Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Tak Ada Kabar


__ADS_3


...Aku benar-benar tak akan memaafkanmu jika kamu tak hadir di acara istimewa putri kita....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


"Tenang, Bar. Tenang!" kata Jimmy setelah dia menyebrang. 


"Apa dia masih hidup?" tanya Bara yang mulai merasa bingung.


Jujur dirinya masih merasa seperti mimpi. Melihat bagaimana tubuh itu dihantam kuat dan terlempar. Lalu sekarang, darah berceceran dimana-mana yang membuat Bara semakin tak sanggup untuk menatapnya lagi. 


Banyak orang mulai berkerumun. Namun, saat Jimmy mengatakan jika Narumi adalah sanak saudara mereka dan ambulans sudah melaju ke arah sini, membuat mereka semua sedikit lebih lega. 


"Bagaimana, Kak?" tanya Bara menuntut.


Jimmy menyentuh denyut nadi Narumi. Dia menekan nadi di pergelangan tangannya. Kemudian terdengar helaan nafas berat yang membuat Bara semakin tak karuan.


"Gimana, Kak?" 


"Dia masih hidup tapi denyut nadinya lemah," ujar Jimmy menjelaskan. 


Bara hanya mampu menatap nanar. Dia tak tahu harus bagaimana lagi. Semuanya serba cepat dan Bara tak mampu mencegahnya.


Tak lama, suara sirine ambulans mulai mendekat. Jimmy, Bara dan semua orang mulai menyingkir untuk memberi jalan para tenaga medis membawa tubuh Narumi yang lemah. Setelah badan itu sudah diangkut di dalam, Jimmy menarik tangan Bara yang seakan masih linglung.


"Kamu bawa mobil, Bar?" tanya Jimmy pada Bara.


Bara mengangguk. Pria itu menatap kosong ke depan seakan masih merasa shock. 


"Lebih baik mobilmu letakkan di sana saja. Kamu bersamaku menyusul Narumi."


Bara hanya pasrah ketika tubuhnya dimasukkan ke dalam mobil. Pria itu benar-benar tak mengatakan sepatah katapun. Bayang-bayang bagaimana Narumi berlari dan dihantam masih melekat dengan kuat.


Berbeda sekali dengan Jimmy. Pria itu sudah biasa dengan hal-hal seperti itu. Apalagi dia juga sudah sangat amat terbiasa saat harus menembak seseorang. Maka dari itu, dirinya sekarang juga mengerti bagaimana perasaan adik iparnya.


"Kamu takut atau menyesal, Bar?" tanya Jimmy melirik adik iparnya.


"Apa maksudmu, Kak?" 


"Kalau kamu tak menceraikannya, pasti Narumi tak akan kecelakaan."


Bara menarik nafasnya begitu dalam seakan dia ingin membuang sesuatu yang menghimpit dadanya. 


"Aku tak menyesal sedikitpun," sahut Bara dengan wajah serius. "Hanya saja aku terkejut melihat dia bunuh diri dengan cara seperti itu." 


"Ya. Aku tau itu. Istrimu itu memang gila," sahut Jimmy dengan pedas.


"Mantan istri, Kak!"

__ADS_1


"Oke-oke. Mantan istri," ejek Jimmy sambil terkekeh. "Buang wajah tegangmu itu. Menjijikkan melihatmu seperti tiang listrik." 


"Astaga!" Bara menyikut lengan kakak iparnya.


Jimmy adalah sosok yang mampu mencairkan suasana. Walau sikapnya terkesan dingin. Namun, jika bersama keluarganya dia seakan memiliki kepribadian ganda.


Akhirnya mobil mulai memasuki pelataran rumah sakit. Keduanya segera turun saat kendaraan itu sudah terparkir rapi di sana. Langkah keduanya begitu cepat saat brankar Narumi sudah diturunkan dari mobil ambulans.


Keduanya segera mengikuti para suster yang mendorong brankar Narumi dengan cepat. Saat tubuh itu mulai masuk ke ruang IGD. Kedua pria itu menunggu diluar. Mereka sama-sama memanjatkan doa untuk Narumi.


Sejahat apapun wanita itu, mereka juga masih manusia biasa. Ada masa mereka sedang tak tahu arah, khilaf dan bisa melakukan kejahatan. Namun, bagaimanapun mereka masih bisa menyingkirkan segala kebencian sejenak untuk mendoakan keselamatan Narumi. 


Mereka tak memiliki pikiran picik. Mendoakan wanita itu agar cepat mati karena menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka. Namun, malah sebaliknya. Baik Bara maupun Jimmy, keduanya berharap semoga Narumi bisa selamat. 


"Anggota keluarga pasien?" 


"Kami, Dok!" 


"Harap mengisi formulir sebelum pasien dioperasi. Pasien mengalami pendarahan di kepala dan kaki. Jadi pasien harus segera dioperasi," kata seorang pria berpakaian dokter.


"Baik, Dok." 


Setelah melewati semua prosedur. Akhirnya keduanya segera duduk di depan ruang operasi. Keduanya benar-benar merasa lelah dengan semua kejadian ini. Bara memijat dahinya saat kepalanya mulai berdenyut. 


"Kenapa, Bar?" kata Jimmy yang melihat adik iparnya meringis. 


"Kepalaku sakit." 


Dia tahu betul pasti Bara mulai trauma melihat seseorang kecelakaan. Bagaimana tidak, mata suami dari Almeera, melihatnya secara langsung. Bahkan dia sendiri yang berada di jarak paling dekat dengan korban. 


"Aku tidur disini saja, Kak. Kasihan Kakak jika aku tinggal sendirian." 


Akhirnya Jimmy tak mendebat. Dia membiarkan adik iparnya mulai menyandarkan tubuhnya dan tertidur sambil duduk. Pria itu menatap pintu operasi yang masih tertutup rapat.


Seakan semua dokter belum ingin keluar dari sana. Jimmy menatap jam di pergelangan tangannya. Dia menghela nafas berat saat sudah duduk di sini selama kurang lebih 3 jam. Akhirnya dirinya berinisiatif menghubungi adiknya, Almeera.


Namun, saat dia sudah memegang benda pipih itu. Bibirnya berdecak kesal. 


"Kenapa pakai mati segala sih!" 


...🌴🌴🌴...


Jarum jam dinding terus berputar. Tak terasa waktu sudah semakin sore. Senja mulai menyapa dan hal itu membuat seorang perempuan berdiri gelisah di depan pintu masuk. 


"Bagaimana?" tanya Jonathan yang menyusul adiknya di depan. 


"Gak bisa, Kak. Ponselnya mati," sahut Almeera menatap kakaknya dengan wajah putus asa. 


"Kemana Bara? Jangan bilang dia sedang enak-enakan di rumah istri mudanya." 


Ketakutan begitu mendera di hati Almeera. Wanita itu menatap pelataran rumahnya dengan luka yang semakin menganga. Ucapan kakaknya seakan menjadi tamparan bahwa kenyataan suaminya memiliki dua istri kembali melekat.

__ADS_1


Dirinya mendongakkan wajahnya seakan menahan air mata yang ingin menetes. Almeera tak mau menangis lagi. Dia sudah cukup kuat selama ini.


Aku tak akan memaafkanmu jika kamu berani mengecewakan hati putriku, gumam Almeera dalam hati.


Lamunan adik kakak itu terpecah saat mendengar suara tangis Bia dari dalam. Almeera dan Jonathan berbalik hingga bisa melihat sosok Abraham yang menenangkan adiknya.


"Kenapa anak Mama ini menangis?" 


Wajah dan hidung anaknya itu begitu memerah. Dia merasa tak tega melihat putrinya seperti ini.


"Jangan menangis, Sayang," rayu Almeera dengan tangan mengelus kepala Bia. 


"Papa mana, Ma? Papa bohong lagi, 'kan? Papa gak datang, 'kan?" tanya Bia dengan suara seraknya.


Bahkan anak itu sampai sesenggukan yang membuat hati Almeera mulai berdenyut sakit. 


Bibir ibu dua anak itu terkatup. Dia seakan tak bisa menjawab pertanyaan anaknya sampai tangisan Bia semakin kencang.


"Papa jahat! Papa jahat, Mama! Papa gak sayang lagi sama Bia!" 


"Nggak, Sayang. Papa sayang sama Bia kok," bujuk Almeera mencoba berpikir positif. "Papa pasti datang ke ulang tahun Bia." 


Bia menatap wajah mamanya. Seakan dia ingin tahu apakah Almeera jujur atau tidak.


"Beneran, Ma?" 


"Tentu. Papa pasti datang di acara ulang tahun putri kesayangannya ini."


Aku masih berharap kamu tak menghianati ucapanmu, Mas. Jika iya, aku akan membawa Bia dan Abraham jauh darimu.


~Bersambung


Mas Bara ilang kabar. Woy dicek atuh hpnya Mas. Nanti Mbak Meera kabur loh!


BTW yang bilang Bang Jimmy kok gak bantuin Mas Bara. Apa kalian lupa di bab sebelumnya aku kasih tau, Bang Jimmy gak ada dirumah karena panggilan dadakan. Coba baca lagi deh biar kalian gak bilang aneh.


Oh iya aku adain give away. yuk para pembaca ikutan.


GIVE AWAY PULSA 15.000 per nomor UNTUK 5 pemenang.


S&K :


Follow instagram aku @myname_jblack


Like setiap bab di novel HTS


Beri komentar 'doa terbaik kalian di bab 64 ini untuk author yang hari ini sedang ulang tahun.'


•Jangan lupa beri nama instagram kalian di komentar agar aku bisa cek dan menghubungi kalian yah.


instagram aku dibawah ini

__ADS_1



__ADS_2