
...Percayalah rasa percaya diriku langsung menurun ketika status di antara kita berdua telah berubah....
...~Adeeva Khumairah...
...🌴🌴🌴...
"Kamu ngapain disini?" tanya Ibu Adeeva sambil memukul pundak putrinya.
Perempuan paruh baya itu mengerutkan keningnya saat melihat anaknya sudah berganti piyama tidur tapi berada di dapur sendirian. Kepala wanita tua itu mengedar dan dia melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
"Eh itu, Bu," ujar Adeeva kebingungan.
Gadis itu menggaruk kepalanya yang tak gatal. Dia menelan ludahnya paksa saat tak tahu harus memberikan jawaban apa pada ibunya.Â
Jujur dirinya bisa berada disini karena memberikan seribu alasan pada sosok yang menjadi suaminya. Entah kenapa Adeeva merasa malu dan deg degan begitu luar biasa saat harus satu kamar dengan Reno.
"Kenapa? Ini udah malam loh! Ayo sana kembali ke kamarmu. Kasihan suamimu pasti sudah menunggu," kata Ibu Adeeva sambil menarik tangan anaknya agar beranjak berdiri.
"Bentar, Bu. Bentar." Adeeva menahan tangan ibunya.
Wajahnya memberengut lalu dia melingkarkan tangannya di lengan sang ibu dengan raut wajah manjanya.
Jika sudah begini. Ibu satu anak itu sangat tahu betul apa yang sedang dirasakan oleh putrinya itu.Â
"Ada apa?"Â
Ibu Adeeva mengajak anaknya duduk. Dia mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang.
"Adeeva malu, Bu. Adeeva takut," cicitnya dengan suara pelan.
Mata itu mengintip ke arah tangga. Dia takut jika tiba-tiba suaminya muncul dan mendengar percakapan mereka.
"Kok takut?"Â
"Ya gak tau, Bu. Belum terbiasa berduaan satu kamar sama lawan jenis," lirihnya dengan menunduk.
Bibir Ibu Adeeva tersenyum. Dia sangat tahu betul perasaan anaknya sekarang. Sebenarnya sejak tadi dia sudah menahan tawa melihat bagaimana anaknya yang kebingungan.
"Kembalilah ke kamarmu. Semuanya akan baik-baik aja. Tetaplah tenang, Nak," bujuk Ibu Adeeva dengan pelan.
Adeeva menghela nafas kasar. Dia menatap ibunya dengan lekat.Â
"Jika Reno meminta itu. Apa Adeeva boleh menolaknya, Bu?"
"Tidak boleh." Ibu Adeeva menggeleng. "Kamu sudah menjadi hak suamimu, Nak. Apa yang suamimu minta. Harus kamu turuti. Tapi…"Â
"Tapi apa, Bu?" sela Adeeva dengan cepat.Â
"Kalian bisa menundanya malam nanti jika kamu dan Reno sama-sama saling memahami, Sayang."Â
Adeeva masih diam. Namun, dirinya juga sangat ingat betul nasihat sahabatnya, Almeera. Bahwa sebagai istri, dia harus patuh dan taat.
"Iya, Bu," sahutnya dengan lesu.
"Jangan lemes gitu dong," bujuk Ibu Adeeva dengan pelan. "Harus bahagia biar suami juga seneng."Â
__ADS_1
"Bahagiain suami itu pahala, Sayang. Jangan dijadikan beban. Kalau kamu capek, malu atau apa. Jujurlah pada Reno. Bersikap terbuka pada suamimu karena kamu sekarang tak sendirian lagi," kata Ibu Adeeva dengan serius. "Kamu memiliki tangan yang siap menggengam. Kamu memiliki pundak yang siap menjadi sandaran. Kamu juga memiliki sosok yang siap berjuang bersamamu."Â
Mata Adeeva berkaca-kaca mendengar ucapan ibunya. Entah kenapa seakan kalimat yang keluar dari bibir wanita yang melahirkannya ini, mengingatkannya pada sosok sang ayah.
Sosok yang tak pernah ada untuknya dan sang ibu. Sosok yang menjadi penghancur di antara keduanya. Sosok yang menjadi perusak mental hingga membuat keduanya trauma yang sangat amat luar biasa.Â
"Jadi kamu mau tetap disini atau kembali ke kamarmu, Nak?"Â
"Kembali ke kamar, Bu," ujar Adeeva sambil menghapus air matanya.
Sebelum beranjak, gadis itu memeluk ibunya dengan erat. Lalu memberikan kecupan hangat di dahinya yang membuat wanita paruh baya itu tersenyum.
"Sehat selalu ya, Bu. Sampai Ibu bisa melihat cucu-cucu ibu lahir dan merawatnya bersama."
"Aamiin."
...🌴🌴🌴...
Adeeva mencoba menenangkan detak jantungnya yang terus bertalu cepat. Dia menatap ke arah pintu kamar yang masih tertutup rapat. Dirinya benar-benar merasa gugup saat ini.
"Ayo, Adeeva. Kamu pasti bisa!" ucapnya pada dirinya sendiri.
Saat dia hendak memutar knop pintu. Tiba-tiba knop itu memutar dari dalam dan terbukalah pintu kamar tersebut.
"Eh. Kamu sudah selesai minumnya?" tanya Reno yang terlihat salah tingkah.
Kepala Adeeva mengangguk. Dia menertawakan dirinya sendiri karena telah berbohong pada suaminya. Mengatakan ingin mengambil minum padahal Adeeva ke dapur hanya untuk menghindar.Â
"Yaudah ayo masuk!" ajak Reno sambil menggenggam tangan Adeeva.
"Emmm, kamu udah mandinya?" tanya Adeeva ambigu dengan bodohnya.
Sudah tau suaminya berganti pakaian maka menjadi tanda bahwa Reno pasti sudah membersihkan diri.Â
"Hehe. Maaf yah. Aku…" jeda Adeeva dengan bingung. "Aku benar-benar gugup."Â
Akhirnya Adeeva memilih jujur. Dia tak mau menyembunyikan apapun. Biarkan dirinya dan Reno memulai semuanya dengan saling terbuka.
Tak ada yang disembunyikan, tak ada yang dipaksakan sehingga keduanya saling menerima begitu tulus.Â
Reno tersenyum. Dia menarik pinggang Adeeva hingga tubuh mereka berdekatan.Â
"Aku suka kejujuranmu," bisik Reno lalu mencium pelipis sang istri. "Jujurlah apa yang kamu rasakan, Sayang. Jangan memaksakan apapun jika kamu tak nyaman. Paham?"Â
Adeeva menatap mata Reno penuh haru. Dia tak percaya jika suaminya benar-benar memikirkan perasaannya daripada keinginannya sendiri. Sungguh Reno bisa menjadi sosok apa saja untuk dirinya.
Sebagai sosok teman, sahabat, suami bahkan ayah, Reno bisa menjadi semuanya. Pria itu benar-benar paket lengkap yang Allah datangkan untuknya.
Membantunya keluar dari zona menyakitkan hingga bisa berada di titik bahagia seperti sekarang.
"Aku paham dan aku akan mencobanya," sahut Adeeva dengan apa adanya.
"Ayo sekarang lebih baik kita tidur. Ini sudah jam setengah dua belas malam," kata Reno setelah menatap jam bulat yang menempel di dinding.
Akhirnya Adeeva menurut. Dia merebahkan dirinya di atas ranjang lalu disusul oleh Reno. Pria itu bahkan dengan lembut menyelimuti tubuh sang istri lalu memeluk perutnya dengan mesra.
Adeeva dengan santai menidurkan kepalanya di atas tangan Reno dengan tangannya yang bermain di atas dada suaminya itu.
__ADS_1
Kedua mata mereka belum bisa terpejam. Entah kenapa ada sesuatu yang mengusik keduanya hingga tiba-tiba membuat mereka saling memanggil bersamaan.
"Sayang." Keduanya lekas menoleh.
Reno yang menunduk dan Adeeva yang mendongak.
"Kenapa?" tanya Reno yang mengalah. "Kamu ingin mengatakan apa, Sayang?"
"Aku…" Adeeva menelan ludahnya paksa. Dia seakan bingung harus memulainya dari mana.
"Katakan jika itu yang membuatmu tak bisa tidur."Â
"Emm apakah melakukan itu, bisa merasakan sakit?"Â
Reno mengerutkan keningnya. Dia tak paham dengan maksud istrinya.
"Itu apa?"Â
"Ya itu loh!" ujar Adeeva ambigu.
Reno mencoba menebak hingga senyuman tersungging di bibirnya tatkala ia menerka apakah yang dimaksud oleh istrinya dengan apa yang ada dipikirannya adalah sama.
"Membuat anak?" bisik Reno yang membuat pipi Adeeva bersemu merah.Â
"Emm iya," sahut Adeeva terbata.
"Kalau kata Bara sih. Sakit…" jeda Reno yang membuat mata Adeeva membulat.
"Sakit?"Â
"Iya. Tapi…"Â
"Tapi apa?" tanya Adeeva dengan penasaran.
"Setelah sakit akan ada sejuta kenikmatan hingga membuatmu melayang, Sayang."Â
~Bersambung
Wlekk, pasti nungguin adegan hiya-hiya kan? hayoo bener kan? hahaha.
ditunda besok adegannya. Takutnya kalau malem kejebak macet di ntun hahaha.
Yang minta partnya Syakir sama Humairah kayaknya gak bakal ada lagi. Soalnya kan mereka di Malang. Ya mungkin nanti bisa kukasih lagi kalau kupikirkan.
Untuk kisah Manggala Fayola ada di ntun insya allah tapi mau publish duluan yang mana enaknya?
Ranjang Panas Perjaka Tua
atau
Gadis Jerawat Istri Sang Cassanova
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar aku semangat ngetiknya.
__ADS_1