
...Aku tak ingin bertahan tapi aku hanya ingin membuktikan dan membuatnya sadar, bahwa wanita yang dia pilih itu salah....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
"Untuk apa aku takut?" tanya Almeera dengan nada menantang. "Bahkan mengusir hidupmu dari hidup suamiku, aku tentu bisa!"
Narumi terkekeh pelan. Tawanya seakan meledek ucapan Almeera yang terlalu percaya diri.
"Jangan terlalu percaya diri, Almeera. Jika jatuh, sakit…" serunya melipat tangan di depan dada.
"Kita lihat saja nanti. Siapa yang akan ditendang dari hidupnya, Mas Bara. Kamu atau aku!" sahut Almeera tenang dengan menunjuk tubuh madunya itu dan dirinya.
Saat Narumi hendak menyahut. Sebuah ketukan pintu membuat percakapan keduanya berhenti. Lalu masuklah seorang perempuan yang tadi ditemui oleh Narumi di depan ruangan Almeera sedang membawa nampan berisi dua cangkir teh.Â
"Terima kasih," kata Almeera pada sekretarisnya. "Adeeva sudah datang?"Â
"Sudah, Bu," sahut perempuan dengan kepala yang terbalut jilbab.Â
"Katakan padanya, selesaikan laporan yang saya minta sekarang juga!"Â
Setelah sekretaris itu keluar. Almeera menatap Narumi yang wajahnya memerah. Perempuan itu tersenyum miring melihat madunya sangat amat marah. Inilah yang dia suka pada orang yang tak bisa mengontrol emosinya. Mereka gampang diracuni dan dibuat kesal hanya dengan kata-kata.Â
"Minumlah dulu, Adik Maduku. Aku tau pura-pura sombong itu butuh tenaga," ledek Almeera yang mengangkat cangkir tehnya dan menyesap dengan perlahan.Â
Narumi tak mengindahkan. Dia memilih beranjak berdiri dan berjalan menuju meja kebesaran Almeera. Wanita itu berkeliling seakan menilai ruangan yang menjadi tempat kakak madunya mencari uang.
"Seharusnya kata itu cocok untukmu, Meera," ujar Narumi penuh kebencian. "Pura-pura bertahan dengan pria yang tidak mencintaimu itu, butuh kekuatan."Â
"Waw, kamu yakin?" Almeera terkekeh. Dia menyandarkan punggungnya dan semakin terlihat tenang.Â
"Mau bertaruh?" tanya Narumi sambil memegang sebuah pigura yang berisi foto keluarga bahagia Almeera.Â
Wanita yang kepalanya terbalut jilbab itu beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati Narumi yang sedang melihat barang apa saja di atas meja kerjanya.
"Tentu," sahut Almeera sambil merampas pigura yang dipegang adik madunya. "Sebutkan saja, kamu ingin bertaruh apa, Adik Maduku?"Â
Narumi mengepal kuat. Dia benar-benar tak percaya jika Almeera yang dulunya lemah dan cengeng. Saat ini sudah berubah total. Bahkan keberanian yang ada di dalam dirinya, sangat amat kentara.
"Siapa yang bisa membuat Mas Bara bertahan di rumahnya. Itulah pemenangnya!"Â
"Hadiahnya?"
__ADS_1
"Kalau kamu menang, aku akan menjauh dari Mas Bara, tapi kalau kamu kalah…" jeda Narumi dengan tersenyum miring. "Bersiaplah untuk menjadi janda, Kakak Maduku."Â
Almeera tak terbawa emosi. Malahan dia menerima jabat tangan itu dan mencengkramnya dengan kuat. "Deal."Â
"Wah berani juga kamu, Meera?"
"Untuk apa aku takut?" tanya Almeera sambil mendekatkan bibirnya di telinga Narumi. "Kalau ujung-ujungnya kamu sendiri yang akan ditendang oleh suamiku!"Â
Narumi tak dapat menahannya lagi. Ucapan Almeera benar-benar memancing emosinya. Dengan sekali gerakan, tangannya mengayun ingin menampar. Namun, Almeera yang memiliki ilmu bela diri tentu menangkisnya dengan kuat.Â
Dia mencengkram tangan Narumi yang hendak memukul pipinya itu. Lalu Almeera membalikkan keadaan dengan meraih cangkir kopi yang ada di meja kerjanya dan dia mengguyur air berwarna hitam pekat itu di rambut adik madunya.
"Ups." Almeera menutup mulutnya pura-pura. "Maafkan aku, Adik maduku. Aku tak sengaja."
"Bersenang-senanglah dulu sekarang, Meera. Jangan menangis jika aku berhasil menendangmu dari Mas Bara!"Â
Setelah mengatakan itu Narumi berbalik dan meraih tasnya. Dia meninggalkan ruangan Almeera dengan amarah yang membuncah. Sedangkan sang pemilik perusahaan hanya tertawa dan melambaikan tangannya setelah puas membalas sikap adik madunya yang membuat anaknya menangis.
"Aku tunggu waktu itu tiba, Narumi."Â
Tak lama beberapa detik setelah kepergian Narumi. Masuklah Adeeva dengan segala ocehan di bibirnya.
"Itu, 'kan, pelakor?" tanya Adeeva tak percaya. "Kenapa penampilannya seperti terkena gempa bumi?"Â
"Waw luar biasa, Nyonya Almeera Bara Alkahfi. Ketika kucing manis berubah menjadi macan. Jangankan mendekat, menjulurkan tangannya saja sudah dilahap."Â
Perumpamaan itu memang cocok untuk Almeera. Wanita yang biasanya lemah lembut itu sudah tak ada dalam dirinya. Almeera benar-benar berubah menjadi wanita tangguh dan mampu menutupi kesedihannya di hadapan suami dan adik madunya.
"Kamu harus bahagia, Ra. Aku dukung semua rencanamu," kata Adeeva meraih tangan Almeera dan menggenggamnya.
"Terima kasih, Va. Aku hanya sedang berjuang membuka mata Mas Bara. Aku ingin mempertahankan apa yang seharusnya menjadi milikku dan kedua anakku," sahut Almeera menatap sahabatnya dengan tatapan penuh luka.
"Tapi ingat! Jangan dipaksakan kalau kamu tak kuat," kata Adeeva penuh perhatian.Â
Almeera mengangguk. Dia melepaskan tangan sahabatnya dan berjalan menuju jendela yang bisa melihat keindahan kota di depannya.Â
"Aku memang mengantongi izin bercerai dari putraku, Abraham."Â
"Hah!" Adeeva terbelalak.Â
Dia berjalan ke arah Almeera dan menarik lengannya agar berhadapan.
"Serius?"Â
"Ya. Kejadian kemarin benar-benar membuat putraku meminta kami bercerai," kata Almeera dengan mata terpejam.Â
__ADS_1
Bayangan wajah putranya yang meminta dia bercerai masih terbayang. Namun, Almeera tahu jika putranya mengatakan itu bahwa ingin dirinya bahagia. Tapi cobalah berada di posisi Abraham, tak ada anak yang mau berada di lingkungan keluarga broken home. Dimana orang tuanya bercerai karena orang ketiga.Â
Anak tetap ingin berada di antara ayah dan ibu kandungnya. Seburuk apapun mereka, anak masih menerima permintaan maaf jika orang tuanya benar-benar tulus mengatakannya. Itulah yang selalu ditanamkan dalam diri Almeera.
Egois? Dia bisa.
Tapi ketika menatap kedua anaknya, dirinya tak sanggup.Â
"Jadi perpisahan ini akan lebih mudah, Ra."Â
"Ya, menurutmu, Va. Tapi putriku belum tentu," sahut Almeera dengan suara lemah. "Semalam memang dia tak mencari papanya, tapi aku tau putriku menangis."Â
"Aku hanya bisa mendengar ceritamu, Ra. Aku tak bisa membayangkan bagaimana jadi kamu," ujar Adeeva dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak perlu membayangkan. Doakan aku untuk bisa menyadarkan Mas Bara. Setidaknya jika kita berpisah, aku bisa menyelamatkannya dari wanita ular itu."
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di dalam sebuah mobil. Berulang kali seorang perempuan memukul stir kemudinya dengan keras. Bahkan cacian dan makian terus dicetuskan dari bibirnya saat mengingat perlakuan kakak madunya itu.
Narumi benar-benar membenci Almeera. Tekadnya harus kuat. Dia tak boleh kalah hanya dengan wanita yang memiliki dua anak itu. Dirinya ada di atas Almeera. Dia lebih cantik dan seksi dari kakak madunya itu.
Bibirnya tersenyum miring saat sebuah rencana mulai terlintas di otaknya. Tangannya mencengkeram stir kemudi dengan kuat sambil matanya menatap tajam ke depan.
"Bersenang-senanglah dulu untuk saat ini, Almeera. Tunggu saja bagaimana aku bisa membuat Mas Bara menendangmu dan anak-anakmu dari hidupnya," kata Narumi dengan senyuman miring. "Aku akan membuatmu menjadi janda tidak terhormat."Â
~Bersambung
Wehh emang si uler gak kapok yah! udah kena siram kopi masih aja pikirannya kotor. Minta air selokan gak? hahaha.
Ada yang suka sama tingkahnya Mbak Meera?
Aku itu suka istri pertama yang kuat. Yang bisa balas dendam dulu sebelum meraih kebahagiaan.
Tenang cerita ini masih panjang. Aku kasih bagian bahagianya yang banyak deh nanti.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.
Ah iya mampir juga di novelku yang lain
Mampir juga di cerita temanku.
__ADS_1