Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bara Mencuri Kesempatan


__ADS_3


...Selagi masih ada kesempatan. Walau hanya sedikit tetap ku gaspol....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


Menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Akhirnya Almeera berusaha mencairkan suasana. Dia melangkah mendekat dan mengulurkan tangan di hadapan wanita muda itu. Senyuman muncul di bibir Almeera begitu tulus saat pandangan keduanya saling bertemu. 


"Assalamualaikum. Namaku Almeera. Salam kenal!" ujar Almeera yang membuat wanita itu memandang ke arahnya.


Mungkin melihat bagaimana ramahnya Almeera, hingga membuat wanita itu memaksakan senyumnya dan menerima jabat tangan tersebut. 


"Waalaikumsalam, Mbak Meera. Namaku Humaira," ujarnya yang membuat Almeera semakin melebarkan senyumnya.


"Namanya cantik, sepertinya orangnya," kata Almeera memuji.


Jujur ini bukanlah pujian semata. Walau wajah Humaira dipenuhi jerawat tapi wanita itu memang dasarnya terlihat cantik. Hanya tertutup bekas jerawat saja yang membuat siapapun menatapnya akan merasa risih.


"Mbak Meera juga cantik. Seperti sikapnya," ujar Humaira dengan jujur.


"Yaudah ayo kalian masuk! Pasti keponakanku udah capek banget," kata Syakir lalu menggendong tubuh anak kedua dari pasangan Bara dan Almeera.


Akhirnya mereka semua masuk ke dalam rumah berlantai dua. Rumah itu dipenuhi kolam ikan di depannya. Saat mereka mulai masuk langsung disuguhkan sebuah ruang tamu minimalis.


Bara dan Almeera segera mendudukkan dirinya di sana setelah koper mereka diletakkan di dekat pintu. 


"Maaf kalau rumah ini gak sebagus rumah kalian di Jakarta," kata Syakir dengan pandangan tak enak hati. 


"Lo kayak sama siapa aja, Kir. Gue sama Almeera juga senang di rumah ini. Dingin banget lagi," kata Bara apa adanya.


Tentang cuaca dan suhu di Tumpang. Ternyata lumayan dingin memang. Bahkan ketika jaket yang membalut tubuh mereka dibuka, udara tersebut langsung menyentuh kulit yang biasanya kepanasan saat di kota.


"Ayo, Mbak. Saya antar ke kamar. Biar Mbak bisa istirahat," kata Humaira saat melihat Almeera dan Bia terlihat kecapekan. 


Sebelum menerima ajakan Humaira. Almeera menoleh menatap sang suami yang membuat Bara menghentikan perbincangannya dengan Syakir.


"Aku sama Bia dan Abraham ke kamar dulu ya, Mas. Anak-anak kita sudah kelelahan tuh," kata Almeera menunjuk kedua anaknya yang sedang menyandarkan punggung di sofa ruang tamu. 


"Ayo aku bantu mengangkat Bia dulu."

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban sang istri. Bara segera menggendong Bia yang terlihat mulai berat dengan matanya sendiri. Bocah tersebut kelelahan karena memang selama perjalanan tak ada yang tidur.


Baik Bia, Abraham dan Almeera benar-benar menikmati perjalanan pertamanya di Malang. Melihat indahnya kota itu dari atas pesawat sampai puas. 


Humaira akhirnya memimpin jalan mereka. Gadis itu membantu membawakan satu koper dan mulai menaiki tangga. Dari sini saja, Almeera bisa melihat ada dua kamar di dekat tangga. Lalu ada ruang tamu lagi di atas dan di depannya terdapat sebuah kamar tidur lagi.


"Ini kamar, Mbak Meera. Lalu sebelahnya kamar putranya," kata Humaira sambil membukakan pintunya.


"Oh kamar yang bersih dan rapi," puji Almeera dengan mata menatap berbinar.


Ruangan kamar ini benar-benar rapi sekali. Penataan satu buah tempat tidur, satu buah lemari pakaian dan satu buah meja rias begitu tertata dengan apik.


Humaira meletakkan koper itu di dekat pintu lalu meminta para tamunya masuk.


"Semoga Mbak Meera dan suami serta anak-anak bisa istirahat dengan nyaman disini. Nanti kita bisa jalan-jalan keliling malang," kata Humaira dengan tersenyum.


Almeera mengangguk. Dia meraih tangan Humaira dan membalas senyumannya. 


"Makasih banyak, Humaira." 


"Panggil Humai aja, Mbak. Gapapa," ujarnya kepada Meera.


"Ah, bagus." Almeera menganggukkan kepalanya. "Makasih banyak ya, Humai. Mbak pasti betah disini karena dingin." 


...🌴🌴🌴...


Sepeninggal Humaira, Bara langsung membawa tubuh anaknya yang masih dalam gendongan keluar dari kamar.


"Loh, Mas! Mau dibawa kemana Bia?" tanya Almeera mengikuti suaminya.


Kening Almeera berkerut. Apalagi ketika suaminya memasuki kamar yang ditempati oleh putra pertamanya. 


"Oh, Papa. Letakkan disini saja Adik Bia," kata Abraham dengan entengnya.


Bocah kecil yang sudah terlelap itu, langsung ditidurkan di ranjang besar di kamar yang akan ditempati oleh Abraham. Setelah itu Bara langsung pamit kembali ke kamarnya dan berpesan untuk menjaga adiknya ketika tidur.


"Tenang, Papa. Bia itu adik kesayangan Abang. Jadi Abang bakalan jagain dia." 


"Terima kasih banyak, Bang." 


Semua pemandangan itu tentu membuat Almeera tak percaya. Suami dan anaknya seperti saling bekerja sama untuk memberikan waktu mereka berduaan. 

__ADS_1


Almeera beberapa kali menelan ludahnya paksa saat Bara menggenggam tangannya dan mengajak kembali ke kamarnya. Jantungnya berdegup kencang merasa takut akan apa yang akan terjadi di kamar itu.


Kamar yang akan dihuni oleh mereka berdua selama sepuluh hari ke depan. Kapan yang akan menjadi saksi bagaimana meleburnya dua insan menjadi satu.


Suara pintu yang terkunci membuat Almeera menoleh. Disana, dia melihat suaminya tengah menyandarkan punggungnya dan bersedekap dada. 


"Mas," ucap Almeera gugup saat ternyata kemeja yang dipakai Bara sudah terbuka dua kancing di atasnya.


Melihat penampilan suaminya itu, jujur membuat Almeera menelan ludahnya secara kasar. Penampilan yang sangat seksi dan menggoda sekali membuat Alemera benar-benar tak bisa berkata-kata lagi. 


Bara berjalan mendekat. Dia menarik pinggang istrinya hingga tubuh keduanya bertabrakan. Dengan cepat Bara mengendus leher sang istri yang masih dibalut jilbab.


Dia bermanja di sana hingga jilbab itu terangkat. Dengan gemas, Bara menggigit leher itu dan meninggalkan bekas kemerahan. Namun, bukannya kesakitan tapi membuat Almeera mulai memanas.


Apalagi gigitan yang mulanya pelan mulai berganti sesapan. Tangan yang tadinya begitu kaku mulai rilex dengan mata terpejam.


Almeera lagi-lagi terpedaya dengan pesona Bara. Pria itu mampu memainkan dirinya hingga membuatnya ingin hal yang lebih panas. 


Terlalu kuat sesapan di lehernya. Hingga tanpa sadar membuat Almeera mengeluarkan suara jeritan nakal yang terdengar pelan dan seksi di telinga Bara.


Almeera hendak menarik wajar Bara dan mencium bibirnya. Namun, pria itu seakan menolak dan masih bermain dengan area sensitifnya itu.


"Mandilah dulu, Sayang," kata Bara tiba-tiba lalu menjauhkan wajahnya.


Pria itu tersenyum lebar. Apalagi melihat karya ciptanya di leher sang istri yang semakin membuatnya bangga pada bibirnya sendiri.


Bekas gigitan dan sesapan itu sangat tercetak jelas. Bara memberikan kecupan di sana untuk sebuah karya barunya.


"Sana mandi!" kata Bara menatap istrinya yang mulai bergairah.


Pria itu tersenyum dan mengusap bibir Almeera dengan jarinya. Bara sangat tahu arti tatapan itu. Bukan hanya istrinya saja. Dirinya sendiri pun mulai tak bisa mengendalikan dirinya. 


Naga yang tadi sempat tertidur kini kembali memberontak. Meminta dikeluarkan dan dimasukkan ke dalam rumahnya sendiri yang basah dan nikmat. 


Namun, sebaik mungkin Bara menahannya. Dia ingin istrinya mandi terlebih dahulu agar lebih fresh karena sudah melakukan perjalanan. 


"Aku akan memberikannya nanti setelah kamu mandi, Sayang. Atau kita mandi bersama?" 


~Bersambung


Bener-bener pasangan panas nih! Kutendang ke pluto loh yah! Kalau kalian ngadi-ngadi.

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2