Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Menepati atau Ingkar


__ADS_3


...Harapanku dan anakku sudah terlalu membumbung tinggi untukmu. Sampai kau jatuhkan lagi ke dasar, maka aku tak tahu akan sehancur apa hatiku ini....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Operasi yang dilakukan untuk Narumi akhirnya selesai beberapa menit yang lalu. Dua pria dengan pakaian yang lusuh terduduk lemah di kursi depan ruang operasi. Wajah mereka masih terkejut saat mendengar penjelasan dokter beberapa saat yang lalu.


"Bagaimana, Dokter?" tanya Bara saat pintu operasi terbuka. 


"Operasinya berjalan lancar. Kita tinggal menunggu bagaimana hasilnya setelah pasien sadar," kata pria bersneli putih yang membuat kakak dan adik ipar itu mengangguk. 


"Pasien akan berada di ruang ICU agar kami mudah memantau perkembangannya. Mari." 


"Bagaimana, Kak?" tanya Bara setelah mengusap kasar wajahnya. 


"Kita tunggu hasilnya. Bagaimana kondisi mantan istrimu ketika sudah sadar." 


Bara hanya mengangguk lemah. Dia benar-benar tak memperdulikan keadaannya sekarang. Dirinya sangat amat khawatir pada Narumi. Walau wanita itu sudah jahat kepadanya tapi dia tak sepicik itu.


Disaat Narumi lemah seperti ini, Bara tak memiliki pikiran ingin balas dendam. Bisa saja, 'kan, dia pergi meninggalkan Narumi sendiri. Namun, Bara bukanlah orang jahat. Dia masih memiliki sisi kemanusiaan yang membuatnya tetap berada disini. 


"Bara," pekik Jimmy tiba-tiba yang mengejutkan Bara.


"Ada apa, Kak?" 


"Ini sudah jam setengah 7 malam," ujar Jimmy yang membuat Bara menatap pergelangan tangannya.


Benar saja. Jarum jam itu menunjukkan hampir jam tujuh malam. Itu tandanya, sebentar lagi acara putrinya akan dimulai.


Bagaimana bisa Bara lupa? Bukankah dia sudah berjanji pada anaknya itu. Memikirkan Narumi membuatnya melupakan segalanya. 


"Aku harus bagaimana, Kak?" tanya Bara dengan wajah kebingungan.


"Cepatlah pulang! Aku yakin istri dan anakmu sedang menunggu, Bar," kata Jimmy dengan lugas. 


"Terus, Kakak?" 


"Biarkan aku disini. Aku yang akan menjaga Narumi." 


Bara masih terdiam. Seakan dia menimbang dan membuat Jimmy gemas bukan main.


"Cepatlah pergi! Aku yakin Almeera sedang berpikiran yang tidak-tidak," kata Jimmy dengan serius.

__ADS_1


"Aku akan mengabari istriku, Kak. Sebentar." Bara meraih ponsel yang ia letakkan di saku celana kainnya.


Namun, saat benda itu sudah ada ditangannya. Bibirnya mencebik saat layar itu tak kunjung menyala. 


"Mati, Kak." 


"Kehabisan daya?" tanya Jimmy pada Bara.


"Iya." 


Jimmy menghela nafas berat. Dia benar-benar tak percaya jika nasib hpnya sama dengan ponsel milik Bara. 


"Yaudah pergilah. Aku yakin mereka akan menunda waktunya untukmu," ujarnya dengan menepuk pundak Bara.


Akhirnya suami dari Almeera itu segera keluar. Dia berlari dengan tergesa menuju parkiran mobil. Dirinya akan membawa kendaraan milik kakak iparnya karena mobil miliknya ada di rumah Narumi.


Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya Bara berdoa. Perjalanan ini cukup lama menurut Bara. Dia bahkan sampai mencengkram stir kemudi saat beberapa kali banyak kendaraan yang menghalangi lajunya.


"Bantu aku kali ini, Tuhan. Jangan biarkan acara itu dimulai tanpa diriku." 


...🌴🌴🌴...


Di sebuah rumah, Terlihat beberapa mobil dan motor mulai berjejer. Banyak orang yang hadir di sana karena acara ulang tahun putri kedua dari pasangan Bara dan Almeera. Namun, sang pemilik acara, sejak tadi tak hentinya menangis.


Hidungnya memerah. Matanya bengkak dan berair sangat teramat jelas di wajah Bia. Hal itu tentu membuat Almeera tak tega sejak tadi. Keduanya saat ini berada di depan pintu masuk. Dengan setia ibu dari dua anak itu dengan sengaja menemani putrinya untuk menunggu papanya datang. 


"Iya, Sayang. Pasti Papa lagi ada dijalan," lirih Almeera dengan menatap nanar pelataran rumah.


Kamu kemana, Mas? Kamu gak lihat anak kita beneran menunggu kehadiran kamu malam ini, gumam Almeera dalam hati.


Dia mencium kepala putrinya lembut. Banyak doa yang disematkan dalam hati saat melihat putrinya begitu berharap kedatangan Bara malam ini. Ibu dua anak itu, benar-benar tak sanggup ketika Bia mengatakan bahwa dia ingin memberikan kue ulang tahun yang pertama untuk papanya. 


Sampai suara seseorang yang memanggil, membuat ibu dan anak itu berbalik.


"Ayo, Sayang. Kita mulai acaranya. Ini sudah hampir setengah 8 malam," kata Tari yang datang dari taman belakang. 


Almeera mengalihkan tatapannya pada Bia. Dua mata itu saling menatap lekat sampai istri Bara melihat tatapan berkaca-kaca dari manik kecil itu. 


"Bia pengen tungguin Papa, Ma," cicitnya pelan dengan menahan tangis.


"Kita akan menunggu Papa, Sayang. Tapi Bia harus mulai acaranya," jeda Almeera memberi pengertian. "Kasihan teman-teman Bia nanti udah nunggu lama banget. Yah?" 


Sekali lagi Bia menatap ke arah pagar rumah. Belum ada tanda-tanda papanya untuk datang. Sampai bujukan Tari akhirnya disetujui oleh Bia. Namun, mata anak itu tak lepas sedikitpun menatap ke arah depan rumah meski tubuhnya sudah dibawa lebih masuk ke belakang. 


Akhirnya semua orang berkumpul di taman. Taman yang indah itu semakin terlihat luar biasa ketika dihias begitu cantik. Banyak lampu bulat yang menggantung dengan beberapa lampu kemerlip. Lalu tak lupa di bagian sisi timur terdapat panggung kecil yang akan menjadi tempat Bia meniup lilinnya.

__ADS_1


Jangan lupakan, dua badut yang disewa oleh Bara sudah menarik perhatian anak-anak sejak tadi. Namun, semua itu tetap tak membuat anak kedua dari Almeera dan Bara tersenyum.


Wajah Bia semakin kusut. Apalagi ketika MC memulai acara, anak itu tak lelah menatap pintu penghubung rumah dengan taman. 


Hal itu tentu membuat Almeera meneteskan air mata. Dia benar-benar mulai kecewa pada suaminya itu. Bara seakan tenggelam di telan bumi. Tak ada kabar apapun darinya. Bahkan ponselnya saja mati. 


Tiup lilinnya...tiup lilinnya...tiup lilinnya.


MC dan anak-anak mulai menyanyi agar Bia meniup lilinnya. Namun, anak itu masih menatap mamanya dengan menggeleng. Seakan dia ingin menunggu sosok Papa yang berjanji akan menemaninya meniup dan memotong kue lucu yang ada di atas meja ini.


"Gak papa tiup dulu, Sayang. Kasihan teman-teman Bia sudah menunggu," kata Almeera mengangguk.


Mata Bia memanas. Namun, anak kecil itu tak bisa menolak. Dia mulai mendekati kue yang lilinnya mulai terbakar. Hingga sekali lagi matanya melirik pintu itu. Sampai mata kecil itu mulai terpejam. Bia memanjatkan doa pada Tuhan di umurnya yang sudah 5 tahun.


Ya Allah, semoga Papa gak ingkar janji sama Bia, doa anak itu dalam batinnya.


"Ayo tiup, Princess Bia," kata MC sekali lagi yang membuat Bia membuka matanya. 


Anak itu menatap nanar kue ini. Tak ada lagi hal spesial malam ini karena ketidakhadiran papanya. Sampai saat dia mulai ingin meniup. Suara teriak seseorang yang sangat dia kenali, membuat mata mereka semua tertuju pada sosok itu. 


Wajah Bia berbinar cerah. Anak itu berlari turun dari panggung saat melihat lelaki yang merupakan cinta pertamanya berdiri disana. 


"Papa." 


Bia meloncat ke pelukan sang Papa. Anak itu menangis bahagia saat Bara tak mengingkari janjinya. Anak itu tentu mencium pipi sang papa dengan perasaan yang tak bisa dijabarkan lagi.


"Papa datang, 'kan? Aku yakin Papa pasti datang untuk Bia," katanya dengan wajah bahagia.


"Iya, Sayang. Papa tentu datang." 


Bara membawa tubuh anaknya ke samping sang istri. Kehadirannya tentu membuat Almeera menangis haru. Dia tak percaya suaminya itu menepati janjinya menemani sang putri. Namun, tunggu-tunggu.


Mata Almeera memicing ketika menatap penampilan suaminya yang berantakan. Apalagi wajah kusut itu tentu tak bisa ditutupi.


"Maaf aku terlambat, Sayang," kata Bara saat sudah berdiri di dekat Almeera.


"Malam ini, Mas hutang penjelasan sama aku," kata Almeera menatap manik mata suaminya itu.


"Iya. Aku akan menjelaskan semuanya."


~Bersambung


Yang masih mau ikutan give away, jangan lupa di bab 64 yah. Insya allah aku bakalan pilih komentar terbaik kalian besok siang.


Terima kasih semuanya. Kira-kira Almeera percaya gak yah sama penjelasan Bara?

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat updatenya.


__ADS_2