Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Zelia VS Narumi


__ADS_3


...Berkatalah dengan baik dan simpanlah perkataan buruk. Apapun yang kamu bicarakan, jangan lupakan jika ucapan itu bisa menjadi doa untuk dirimu sendiri....


...~JBlack...


...🌴🌴🌴...


Baru saja Zelia melangkah, dia berbalik karena tasnya ketinggalan di dalam mobil. Namun, tatapannya tertuju pada sebuah mobil yang berhenti di depan rumah sahabatnya. Dia menatap curiga sampai kendaraan itu pergi dengan sendirinya.


"Kenapa mobil itu begitu mencurigakan?" gumam Zelia sampai tak sadar bahwa Jimmy mendekati dirinya lagi. 


"Kenapa masih diam?" 


Zelia berjingkat kaget. Dia menatap tubuh Jimmy yang ada di sampingnya. Perempuan itu merasa kesusahan menelan ludahnya setiap berada di dekat pria itu.


"Hey. Ayo!" 


"Sebentar!" Zelia menahan langkah Jimmy yang sedang menggendong Bia.


Hal itu tentu membuat tatapan keduanya lekas bertemu. 


"Oh maaf. Aku…" 


"Tidak apa-apa. Katakan!" ucap Jimmy menatap bola mata Zelia.


"Aku merasa ada orang yang mengintai rumah ini," ucapan Zelia membuat Jimmy tersenyum tipis. 


"Kamu peka juga ternyata," sahut Jimmy yang semakin membuat Zelia bingung. 


"Maksudnya?" 


"Tak ada. Lupakan saja apa yang kamu lihat!" 


Zelia menatap Jimmy dengan bingung. Dia benar-benar merasa kakak sahabatnya itu aneh. Tapi apapun itu Zelia segera mengambil tasnya dan menyusul Jimmy yang sudah tidak terlihat. 


...🌴🌴🌴...


"Assalamualaikum," ucap dua orang yang baru saja masuk dengan salah satunya menggendong bocah berumur 5 tahun.


"Waalaikumsalam," sahut pasangan suami istri yang ternyata sedang duduk di ruang tamu dan menunggu kehadiran mereka. 


"Zelia," pekik Almeera terkejut dengan mata melebar.


"Hai," sapa balik Zelia lalu keduanya saling berpelukan.

__ADS_1


Jika mengingat kapan pertemuan terakhir keduanya. Itu sudah lumayan lama. Ternyata huru hara yang terjadi di dalam rumah tangganya, membuat Meera jauh dari kedua sahabatnya.


"Bia tidur, Kak?" tanya Meera pada Jimmy.


"Ya," sahut Jimmy mengangguk. 


"Ayo aku antar ke kamarnya!" 


"Biar aku saja, Ra," kata Jimmy sambil melirik Zelia. "Lebih baik kamu temani temanmu itu." 


Almeera menatap Zelia. Dia tahu betul maksud kakaknya itu apa. Akhirnya dia membiarkan Jimmy membawa anaknya ke kamar bersama Bara dan dia mengajak Zelia duduk di sofa ruang tamu.


"Bagaimana bisa kamu bersama kakak dan kedua anakku?" tanya Almeera dengan heran.


"Ya. Aku tak sengaja bertemu putrimu itu. Aku menyapanya dan ya kita bermain bersama," kata Zelia menceritakannya.


Tak ada yang ditutupi apapun oleh Zelia. Gadis itu menceritakan semuanya dengan jujur. Awal pertemuannya dengan Bia, lalu bermain bersama dan terakhir Bia mengajaknya ke rumah Almeera.


Tentu penjelasan Zelia membuat istri Bara itu tersenyum. Dia tak menyangka jika putrinya memiliki maksud terselubung. Almeera tentu tahu kenapa putrinya memaksa Zelia sampai seperti ini. 


"Udah gak papa. Kalau gak dipaksa, kamu gak bakalan sampai kesini," ucap Almeera dengan jujur.


"Iya sih." Zelia mengangguk. Lalu tak lama dia mengingat sesuatu yang tadi diceritakan oleh Bia. "Oh ya, apa benar pelakor itu tinggal disini?" 


Zelia memegang kedua bahu sahabatnya itu. Dia menatap lekat mata Almeera yang sedang menghindarinya.


"Oke...oke." Almeera melepaskan kedua tangan Zelia dari pundaknya.


Sebenarnya dia adalah sosok yang paling tak bisa menahan apapun dari Adeeva dan Zelia. Dua orang itu adalah tempat terbaiknya untuk bercerita. Namun, kesibukannya kali ini, membuat Almeera sejenak lost contact dengan mereka.


Perlahan Almeera mulai menceritakan semuanya pada Zelia. Dari perceraian Bara dengan Narumi. Lalu aksi nekat wanita itu dengan Adnan. Kemudian mantan istri suaminya yang berbohong tentang kelumpuhan. Tentu membuat kedua tangan Zelia terkepal kuat. 


Mata wanita itu berkilat marah. Nafasnya naik turun saat mendengar semua yang dikatakan oleh Almeera. Dia tak habis pikir jika pernah memiliki sahabat seperti Narumi. Wanita yang menurutnya tidak memiliki malu itu sungguh sangat menyebalkan. 


"Aku ingin bertemu dengannya, Ra!" ucap Zelia dengan yakin.


"Kau serius?" tanya Almeera penuh keraguan. "Jangan sampai dia tau sandiwara kita semua." 


Zelia mengangguk patuh. Dia akan ingat aksi yang sedang dimainkan oleh keluarga sahabatnya. Kali ini, dia hanya ingin bertemu Narumi. Mencoba berbicara pada wanita yang sangat berubah total tak seperti saat mereka bersahabat dulu.


Almeera perlahan mendorong salah satu pintu ruang tamu yang ada di lantai dasar. Kemudian dua wanita itu mulai masuk dan membuat sosok Narumi yang sedang bersandar pun menoleh. 


"Halo, Pelakor. Ah ternyata kau disini rupanya," kata Zelia saat pandangan keduanya bertemu.


Sahabat Almeera itu berjalan ke arah ranjang. Lalu dia duduk di samping Narumi yang terus memandangnya dengan tajam.

__ADS_1


"Kenapa kau menatapku seperti itu?" hanya Zelia dengan wajah polosnya. "Apa aku sangat cantik sampai bola matamu ingin keluar?" 


Spontan ucapan Zelia membuat Narumi segera merubah ekspresi wajahnya. Dia tak menyangka jika perempuan itu ada disini. 


"Maafkan aku, Ze. Aku terlalu banyak salah kepadamu," ucap Narumi pura-pura memelas menatap wajah Zelia dengan berkaca-kaca. "Aku khilaf, Ze. Aku minta maaf." 


"Kenapa kau meminta maaf kepadaku?" tanya Zelia dengan tatapan heran. "Bukankah yang kau sakiti hatinya itu Almeera?" 


Zelia menunjuk Almeera yang berdiri di dekat mereka. Dia tentu mengatakan itu karena memang kebenarannya. Disini untuk apa Narumi meminta maaf kepadanya. Mereka tidak memiliki masalah. Yang bermasalah hanya Narumi kepada istri Bara tersebut.


"Aku minta maaf karena hubungan kita tak baik. Aku tau pasti kamu malu punya sahabat sepertiku," lirih Narumi dengan menunduk.


"Wah...wah." Zelia bertepuk tangan. Dia geleng-geleng kepala saat melihat ekspresi mantan sahabatnya begitu menyedihkan. "Seharusnya sebelum kau jadi pelakor. Kau berpikir jika aku akan malu punya sahabat sepertimu!" 


"Merebut suami sahabatnya sendiri bahkan sampai menggodanya," sindir Zelia dengan tak pantang takut.


"Maaf," kata Narumi dengan suara dibuat semakin menyedihkan.


"Percuma kau minta maaf. Semua tak akan kembali seperti semula," kata Zelia apa adanya. "Ah ya, kata Almeera, kedua kakimu lumpuh? Benar?" 


Sungguh Zelia tak mampu menutupi kebenciannya. Wanita itu menatap Narumi dengan wajah tak percaya.


"Apa kakimu tak bisa merasakan apapun?" 


Sebelum Narumi menjawab. Zelia sudah menekan kaki itu dan membuat pemiliknya mengernyitkan sakit.


"Loh!" Zelia pura-pura bingung. "Katanya lumpuh tapi kok bisa ngerasain sakit?" 


"Syaraf kakiku masih bisa, Ze. Cuma gak bisa digerakin aja," kata Narumi sambil meremas sprei.


Jujur dia ingin sekali marah pada wanita di hadapannya. Remasan tadi membuat kakinya sakit. Berpura-pura lumpuh terkadang membuat kakinya menjadi kaku. 


"Ah. Aku baru tau. Biasanya orang lumpuh, tak bisa merasakan apapun," ujarnya lalu beranjak berdiri. "Aku keluar dulu yah." 


"Iya. Terima kasih, Ze." 


"Sama-sama," sahut Zelia dengan tubuh masih belum berpindah. "Semoga cepat sembuh, tapi kalau kamu berbohong. Semoga kamu lumpuh selamanya." 


~Bersambung


Gak Jimmy, Gak Zelia, mulutnya sama-sama pedes kek boncabe.


Aku aamiin Ze. Biar dia lumpuh beneran, haha.


Bab siang mulai panas lagi babnya yah.

__ADS_1


Oke siapin diri huhu.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2