
...Jangan pernah menilai seseorang hanya karena mengetahui satu kesalahannya. Kamu bukan Tuhan dan kamu belum tentu tahu kebaikan apa yang dia lakukan di belakangmu....
...~Almeera Azzelia Shanum...
...🌴🌴🌴...
Almeera masih menatap ragu. Dia memikirkan akibat apa yang terjadi jika ia berangkat satu mobil dengan Fadly. Bukan dia takut pada kakak seniornya, melainkan saat ini status Almeera masih istri orang.
Dia tak mau ada fitnah atau gosip kepadanya. Apalagi hubungannya dengan Bara yang baru saja membaik membuatnya tak mau mencari masalah lagi.
"Lebih baik aku membawa mobil sendiri, Kak."Â
"Baiklah. Ayo!" Fadly menghargai keputusan Almeera.Â
Dia tak akan memaksakan kehendak pada wanita di hadapannya ini. Bagaimanapun yang diutamakan tetaplah kenyamanan sosok wanita yang pernah dekat dengannya. Akhirnya dua mobil itu mulai bergantian keluar dari pelataran rumah Almeera. Istri Bara itu memimpin laju mobilnya dan diikuti Fadly di belakang.
...🌴🌴🌴...
Di rumah sakit.
Dua sosok pria terlihat duduk dengan nyaman di depan ruang ICU. Mereka sama-sama menunggu kabar apa yang akan dibawa oleh dokter. Namun, sekalipun itu tak ada kabar bahwa kapan Narumi akan sadar.
Tak lama, tirai jendela ICU mulai terbuka sesuai dengan jadwal kunjung para keluarga melihat pasien dari sebuah kaca pembatas. Bara dan Jimmy mendekat, dua pria itu menatap datar ke arah wanita yang masih terbaring lemah disana.Â
Wajah Narumi masih nampak pucat. Bahkan mata itu masih begitu nyaman untuk terpejam. Ada perasaan kasihan dalam diri Bara dan Jimmy. Mereka berdua sangat menyayangkan sikap Narumi yang sangat sempit.
"Apa dia akan mati?" tanya Jimmy dengan jujur.
Spontan kepala Bara menoleh. Dia memukul pantat kakak iparnya dan membuat Jimmy terjingkat kaget.Â
"Kenapa memukulku?" tanya Jimmy dengan tampang tak berdosa.Â
"Mulutmu terlalu pedas."
"Aku hanya bertanya?" seru Jimmy dengan santai.
"Tapi pertanyaannya keliru."Â
"Yayaya. Aku hanya bercanda. Kenapa jadi garing?"Â
"Mukamu tak cocok untuk diajak bercanda. Terlalu garang menurutku," ujar Bara apa adanya.Â
Jimmy hanya mengedikkan bahunya tak acuh. Jujur dia tadi hanya ingin mencairkan suasana. Perasaan kasihan di antara keduanya membuat mereka hanya saling diam.Â
__ADS_1
"Oke oke."
Keduanya kembali menatap ke arah ruang ICU. Mereka menatap beberapa alat penunjang kehidupan yang menempel dalam tubuh Narumi. Hingga suara seorang perempuan membuat keduanya berbalik.
"Sayang," panggil Bara dengan senyuman lebarnya.
Namun, senyuman itu perlahan menyusut saat melihat sosok pria yang berdiri di dekat istri dan putrinya. Mode garangnya kembali muncul dan dengan cepat dia melangkahkan kakinya ke arah Almeera.
"Sedang apa kau kemari?" kata Bara dan menarik tubuh Almeera ke belakang tubuhnya.
"Aku hanya ingin mengantar Almeera ke rumah sakit," sahut Fadly dengan santai.
"Apa kau lupa bahwa dia adalah istriku?" sembur Bara yang mulai terpancing emosi.
Jimmy hanya menonton mereka. Dia malah asyik bersedekap dada seperti sedang menonton drama korea berjudul pertengkaran suami dan mantan gebetan. Mengingat pikirannya itu, Jimmy malah hanya bisa menahan tawanya.Â
"Mas."Â
"Diam, Meera," seru Bara tanpa menoleh.
"Aku ingat. Bahkan aku sangat ingat jika Almeera adalah istri yang dipoligami."Â
Telak.
Bara seakan mendapatkan tamparan nyata dadi Fadly. Pria itu seakan mengingat kebodohannya di masa lalu dan membuatnya hanya bisa diam.
"Kak!" seru Almeera bergerak di samping suaminya. "Kakak tak berhak menilai suamiku seperti itu. Bagaimanapun dia, Mas Bara tetap suami dan ayah terbaik untukku dan kedua anakku."
Jujur Almeera tak menyukai cara Fadly yang mengingatkan suaminya tentang kesalahannya. Dia tak suka orang-orang ikut campur dalam rumah tangganya. Apalagi menilai sosok yang tak pernah tahu bagaimana sosok Bara dari dalam dan luarnya.
"Tapi, Meera…"Â
"Kumohon jangan memperkeruh keadaan. Suamiku tetaplah manusia biasa. Dia pasti memiliki salah dan khilaf. Tapi apapun itu, saat ini suamiku sudah berani menebus kesalahannya."Â
Fadly hanya bisa diam. Dia merasa menyesal karena perkataannya yang juga terpancing emosi Bara. Namun, sebenarnya ia tak berniat menjudge sosok Bara. Tapi mengingat bagaimana dulu Almeera diduakan, entah kenapa membuat dia tak terima.
"Maafkan aku, Ra. Aku tak bermaksud seperti itu kepadamu," kata Fadly dengan menyesal.
Almeera hanya bisa menghela nafas berat. Dia bahkan sampai hampir melupakan putrinya yang masih ada di belakang tubuhnya dengan tangan digenggam.
"Lain kali tolong hargai suamiku."Â
Fadly hanya mengangguk. Hingga tiba-tiba perhatian semua orang tertuju pada sosok dokter yang baru saja datang. Mereka sama-sama menoleh sampai Jimmy memekik saat melihat tubuh wanita yang sangat mereka harapkan mengalami kejang-kejang.Â
"Bar...Narumi, Bar!" pekik Jimmy menunjuk kaca ICU.Â
__ADS_1
Saat mereka semua mendekat. Tirai itu sudah tertutup yang membuat mereka sama-sama menunggu kabar. Bara mengajak istri dan kedua anaknya duduk di ruang tunggu. Begitupun Fadly dan Jimmy.Â
"Mas," panggil Almeera pada Bara.
"Ya?"Â
"Jangan khawatirkan Narumi. Dia pasti baik-baik saja," kata Almeera saat melihat wajah Bara tak semangat.
"Apa kamu berpikir aku sedang memikirkan Narumi?" tanya Bara meraih tangan istrinya.
"Ya." Almeera mengangguk dengan jujur.
"Aku bukan memikirkan dia tapi aku ingat perkataan pria yang bersamamu," seru Bara melirik sosok Fadly yang berbincang dengan Jimmy. "Ucapannya tak salah, Meera. Mas memang sudah menduakanmu."
"Bukankah Mas sendiri yang mengatakan ingin memulai semuanya dari awal?"Â
"Itu memang benar, tapi…"Â
"Gak ada kata tapi, Mas. Selagi Mas mau berubah maka aku dan anak-anak akan terus bersamamu."Â
Tanpa sepengetahuan Bara dan Almeera. Sejak tadi Fadly mendengar semuanya. Dia bahkan sampai mencuri pandang dengan sesekali melirik pasangan suami istri itu saat berbincang dengan kakak dari Almeera.
Ada hatinya yang merasa cemburu. Dia memang masih menyimpan perasaan pada Almeera. Namun, Fadly sadar bahwa semuanya juga merupakan kesalahan dirinya di masa lalu.Â
Dia malah pergi meninggalkan Almeera tanpa menyatakan cintanya terlebih dahulu. Hingga sampai sekarang, dirinya lagi-lagi harus terlambat dengan pria yang sudah mendapatkan separuh jiwa dari wanitanya.
"Kau pasti menyukai adikku, 'kan?"Â
Fadly spontan memalingkan wajahnya. Dia merasa seperti pencuri yang ketahuan.Â
"Almeera memang baik. Bahkan dia begitu tulus dan mau menerima kesalahan Bara sebesar apapun," kata Jimmy yang disetujui oleh Fadly.
"Bara adalah pria yang beruntung. Jika wanita diluar sana memilih pergi. Maka Almeera tidak. Dia tetap bertahan sekuat apapun."Â
"Ya. Demi kedua anaknya," kata Jimmy menambahi. "Aku hanya berharap semoga Bara benar-benar menyesal dengan kejadian kemarin. Jika dia melakukan hal itu lagi, maka aku yang akan menikahkan Almeera denganmu."Â
Saat Fadly hendak menyahut, perhatian mereka semua kembali tertuju pada seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang ICU. Tentu mereka yang menunggu segera beranjak berdiri. Berjalan menuju pria bersneli putih dan menunggu berita apa yang dibawa oleh dokter tersebut.
"Bagaimana keadaannya, Dokter?" tanya Almeera tak sabar.Â
"Puji Tuhan. Pasien sudah sadar dan dia memanggil nama Bara sejak tadi."Â
~Bersambung
Wehh ya toh! Mau apa lagi si Sarimi ini. Kok gak habis-habis bikin orang gedeg.
__ADS_1
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.