
...Cinta itu tidak harus memiliki. Cukup dengan melihatnya bisa tertawa lepas meski bukan tanpa kita....
...~Fadly Aradhana...
...🌴🌴🌴...
"Brengsek! Lepaskan tangan istriku!"
Spontan kedua mata yang saling memandang itu menoleh. Rasa terkejut muncul di wajah Almeera. Bahkan mata wanita itu terbelalak tak menyangka dengan kehadiran suaminya. Pikirannya berkelana. Bagaimana bisa suaminya itu ada disini, ditempat ini dan jam saat ini.Â
"Pulang!" seru Bara menarik lengan Meera dengan kasar.
Nafas pria itu menderu. Bahkan matanya menatap tajam ke arah Meera dan Fadly bergantian. Sungguh Bara diliputi kemarahan yang begitu luar biasa.
Pria itu benar-benar sedang merasakan bagaimana cemburu buta itu. Dia tak bisa mengontrolnya hingga membuatnya tak menanggapi ringisan sakit karena kuatnya cengkraman tangan di lengan Meera.Â
"Lepaskan tangan Shanum!" seru Fadly tak terima.Â
"Siapa kau berani mengajariku, hah!" seru Bara menatap Fadly dengan sengit. "Dia istriku dan hakku ingin melakukan apapun kepadanya."Â
"Bajingan!" Fadly mengepalkan tangannya.
Dia tak tahan melihat ekspresi sakit dari wajah Meera. Bahkan wanita itu sampai meneteskan air matanya. Fadly melihat sendiri, dia menatap dengan kedua matanya bagaimana kuatnya cengkraman tangan suami Almeera.Â
Dengan sekali gerakan, Fadly menonjok wajah Bara sampai cengkraman itu terlepas. Almeera menutup mulutnya. Dia tak menyangka jika kakak seniornya berani memukul sang suami hanya untuk menjaganya.
"Dia itu istrimu bukan budakmu, Bodoh!" seru Fadly terus memukul Bara.
Bara memegang tangan Fadly. Kedua mata pria itu saling bertatapan. Hingga kaki Bara menendang kaki Fadly dan membuat pria jatuh ke belakang.
Posisi keduanya mulai berbalik. Bara menduduki perut Fadly dan menyerang wajah pria itu secara brutal.
"Kau itu hanya orang lain, Brengsek!"Â
"Kau berani menyentuh tangan istriku, hah!"Â
"Dasar pebinor!"Â
Almeera tak bisa hanya berdiam diri. Jika dia terus mematung, Fadly bisa mati ditangan Bara dan itu tak boleh terjadi.Â
"Lepaskan dia, Mas!" Almeera menarik tangan Bara.Â
"Menjauh dariku! Aku akan memberi perhitungan padanya!"Â
Namun, Almeera tak mengindahkan. Wanita itu berusaha menarik tangan Bara dengan keras. Sampai tanpa sadar, ayah dari dua anak itu menepis tangan Meera dan membuat wanita itu oleng dan terantuk ujung meja restoran karena posisinya yang menunduk.
"Aghh sakit." Almeera menjerit.
__ADS_1
Dia memejamkan matanya dengan sakit yang luar biasa di dahinya. Tak lama terasa sesuatu yang basah dan Almeera yakin jika itu darah.Â
"Darah!" teriak salah satu pengunjung yang membuat gerakan tangan Bara berhenti.Â
Pria itu menoleh dan dia segera mendekati tubuh istrinya yang sudah terduduk di lantai. Sebelum tubuh itu ambruk, Bara lekas menopang dengan kedua tangannya.Â
"Sayang," panggil Bara dengan panik.
"Dasar psikopat! Lihatlah karena ulahmu Almeera terluka!" seru Fadly berusaha duduk.
Wajah pria itu sudah penuh luka. Ujung bibirnya yang robek dan hidungnya mengeluarkan darah. Benar-benar kacau penampilannya.Â
"Diam kau!" seru Bara tak mau kalah. "Ini semua karena kau mengajak bertemu istriku."Â
"Berhenti berbicara! Bawa Almeera ke rumah sakit!" teriak Fadly penuh amarah.Â
Jujur pria itu tak habis pikir. Istrinya yang sedang terluka tetapi Bara hanya diam. Ada keinginan dalam diri Fadly menggendong tubuh wanita yang dia cintai. Namun, mengingat status keduanya yang berbeda dan Almeera yang tak bersentuhan dengan lelaki lain membuatnya menghargai kehormatan wanita itu.Â
Fadly menguatkan kedua kakinya. Dia beranjak berdiri dan segera keluar diikuti oleh Bara yang menggendong istrinya.Â
"Cepat masuk!" titah Fadly ke dalam mobilnya.Â
"Aku bawa mo…"
"Kau ingin menyetir sendiri dan meletakkan Almeera dimana, hah?" bentak Fadly tak percaya. "Gunakan otakmu sebelum bertindak, Bodoh!"Â
Dirinya benar-benar khawatir dengan keadaan Almeera. Apalagi melihat bagaimana kondisi wanita itu, sungguh membuat hatinya tercubit. Belum ketika dia mengingat perkataan asistennya yang semakin membuat Fadly tak menyangka jika wanita sebaik Almeera diselingkuhi.Â
"Fokuslah ke depan. Tak perlu melihat istriku dari kaca, brengsek!" sembur Bara saat matanya memergoki Fadly sedang menatap istrinya dari kaca atas.
"Bukan urusanmu!" sembur Fadly tak mau kalah.
"Jelas urusanku. Aku suaminya Meera."
Fadly tak lagi membalas. Lebih baik dia fokus ke depan dan segera menuju rumah sakit. Tak peduli ocehan yang keluar dari mulut Bara, yang terpenting sekarang hanya Almeera.Â
Wanita itu harus mendapatkan pertolongan terlebih dahulu. Setelah itu baru dia urus pria yang tak memiliki hati itu.Â
Setelah hampir sepuluh menit menuju rumah sakit. Fadly segera berlari memanggil para suster disana. Dengan cekatan dia mendorong ranjang pasien diikuti para penjaga piket hari itu.Â
Bara yang baru saja turun, lekas meletakkan istrinya dengan pelan. Lalu mereka mulai mendorong ranjang itu dengan Bara daan Fadly yang ada di kanan kirinya.Â
"Kamu kuat, Num. Aku yakin Shanumku tetap sama!" ucap Fadly menguatkan.
Bara mengepalkan kedua tangannya. Dia lekas menarik kerah baju Fadly saat ranjang itu mulai masuk ke ruang UGD.
"Kau tak mengerti apa yang kuucapkan brengsek!" seru Bara menunjuk wajah Fadly. "Apa kau ingin wajahmu lebih hancur dari ini?"Â
Fadly melepaskan tangan Bara dari kerahnya. Lalu dia menepuk pundak pria itu dengan tatapan sengit.
__ADS_1
"Sebelum kau menasehati orang. Lebih baik nasehati dirimu sendiri," cetus Fadly dengan ekspresi tenangnya. "Kau yang bermain api, lalu kau melemparkannya pada kami?"Â
"Apa maksudmu?"Â
"Apa kau lupa kejadian waktu di hunian? Istri dan anak-anakmu memergoki ayahnya bersama selingkuhannya," sindir Fadly dengan tatapan meremehkan.Â
"Dia bukan selingkuhanku, Brengsek!" sahut Bara dengan tegas.
"Lalu jika bukan selingkuhan?"Â
"Dia istri keduaku."
Tubuh Fadly mematung. Pria itu benar-benar menatap Bara tak percaya. Telinganya tak salah dengar.Â
Ya, apa yang dikatakan Bara barusan jelas.
Istri kedua?Â
Jadi wanita yang dia cintai dipoligami?Â
Benar-benar bajingan tengik! Â
"Kau poligami Almeera?"Â
Bara terdiam. Dia seakan tersadar akan ucapannya. Hubungan yang ditutupi dari orang lain, dia katakan sendiri. Apalagi pada pria yang notabenenya berusaha mendekati istrinya.Â
"Kau benar-benar pria tak tau diuntung!"seru Fadly menarik kerah Bara dengan kuat.Â
Saat tangannya hendak menonjok Bara. Suara security yang berkeliling membuat Fadly melepaskan kerah itu dengan kasar.
"Jangan buat keributan disini, Tuan. Ini rumah sakit bukan ring tinju?"Â
Fadly spontan berbalik. Dia menonjok tembok itu sebagai pelampiasan. Dirinya benar-benar tak bisa membayangkan bagaimana nasib Almeera dan hatinya. Tiba-tiba ingatannya memutar tentang Almeera yang meminta carikan rumah.
Apa karena ini Almeera ingin pisah dari suaminya?
Apa semua ini sudah lama terjadi pada wanita yang dicintai? Â
Fadly berusaha mengontrol emosinya. Dia mendudukkan dirinya di kursi tunggu dan mengabaikan tangannya yang memerah dan berdarah.
"Lebih baik diobati tangan Anda, Tuan," kata security itu dengan pelan.Â
"Pergilah, Pak! Jangan sampai tangan saya memukul, Anda," ancam Fadly penuh penekanan.Â
~Bersambung
Tonjok aja, Bang. Biar kepalanya cepet sadar. Kesel mamat gue!
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.
__ADS_1