Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Ketahuan


__ADS_3


...Kita hanya bisa memberikan nasehat sebelum terlambat. Sebelum penyesalan itu datang dan membuatmu sedih luar biasa....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Syakir membisu. Bahkan pria itu seakan susah untuk menjawab pertanyaan Almeera yang kelewat gampang. Hingga istri Bara itu mulai khawatir pada kondisi Humaira. 


Dia segera berjalan dengan cepat menuju kamar mandi. 


"Humai!" 


"Jangan masuk, Mbak!" lirih Humaira dengan suara lemah.


Almeera tak bisa menunggu disini. Ini terlalu bahaya jika apa yang ia pikirkan benar adanya. Saat Almeera baru saja mendorong pintu itu. Mata istri Bara membola.


Dia segera berlari ke arah Humaira yang mulai oleng dan sekali gerakan. Akhirnya tubuh wanita yang merupakan istri dari Syakir dan belum diketahui oleh Almeera pingsan tak sadarkan diri. 


"Mas!" teriak Almeera mengabaikan dasternya yang basah.


Suara teriakan itu membuat Bara dan Syakir berlari ke arah kamar mandi. Dua pria itu membelalakkan matanya saat melihat Humaira pingsan dengan Almeera yang menahan kepalanya.


"Siapkan mobil, Kir!" bentak Bara menyadarkan sahabatnya yang bengong.


Syakir segera keluar dari rumah. Menyiapkan mobil untuk mengantar wanita itu ke puskesmas. Sedangkan Bara, dia mengabaikan rasa tak nyaman saat menggendong wanita lain.


Saat ini posisi Humai sangat mengkhawatirkan. Apalagi wajah istrinya yang menangis takut membuat Bara tak tega.


"Anak-anak, Mas!" kata Almeera saat mereka sudah ada di dalam mobil.


Bara segera meminta putranya duduk di dekat mamanya. Sedangkan Abraham memangku anak keduanya yang terus menatap ke belakang.


"Apa Tante itu sakit, Ma?" tanya Bia menatap Humaira kasihan.


"Ya, Sayang. Tante Humai sakit," sahut Almeera mengusap wajah Humai yang pucat. "Doain Tante baik-baik aja, yah?" 


"Pasti. Bia juga selalu berdoa supaya Mama dan Papa berumur panjang dan nemenin Bia dan Abang." 


Akhirnya karena jarak puskesmas dengan rumah sakit berdekatan membuat mereka segera turun dari sana. Humaira segera diletakkan di brankar pasien dan mereka mulai mengikuti para suster yang membawa tubuh Humai yang masih tak sadarkan diri.

__ADS_1


Mereka semua menunggu. Almeera bahkan sampai memeluk putrinya yang kedinginan karena hanya memakai celana panjang dan kaos panjang tanpa jaket dan topi. Sedangkan dua pria kesayangannya terlihat duduk dengan tenang meski hanya memakai kaos pendek yang membalut tubuh mereka.


Almeera benar-benar yakin dengan dugaannya. Pasti Humaira sedang mengandung. Namun, ia mencurigai Syakir karena tak ada kemiripan apapun antara Humai dan pria itu. 


Apalagi saat melihat raut mencurigakan dari keduanya semakin membuat Almeera yakin bila tebakannya benar.


"Apa ada suami pasien?" tanya Dokter yang keluar dari ruang dimana Humai di periksa. 


"Saya, Dok," sahut Syakir terbata. 


Dia tak bisa menyembunyikan apapun lagi. Wajahnya begitu serius menunggu penjelasan dokter di depannya ini. 


"Istri dan calon anak Anda, baik-baik saja, Pak. Istri Anda kekurangan nutrisi yang masuk. Mungkin efek dari muntah-muntah hebat. Apa betul?" 


"Iya, Dok." 


"Ini lumrah tapi usahakan cari makanan pengganti ketika ibu hamil tak mau makan nasi."


Dokter mulai menjelaskan kondisi Humai dan anak yang dikandung. Hal itu tak membuat Almeera dan Bara terkejut. Mereka yang berpengalaman dalam hal mengandung membuat keduanya sangat amat mengerti.


Hingga saat dokter mulai beranjak pergi. Syakir menatap sahabat dan istri sahabatnya secara bergantian. 


"Jangan menjadi Bara yang kedua. Menyakiti wanita yang sangat amat mencintai kita dengan tulus," kata Bara menepuk pundak sahabatnya. "Tak selamanya kita mendapatkan kesempatan sepertiku. Diberikan kesempatan kedua oleh Tuhan. Bisa saja kamu akan merasa kehilangan ketika dia sudah pergi meninggalkanmu." 


"Kenapa gak dibawa ke rumah sakit saja, Kir?" tanya Almeera yang sejak tadi penasaran.


"Rumah sakit ibu dan anak ada tapi lumayan jauh. Sementara kita disini dulu," kata Syakir yang membuat Almeera geram bukan main. 


"Terserah kamu tapi perlu diingat! Jangan sampai kamu menyesal atas apa yang sudah kamu lakukan saat ini!" 


Akhirnya tak mau membuat suasana semakin memanas. Bara pamit pada Syakir membawa istri dan anak-anaknya untuk pulang. Pria itu juga tahu jalan pulang ke rumah. 


Dengan perasaan dongkol Almeera naik. Diikuti kedua anaknya di kursi tengah lalu sang suami.  


"Udah jangan cemberut gitu dong! Nanti cantiknya istriku ilang," goda Bara merayu istrinya. 


Almeera menarik nafasnya begitu salam. Dia menoleh ke arah sang suami dan menatapnya dalam diam. 


"Kenapa?" tanya Bara bingung.


"Apa setiap laki-laki tak akan sadar jika tingkah lakunya itu menyakitkan sebelum mereka kehilangan, Mas?" tanya Almeera dengan mata berkaca-kaca. 

__ADS_1


Jujur mengetahui nasib Humaira, membuat sudut hati Almeera merasa sakit. Apalagi wajah wanita itu yang terlihat begitu muda dengan kondisi hamil dan suami yang tak mengakui. Almeera yakin jika mental Humaira begitu lemah. 


"Sayang!" Bara menghapus air matanya. "Laki-laki memang selalu mengutamakan keegoisannya. Pria idaman sangat sulit dicari."


"Aku tau!" ungkap Almeera menghembuskan nafasnya kasar. "Aku hanya tak mau Syakir merasakan kehilangan, Mas. Aku takut anak dalam kandungan Humai akan menjadi korban dari keegoisan Syakir." 


"Percayalah! Syakir tak akan sejahat itu. Aku juga akan menasehatinya." 


Akhirnya Almeera hanya bisa pasrah. Bara mulai melanjutkan kemudinya yang sempat terhenti tatkala melihat istrinya menangis. Sampai saat mata Bara melihat keberadaan sebuah minimarket berlogo merah. Membuat pria itu membelokkan setir kemudinya kesana.


"Ngapain kita kesini, Pa?" tanya Bia menatap berbinar.


"Belanja. Bukankah cemilan kalian juga habis?" 


Bia dan Abraham langsung turun. Keduanya akan semangat berbelanja jika menyangkut makanan. Sedangkan Almeera, wanita itu segera meraih tangan suaminya ketika Bara mengulurkan tangannya.


"Terima kasih, Mas. Kamu memang selalu bisa membahagiakan aku dan anak-anak," bisik Almeera dengan manja. 


"Hanya ini yang bisa aku lakuin buat kamu dan anak-anak. Bagaimanapun aku juga mantan pria brengsek."


"Ust." Almeera menggeleng.


Dia memberikan sebuah senyuman manis yang membuat Bara mulai tenang. Akhirnya mereka segera masuk ke dalam market itu. Mengambil keranjang belanja dan mulai memilih apa yang ingin dibeli.


"Apa kita butuh ini?" tanya Almeera mengangkat salah satu es krim coklat di hadapan sang suami.


Tatapan wanita itu begitu nakal. Apalagi kerlingan manja di matanya membuat Bara menelan ludahnya paksa.


Ah ditempat umum, kedua pasangan hot ini masih suka asyik menggoda.


"Untuk apa?" bisik Bara yang mendekati istrinya. 


"Dijilat bersama nagamu," balas Meera dengan hembusan nafas lembut yang membuat tubuh Bara meremang.


Pria itu menatap mata istrinya. Kabut gairah di mata keduanya sangat amat terlihat hingga membuat Bara menerima es itu dan memasukkannya ke dalam keranjang. 


"Jangan salahkan aku, jika besok kamu tak bisa berjalan dan lembahmu akan kulumuri coklat dingin agar semakin menggiurkan!" 


~Bersambung


Kelakuan macem pasutri baru ya kan. Dah lah mau pergi aku!

__ADS_1


Jangan lupa klik like, komen dan vote.


__ADS_2