Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Mencoba Menerima Keadaan


__ADS_3


...Kehilangan yang paling menyakitkan adalah ketika kamu tak bisa bertemu lagi dengannya....


...~Adeeva Khumaira...


...🌴🌴🌴...


Suara tangisan bayi terdengar begitu kencang. Hingga seorang pria yang asyik memejamkan matanya lekas terbangun dan beranjak duduk. Dia mengedarkan pandangannya dan tak menemukan sosok wanita yang tidur bersamanya. 


Dirinya lekas turun saat tangisan menyayat hati semakin terdengar dari anaknya. Dia segera meraih anak itu dan membawanya ke dalam gendongan.


"Haus ya, Sayang. Bentar ya kita cari, Mama!" kata pria itu sambil keluar dari kamarnya.


Tatapannya mengedar. Dia berusaha menghidupkan satu persatu lampu ruangan yang ia lewati. Tepukan di pantatnya ternyata tak membuat bayi itu diam. Hingga tangisannya akhirnya membangunkan semua orang. 


"Ada apa, Ren? Kenapa Reyn menangis?" tanya Ibu Adeeva yang keluar dari kamarnya mendengar suara cucunya menangis.


"Reyn haus sepertinya, Bu," sahut Reno menatap putranya.


"Ya kasih susu. Kemana istrimu?" 


Reno menggelengkan kepalanya dengan lemah. "Adeeva gak ada di ranjang, Bu. Ini Reno juga lagi nyari dia."


Ibu Adeeva terbelalak. Dia memijat dahinya merasa pusing sekaligus sakit. Dirinya sangat tahu apa yang dirasakan oleh anaknya itu.


Dirinya juga mengalami susah tidur. Memikirkan mantan suaminya yang sudah meninggal setelah beberapa bulan tak ada kabar. Tentu menggoreskan luka dihati anaknya. 


Namun, Ibu Adeeva tak menyangka anaknya malah melupakan Baby Reyn. Sosok yang masih menggantungkan hidup pada ibunya itu harus mendapatkan dampak dari semua yang terjadi hari ini. 


"Ayo kita cari!"


Akhirnya Ibu Adeeva, Reno serta Baby Reyn yang ada di gendongan papanya mulai berkeliling. Para pelayan yang bangun juga ikut membantu mencari. Hingga salah seorang pelayan yang paling lama bekerja di rumah Reno mengatakan bahwa pintu penghubung antara rumah dengan taman belakang terbuka.


Hal itu membuat menantu dan mertua itu saling pandang. Mereka sama-sama memikirkan sesuatu dalam otaknya.


"Jangan bilang kalau Adeeva ada di…" kata Reno seakan tak mampu melanjutkan perkataannya.


"Tunggulah disini bersama Baby Reyn, Nak. Ibu akan mengeceknya," kata Ibu Adeeva kepada menantunya. "Mbak juga hangatkan asi di kulkas buat Baby Reyn yah!" 


Setelah mengatakan itu, Ibu Adeeva segera keluar dari pintu penghubung. Dia mengganti sandal rumahan dengan sandal luar. Langkahnya ia percepat tapi tanpa bersuara. Hingga samar-samar dia melihat sosok yang ia cari sedang duduk di dekat pusaran mantan suaminya.


Anaknya benar-benar ada disana. Bahkan bisa Ibu Adeeva lihat bahu anaknya bergetar dengan suara isakannya yang begitu hebat. 

__ADS_1


"Maafin Deeva, Ayah. Deeva benar-benar jahat sama, Ayah!" ujar istri Reno itu dengan mengabaikan dirinya yang duduk di rerumputan.


Dia tak memperdulikan dirinya yang hanya memakai piyama. Adeeva hanya mencari ketenangan dalam dirinya. Sejak tadi dirinya tak bisa memejamkan mata. Walau Reno memeluknya, dia merasa gelisah.


Hingga puncaknya saat Adeeva merasa suaminya sudah terlelap. Dia akhirnya memilih keluar dari kamar. Menemui makam papanya dan mencoba bercerita disana. 


"Nak!" panggil Ibu Adeeva sambil mengusap bahu putrinya. "Ini sudah malam!" 


Adeeva menoleh. Matanya begitu sembab dengan hidung memerah yang membuat hati ibu satu anak itu mencelos. Dia tak menyangka putrinya akan merasa sesakit ini. Tanpa kata, Ibu Adeeva memeluk putrinya dengan erat. 


Mengusap kepalanya penuh sayang dan membiarkan Adeeva menangis dalam pelukannya.


"Adeeva gak bisa tidur, Bu. Adeeva ngerasa bersalah sama, Ayah."


"Tapi Ayahmu pasti memahami alasanmu, Sayang. Ayahmu mengerti kenapa kamu menjauhinya," balas Ibu Adeeva dengan mengusap punggung putrinya.


Tangisan istri Rano itu semakin menjadi. Adeeva memang benar-benar merasa sakit. Sakit yang luar biasa baru kali ini dia rasakan.


Jika dulu sakit karena di torehkan luka oleh ayahnya. Lalu sekarang di goreskan luka akan perpisahan tanpa ujung pertemuan. Perpisahan yang tak pernah akan ada lagi pertemuan. 


Perpisahan yang benar-benar berpisah. Perpisahan yang hanya mampu bertemu ketika mimpi itu tiba. Perpisahan yang meninggalkan luka begitu dalam. 


"Aku jahat, Bu. Aku jahat!" 


Setelah hampir sepuluh menit Adeeva menangis. Akhirnya isakan itu mulai berkurang. Ibu Adeeva segera melepaskan pelukannya lalu merangkum wajah putrinya itu.


"Tatap ibu, Nak!" kata Ibu Adeeva yang membuat anak dan ibu itu saling memandang. "Jangan menyesali sebuah kematian. Mati itu takdir Tuhan. Datangnya memang tiba-tiba dan mau tak mau. Siap tak siap, kita harus ikhlas menghadapinya." 


"Memang mudah mengucapkannya. Ibu juga ngerasain. Ngomong sabar aja bisa tapi mencoba melakukannya ibu gak bisa." 


Tangisan yang ia tahan akhirnya meluncur. Akhirnya Ibu Adeeva meneteskan matanya di hadapan putrinya. Dia sudah sanggup menahan agar tak menetes. Namun, ternyata sisi lemahnya paling kuat. 


"Ibu!" lirih Adeeva menatap ibunya yang benar-benar lemah.


"Ibu hanya punya kamu, Deeva. Kamu penguat ibu. Kalau penguat ibu aja lemah. Bagaimana dengan Ibu?" 


Adeeva bisa merasakan luka yang begitu mendalam. Kesedihannya mampu membuatnya lupa bahwa yang paling tersakiti pasti ibunya. Wanita yang hidup dalam kesengsaraan, penyiksaan almarhum ayahnya dan penderitaan lainnya.


Pasti saat ini ibunya lah yang tersiksa. Mengingat tak ada kenangan yang indah yang bisa mengobati rindu ketika datang. 


"Ibu jangan menangis!" 


"Ibu gak bakal nangis kalau penguat ibu juga kuat." 

__ADS_1


Rasa sayangnya pada sang ibu membuat Adeeva menghela nafas berat. Dia menghapus air matanya lalu mencoba menarik bibirnya ke atas. 


"Adeeva bakalan tersenyum, Bu. Adeeva gak bakal nangis. Itu semua demi, Ibu!" 


Ibu Adeeva mengangguk. Dia mencium dahi putrinya itu dan merasa lega karena putrinya paham akan situasi yang terjadi saat ini. 


"Ayo kita masuk! Kasihan putramu menangis sejak tadi," kata Ibu Adeeva beranjak berdiri. 


Di menarik tangan Deeva hingga membuat wanita itu berdiri. Matanya menatap makam yang masih basah itu lalu tersenyum.


"Adeeva pergi dulu ya, Pa. Semoga Papa bahagia disana. Lihat Adeeva dan Mama dari langit ya, Pa. Kami akan berusaha ikhlas dan bahagia." 


Akhirnya anak dan ibu itu mulai meninggalkan pemakaman. Mereka berjalan sambil Ibu Adeeva meletakkan tangannya di pundak sang anak. 


"Jangan pernah menyendiri seperti tadi. Ceritakan pada Ibu apa yang terjadi. Ibu siap mendengarkan semuanya." 


"Iya, Bu. Adeeva gak bakal nutupin apapun."


Hingga samar-samar Adeeva bisa mendengar tangisan anaknya. Dia segera berjalan cepat dan mendapati suaminya begitu kerepotan menenangkan putranya. 


"Reyn, Sayang!" 


"Reyn gak mau minum susu itu, Bu," kata Reno pada istri dan mertuanya.


"Cepat susui anakmu, Deeva. Kasihan dia!" kata Ibu Adeeva pada putrnya. 


Tanpa kata Adeeva segera duduk lalu dia memberikan asi untuk putranya. Perempuan itu benar-benar merasa bersalah. Apalagi melihat wajah anaknya yang memerah menandakan bahwa sejak tadi dia menangis.


Hingga saat Baby Reyn tenang. Ibu Adeeva izin ke dapur dan meninggalkan Reno dan Adeeva di ruang tamu. 


"Kamu baik-baik saja?" tanya Reno sambil duduk di samping istrinya. 


Adeeva mendongak. Dia menganggukkan kepalanya menjawab sang suami.


"Aku baik-baik saja, Mas," balas Adeeva pada suaminya.


"Syukurlah," sahut Reno sambil meraih tangan istrinya. "Kalau ada apa-apa ceritakan padakًu, Sayang. Bukankah dalam keadaan apapun itu, kita harus saling mengasihi, menyayangi dan membantu satu dengan yang lain. Bila kamu sakit, bagi sakitmu padaku agar sakitmu bisa berkurang." 


~Bersambung


Jangan nangis mulu. Capek aku hahaha.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2