
...Ternyata yang namanya orang jahat, akan selalu jahat jika memiliki tujuan. Meski nyawa yang dia taruhkan, pasti akan dia lakukan agar tujuannya tercapai....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Suasana ruang rawat Narumi terlihat tenang. Sesekali terdengar bunyi gemericik air dari kamar mandi karena Jimmy sedang membersihkan diri. Sedangkan Fadly, pria itu sudah pamit untuk pulang. Dia tak sanggup untuk melihat bagaimana Bara yang terus saja menempel pada istrinya.Â
Saat ini, tiga manusia yang sedang duduk di sofa itu sedang asyik dengan kesibukannya sendiri-sendiri. Bia, bocah lima tahun itu sedang asyik bermain ponsel papanya. Sedangkan Bara, dia meletakkan kepalanya di paha sang istri dan meminta diusap agar dirinya bisa tidur walau sebentar.Â
Almeera tak menolak. Dia mengerti pasti semalam suaminya kurang tidur dengan nyaman. Terlihat dari kantung mata yang besar menandakan bahwa Bara pasti tak tidur dengan benar.
Tak lama suara pintu yang terbuka membuat perhatian Almeera teralih. Disana, kakaknya sudah terlihat begitu rapi dan segar. Pakaiannya bahkan sudah ganti dan dia meletakkan paper bag berisi baju kotor di lantai dekat sofa.
"Aku mau makan di luar, Ra. Disini takut baunya akan mengganggu," kata Jimmy yang membuat mata Bara terbuka.
"Barengan, Kak. Aku juga lapar," sahut Bara mulai menegakkan tubuhnya.Â
Pria itu berlalu ke kamar mandi untuk mencuci muka lalu dia segera keluar dan menghampiri istri dan kakak iparnya lagi.Â
"Sayang ayo!"Â
"Kalau aku ikut, siapa yang akan menjaga Narumi?" tanya Almeera menatap perempuan yang merupakan mantan istri suaminya sedang terlelap.
Suara ketiganya memang dibuat sepelan mungkin. Mereka takut jika membangunkan Narumi yang sedang tertidur.
"Dia sudah sadar, Ra. Sudah besar juga. Toh kita hanya makan, 'kan? Jadi kita tinggal sebentar," ujar Jimmy menjelaskan.
Akhirnya Almeera mengangguk. Dia mulai membawa kotak makan yang dia bawa dan mulai mengikuti suami, anak dan kakaknya keluar dari sana. Mereka berjalan menuju taman rumah sakit, keempatnya segera duduk dibawah pohon rindang untuk menikmati makanan yang dibawa oleh Almeera.
Dengan cekatan, wanita itu menata makanannya. Dia mengambilkan juga untuk suami dan kakaknya lalu yang terakhir menuang minuman di gelas yang dibawanya.
"Makan yang banyak. Biar kalian gak mudah sakit," kata Almeera menasehati.
__ADS_1
"Kalau terlalu banyak, nanti perut Kakak seperti aki-aki, Ra. Jendut," oceh Jimmy sambil mengelus perutnya.Â
Almeera terkekeh. Dia memukul pundak kakaknya yang selalu bisa mencairkan suasana.Â
"Untuk Kakak boleh sedikit. Kasihan jomblo nanti makin gak laku kalau perutnya gedhe," sindir Almeera yang membuat Jimmy memutar bola matanya malas.
Dirinya paling malas jika dikaitkan dengan kata jomblo dan menikah. Ia masih ingin bekerja menjadi agen. Menikmati hidupnya dan berpetualang sebelum ia berhenti dari dunia yang membahayakan keselamatannya itu.Â
"Kakak kenapa sih, kalau ditanya nikah atau pacar pasti cemberut?" tanya Almeera bergeser mendekati Jimmy.
"Kakak masih belum kepikiran kesana, Ra," kata Jimmy di sela-sela mengunyah makanannya. "Kakak masih ingin berpetualang. Kerja, main, cari uang dan bebas."
"Tapi Kakak harus ingat umur. Udah hampir 40 tahun loh," kata Meera yang hanya ditanggapi anggukan kepala.
"Kakak pasti menikah. Tenang aja. Kamu percaya, 'kan, sama Kakak?"Â
Jimmy menaik turunkan alisnya. Dia menggoda adiknya agar wajah Almeera tak lagi khawatir akan nasibnya ini. Sebenarnya dirinya tahu, jika semua keluarga khawatir dengan hidupnya. Namun, Jimmy masih ingin bekerja.
Dia sangat paham pekerjaannya ini berbahaya. Tak mungkin dirinya menikah sebelum menyelesaikan semua tugas dan keluar dari Agen. Dia tak mau menyeret istri dan anak-anaknya di dunia agen. Maka dari itu, biarkan dia bekerja dulu lalu setelah semua selesai dia akan keluar dan menikah.
...🌴🌴🌴...
Sedangkan ditempat lain. Terdapat sepasang langkah kaki memasuki sebuah ruangan yang terlihat begitu hening. Tak ada siapapun disana, hanya ada seorang perempuan terbaring tak berdaya di atas ranjang.Â
Sosok itu berjalan dengan pelan mendekati ranjang pasien. Matanya menatap sendu ke arah wanitanya. Dia menunduk, mencium dahi yang terdapat perban putih di sana dan membuat mata yang awalnya terpejam langsung terbuka.
"Sayang," panggil Narumi dengan mata membulat. "Kamu ngapain kesini?" tanya Narumi panik dengan menatap ruangannya.
"Tenanglah." Adnan menahan dada kekasihnya agar tetap tertidur. Dia mengecup bibir itu karena rasa cinta dan rindunya menjadi satu. "Aku kangen kamu."Â
"Aku tau, Adnan. Tapi kamu kenapa nekat kesini? Kalau ada yang liat, bagaimana?" tanya Narumi dengan wajah gelisah.Â
"Tak ada siapapun. Bara dan yang lain sedang makan di taman. Jadi mereka pasti akan lama disana," tutur Adnan yang membuat Narumi sedikit lebih lega.Â
"Bagaimana kamu bisa tau?" tanya Narumi menatap kekasihnya penuh cinta.Â
__ADS_1
"Aku tentu mengikutinya sebelum datang kesini," ujar Adnan sambil mengelus kepala Narumi. "Apa ini sakit?"Â
"Tentu, tapi lebih sakit jika kita kehilangan tambang duit, Sayang," kata Narumi dengan senyum miringnya.Â
"Kenapa kamu begitu nekad? Jujur aku takut ketika melakukan itu," kata Adnan dengan ketakutan yang besar di matanya. "Bukankah aku sudah bilang untuk berdiri di pinggir jalan, bukan kamu lari di depanku!"Â
"Jika aku hanya berdiri, aku yakin dia akan curiga, Sayang," kata Narumi pada Adnan.
"Tapi kamu tau gimana perasaanku waktu itu? Waktu aku lihat sendiri kamu berlari ke arah mobil yang aku kendarai dan menabrakkan diri, hah?" seru Adnan dengan marah. "Aku bener-bener takut kamu ninggalin aku, Rumi!"
Air mata menetes di pipi Adnan. Dia benar-benar ingat betul bagaimana mobil yang dia bawa membuat kekasihnya terkapar di jalanan. Rasanya ia ingin turun dan menyelamatkan Rumi. Namun, itu tak mungkin. Dirinya lekas pergi dan kabur sebelum ada yang tahu jika yang menabrak kekasihnya adalah dirinya sendiri.Â
"Ustt, Sayang." Rumi menggenggam tangan Adnan. Dia menciumnya untuk menyalurkan ketenangan. "Aku masih disini. Aku tak akan meninggalkanmu sendirian. Kita akan mendapatkan semuanya lalu pergi!"Â
"Terima kasih sudah bertahan untukku," kata Adnan mencium pipi kekasihnya dengan lembut.Â
Aku lakukan ini untuk uang. Aku butuh uang untuk hidup. Jika aku kehilangan Bara maka hidupku akan kembali seperti dulu, gumam Narumi dalam hati.Â
"Lalu bagaimana dengan dokter itu?" tanya Narumi pada Adnan.
"Semuanya beres. Aku sudah mengatasinya. Kamu harus pura-pura lumpuh. Jangan sampai lupa," kata Adnan yang membuat Narumi melebarkan senyumannya.
"Kamu memang terbaik, Sayang. I love you." Narumi menarik kepala kekasihnya.
Dia mencium bibir itu dan menyesapnya begitu liar. Tentu hal itu disambut dengan baik oleh Adnan. Dia begitu merindukan Narumi hingga melupakan bahwa mereka masih ada di rumah sakit. Tanpa keduanya sadari, sejak tadi ada seseorang yang mendengar semuanya.Â
Wajahnya begitu tegang dengan mata terbelalak saat mengetahui kebenarannya. Dia benar-benar terkejut dan hanya bisa mundur secara perlahan dan pergi dari sana sebelum dua orang itu menyadari kehadirannya.Â
~Bersambung
Lalalala tingkah dajjal mah begini. Apalagi kalau sudah cinta, semuanya menjadi buta. Mau salah atau nggak, dibela aja terus.Â
Oh iya, ada yang mau cerita Bang Jimmy gak? komen dong. Kalau banyak yang mau aku buatin.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1