Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Pelukan Menenangkan


__ADS_3


...Mendapatkan maaf darinya sudah mampu membuatku sangat amat bahagia. Ketika melihat wajahnya, ada perasaan tak rela dan ingin melindungi wanita itu dari kejahatan ayahnya sendiri....


...~Reno Akmal alfayyadh...


...🌴🌴🌴...


Saat mobil Adeeva memasuki pelataran rumah Almeera. Istri Bara itu sudah berdiri menyambut kehadiran sahabatnya. Dia segera memeluk perempuan yang terlihat begitu berantakan.


Mata sembab, hidung memerah sudah Almeera yakini jika sahabatnya banyak menangis. Dia elus punggungnya dengan lembut mencoba menenangkan sahabatnya itu.


"Kalau mau nangis. Gak usah ditahan. Aku tahu kamu butuh sandaran, 'kan?" bisik Almeera dengan pelan.


Adeeva tak menjawab. Wanita itu seakan sedang memikirkan sesuatu. Hingga Almeera yang penasaran lekas melepaskan pelukannya. Dia menatap arah pandangan sahabatnya yang ternyata sedang bertatapan dengan sosok Reno.


"Va," panggil Almeera yang membuat Adeeva tersadar.


Dia menatap sahabatnya seakan sedang menyalurkan kebingungan. 


"Reno datang kesini karena ada pekerjaan sama Mas Bara," kata Almeera berkilah.


Tak mungkin, 'kan, dia menceritakan kebenaran tentang hadirnya pria itu. Dirinya tak mau membuat sahabatnya salah paham dan marah. 


Almeera memang tak mau menjodohkan tapi dia berharap semoga Reno bisa menjadi sosok pelindung untuk sahabatnya jika pria itu memang mencintai Adeeva. Dirinya akan sangat mendukung. 


Memanjatkan doa agar Reno mampu merubah pola pikir sahabatnya. Adeeva pernah berjanji bahwa ia tak mau menikah. Dia ingin hidup berdua bahagia dengan ibunya seorang.


Bukankah persepsi seperti ini adalah salah?


Ini adalah pelarian tentang rasa trauma yang sedang dialami. Sahabatnya itu memang butuh psikiater. Menghilangkan trauma karena papanya sendiri dan membuatnya mengambil kesimpulan bahwa semua pria sama saja. 


"Ayo masuk!" ajaknya lalu Almeera menggandeng tangan Ibu Adeeva.


"Maaf Tante ngerepotin kamu, Nak," kata Ibu Adeeva dengan wajah sedihnya.


Almeera benar-benar terluka. Bekas tamparan itu sangat amat kentara. Bahkan membuat ibu dua anak itu berkaca-kaca. 


Dia mengelus pipi wanita paruh baya itu sambil memaksakan senyum. 


"Almeera yakin Om akan merasa kehilangan saat Tante dan Adeeva pergi," ujarnya dengan serius.


"Tante udah ikhlas, Nak. Adeeva gak bahagia di rumahnya maka Tante akan mengikuti puteri Tante kemanapun dia berada." 


Almeera tersenyum. Dia bersyukur sahabatnya mulai berani jujur dengan perasaannya sendiri. Istri Bara itu mengingat bagaimana dulu dia dan Zelia selalu menguatkan Adeeva untuk bisa berbicara pada mamanya. Menyampaikan apa yang dia rasakan dan segala unek-unek yang muncul di hatinya.


"Terima kasih, Tante. Almeera yakin Adeeva mampu membahagiakan, Tante." 

__ADS_1


Akhirnya Almeera segera mengajak Ibu Adeeva masuk ke rumahnya. Dia mengabaikan sahabatnya yang sedang mematung bertatapan dengan Reno.


Sepeninggal Almeera. Reno yang sejak tadi hanya diam, akhirnya mulai melangkahkan kakinya. Mendekati perempuan yang membuat hatinya sakit ketika menatapnya.


Bayangan bagaimana ia yang mengatai Adeeva saat pertemuan pertama. Mengerjai wanita itu abis-abisan seakan menjadi penyesalan dalam dirinya. 


"Menjauh dariku!" sentak Adeeva dengan kesal.


Dia memundurkan tubuhnya. Namun, ternyata gerakannya kalah cepat dengan Reno. Pria itu menahan lengannya lalu menarik tubuh Adeeva hingga berakhir di pelukannya. 


"Lepasin!" seru Adeeva memberontak.


"Ustt." Reno mengeratkan pelukannya. "Diamlah sebentar saja." 


Suara Reno penuh permohonan. Entah kenapa hal itu membuat Adeeva tak lagi memberontak. Dia membiarkan tubuhnya dipeluk oleh pria yang pernah membuatnya kesal sekaligus merasakan perasaan aneh.


Perlahan Adeeva merasakan kenyamanan. Hangatnya pelukan Reno tanpa sadar membuat tangannya ikut melingkar dan membalas pelukan itu. Dia menyandarkan kepalanya di dada Reno karena memang tubuhnya kalah tinggi dengan pria itu. 


Matanya terpejam saat aroma tubuh Reno menyeruak di hidungnya. Minyak wangi maskulin yang pria itu kenakan. Entah kenapa membuat Adeeva semakin jatuh dengan kenyamanan dalam pelukan pria menyebalkan ini.


"Maaf," bisik Reno dengan pelan. "Aku benar-benar menyesal." 


Adeeva membuka matanya. Dirinya merasa tersentuh dengan permintaan pria itu. Ternyata Reno tipikal pria yang tak patah arang. Sekali dia mengejar untuk mendapatkan maaf. Maka ia selalu melakukannya hingga tujuannya tercapai.


"Aku berjanji tak akan mengulanginya lagi," lanjutnya dengan nada penuh ketulusan.


"Aku…" Adeeva menjeda ucapannya. 


Dia menelan ludahnya paksa saat apa yang ingin disampaikan seakan sulit untuk dikatakan. Jujur dirinya saat ini merasa seperti dejavu. Perlakuan pria itu benar-benar berbanding terbalik dengan Reno yang biasanya. 


Perkataan Adeeva yang terjeda membuat Reno melepaskan pelukannya. Dia menjauhkan tubuh wanita itu hingga keduanya kembali bertatapan. 


"Aku apa?" tanya Reno dengan serius.


Adeeva menunduk. Dia mencoba menetralkan hatinya. Menepis perasaan aneh yang baru kali ini dia rasakan. 


Perasaan nyaman dan berdebar yang baru kali ini muncul setelah umurnya sudah lebih dari 30 tahun. Semakin coba dia tepis. Semakin dirinya sulit membuangnya.


"Aku memaafkanmu," katanya pada akhirnya.


Senyuman tersungging di bibir Reno. Pria itu menatap tak percaya pada Adeeva.


"Kamu serius?" 


Adeeva mendongak. Dia menatap wajah Reno yang terlihat begitu bahagia. 


"Ya," sahut Adeeva mengangguk. "Jika sikapmu menyebalkan lagi. Aku tak akan pernah memaafkanmu." 

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, Adeeva segera berjalan meninggalkan Reno yang tertawa bahagia. Dia merasa pipinya memanas saat telinganya mendengar bagaimana pria itu tertawa karena sudah mendapatkan maafnya.


Benar-benar pria yang aneh, batin Adeeva lalu menyusul ibu dan sahabatnya.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ibu Adeeva khawatir. 


"Itu, Bu." Adeeva menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Ia bingung harus menjawab apa pada ibunya.


"Maaf, Tante. Putri Tante, saya pinjam sebentar untuk urusan penting," kata Reno tiba-tiba datang lalu mencium punggung tangan Ibu Adeeva.


"Salam kenal, Tante. Saya Reno, teman kerja Adeeva." 


Mata sahabat Almeera membulat penuh. Dia tak menyangka dengan sikap pria itu yang baru saja dia lihat. 


Apa benar yang barusan itu adalah Reno si menyebalkan?


Pria angkuh dan bermulut pedas yang berubah jinak saat ini.


"Oh. Apa ada pekerjaan penting?" tanya Ibu Adeeva dengan ramah.


Reno mengangguk. Dia mendudukkan dirinya di samping Ibu Adeeva dan mendorong sosok wanita yang mematung di dekatnya agar sedikit menjauh.


"Kenapa tempatku diambil?" seru Adeeva dengan kesal.


"Kamu duduk di situ, 'kan bisa?" ujar Reno menunjuk sofa single di dekatnya.


Adeeva mendengus. Dia memutar matanya jengah saat melihat ibunya bisa akrab dengan Reno.


"Apa kalian satu perusahaan?" tanya Ibu Adeeva pada Reno.


Pria itu menggeleng. "Saya bekerja di perusahaan Reno. Lalu Adeeva di perusahaan Almeera." 


"Oh." Ibu Adeeva mengangguk. "Lalu bagaimana bisa kalian teman kerja?" 


"Bisa saja, Tante. Bukankah pemilik perusahaan adalah suami istri?" 


Ibu Adeeva terkekeh. Dia mengangguk menyetujui ucapan Reno yang ada benarnya. 


"Ya. Tante lupa. Mereka adalah pasangan yang sangat cocok. Sama-sama memiliki perusahaan dan sukses bersama." 


"Doakan saya juga, Tante. Mungkin saya bisa mengikuti jejak Almeera dan Bara. Bekerja bersama dan membangun perusahaan saya dan Adeeva sendiri."


~Bersambung


Kan-kan ngadi-ngadi si Ren ini. Laki-laki yang aslinya kocak pas kumpul sama Reno. Akhirnya mulai menunjukkan sikap aslinya di hadapan cewek untuk pertama kalinya. Hahaha. 

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.


__ADS_2