelah si kembar sudah minum asi dengan hebat. Akhirnya Bara kembali memanggil mertuanya. 


Saat ini bergantian Adeeva, Reno dan Zelia berjalan mendekati brankar. Bara dan keluarga memang memberikan waktu untuk mereka yang sudah membantu selama Almeera berada disini.


"Terima kasih sudah datang menjengukku."


Zelia mengangguk. Dia meraih jemari anak lalu mulai menggenggamnya begitu erat. 


"Terima kasih sudah bertahan selama ini, Ra. Kamu adalah istri dan ibu yang terbaik," ujar Zelia dengan penuh kelembutan.


"Aku juga yang semangat bertahan, Li. Makasih udah mau nemenin aku yah," kata Almeera dengan tulus.


Almeera membalas genggaman tangannya. Perasaannya bahagia melihat sahabat serta keluarganya yang berkumpul menjadi satu. 


"Apa yang buat kamu semangat, Ra? ceritakan kepadaku! "


"Kekuatan terbesarku yang membuat aku kembali hidup adalah suami, anak-anakku, keluarga dan sahabat-sahabatku."


~Bersambung


Ahay gimana namanya? gak ada persamaan 'kan?

__ADS_1


Maaf ya baru update. aku ketiduran. Kalau ada typo komen yah. Biar aku revisi besok. Mata dah merem sekarang.


Jangan lupa klik like, komen vote. Biar author semangat namatin.


__ADS_2