
...Aku memang berharap hadirnya Abra dan Bia kecil di antara kami. Namun, jika Tuhan belum berkehendak maka aku hanya bisa berharap dan berusaha....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Tak terasa hari-hari mereka terus dilewati dengan kebahagiaan yang melimpah. Rejeki yang dilancarkan dan berkah dari tuhan yang begitu diberkati.Â
Semua yang mereka capai dan dapatkan kali ini. Seakan menjadi hikmah dari segala hal yang pernah mereka lalui di masa lalu. Ketika badai datang menerpa. Sekuat tenaga seorang istri menguatkan hatinya untuk mempertahankan rumah tangga.
Bukan perihal dia pandai mencari uang. Bukan perihal dia cantik bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik. Namun, pernikahan bukanlah ajang menemukan satu kesalahan lalu melupakan seribu kebaikannya.
Pernikahan bukan ajang ketika tuhan memberikan ujian. Maka perceraian menjadi jalan utama. Pernikahan tak sesempit itu dan pernikahan bukanlah hal termudah yang mampu dijalani.
Jika ada yang mengatakan bahwa 'pernikahan adalah ibadah terpanjang selama kita hidup.' ya itu memang benar!Â
Menikah bukan hanya tentang enaknya dan bahagianya. Namun, sedih, susah, ujian, musibah yang Tuhan berikan. Itu juga termasuk dari lika liku rumah tangga setelah menikah.
Pengetahuan, wawasan, kesiapan mental adalah satu kunci utama untukmu sebelum menikah. Karena hal itulah pondasi penting untuk kita jika Allah memberikan angin untuk memulai memporak porandakan kapal rumah tangga kalian maka kalian siap menghadapinya.
Jadi, ketika kalian sudah menikah dan menemukan kesulitan. Cobalah memahami duduk kesalahan yang terjadi. Tak selamanya perceraian menjadi jalan utama untuk keluar dari masalah itu.Â
Jika tanya kenapa?
Karena hidup manusia tak luput dari masalah. Jika nanti kalian menikah lagi dan diterpa ujian. Apa kalian akan bercerai lagi? Maka renungkanlah apa yang sedang kalian hadapi saat ini.
Tuhan memberikan ujian bukan karena benci. Melainkan ingin menaikkan derajat kalian dimata Tuhan.
Seperti layaknya wanita yang saat ini sedang bermalas-malasan di atas ranjang. Entah kenapa sejak bangun pagi, dia malas turun dari ranjang. Matanya terasa berat dengan perutnya yang terasa kaku.
Wanita ini adalah salah satu wanita yang masih mau bertahan pada suami yang memiliki dosa di pernikahan mereka. Wanita yang bertahan karena kedua anaknya hingga Takdir Tuhan yang membukakan jalan mereka sampai keduanya kembali merajut mimpi yang belum digapai dengan bergandengan tangan.Â
"Sayang," panggil Bara yang masuk ke dalam kamarnya.
Pria itu sudah berpakaian sangat rapi dan siap berangkat bekerja. Namun, tak mendapati istrinya turun ke lantai satu membuat Bara akhirnya menyusul Almeera ke kamarnya.
Kening pria itu berkerut. Saat melihat istrinya masih bergelung dengan selimut. Bara akhirnya segera berjalan ke arah ranjang lalu dia mendudukkan dirinya di sana.Â
Tangannya menyentuh dahi sang istri dan dia bisa merasakan tubuh Almeera sedikit hangat.
"Badanmu hangat, Sayang," kata Bara khawatir.
Pria itu menangkup wajah istrinya yang membuat Almeera akhirnya membuka mata.
"Perutku sakit, Mas," cicitnya pelan dengan wakah sedikit pucat.Â
"Apa kamu salah makan?" tanya Bara melepaskan jas yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1
"Ngapain dilepas, Mas?" tanya Almeera menguatkan dirinya untuk duduk.Â
"Ayo kita ke rumah sakit," ajak Bara pada istrinya.
Wanita itu menggeleng. Tiba-tiba Almeera merasa ingin buang air kecil yang membuat wanita itu meminta Bara untuk mengantarnya.
"Kamu yakin bisa sendiri?" tanya Bara khawatir.
"Iya, Mas. Pintunya gak aku tutup. Jadi Mas bisa lihat," ujar Almeera yang tahu suaminya sedang khawatir.
Saat Almeera menurunkan celananya. Matanya menatap sedikit noda merah yang ada di ****** ********. Dia memutar ingatannya hingga baru menyadari bahwa ini sudah lewat tanggal menstruasinya.Â
"Kenapa, Sayang?" tanya Bara yang melihat istrinya masih diam.
"Aku lagi dapet, Mas," ucap Almeera menatap suaminya. "Mangkanya perutku sejak tadi kram terus."Â
Bara menghela nafas lega. Setidaknya istrinya itu sakit karena datang bulan.Â
"Tolong ambilkan pembalutku ya, Mas," kata Meera yang langsung disanggupi oleh Bara.
Setelah membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Almeera akhirnya keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat begitu segar meski hanya cuci muka saja. Perempuan itu segera menghampiri suaminya yang duduk di sofa kamar dengan laptop ada di pangkuannya.
"Gih, Mas. Berangkat!" kata Almeera duduk di samping suaminya.
Bara menoleh. Pria itu meletakkan laptopnya lalu mengelus puncak kepala Almeera.
"Kamu yakin baik-baik aja?"Â
"Janji yah!"Â
"Janji, Suamiku."Â
Akhirnya Almeera membantu suaminya memakai jas lalu mengantarkan pria itu turun ke bawah. Ibu dua anak itu segera menatap ke sekeliling. Dia mengerutkan keningnya saat tak mendengar ocehan anaknya.
"Kamu cari anak-anak?" tanya Bara yang bisa menebak ekspresi istrinya.Â
"Iya, Mas. Kemana mereka?"Â
"Daddy dan Mama menjemput Abra dan Bia," kata Bara pada istrinya. "Sekaligus mengantar putra kita sekolah."Â
Wajah Meera terlihat sedih. "Sepi dong rumah, Mas."Â
"Biar kamu bisa istirahat," kata Bara penuh perhatian. "Aku janji bakalan pulang cepet."Â
Akhirnya Almeera mengantar kepergian suaminya sampai di depan pintu rumah. Wanita itu melambaikan tangannya sampai mobil Bara tak terlihat.Â
Almeera mulai kembali masuk ke dalam rumah dan berjalan ke arah dapur. Disana, ada pelayan dan dua pengasuh anak-anaknya.Â
Mereka adalah orang yang setia pada Almeera. Sejak Abra dan Bia kecil, ketiga orang itu selalu ikut kemanapun Almeera tinggal.
__ADS_1
"Bu," panggil Almeera saat perempuan itu sudah duduk di kursi ruang makan.
"Mbak Meera mau sarapan apa?" tanya wanita paruh baya menghampiri dirinya.
"Di kulkas apa ada Strawberry?" tanya Almeera dengan menjilat bibirnya sendiri.
Entah kenapa membayangkan buah kecil asam itu membuat ludahnya ingin menetes.
"Bentar, Mbak. Saya lihat!"Â
Almeera menunggu dengan sabar. Wanita itu menatap pelayan yang setia dengannya mengobrak abrik kulkas miliknya.
"Di kulkas kosong, Mbak."
Wajah Almeera terlihat muram. Entah kenapa hatinya sedih tatkala tak mendapati buah itu di kulkasnya.
"Kalau Mbak Meera ingin, saya bisa belikan ke market."Â
Mata Almeera berbinar cerah. Kepalanya mengangguk lalu dia segera mengambil uang di kamarnya.Â
Ibu dia anak itu segera memberikan uang tersebut pada wanita paruh baya di depannya.
"Loh. Uang belanja masih ada, Mbak."
"Nggak papa, Bu. Pakai uang ini saja," kata Almeera menahan tangan wanita yang ia hormati sepertinya ibunya sendiri. "Ibu juga pakai mobil saja. Minta anter sopir. Jangan pakai ojek."Â
"Tapi, Mbak."Â
"Tidak menerima penolakan," kata Almeera sambil tersenyum. "Oh iya sama beli mayonise dan coklat batang ya, Bu. Meera pengen salad dengan topping coklat di atasnya."Â
"Siap, Mbak. Ini buahnya strawberry aja?"Â
"Kalau ada mangga juga ya, Bu. Saya pengen dua buah itu."Â
Wanita paruh baya itu mengangguk. Namun, dia memiliki pemikiran seakan majikannya ini seperti wanita hamil saja. Mengidam buah asam.Â
"Ada apa, Bu? Kenapa Ibu melihat Almeera seperti itu?" tanya Almeera dengan bingung.
"Maaf, Mbak. Tapi apa Mbak Meera sedang hamil?"Â
Almeera terkekeh. Wanita itu menggelengkan kepalanya. "Saya sedang datang bulan, Bu. Jadi bagaimana saya lagi hamil?"Â
"Oh. Soalnya Mbak Meera kayak orang ngidam aja."Â
"Doain aja, Bu. Saya juga ingin segera hamil."Â
~Bersambung
Lalalala ada yang kecewa gak yah. Haha kaborr ah.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.