Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Culik Anak Itu!


__ADS_3


...Cinta boleh, bodoh jangan. Apalagi jadi budak cinta, udah gak dapet enaknya, malah banyak sakitnya. ...


...~JBlack ...


...🌴🌴🌴...


Malam terus bergerak naik. Di sebuah ruangan terdapat seorang perempuan tengah menepuk pantat seorang anak berumur 5 tahun. Bibirnya tak henti menceritakan buku dongeng yang dia pegang. Matanya sesekali melirik sosok anak kecil yang tidur di pelukannya.


Zelia, gadis itu malam ini menginap di rumah temannya. Dengan rengekan Bia yang memintanya tidur di rumahnya, agar besok bisa bermain di taman. Akhirnya perempuan itu luluh dan mau tidur di rumah Almeera. 


Mereka berdua tentu tidur di kamar tamu yang ada di lantai satu. Bia sangat amat nyaman berada di samping Zelia. Hingga tak butuh waktu lama, anak itu mulai terlelap. Bia sudah jatuh ke dasar mimpi dan membuatnya terlihat menggemaskan di mata sahabat Almeera.


Zelia mengulas senyum tipis. Dia mengusap kepala Bia dan memberikan kecupan singkat di dahinya.


"Nanti jika aku memiliki anak. Pasti dia akan seperti Bia," ucap Zelia dengan senyuman di bibir.


Perempuan itu menatap jam dinding yang menggantung. Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun, mata Zelia tak juga merasa kantuk. 


Akhirnya dia mulai menurunkan kakinya. Keluar dari kamar setelah memastikan jika Bia aman ketika ditinggal. 


Rumah terlihat sudah sepi. Sepertinya semua orang sudah masuk ke kamarnya masing-masing dan tertidur. Zelia yang merasa haus, dia memilih berjalan menuju dapur. Dirinya menghidupkan ruangan itu.


Setelah mendapatkan segelas air. Dia segera duduk di kursi meja makan. Meneguk air tersebut hingga tandas. Saat dirinya meletakkan benda kaca itu di atas meja, bayang-bayang aroma parfum Jimmy tiba-tiba muncul di pikirannya. Wajahnya yang tegas dan tanpa senyuman, semakin membuat Zelia gila.


"Buang pikiranmu itu, Ze! Dia itu kakak sahabatmu sendiri," gerutunya memukul kepalanya sendiri. 


"Kenapa?" 


Jantung Zelia berdegup kencang. Tubuhnya mematung saat suara tegas itu terdengar di gendang telinganya. 


"Ze!" 


"Hah!" Spontan Zelia menoleh. 


Disana, sosok yang terus menghantui pikirannya tengah berdiri. Tubuhnya yang kekar hanya dibalut celana pendek dan kaos ketat yang tentu membentuk otot-otot indahnya. 


Zelia merasa kesusahan menelan ludahnya. Oksigen di daerahnya seperti sesak saat melihat bagaimana keadaan Jimmy kali ini. Menurut wanita itu, Jimmy terlihat jauh lebih tampan malam ini.


"Hai!" Terlalu banyak melamun, membuat Zelia tak sadar jika Jimmy sudah ada di dekatnya. 


"Maaf." 


"Kamu ada masalah?" tanya Jimmy berjalan ke arah dapur yang lampunya menyala.


"Tidak." 


"Lalu? Kenapa kamu diam disitu?" tanya Jimmy tanpa menoleh.

__ADS_1


"Emm aku lagi minum, Kak," sahut Zelia dengan gugup.


"Oh!" Jimmy tak lagi bersuara.


Pria itu entah melakukan apa yang membuat Zelia merasa penasaran. Jimmy bergerak kesana kemari sampai tak menyadari jika sahabat adiknya itu berada di dekatnya.


"Kakak sedang membuat apa?"  


Jimmy lekas menoleh. Dia melihat sosok Zelia yang sudah ada di sampingnya.


"Aku mau membuat mie instan," ucap Jimmy yang membuat kening Zelia berkerut. 


"Kakak belum makan?" 


"Belum." Jawaban Jimmy membuat Zelia mengingat bahwa pria itu tak ada di meja makan saat makan malam. 


Entah dorongan dari mana. Tiba-tiba Zelia menawarkan sesuatu yang membuat Jimmy menatapnya dengan bimbang. 


"Mie instan gak baik untuk kesehatan, Kak. Bagaimana kalau Zelia masakin nasi goreng aja?" 


Mata polos itu menatap wajah Jimmy yang ternyata sedang menatapnya juga. Jarak yang dekat membuat jantung keduanya saling berdegup kencang. Apalagi saat ini tak ada siapapun disana hingga membuat sesuatu dalam diri mereka saling berdesir. 


"Bagaimana?" 


"Apa kamu tidak mengantuk?" tanya Jimmy dengan ragu.


Zelia spontan menggeleng. "Aku tak bisa tidur." 


Zelia mengangguk. Dia meminta tolong Jimmy untuk memberitahu tentang dimana saja bahan-bahan yang ia butuhkan. Dua orang yang masih asing dengan rumah itu, tentunya saling tolong menolong.


Mencari tempat bahan dan alat memasak yang akan dipakai tentu membuat keduanya sampai tanpa sadar semakin akrab. Bahkan saat bahan yang dicari tidak ketemu, keduanya akan tertawa bersama menanggapi kebodohan mereka yang mengacak-acak dapur di malam hari. 


Akhirnya setelah hampir satu jam berjibaku dan berperang dengan alat dapur. Akhirnya dua piring nasi goreng dengan telur diatasnya disajikan di atas meja makan. 


"Selamat makan," ucap keduanya dengan mata saling memandang. 


Mereka sama-sama menikmati makanan hasil tangan Zelia. Sesendok nasi goreng yang baru saja mendarat di lidah Jimmy membuat pria itu menatap berbinar.


"Bagaimana?" tanya Zelia dengan gugup.


"Ini enak. Kamu pandai memasak, Ze." 


Zelia tersenyum tipis. Dia menghembuskan nafas lega dengan binar bahagia di matanya.


Semoga dari perut naik ke hati, Ya Allah, gumamnya dengan menunduk agar senyuman yang tertarik di bibirnya tak dilihat oleh Jimmy.


...🌴🌴🌴 ...


"Tante ayo main ke taman!" ajak Bia dengan menarik tangan Zelia 

__ADS_1


Saat ini, mereka sedang berada di taman samping rumah Almeera. Zelia menemani sahabatnya yang sedang menanam bunga di dalam pot. 


"Tamannya dimana, Ra?" tanya Zelai bingung.


"Di perempatan sini," kata Almeera menunjuk arah taman.


"Baiklah. Ayo jalan!" 


"Kalian hati-hati ya. Nanti aku menyusul!" teriak Almeera saat kedua wanita yang sangat dia sayang mulai keluar dari halaman rumah.


Bia dengan semangat menggenggam jemari tangan Zelia. Anak itu menceritakan apa saja yang ada di taman itu. Dari tempat skateboard, lapangan basket lalu taman bermain membuat sudut bibir Zelia tertarik ke atas saat ocehan itu tak berhenti.


"Nanti kita main ayunan ya, Tante?" 


"Tentu."


"Nanti Bia yang dorong, Tante," ucap bocah lima tahun dengan senyuman lebar. 


Saat taman itu mulai terlihat di kedua mata Zelia. Dia bisa melihat keadaan tak terlalu ramai. Hanya ada beberapa orang dewasa dan anak-anak yang bermain di sana. 


"Tante ayo main perosotan," ucap Bia dengan heboh. 


"Tante tungguin disini yah. Perosotannya gak muat di badan Tante," kata Zelia dengan jujur. 


"Baiklah. Tante tunggu di kursi itu aja. Disini gak ada tempat duduknya," ucap Bia menunjuk deretan kursi yang jaraknya lumayan jauh dari dirinya. 


"Tante tunggu disini saja. Biar deketan sama Bia terus," ucap Zelia dengan kepala menggeleng.


Bia terkekeh. Dia merasa sangat disayangi oleh Zelia. Namun, melihat teman mamanya hanya berdiri menunggunya, membuat Bia merasa kasihan padanya.


"Gapapa, Tante. Bia gak kemana-mana kok. Beneran," kata Bia membujuk Zelia agar mau duduk.


Perempuan itu tak langsung menerima. Dia menatap Bia lagi hingga anggukan kepala anak itu membuat Zelia terpaksa menerimanya.


"Baiklah. Tante akan duduk disitu aja," tunjuknya pada sebuah gundukan batu yang jaraknya lumayan dekat dari Bia. 


"Oke, Tante. Muah." Bia memberikan kecupan jauh dan hal itu membuat Zelia membalasnya dengan sayang. 


Semua gerak gerik mereka tentu dilihat oleh empat orang pria yang berada di dalam mobil tak jauh dari sana. Mereka memakai pakaian serba hitam dengan penutup kepala agar wajahnya tak terlihat oleh siapapun. 


"Keluar kalian! Culik anak itu sekarang juga!" 


~Bersambung


Kira-kira berhasil gak ya, so cecunguk culik Bia?


Besok mulai 3 bab perhari sampai seminggu ke depan. Uwuw uwuw bismillah semoga sehat terus author. Biar pembacanya juga seneng.


Jangan lupa klik like, komen dan vote. Aku tekankan disini! jangan pernah tabung bab yah. Plis, kalau kalian tabung bab, level novel ini huhu takut turun.

__ADS_1


Bismillah kita berjuang bersama.


__ADS_2