Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kemarahan Abraham


__ADS_3


...Ketika sebuah kenyataan menghantamku, aku mulai merasakan rasa penyesalan....


...~Gibran Bara Alkahfi...


...🌴🌴🌴...


"Kamu apakan adikku, Bara!" seru Jonathan yang baru saja datang.


Nafas pria itu memburu dan menatap suami dari adiknya dengan tajam.


"Jawab! Apa kamu tak cukup memberikan luka batin padanya? Apa masih kurang, hah!" 


Jantung Bara mencelos. Bahkan tubuh pria itu mendadak mematung mendengar ucapan dari kakak iparnya.


"Kamu tau! Selama ini adikku pura-pura kuat di depanmu! Dia berusaha bertahan karena mencintaimu," seru Jonathan dengan mata menatap penuh marah.


"Sayang udah." Kayla menarik tubuh suaminya. "Ini rumah sakit. Kontrol emosi kamu!" 


"Aku tak akan mengampunimu jika ada sesuatu yang buruk pada adikku," seru Jonathan lalu mendudukkan dirinya di samping Fadly yang sedari tadi menunduk. 


Bara menjatuhkan tubuhnya di kursi tunggu. Tubuhnya lemas seakan tak bertulang. Perkataan Jonathan tentu terngiang-ngiang di kepalanya.


Apakah yang dikatakan oleh kakak iparnya benar? 


Apakah selama ini istrinya hanya berusaha kuat di depannya?


Apakah selama ini Almeera menutupi kesedihan di depan dirinya? 


Jika itu benar, dirinya benar-benar menyesal. 


Sangat amat menyesal.


Aku bukan suami yang baik untukmu, Ra. Maafkan Mas. Maaf, gumam Bara dengan menutup wajahnya menggunakan kedua tangan. 


Dirinya benar-benar merutuki dirinya sendiri. Entah apa yang akan dikatakan kepada dua anaknya jika melihat kondisi istrinya setelah ini. Bara yakin jika putranya itu semakin membencinya. Lalu menghadapi putrinya, entahlah dia masih tak mampu menatap wajah mungil itu.


"Bagaimana keadaan Almeera, Tuan Fad…"


"Panggil Fadly saja, Kak," sela pria berpakaian acak-acakan itu.


"Ya Tuhan. Mukamu kenapa babak belur?" tanya Kayla menutup mulutnya.


Fadly tak menjawab. Namun, matanya menatap Bara dengan sengit. Itu saja tentu sudah cukup menjawab pertanyaan Kayla barusan. 


"Ceritakan padaku, Fad. Apa yang sebenarnya terjadi?" desak Jonathan tak mau kalah.


Fadly menghela nafas berat. Dia akhirnya menceritakan pertemuannya dengan Almeera melalui pesan singkat. Lalu saat mereka mengobrol dan tanpa sadar Fadly memegang tangan Almeera dan ternyata ada Bara disana. Hingga perkelahian itu terjadi dan Almeera menjadi korban.


"Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tak bermaksud… "

__ADS_1


Jonathan menggeleng. Dia menepuk pundak Fadly agar pria itu tenang.


"Aku tau apa yang kamu rasakan Fad," kata Jonathan dengan bijak. "Kamu pasti reflek melakukan itu, 'kan?" 


Fadly mengangguk lesu. "Aku tak tega mendengar ceritanya dari asistenku. Kurang apa Shanum untuknya?" 


Jonathan menghela nafas lelah. Dia menatap adik iparnya yang sama terlihat kacau.


"Adikku tak kekurangan apapun, Fad," sahut Jonathan yang membuat Bara mendongak. "Hanya suaminya saja yang tak bersyukur memiliki dirinya." 


Lagi-lagi Bara merasa tertampar oleh kata-kata kakak iparnya. Apa yang dikatakannya begitu menusuk dan membuat Bara termenung. 


Pria itu mulai menyadari. Ya, dia menyadari akan sikapnya. Keputusan yang diambil ternyata membuat istrinya tersakiti. Kebahagiaan yang dia cari ke tempat lain, ternyata mengorbankan kebahagiaan istri dan kedua anaknya. 


"Aku bahkan sudah menyuruhnya bercerai, tapi adikku memilih bertahan," lanjut Jonathan yang membuat Bara menatap tak percaya.


"Terkejut?" seru Jonathan pada Bara.


"Kenapa Kakak menyuruh Almeera bercerai?" seru Bara tak terima.


"Karena kamu menduakan cintanya. Kamu sudah menghancurkan istana yang dia bangun selama 15 tahun. Cerita raja dan ratu yang berakhir bahagia sudah rusak karena kesalahanmu." 


Bara benar-benar telak. Pria itu tak bisa menjawab apapun. Bukannya dia tak mengerti maksud kakak iparnya. Namun, ini benar-benar mengejutkan dirinya. 


Apa separah itu dia menyakiti istrinya? 


Apa sejahat itu dia menghancurkan cerita istrinya?


Cerita itu bahkan sering Almeera tulis di laptopnya. Dia selalu menulis kisah mereka sejak awal bertemu, berpacaran, dan menikah. Semua terekam jelas di benda persegi panjang milik istrinya itu. 


"Maafkan aku, Kak. Maaf," lirih Bara menunduk.


"Maafmu tak akan membuat keadaan kembali membaik. Istananya tak akan kembali utuh," seru Jonathan dengan tatapan tajam.


"Aku benar-benar menyesal, Kak." 


"Aku tak peduli dengan rasa penyesalanmu. Jika adikku terjadi sesuatu, aku sendiri yang akan mengurus surat perceraian kalian berdua."


...🌴🌴🌴...


Setelah menunggu hampir satu jam. Akhirnya pintu ruang UGD mulai terbuka. Muncullah seorang perempuan berpakaian putih dari balik sana.


Spontan baik Bara, Fadly, Jonathan dan Kayla lekas mendekat. Keduanya benar-benar menunggu berita bagaimana keadaan Almeera sekarang.


"Bagaimana keadaan adikku, Dokter?"


"Istriku bagaimana?" 


"Sabar, Bapak, Ibu," kata Dokter dengan ramah. "Keadaan pasien saat ini sedang beristirahat. Kepalanya ada luka robekan meski tak terlalu lebar. Jadi hanya perlu sedikit jahitan untuk menghentikan pendarahan." 


Akhirnya mereka mulai menarik nafas lega. Semua bersyukur saat tak ada lagi yang dikhawatirkan. 

__ADS_1


"Bolehkah saya melihat istri saya, Dokter?" 


"Lebih baik Bapak dan Ibu urus administrasi pasien terlebih dahulu. Lalu setelah itu kami akan memindahkannya di ruang rawat," kata Dokter yang membuat semua keluarga mengangguk.


Setelah kepergian Dokter. Tak lama muncullah empat orang yang datang dengan tergesa. Siapa lagi jika bukan, Abraham, Bia, Papa Darren dan Mama Tari. Mereka lekas ke rumah sakit setelah menjemput Abraham ke sekolah. 


"Bagaimana keadaan Mamaku, Om?" tanya Abraham kepada Jonathan.


"Mama baik-baik saja, Sayang. Sebentar lagi dipindah ke ruang rawat," sahut Jonathan dengan pelan. 


"Alhamdulillah." 


Percakapan mereka mulai berhenti, tatkala ranjang yang membawa Almeera mulai keluar. Semua orang tentu mengikutinya dengan langkah pasti. Bahkan Bia, yang melihat ibunya terpejam dengan perban di kepalanya, tentu menangis. 


"Mama...Mama," serunya meronta di gendongan Mama Tari.


Jonathan yang kasihan segera meraih tubuh keponakannya. Dia mencium kepala Bia dan berusaha menenangkannya. 


"Mama sedang istirahat, Sayang. Bia jangan menangis agar Mama tak terganggu," bisik Jonathan yang membuat Bia tak lagi memberontak.


"Mama, Om. Mama," lirihnya dengan suara sesenggukan yang masih ada.


"Mama bakalan sembuh, Sayang. Bia harus doain Mama yah." 


Saat ranjang pasien mulai memasuki ruang rawat. Tiba-tiba Abraham menghadang Bara yang hendak masuk.


"Kamu gak boleh masuk!" seru Abraham dengan marah.


"Apa maksud, Abang?" 


"Gara-gara kamu, Mamaku terluka. Kamu memang penyebab segala kesakitan Mamaku selama ini," kata Abraham dengan suara meninggi. 


"Maafkan Papa, Bang. Papa benar-benar menyesal," lirih Bara memohon kepada putranya. 


"Semua sudah terlambat. Kamu tak pernah mencintai kami dengan tulus. Kamu adalah Papa paling egois di dunia ini!" 


Tubuh Bara mematung. Dia tak percaya dengan perkataan anaknya itu. 


"Aku benar-benar menyesal memiliki Papa sepertimu. Aku malu punya Papa yang memiliki dua istri. Aku malu mengakuimu sebagai Papaku!"  


Abraham benar-benar mengeluarkan segala uneg-uneg di dalam hatinya. Hingga tak lama suara panggilan dari ponsel Bara membuat dia segera merogoh saku celananya. 


Saat menatap nama pemanggil. Bara lekas menatap Putranya yang ternyata sama melirik layar hidup itu.


"Lebih baik temui istri mudamu itu dan jangan pernah menjenguk Mamaku lagi!" 


~Bersambung


Apa yang kita tanam, maka itu yang kita tuai. Mau kecewa pun gak bisa. ye 'kan?


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2