
...Aku memang mencintainya tapi jika bukan karena kejadian itu. Mungkin aku tak akan menikah lagi....
...~Gibran Bara Alkahfi...
...🌴🌴🌴...
Akhirnya selama dua hari Bara berada di rumah sakit. Nafsu makan Bia kembali seperti semula. Tubuh anak itu juga terlihat jauh lebih segar. Apalagi wajahnya yang selalu bahagia membuat hati Almeera sedikit terenyuh.
Apa serindu itu Bia pada ayahnya sampai anak itu rela tak makan?
Apa Bara sangat berarti di hidup putrinya melebihi dia yang notabenenya ibu kandung?
Almeera lekas menepis semua pikiran buruk yang hinggap di kepalanya. Dia tak mau berpikir macam-macam. Kehadiran suaminya di rumah sakit, setidaknya membuat Almeera tahu bahwa Bia lebih penting dari adik madunya.Â
"Ayo kita pulang," ajak Almeera setelah semua perlengkapan mereka selesai dirapikan.Â
Bia mengangguk. Dia mulai beranjak berdiri lalu meminta sang papa untuk menggendongnya. Sedikitpun Bia tak mau jauh dari sosok Bara. Bahkan malam hari, pria itu akan tidur satu ranjang dengan Bia atas permintaan bocah kecil tersebut.
"Kita pulang kemana?" tanya Bara setelah duduk di kursi kemudi.
"Ke rumahku, Mas," kata Almeera tanpa ragu yang membuat Bara menoleh.
"Kenapa tidak ke rumah…"Â
"Jangan membantah. Rumah itu terlalu menyakitkan untuk ku jejaki kembali." Akhirnya Bara tak kembali protes.
Dia dengan pelan mulai melajukan mobilnya keluar dari parkiran rumah sakit. Bara mengikuti arahan istrinya tanpa berkomentar sedikitpun. Sejujurnya dalam hati, dia ingin sekali membawa istrinya pulang. Namun, melihat keengganan di wajah Almeera membuat pria itu menurut.
Lalu kemana semua keluarga Almeera berada, mereka sudah ada di rumah wanita itu. Bahkan kedua mertuanya, Almeera berikan alamat barunya untuk menjenguk kedua cucunya. Dia sendiri yang melarang semua keluarganya untuk datang ke rumah sakit. Karena menurutnya, tempat itu bukanlah tempat yang pas untuk para orang tua berada.Â
Setelah melewati beberapa arahan, akhirnya mobil Bara mulai memasuki sebuah rumah yang memiliki halaman yang luas. Pria itu dengan pelan memarkirkan mobilnya tepat di samping milik mertuanya.Â
Saat kendaraan itu sudah berhenti sempurna. Bara lekas turun dan membukakan pintu untuk istrinya yang sedang memangku Bia. Bara juga segera meraih putrinya yang tertidur di perjalanan.
"Maaf merepotkanmu, Mas," kata Almeera tak enak hati.
"Jangan katakan itu lagi, Ra! Aku ini suamimu dan tak ada kata merepotkan."Â
Akhirnya keduanya mulai berjalan menuju pintu rumah yang masih tertutup. Namun, saat keduanya hendak sampai, perlahan pintu itu terbuka dan muncullah semua keluarga yang menunggu mereka di sana.Â
"Akhirnya kalian sudah sampai," kata Mama Tari lalu mencium putrinya. "Bia tidur?'Â
"Iya, Ma."Â
"Bawa Bia ke kamarnya saja. Biar dia istirahat," kata Mama Tari yang membuat pasangan suami istri itu mengangguk.Â
Perlahan keduanya mulai berjalan lebih masuk. Saat mereka hendak menaiki tangga, suara ketukan sepatu dan panggilan seseorang membuat keduanya menoleh.
__ADS_1
Mata Almeera membulat sempurna. Dia tak percaya dengan kehadiran seseorang yang sudah sangat lama dinantikan. Tanpa kata, dirinya langsung berlari dan memeluk sosok yang sedang meregangkan kedua tangannya itu.
"Kakak," panggil Almeera dengan memeluk tubuh pria tegap yang memakai pakaian serba hitam. "Kapan Kakak sampai?"Â
"Tadi malam," sahutnya dengan mengelus kepala sang adik yang masih memeluknya. "Udah lepasin. Lihat noh! Suamimu sudah keluar mode harimau."Â
Almeera memberengut. Dia melepaskan pelukannya pada sang kakak dengan hati tak rela.Â
"Mas Bara gak bakal cemburu. Dia aja punya wanita lain," sungutnya kesal dengan melirik suaminya itu.
Bara hanya bisa terdiam. Dia menundukkan kepalanya menatap sang putri yang masih terlelap dalam tidurnya. Dirinya benar-benar merasa tersindir tapi untuk menyangkalnya saja dia tak mampu. Karena apapun yang dikatakan oleh istrinya adalah sebuah kenyataan.Â
"Tidurkan Bia di kamar. Setelah itu mari kita bicara."Â
Keduanya menurut. Mereka segera membawa Bia yang semakin terlelap dengan mimpinya dan merebahkannya di atas ranjang.Â
Setelah semuanya selesai, akhirnya mereka semua berkumpul di ruang keluarga. Terlihat wajah mereka yang duduk disana begitu serius hingga membuat Almeera yang baru saja datang mengerutkan keningnya.Â
"Ada apa ini, Kak?" tanya anak ketiga dari pasangan Darren dan Tari tersebut.
"Bagaimana hubungan kalian berdua sekarang?" tanya Darren menatap putri dan menantunya.
"Bara meminta satu kesempatan pada Almeera, Dad. Bara ingin memperbaiki semuanya," kata Bara dengan yakin.
"Lalu kamu, Meera. Apa kamu siap menerima semua kesalahan yang dilakukan suamimu?" tanya Darren menatap putrinya yang sedang menunduk.Â
"Almeera menerimanya, Pa. Almeera memaafkan Mas Bara. Tapi untuk melupakan dan percaya, maaf Almeera belum bisa."Â
"Kamu dengar, 'kan, Bara?"Â
"Iya, Dad."Â
"Jangan paksa putriku. Berikan dia waktu untuk menerimamu kembali," kata Darren dengan bijaksana.
"Aku siap memberinya waktu sampai dia benar-benar ikhlas menerimaku."Â
Darren menarik nafasnya begitu dalam. Dia menatap semua keluarganya dengan banyak pikiran di kepalanya.Â
"Sejujurnya aku ingin putriku bercerai darimu." Perkataan Darren tentu membuat Bara yang sejak tadi menunduk, mendongakkan kepalanya. "Tapi aku sadar harus memberimu satu kesempatan lagi dan membuktikan bahwa ucapanmu bisa dipercaya."Â
Baik Abi Hafiz maupun Ummi Mira sejak tadi hanya diam. Keduanya tak bisa melakukan apapun karena menyadari kelakuan putranya memang salah.Â
"Bara benar-benar minta maaf sama Mama Daddy, Abi dan Ummi. Bara janji akan membuktikan semuanya.
...🌴🌴🌴...
Setelah percakapan itu berakhir. Sosok yang sedari tadi diam, mengajak Bara menuju taman yang ada di samping rumah. Dua pria dengan tinggi yang sama itu berjalan beriringan. Mereka benar-benar seakan mencari tempat yang sepi untuk membicarakan sesuatu yang penting.
"Maaf aku baru datang, Bar. Tugasku terlalu banyak minggu-minggu ini," kata pria itu yang berdiri di samping Bara.Â
__ADS_1
"Tidak apa-apa, Kak Jim. Seharusnya aku yang berterima kasih karena Kakak mau datang setelah mendapatkan panggilan dariku."
"Sebenarnya bantuan apa yang ingin kamu dapatkan dariku?" kata Jimmy dengan santai.Â
"Kakak sudah tau, 'kan, keadaanku sekarang?"Â
"Beristri dua?" tanya Jimmy dengan nada ejekan.
"Ya begitulah," sahut Bara dengan malas.
"Lalu kenapa dengan istri-istrimu? Adikku saja tak ada masalah."Â
"Bukan Adik Kakak yang bermasalah tapi istri keduaku."Â
"Istri keduamu?" tanya Jimmy dengan mengangkat salah satu alisnya.
Bara mengangguk. Lalu dia menatap taman yang tertata rapi di depannya dengan banyak pikiran berkelana.
"Sebenarnya aku terpaksa menikah lagi, Kak."Â
"Hah, bukankah kamu mencintainya?"Â
"Memang benar aku mencintainya tapi jika tak terjadi kejadian itu, aku pasti tak akan menikahinya," ujar Bara dengan suara yang terdengar menyesal.
"Kejadian?"Â
"Ya. Aku merenggut keperawanan Narumi malam itu dalam keadaan tidak sadar. Aku bahkan lupa dengan kejadian malam itu," kata Bara menjelaskan. "Pagi-pagi aku terbangun sudah dalam keadaan telanjang dan kami tidur di satu ranjang."Â
Jimmy tak menyela sedikitpun. Dia membiarkan adik iparnya ini menceritakan apa yang dia lakukan malam itu. Kakak dari Almeera hanya menjawab dengan kepala mengangguk dan merekam segala kejadian yang keluar dari bibir Bara.Â
"Jadi kamu ingin aku menyelidiki semuanya?"Â
"Ya. Aku ingin Kakak mematai-matai dia," kata Bara dengan wajah begitu putus asa. "Sudah beberapa kali aku menyewa mata-mata tapi mereka selalu kecolongan."
"Aku akan membantumu."Â
Bara spontan menoleh. Dia menatap kakak iparnya dengan pandangan tak percaya.
"Aku akan membantumu sampai semuanya terbongkar. Tapi sebelum itu…" jeda Jimmy yang membuat Bara semakin penasaran. "Pertemukan aku dengan istri keduamu."Â
"Baiklah. Besok kita akan menemuinya."
~Bersambung
Kira-kira apa yang terjadi besok yah?
Gimana reaksi Narumi pas ketemu Abang Jimmy?
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Bab hari ini masih santai. Jangan tegang mulu bikin degdegan tiap harinya, hehe.
__ADS_1