Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Sosok Adeeva


__ADS_3


...Terkadang sakit hati menjadi obat mujarab agar seseorang semangat untuk menjadi lebih baik....


...~Almeera Azzelia Shanum...


...🌴🌴🌴...


Sedikit pertengkaran yang terjadi di samping rumah, tak membuat mood dan semangatnya menurun. Wajahnya tetap terlihat begitu bahagia saat mengingat bahwa hari ini adalah hari pertama untuk Almeera bekerja.


Dia tak mau memikirkan hal-hal yang tidak penting. Almeera tak mau menambah beban pikirannya yang bisa membuat wajahnya semakin kusam dan terlihat tua. Biarlah saat ini dia ingin egois. Egois demi kebahagiaan dirinya. Egois demi melindungi kedua anaknya dan kesehatan mental mereka. 


Akhirnya usai kegiatan sarapan mereka. Almeera langsung membawa mobil miliknya untuk mengantar putra pertamanya itu. Mungkin setelah ini, dia tak membutuhkan jasa supir lagi untuk Abraham. 


Mereka bisa berangkat bersama seperti saat ini dan itu membuat Almeera berpikir, jika putranya tak merasa diasingkan.


"Mama pulang jam berapa?" tanya Abraham saat mobil yang membawa mereka baru saja keluar dari gerbang rumah. 


"Jam 5 sore, Sayang. Kenapa?" tanya Almeera menatap putranya sekilas.


"Abra mau main basket nanti, Ma. Izin yah?" pamit Abraham dengan suara pelan.


Spontan perkataan putranya membuat Almeera menoleh sejenak. Dirinya sangat mengenal betul bagaimana Abraham itu. Jika putranya pergi bermain basket, maka ada sesuatu yang mengusik pikirannya.


"Abang baik-baik saja?" 


"Okey, Mama."


"Beneran?" tanya Almeera lagi.


Abraham menghela nafas berat. Jujur dia sangat amat tertekan dengan kelakuan papanya. Pembicaraan yang baru saja dia dengar tanpa sepengetahuan orang tuanya, membuat Abraham semakin membenci papa kandungnya itu.


Keegoisan Bara, ketidakadilan pria itu akan dua istrinya, tentu dilihat langsung oleh putra pertama kita. Hingga hal itulah yang membuat Abraham bisa menilai sendiri bagaimana sosok papanya. 


"Mama bukannya ngelarang, Abraham. Mama hanya bertanya saja, Nak," kata Almeera dengan suara pelan.


Dia mengulurkan tangannya dan mengelus pundak putra pertamanya itu. "Mama kasih izin." 


Abraham spontan menoleh. Dia melihat mamanya yang tersenyum kepadanya dengan begitu tulus. Sosok wanita yang luar biasa menurutnya, sosok ibu yang selalu ada untuk kedua anaknya. Tanpa mengenal lelah, Almeera benar-benar sudah membuktikan menjadi sosok ibu dan istri yang baik.


Semua itu tentu dipandang langsung oleh Abraham. Dulu ketika Almeera baru melahirkan Bia, mamanya itu masih mengurus dirinya. Bahkan ketika Bia selalu terbangun di malam hari. Almeera masih sanggup mengurusnya untuk berangkat sekolah di pagi hari. Semua itu sudah menjadi tanda. Tanda bahwa Almeera benar-benar mengutamakan keluarga daripada dirinya sendiri.


"Hati-hati ya, Sayang," kata Almeera setelah putranya keluar dari mobil.


Usai mengantar Abraham, Almeera segera melajukan mobilnya menuju perusahaan. Hari pertamanya kali ini akan diawali bersama putri kecilnya. Almeera menoleh ke belakang, dia melihat Bia yang bermain dengan boneka kesayangan dari papanya.


Sekian banyak boneka yang Bara belikan. Hanya boneka boba berwarna coklat itulah yang selalu dibawa kemana saja oleh Bia. Seakan keindahan boneka yang lain, tak dapat menggantikan keistimewaan boneka boba itu. 


Saat Almeera baru saja memasuki perusahaan. Sebuah suara memanggilnya membuat ia menoleh.

__ADS_1


"Maaf, Nona. Tuan Jonathan meminta Anda ke ruangannya terlebih dahulu," kata wanita berpakaian rapi yang Almeera kenal sebagai sekretaris kakaknya.


Almeera tak menolak. Dia langsung menuju ke ruangan sang kakak sambil menggandeng tangan putrinya. Keduanya lekas masuk ke ruangan dan menemukan Jonathan yang sedang sibuk dengan ponselnya.


"Ada apa, Kak?" tanya Almeera setelah berdiri di dekat meja kerja Jonathan. 


Sosok pria itu mendongak. Dia terlihat bahagia saat melihat Almeera sudah ada di ruangannya.


"Maaf Kakak harus memanggilmu sepagi ini, Ra," kata Jonathan dengan wajah begitu bingung.


"Ada apa? Kenapa Kakak terlihat gelisah?" 


"Sebelumnya aku minta maaf, Ra. Aku tak bisa mengabulkan permintaanmu." 


"Apa maksud, Kakak?" 


"Mulai hari ini kamu harus bekerja sebagai general manager." 


"Hah! Kok berubah?" kata Almeera terkejut setengah mati.


"Maafkan Kakak, Ra. Kakak harus kembali ke perusahaan Kakak sebentar. Ada masalah di sana," kata Jonathan dengan tatapan penuh harap.


Almeera meringis. Selama ini dirinya terlalu merepotkan sang Kakak. Perusahaan yang seharusnya menjadi miliknya malah dioperasikan oleh Jonathan. Lalu sekarang, ketika melihat wajah Kakaknya yang begitu berharap kepadanya. 


Apakah dirinya bisa menolak setelah semua kebaikan yang Jonatan berikan kepadanya?


"Bagaimana?" tanya Jonathan dengan pandangan lekat ke arah Almeera.


"Oke aku mau, Kak."


Jonathan bernafas lega. Dia mengelus dadanya berulang kali dengan mengucapkan syukur.


"Karena kamu mau kembali bekerja dan menerima jabatan ini. Ya mungkin terkesan memaksa karena keadaan Kakak. Ada sedikit hadiah untukmu. Semoga kamu bahagia yah," kata Jonathan yang membuat Almeera mengangkat salah satu alisnya.


"Hadiah apa?" tanya Almeera penasaran.


"Tutup mata dulu dong." 


Setelah mata Almeera tertutup rapat. Jonathan membalikkan tubuh adiknya agar menatap ke arah pintu ruangan. 


"Setelah hitungan ketiga. Kamu buka mata, okey?"


"Yes." 


"1...2...3...buka!"


Perlahan mata Almeera terbuka. Dia menyipitkan matanya saat pandangan itu buram. Matanya masih menyesuaikan dengan terangnya lampu ruangan hingga tiba-tiba matanya terbelalak.


Mulutnya menganga tak percaya saat melihat sosok di depannya itu.

__ADS_1


"Adeeva."


"Almeera."


Dua wanita itu berlari mendekat. Tanpa aba-aba keduanya berpelukan dengan erat. Seakan rasa rindu itu membuat mereka tak ingin melepaskan pelukan antara satu dengan yang lain.


Adeeva, wanita single dengan umur yang sama dengan Almeera adalah sosok sahabat dari adik Jonathan sejak SMA. Dia adalah salah satu sahabat terbaik yang dimiliki Almeera saat itu. Hingga Almeera yang menikah dan ikut suaminya, membuat hubungan keduanya sempat terputus komunikasi. 


"Kamu apa kabar?" kata Adeeva setelah melepaskan pelukannya. 


Dia meneliti penampilan Almeera dari atas sampai bawah. 


"Sepertinya berat badanmu naik?"


Almeera terdiam. Dia tak menyangkal akan hal itu. Permasalahan yang terjadi pada keluarganya, membuat Almeera tak peduli pada pola makannya. Semua makanan yang mulanya tak pernah dia makan akhirnya dirinya makan. Entah itu junk food, gorengan, makanan berlemak semua dia makan.


Hingga selama seminggu tentu kenaikan berat badannya sangat amat kentara. Karena hal itulah, baju-baju kerjanya banyak yang tak cukup karena tubuhnya melebar. Padahal Almaera masih mengingat, awal pertama suaminya poligami, dia semakin kurus. Namun, lama kelamaan untuk menghilangkan stress dan beban pikiran, Almeera lari pada makanan. 


"Ya begitulah. Apa aku jelek?" tanyanya sambil berkacak pinggang.


"Oke...oke. Kalian lanjutkan temu kangennya dulu. Biar Kakak yang mengalah," pamit Jonathan dengan tersenyum pada adiknya.


Almeera tersadar. Dia meringis tak enak hati pada kakaknya itu.


"Gapapa lanjutin dulu, Ra. Toh kalian sudah lama tak bertemu."


Setelah kepergian Jonathan. Almeera kembali menatap Adeeva. Dia menatap sosok gadis itu dengan lekat. Banyak perubahan pada diri sahabatnya itu. Sosok Adeeva semakin terlihat cantik. Tubuhnya begitu ramping dengan beberapa sudut berkembang dengan baik.


"Kamu rajin olahraga yah?" tebak Almeera yang membuat Adeeva terkekeh.


"Tentu saja, Ra. Bukankah ini juga saranmu untuk selalu menjaga kesehatan," sahut Adeeva dengan mengangkat salah satu alisnya.


Almeera mengangguk. Dia masih mengingat bagaimana dulu Adeeva memiliki tubuh yang gemuk. Hingga suatu hari saat Almeera melihat sahabatnya dibully oleh teman-temannya, dia meminta Adeeva diet dan olahraga.


Tak lama sebuah pikiran mengusik dirinya. Kenapa dia tak mencoba untuk olahraga bersama Adeeva. Jika ada temannya pasti dia lebih semangat.


"Va?" 


"Ya," sahut Adeeva dengan cepat.


"Temani aku ngegym lagi yok. Aku mau diet dan punya badan kayak dulu lagi."


~Bersambung


Yok mangat yok, Mbak Meera!


Pasti bisa seksi loh, hihi.


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author makin semangat updatenya.

__ADS_1


__ADS_2