
...Percayalah bahwa apa yang kita raih hari ini adalah bukti dari hasil buah kesabaran kita di masa lalu....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Keadaan Almeera semakin hari semakin membaik. Kepala wanita itu juga mulai baik-baik saja. Ketika semua di cek rontgen oleh Dokter yang menangani masalah kepala Almeera. Akhirnya hari ini wanita itu diizinkan pulang.
Masa-masa yang sangat dinanti oleh Almeera. Waktu dimana yang sangat dia tunggu untuk pulang. Hampir dua minggu dia ada di rumah sakit dan itu cukup membuat kepalanya sakit dan merasa bosan.Â
Keberadaan dua bayi kembar itu juga sudah diizinkan pulang. Kebahagiaan berlipat yang dirasakan oleh keluarga Almeera dan Bara. Sesuatu yang sangat tak mereka duga tapi ternyata berakhir dengan bahagia.Â
Kali ini, terlihat di ruangan Almeera begitu banyak orang. Ada Kayla, Jonathan, Dua sahabatnya dan Reno. Lalu Papa Darren dan Mama Tari. Semuanya berkumpul menjadi satu.
Jangan lupakan, sosok pria tampan yang tengah mengomel di layar ponsel. Wajah pria itu memberengut ketika seorang adik mencoba merayunya.
"Jangan ngambek dong, Kak. Ini, 'kan musibah. Mana tau, 'kan, kapan terjadi sama nggaknya?" kata Almeera apa adanya.
"Tapi seharusnya kalian kabarin Kakak. Kalau terjadi sesuatu sama kamu. Bagaimana?"
Ya semua keluarga berjanji untuk tidak menceritakan pada Jimmy perihal Almeera yang sempat tak bernafas. Mereka semua tak mau pria itu semakin merasa bersalah. Apalagi kedekatan Almeera dan Jimmy membuat istri Bara itu yakin jika kakaknya pasti akan sangat kecewa jika tahu semuanya.Â
"Buktinya aku baik-baik saja, 'kan?" tanya Almeera menunjuk dirinya. "Jangan berpikiran buruk pada takdir Allah, Kak. Cobalah percaya bahwa apa yang kita alami hari ini sudah digariskan."Â
Jimmy hanya mampu menarik nafasnya begitu dalam. Jika berbicara dengan Almeera. Baik Jimmy maupun Jonathan selalu kalah. Anak ketiga dari pasangan Papa Darren dan Mama Tari ini selalu bisa mengambil alasan agar lawan bicaranya tak jadi marah.Â
"Daripada Kakak marah. Nih lihat! Ponakan Kakak udah lahir loh," kata Almeera yang mengambil Baby Athaya dari box dan menunjukkannya pada Jimmy.
"Masya allah Tabarakallah," ucap Jimmy dengan mengelus layar ponselnya. "Dia sangat mirip kamu, Ra."Â
"Bener, Kak. Baby Thaya memang mirip aku. Tapi kalau begini juga mirip Mas Bara, 'kan?"Â
Jimmy mengangguk. Dia menatap bagi mungil itu dengan perasaan hangat dan bahagia. Namun, di dasar hatinya yang terdalam ada sesuatu yang berdesir ketika melihat bayi mungil itu.
Ada sesuatu keinginan untuk menggendong dan memilikinya sendiri.
"Kakak!" seru Almeera saat Jimmy hanya diam. "Apa yang Kakak pikirkan?"Â
__ADS_1
Almeera mengerutkan keningnya. Dia bisa melihat ada sesuatu yang tengah dipikirkan saudara kandungnya itu. Sebagai seorang adik, tentu Almeera tak mudah dibohongi. Dia juga bisa menilai wajah dan ekspresi Jimmy maupun Jonathan ketika ada masalah.Â
"Gak ada. Kakak hanya ingin segera pulang!"Â
"Ya pulang, Sayang. Biar bisa bertemu Baby Twins yang super lucu ini!" Itu bukan suara Almeera.
Melainkan suara Zelia yang tiba-tiba muncul. Panggilan ini memang dilakukan dari ponsel milik Zelia.
Jimmy membuktikan perkataannya. Pria itu benar-benar menyesali perbuatannya di masa lalu. Dia tak lagi cuek pada Zelia. Dia menyempatkan memberikan kabar meski hanya satu kali dalam satu hari.
Walau hanya melalui pesan. Jimmy tetap memberikan kabar dan tak menghilang.Â
"Iya, Cintaku. Aku akan pulang!" sahut Jimmy yang membuat Almeera memutar matanya malas.
"Kalau mau bucin ya cepet pulang. Udah kek modus jaman sekarang kalau liat manusia bucin!" ejek Almeera sambil menjulurkan lidahnya pada sang kakak.
"Gak ngaca sama diri sendiri?" sindir Jimmy pada adiknya. "Kamu dan Bara juga sama."
"Ya gakpapa. Bucin sama suami dan istri sendiri. Kan dah halal!"Â
Telak.
Paket lengkap yang bersatu dalam diri Almeera Azzelia Shanum.
Akhirnya panggilan itu mulai berakhir tatkala suara seseorang memanggil Kak Jimmy. Pria itu sudah berjanji untuk pulang dan membuat Almera merasa senang.Â
"Udah gak ada yang ketinggalan, 'kan?" tanya Mama Tari setelah memasukkan semua keperluan si kembar dan Almeera dibantu oleh dua sahabat Meera itu.
"Gak ada, Ma."Â
"Yaudah kalau gak ada. Yuk kita pulang. Kita kenalkan Athaya dan Athalla dengan rumahnya sendiri."
...🌴🌴🌴...
Akhirnya perjalanan ke rumah berakhir dengan selamat. Dengan pelan, istri Bara itu turun dengan menggendong bayi perempuannya. Wajahnya begitu bahagia ketika melihat rumah orang tua yang sangat dirindukan.Â
Ya baik Bara dan Almeera menyetujui permintaan orang tua Almeera. Mereka akan tinggal disini sementara waktu sampai Almeera bisa mengerjakan semuanya dan menjaga bayi kembar sendirian.
Mama Tari hanya tak mau anaknya kecapekan. Apalagi ditambah kejadian yang sebelumnya terjadi membuat orang tua Almeera khawatir anaknya kelelahan dan kembali drop.
__ADS_1
"Ayo, Nak. Masuk!"
Almeera mengangguk. Dia memegang tangan putrinya dan menggerakkannya seperti melambai.Â
"Assalamualaikum, Athayanya Mama. Kenalin ini rumah mama di masa kecil. Ini rumah Kakek dan Nenek yang bakalan Athaya dan Abang tinggali sementara waktu," ucapnya yang membuat bayi itu tertawa.
Athaya tak tahu jika mamanya menggoda. Bayi itu hanya tertawa kecil dengan mata terbuka.Â
Saat semua orang sudah sampai di depan pintu dan Almeera hendak mendorong pintu utama. Ternyata pintu itu sudah ditarik dulu dari dalam.
"Surprise!" pekik semua orang dengan bahagianya.
"Selamat datang Baby Twins di rumah," kata semua pelayan dan pekerja rumah di rumah Almeera dan Papa Darren.
Kebaikan keluarga Almeera yang tak pernah membedakan status antara pelayan dan majikan. Membuat semua yang bekerja disana bahagia dengan merasa nyaman.
Apalagi pekerja lama tentu sangat amat ikut bahagia ketika anak yang dulu masih kecil kini melahirkan anaknya lagi yang ketiga dan keempat.
"Selamat datang Mbak Meera. Selamat untuk kelahiran dan kepulangannya," kata seorang pelayan utama yang selalu ikut kemanapun Almeera berada.Â
Seorang pekerjanya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri. Nasehatnya yang baik selalu membuat Almeera merasa tenang.
"Terima kasih banyak, Bu. Almeera sangat bahagia dengan penyambutan ini."Â
Semua rencana ini memang dari orang tua Almeera. Namun, ide muncul juga dari Bara dan teman-teman pekerja yang lain.
Perlahan mereka semua mulai memasuki rumah yang sudah disulap begitu indah. Ruangan terlihat begitu rapi dan bersih yang membuat Almeera kagum pada kinerja semua pekerja disini.Â
"Terima kasih banyak atas semua yang Ibu dan Bapak serta Mbak yang bekerja disini. Menyiapkan semuanya dan membuat bayi kembar menjadi betah. Almeera benar-benar merasa terkejut sekaligus bahagia."Â
"Sama-sama, Mbak," kata pelayan Almeera yang paling tua. "Semoga kebahagiaan selalu menyertai, Mbak Meera."Â
"Aamiin."Â
~Bersambung
Siapin hati buat tamat yah. Ah next keturunan Bang Ren juga lahir kok. Bakalan aku selesain semua.
Jangan lupa klik like, komen dan vote. Biar author semangat ngetiknya.
__ADS_1