Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Bersimbah Darah!


__ADS_3


...Aku tak memperdulikan diriku sendiri. Keselamatannya lebih berarti dari nyawaku....


...~Azzelia Qaireen...


...🌴🌴🌴...


Kedua wajah itu terlihat begitu bahagia. Mereka tak tahu jika keduanya sedang dalam bahaya. Baik Bia maupun Zelia, dua wanita itu sama-sama terkekeh geli saat tingkah bocah lima tahun itu mengundang tawa.


"Huh...huh…" Nafas Bia ngos-ngosan. 


Bocah itu berlari ke arah Zelia dengan tubuh yang penuh keringat. 


"Capek yah?" tanya Zelia sambil mengusap dahi Bia yang basah.


"Iya, Tante. Haus," ucapnya dengan memegang tenggorokannya yang terasa kering.


Zelia mengangguk. Wanita itu mengedarkan kepalanya untuk mencari toko yang menjual minuman. Bibirnya mengembang saat terlihat apa yang dia cari ada di seberang jalan.


"Ayo kita beli minum," ajak Zelia sambil beranjak berdiri.


Bia menggeleng. Anak itu menarik tangan Zelia hingga dirinya duduk di kursi taman.


"Bia tunggu sini boleh?" 


"Loh kenapa?" tanya Zelia khawatir.


"Bia capek mau jalan, Tante. Jadi Bia tunggu sini gapapa?" 


Zelia tidak menjawab. Wanita itu malah menatap sekeliling dan melihat ada beberapa ibu dan anaknya yang bermain di sana. Dia kembali menatap Bia, wajah itu memang terlihat begitu kelelahan.


"Baiklah tapi Bia janji jangan kemana-mana, oke?" ujar Zelia dengan terpaksa.


Sebenarnya perempuan itu tak mau meninggalkan Bia sendirian. Tapi melihat wajah anak sahabatnya begitu lelah dan kehausan, tentu sebagai seorang perempuan ia merasa tidak tega. 


"Siap, Tante." 


Akhirnya Zelia segera berlalu meninggalkan Bia sendirian di bangku taman. Namun, sebelum itu, dia menuju ke salah satu ibu yang di sana dan menitipkan anak Almeera.


"Terima kasih banyak, Bu. Saya hanya membeli minuman sebentar," ucapnya dengan tulus.


Zelia segera bergerak cepat. Namun, matanya sesekali menatap Bia yang terus melambaikan tangan padanya. Entah kenapa perasaan wanita itu tidak enak. Dia seakan tak rela meninggalkan Bia sendirian di sana. 


Menengok ke kiri dan ke kanan, dia segera menyeberang dan berlari menuju ke sebuah toko yang sudah buka. Tanpa kata Zelia segera memesan dua botol minuman untuk Bia dan dirinya.


"Dua saja, Bu," kata Zelia lalu mengeluarkan uang dari saku celananya.


Saat Zelia menunggu uang kembalian. Telinganya menangkap suara teriakan yang membuatnya segera menoleh. Dirinya merasa sesak nafas, saat dia melihat Bia ditarik kasar oleh seorang pria tak dikenal.


Lekas tanpa pikir panjang, Zelia segera membuang botol minuman yang dia pegang. Dia segera berlari ke pinggir jalan dengan matanya yang meneteskan air mata.

__ADS_1


"Bia!" teriaknya saat anak itu terus meronta.


Semua orang yang ada di taman begitu ketakutan. Mereka ditodong oleh senjata tajam yang membuatnya tak bisa berkutik. Zelia benar-benar frustasi saat jalan tiba-tiba ramai.


Dia tak mau menunda lagi, segera Zelia berlari sambil menjulurkan tangannya guna menghentikan laju kendaraan yang mengarah kepada dirinya.


Persetan dirinya terluka! Yang terpenting sekarang Bia selamat dari para penjahat itu. 


"Siapa kalian?" teriak Zelia saat langkahnya di hadang oleh dua pria dengan pakaian serba hitam. 


"Hai, Cantik. Jangan mendekat!" goda salah satu penjahat. "Lebih baik kau duduk manis daripada kami menyakitimu." 


"Jangan bermimpi, Bajingan! Aku tak selemah seperti pikiran busukmu itu," umpat Zelia dengan mata memerah menahan amarah.


Zelia adalah salah satu wanita yang tingkahnya sama seperti Almeera. Keduanya memiliki ilmu bela diri karena pernah mengikuti salah satu organisasi saat sekolah. 


"Kami tak mau melukaimu. Lebih baik kau diam!" bentak pria yang lain yang berusaha menakuti Zelia.


Tanpa kata, sahabat Almeera itu maju kemudian menendang perut penjahat itu. Tendangan kuat membuat pria itu mundur beberapa langkah sambil memegang perutnya. 


"Aww. Ternyata kau main kasar, Sayang!" 


"Tutup mulutmu, Brengsek! Lebih baik kembalikan anak itu padaku!" teriaknya dengan mengepalkan kedua tangannya.


"Habisi wanita itu dan kita segera pergi!" teriak pria yang tangannya mencengkram tangan kecil Bia.


"Tante!" seru Bia dengan tangisan kencangnya.


Perlu ingatkan! Bia hanyalah bocah lima tahun. Tenaganya tentu kalah jauh dari pria yang memegang tangannya. Dia bahkan berusaha memberontak tapi cengkraman itu semakin kuat. 


Tenaga Bia mulai lemah. Mata anak itu sudah bengkak karena menangis. Namun, Zelia tak menyerah. Dia berusaha melawan dua pria yang melawannya itu.


Dugh!


"Aghh!" salah satu penjahat mengerang kesakitan. 


Zelia menendang *********** hingga dia terkapar di rerumputan.


"Kemari kau!" seru Zelia tanpa ampun.


Dia segera menangkis tangan penjahat yang hendak memukulnya. Zelia menendang perut itu menggunakan kakinya hingga membuat pria itu mengerang. 


"Dasar wanita merepotkan!" dengus pria yang memegang tangan Bia.


Pria itu mengeluarkan sebuah pistol dari pinggangnya dan membuat Bia semakin ketakutan. 


"Tante awas!" teriak Bia yang membuat Zelia spontan menarik pria untuk menjadi tamengnya.


Dor!


"Oh ****!" umpat Zelia karena menopang tubuh penjahat yang mulai melemah karena tembakan itu mengenai dadanya. 

__ADS_1


"Lepaskan anak itu!" seru Zelia sambil tetap mempertahankan penjahat itu sebagai tameng.


"Jangan bermimpi!" seru pria itu lalu menggendong Bia dan meletakkan ujung pistol di kepalanya. 


"Jangan!" teriak Zelia dengan ketakutan.


"Mundur!" seru pria itu semakin membuat Zelia mengangguk menuruti. 


Dia tak mau mengambil resiko. Bia sudah sangat ketakutan hingga membuatnya harus sangat hati-hati. 


"Aku mohon kita bisa bicara baik-baik. Kalian mau apa? Uang? Perhiasan? Aku bisa berikan!" ujar Zelia mencoba bernego. 


Pria itu terkekeh. "Aku hanya ingin nyawa anak ini." 


"Dia tak memiliki urusan dengan kalian. Kumohon lepaskan dia!" 


Zelia benar-benar semakin merasa lemah. Wajah Bia sangat memerah karena menangis sejak tadi. Anak itu bahkan gemetaran dan membuat hati Zelia mencelos. 


"Mundur!" serunya saat Zelia mencoba melangkah maju.


"Keluar, Bodoh!" umpat pria itu pada rekannya yang lain. 


Satu penjahat yang berada di dekat mobil segera membukakan pintu mobil untuk temannya dengan Bia dalam gendongannya.


"Kau maju selangkah lagi, jangan salahkan aku jika aku menembaknya disini!" ancamnya dengan suara galak.


"Kumohon, jangan!" pinta Zelia sambil menghentikan langkahnya. 


Terlalu fokus pada Bia membuat Zelia lupa dengan penjahat yang dia tendang ***********. Pria itu mulai berjalan di belakangnya. Dia memegang sebuah pisau di tangannya.


"Tante aw…" Sebelum suara Bia selesai.


Sebuah tusukan mendarat di perutnya dan membuat Zelia spontan menoleh. Dia memukul pria itu dengan membenturkan kepalanya hingga membuat penjahat itu mengerang kesakitan. 


Setelah itu Zelia memukul tengkuknya hingga pria itu pingsan. Dia menatap perutnya sendiri. Darah segar keluar dari sana dan membuatnya berusaha menekan dengan tangannya.


"Tante!" 


"Bia!" Zelia berusaha berlari.


Sosok anak itu sudah masuk ke dalam mobil.


"Bia!" Zelia berusaha berlari.


Namun, darah yang terus keluar membuat tubuhnya melemah. Sebelum dia mencapai mobil itu, dia mulai oleng dan terjatuh di jalanan. 


Matanya perlahan tertutup. Tapi sebelum dia kehilangan kesadaran. Bibirnya masih berusaha memanggil nama anak sahabatnya.


"Bia, maafkan Tante, Nak."


~Bersambung

__ADS_1


Huaa aku nangis. Maafkan aku yang nulis part ini. Huhu aku gak tega. 


Jangan lupa klik like, vote dan komen dong. Biar author semangat update 3 babnya.


__ADS_2