
...Setiap masa lalu selalu dijadikan sebagai pelajaran di masa depan. Agar hal itu menjadi pedoman agar mereka tak jatuh di lubang yang sama. ...
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Hari mulai berganti lagi. Perubahan di dalam diri ibu hamil tentu mulai terlihat. Perutnya yang membuncit. Lalu berat badannya yang mulai terlihat tentu jelas kentara.
Hal itu juga yang dirasakan oleh seorang perempuan yang tengah berdiri di depan cermin. Dia menatap pantulan dirinya dengan bibir yang tersenyum. Tangannya mengusap perutnya yang sudah menonjol di balik pakaian yang ia pakai.
Bahkan gerakan-gerakan kecil sudah terasa dari gerakan bayi-bayinya.
"Memperhatikan mereka, hmm? " tanya Bara sambil memeluk istrinya dari belakang.
Kegiatan seperti ini sudah menjadi kebiasaan Almeera sejak hamil. Wanita itu sering menghabiskan waktunya disini melihat perubahan dalam dirinya.
"Iya, Mas. Tanpa sadar mereka sudah sebesar ini," Lirih Almeera menatap pantulan suaminya.
Keduanya merasa waktu berlalu begitu cepat. Tak sadar jika si kembar sudah berusia 16 minggu. Baik Bara maupun Almeera sudah tak sabar menunggu hadirnya si kembar di dunia ini.
Suatu hal yang sangat mereka nanti hadirnya. Sebuah hikmah dan hadiah terindah setelah melewati banyaknya rintangan di antara keduanya. Lalu hadirnya si kembar mampu menjadi bukti bahwa sebuah permasalahan dalam rumah tangga, dan adanya orang ketiga tak harus berakhir dengan perceraian.
"Kita jadi belanja, 'kan, Mas? " Tanya Almeera yang mengingat rencana mereka hari ini.
"Tentu. Ayo siap-siap. "
Akhirnya mereka segera berganti pakaian dengan cepat. Suasana rumah memang terlihat sepi karena Bia sedang ada di rumah kakek dan neneknya. Sedangkan Abra, putra pertama mereka sedang bersekolah.
Dengan penuh kehati-hatian. Bara mulai melesat mengendarai mobilnya. Mereka meninggalkan rumah mereka dan mulai ikut dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang.
Almeera memilih menatap ke arah jalanan. Dia melihat banyaknya kendaraan serta beberapa penjual di pinggir jalan.
Tanpa Almeera sadari, Bara sejak tadi menatapnya dalam diam. Pria itu melihat gerak gerik istrinya takut ada sesuatu yang diinginkan. Pria itu memang jauh lebih peka dan protektif semenjak kehamilan istrinya.
Kehamilan Almeera, dia sangat dimanja oleh Bara. Apa yang dia inginkan, pria itu dengan sigap mengabulkannya.
"Kamu ingin sesuatu, hmm?" Tanya Bara pelan sambil mengusap kepala istrinya.
Almeera menoleh. Dia menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan sang suami.
"Aku lagi gak mau apa-apa, Mas. Masih kenyang, " ujar Almeera mengusap perutnya.
__ADS_1
"Baiklah, " sahut Bara mengangguk. "Kalau mau apa-apa, kamu harus bilang sama aku yah! "
Bara memerintah. Pria itu benar-benar ingin menghapus kenangan buruk istrinya yang dia berikan dulu. Bara ingin membuktikan bahwa cintanya benar-benar hanya untuk Almeera dan anak-anaknya.
"Siap, Papa Bara. Twins akan selalu melapor, " Cicit Almeera dengan suara khas anak kecil yang mengundang tawa keduanya di dalam mobil.
...🌴🌴🌴...
Akhirnya perjalanan mereka berakhir dengan selamat. Bara segera mengambil trolly belanjaan mereka dan mengikuti langkah kaki istrinya kemana.
Almeera dengan lihai segera mengambil barang-barang yang dibutuhkannya. Dari peralatan mandi mereka seperti sabun mandi, pasta gigi, lalu sabun cuci pakaian. Semuanya dia masukkan ke dalam kereta belanja karena memang hari ini mereka belanja bulanan.
Setelah peralatan mandi selesai. Mereka berdua segera menuju ke arah makanan ringan. Almeera dengan sigap memasukkan biskuit, susu dan beberapa snack yang disukai putra dan putri mereka.
"Kamu mau kopi apa, Mas? " Tanya Almeera ada Bara.
Perempuan itu sangat tahu jika suaminya pecinta kopi dan dia sering bergonta ganti jenis kopi yang ingin diminumnya.
Setelah cemilan selesai. Keduanya berlalu menuju tempat buah. Dengan sigap calon papa dari empat orang anak itu membantu istrinya mengambilkan plastik untuk tempat meletakkan buah-buahan yang ingin dibelinya.
"Apel?" Tanya Bara pada istrinya.
"Iya, Sayang. Jangan lupa anggur juga yah. Kelengkeng kesukaan Abra juga."
Saat keduanya mulai asyik berbelanja buah. Tiba-tiba terlihat seorang perempuan mendekat dan menepuk pundak Bara.
Hal itu spontan membuat pembicaraan pasangan suami istri itu terhenti dan keduanya berbalik.
"Bara?"
Pria itu berbalik. Dia mengerutkan keningnya saat menatap wanita yang berani menepuk pundaknya itu.
"Kamu lupa yah? Ini aku Siska, temen SMP kamu."
"Siska?"
Bara tetap mencoba mengingat. Namun, sepertinya pikiran pria itu hanya terisi nama Almeera, Abra dan Bia yang membuatnya benar-benar lupa pada temannya itu.
"Aku benar-benar lupa, Siska. Sorry," kata Bara tak enak hati.
"Siska yang sering dipanggil cewek sipit itu loh, Bar!" ujarnya dengan kekeh.
Sepertinya perempuan itu berusaha membuat Bara mengingatnya. Namun, sepertinya Bara tetaplah Bara. Pria itu terkadang lupa sesuatu di masa lalunya karena terlalu banyaknya pekerjaan.
__ADS_1
Hingga sosok perempuan hamil yang sejak tadi memperhatikan interaksi suami dan wanita itu bisa menangkap raut wajah kecewa dari sang wanita. Entah kenapa ada sesuatu yang mengusik hatinya dan membuat Almeera menatap tak suka.
Dia segera mendekati Bara dan melingkarkan tangannya di lengan sang suami yang membuat Bara spontan menoleh.
"Maafkan suamiku ya, Mbak. Dia memang sering lupa dengan hal-hal yang, GAK PENTING, " ujar Almeera penuh penekanan di akhir kalimatnya.
Bumil itu bisa melihat tatapan suka dari wanita bernama Siska. Hal itu tentu membuatnya segera pasang badan. Bara adalah miliknya dan milik anak-anaknya. Tak ada yang boleh mencoba mendekatinya jika tak mau melawan mereka.
"Ah iya. Aku hanya mencoba membuat temanku mengingat teman masa lalunya," balas Siska dengan wajah sinisnya. "Ini istrimu, Bar? "
"Ah iya. Kenalin, ini Almeera, istriku. "
"Hai, Mbak. Almeera."
"Siska!" katanya menerima uluran tangan Meera. "Bukannya dulu kamu sama Narumi?"
Spontan hal itu membuat tubuh Bara menegang. Namun, berbeda dengan Almeera. Wanita itu tetap terlihat tenang dengan tatapan mematikannya.
"Ya. Narumi memang masa lalu suamiku, Mbak. Lalu saya… " jeda Almeera menunjuk dirinya sendiri. "Istri dan ibu dari anak-anak Gibran Bara Alkahfi."
Telak!
Perempuan itu terlihat mati kutu. Namun, Almeera tak peduli karena dia berani mengusik ketenangan dirinya. Melihat suasana yang mulai tak kondusif. Bara segera pamit pada Siska dan mengajak istrinya pindah tempat.
"Boleh gak. Aku minta nomor kamu?" Kata Siska menyerahkan ponselnya. "Biar nanti nomor kamu, aku masukin grup alumni."
"Aku tak membawa ponsel, Sis. Aku juga tak hafal nomornya, " Kata Bara dengan cepat. "Mungkin istriku membawanya. Kamu bawa ponsel, Sayang? Kalau bawa berikan nomormu saja."
"Aku bawa. Ini nomorku, Mbak."
Siska terlihat enggan. Namun, sepertinya dia tak bisa berkutik. Akhirnya wanita itu mulai mengetik nomor Almeera di ponselnya.
"Kami pergi dulu ya. Masih banyak belanjaan yang harus kami cari, " Pamit Bara pada Siska.
Akhirnya mereka segera meninggalkan wanita itu. Bibir Almeer tak henti menggerutu melihat bagaimana tatapan cantik wanita itu.
"Udah dong, Sayang. Jangan ngomel mulu. Kasihan si kembar loh!"
"Aku kesel aja, Mas. Dia itu lihat gak sih. Kamu sama aku," ujar Almeera dengan bibir memberengut. "Di enak-enakin liat suami orang. Centil lagi. Kalau aku gak hamil, udah ku pukul tu mata biar tahu diri!"
~Bersambung
Hahhaha biasanya Mas Bar yang ganas. Sekarang gantian.
__ADS_1
Maaf baru update yah. Baru sampai rumah. Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat updatenya.