
...Seasik-asiknya keduanya sedang memadu kasih. Jika anak-anak mereka datang mendekat maka keduanya pasti akan mengalah....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Wajah penuh permohonan itu akhirnya membuat Bara tak tega. Istrinya memang sudah sangat panas dan membuat dirinya langsung menerkam es krim yang hampir mencair di perut bagian bawah.Â
Tak sampai area lembah memang. Namun, hal itu saja sudah membuat Almeera ketar ketir. Deg degan dan memanas saat lidah milik Bara mulai menyapu area itu.Â
Pergerakan Bara langsung dicampur dengan gerakan jari. Dua tempat yang langsung membuat Almeera mendongakkan kepalanya dengan tubuh menegang siap menumpahkan cairan kenikmatan yang meledak hebat karena terlalu kuatnya suasana yang sudah dibuat oleh Bara.
Nafas Almeera terengah-engah. Matanya sayu saat pelepasan pertama sudah ia raih. Akhirnya Bara segera meletakkan es krim itu kembali ke dalam kulkas. Menggendong istrinya bak koala setelah merasakan tak ada lagi es krim yang lengket di area itu.Â
Bibir itu saling memagut. Namun, Bara tetap hati-hati saat kakinya terus melangkah melewati satu per satu tangga yang ada di sana. Dia tak mau jika dirinya sampai terpeleset yang akan membahayakan dia dan sang istri.Â
Saat keduanya baru saja ada di dalam kamar dan pintunya di kunci. Bara segera menurunkan tubuh istrinya. Dirinya sudah tak tenang ingin membajak sawah basah milik istrinya lagi.
Bara membalikkan tubuh Almeera. Menundukkannya lalu menarik kaki itu agar terbuka. Adegan gaya yang sangat disukai dua orang itu akhirnya kembali mereka rasakan.Â
Bara segera menyelipkan naga miliknya ke dalam lembah hingga membuat Almeera menjerit nikmat.
"Mas!" Almeera menatap ke belakang.
Dia melihat suaminya yang mulai bergerak dan membuat tubuhnya terlonjak kesana kemari. Tak ada lelah di antara keduanya. Sepertinya keputusan membawa hadiah tentang calon cucu akan berhasil nanti.Â
Bara semakin bergerak liar. Dia mencengkram dua bongkahan bulat di bagian bawah istrinya saat melihat bagaimana seksi tersebut.
Suara laknat keduanya saling bersahut-sahutan. Meneriaki nama masing-masing saat pelepasan pertama bagi Bara dan kedua untuk Almeera mulai mereka raih.
Bara lekas menarik tubuh istrinya. Mendorongnya dengan pelan ke atas ranjang lalu membalikkannya.Â
Dengan sekali hentakan, Bara kembali mengisi milik istrinya itu. Menggempurnya sampai Almeera terus menjerit dan meminta dipuaskan.Â
Rasa syukur tentang bayangan Narumi yang tak ada di pikiran Almeera membuat wanita itu bersyukur. Ternyata mengikuti saran Mbak Ida, membuatnya berhasil menutup rasa takut yang ia miliki.Â
Tak ada hal apalagi yang membahagiakan. Apa yang mereka lakukan semua atas kemauan diri sendiri.Â
Hingga saat tubuh keduanya kembali menegang dan hampir pelepasan. Suara ketukan di pintu dengan panggilan untuk mereka membuat Almeera lekas menoleh.Â
"Mas itu Bia," lirih Almeera saat suaminya tak menghentikan kegiatannya.
"Sebentar, Sayang. Ini tinggal sedikit lagi," ujar Bara terbata.
"Mama! Papa!" teriak Bia menggedor pintu itu semakin kuat.Â
Bara berusaha mencapai puncak nikmatnya bersama sang istri. Namun, mendengar gedoran itu semakin kuat dan diiringi tangisan anaknya yang mulai terdengar. Hal itu membuat Bara dan Almeera yang masih mau bergerak mulai melepaskan dirinya.
Bara lekas mengambil celana pendeknya dan memakainya dengan asal. Sedangkan Almeera, ia memakai daster untuk menutupi segala kekacauan yang sudah dilakukan oleh suaminya itu.
Saat pintu itu mulai terbuka, muncullah sosok dua anaknya di sana. Almeera langsung menggendong putri keduanya dengan cepat.
__ADS_1
"Kenapa, Nak? Bia kenapa menangis?" tanya Almeera sambil berusaha menenangkan anaknya itu.
"Maafin Abang, Ma. Udah ganggu waktu tidurnya Mama dan Papa," kata Abraham yang berdiri di belakang Bia.
"Gapapa, Bang," sahut Almeera mengelus kepala putranya. "Adek kenapa?"Â
Bia menjauhkan kepalanya dari pundak Almeera.
"Bia kebelet pipis, Ma. Tapi tadi Abang gak bangun-bangun. Bia jadi takut," lirih anak itu dengan suara serak.Â
Almeera menatap kasihan. Akhirnya ia segera membawa anaknya turun ke lantai pertama dan mengantarnya ke kamar mandi.
Almeera sangat sadar bahwa anaknya masih takut di area gelap gulita. Rumah ini memang lampu bawah tadi dimatikan oleh Bara. Hanya disisakan lampu dapur agar ada sedikit cahaya yang menerangi.
"Nah, udah! Udah lega, Nak?" tanya Almeera setelah anaknya selesai kencing.Â
"Iya, Ma," sahut Bia dengan suara serak.
Ibu dua anak itu kembali membawa anaknya lagi. Namun, saat melewati pintu kamarnya, Bia menggelengkan kepalanya tanda tak mau.Â
"Kenapa, Nak?"Â
"Bia mau tidur sama Mama dan Papa," ujarnya penuh permohonan.Â
Tak mau membuat anaknya bersedih dan dirinya juga merasa masih ada waktu untuk keduanya mendaki gunung. Maka Almeera membawa tubuh anaknya yang ia gendong ke dalam kamar.
Cahaya remang yang ada di sana, membuat Almeera melihat suaminya sedang duduk menyandarkan tubuhnya.
"Dia kebelet pipis, Mas. Terus Abra gak bangun-bangun tadi."
Putri kedua mereka segera turun dari gendongan Almeera. Dia berjalan ke arah ranjang dan segera menaikinya.
"Kenapa sprei Mama sama Papa berantakan?" tanya Bia yang begitu teliti.
"Emm itu." Bara menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Keduanya hampir melupakan Bia yang sangat amat aktif bertanya apa saja jika tak sesuai dengan kebiasaannya mereka.Â
"Papa dan Mama kalau tidur, 'kan gak bisa diem. Jadi ya gini," ujar Almeera membela. "Ayo tidur! Ini sudah jam setengah 3 pagi, Nak."Â
Ternyata keduanya tak sadar sudah hampir 3 jam melakukan kegiatan mendaki gunung menuruni lembah. Namun, pelepasan yang tertunda tentu membuat Bara sakit kepala.Â
Bia mengangguk. Dia segera mendekatkan dirinya di dekat sang Papa. Lalu membelakangi Bara.
"Mama sama Papa kapan bikin adik buat Bia?" celetuk anak berumur lima tahun itu yang kembali mengurungkan niatnya untuk tidur.Â
Dalam cahaya remang. Almeera bisa melihat tatapan anaknya jatuh pada dirinya. Sepertinya putri keduanya ini sedang menunggu jawabannya.Â
"Papa sedang mencicilnya, Sayang," celetuk Bara yang membuat Bia berbalik.Â
"Memang bikin Adik bisa dicicil, Pa?" tanya Bia penasaran.
"Bisa dong. Dicicil tiap hari bikinnya sampai perut Mama terisi adik buat kamu."Â
__ADS_1
Bia mengerutkan keningnya. Dia seakan sedang mencerna penjelasan Bara.Â
"Memang bikinnya gimana, Ma? kok sampai dicicil?"Â
Ah jika terus begini pasti pertanyaan anaknya akam merembet kemana-mana. Akhirnya Almeera mencubit lengan suaminya hingga membuat Bara mengaduh.Â
"Jangan mengotori pikiran anakku yah?"Â
"Bia juga anakku!" sindir Bara tak mau kalah.Â
"Mas! Aku cabut jatah malam!"Â
Eh Bara gelagapan. Pria itu lekas duduk dan menggelengkan kepalanya.Â
"Nggak, Yang. Aku gak mau."Â
"Jatah malam apa, ma?" tanya Bia lagi.
"Jatah memijat punggung Papa, Sayang," balas Meera dengan cepat.Â
"Yang!" rengek Bara memohon.
"Lain kali jangan bicara aneh-aneh. Mengerti? Kalau sampai terulang lagi. Aku suruh Mas tidur di luar selama seminggu!"Â
~Bersambung
Hahaha Mas Bara langsung ketar ketir! Ancaman tidur luar.
Oh hai pembaca HTS. Aku tekankan disini, yah!
Kalau kalian gak suka baca part Mas Bara dan Almeera. Bisa kalian skip banget. Tunggu adegan Reno dan Adeeva juga bisa.
Adegan ranjang mereka berdua murni pemikiran author. Karena emang aku gtw cara mereka di dunia nyata bagaimana. Toh aku juga nulis adegan ini juga karena banyak pembaca yang minta dikasih part mereka walau cuma 1-3 bab.
Plis lah! Mas Bara ini udah tobat. Endingnya dia mati atau gimana pun, ini belum kelihatan banget. Terus yang bilang Almeera gatel atau apa?
Apa gak pernah kalian godain suami sendiri?
Minta duluan gak pernah?
Coba deh baca di kajian. Istri minta duluan itu pahala.
Gak ada yang namanya kegatelan atau apa. Wajar lah istri minta sama suami atau sebaliknya.
Aku bukannya marah. Cuma mau negasin aja! kenapa? biar gak ada yang disakiti dalam hal tutur kata.
Kalau bilang aku baper?
Gak baper. Cuma biar kita sama-sama dihargai disini.
Sekian terima kasih. Maaf kalau ada yang tersinggung tapi biar hatiku dan hati kalian lega aja bacanya. Biar gak ada sakit di antara kita.
BTW untuk give away. Aku masih mau beli barang-barang yang mau di give away. Jadi sabar yah! tetep stay komen, beri vote dan follow instagram aku! @myname_jblack
__ADS_1