
...Sebaik-baiknya hatiku jika itu sudah menyangkut keluarga. Maka aku akan berdiri di garda terdepan untuk melindungi mereka....
...~Almeera Azzelia Shanum....
...🌴🌴🌴...
Bara mengepalkan kedua tangannya. Kilat marah terlihat di kedua matanya. Bukan karena dia merasa tertipu oleh wanita itu. Melainkan, kenapa dulu dia bisa mencintai wanita ini dan menyakiti istri yang tulus sayang kepadanya.Â
Dia adalah pria bodoh yang mudah ditipu daya oleh wanita ular itu. Bermodalkan wajah manis dan lugunya, Bara terjatuh dan terjerumus hingga tanpa sadar mengorbankan hati anak dan kedua istrinya.Â
"Mas," panggil Almeera lembut dan mengusap lengannya. "Jangan marah."Â
Bara memejamkan matanya sejenak. Lalu membukanya dan menatap bola mata istrinya yang selalu meneduhkan hati. Wajah cantik yang mampu membuatnya tenang itu terlihat begitu sabar menghadapi segala sifatnya selama ini.Â
Ayah dua anak itu lekas menarik nafasnya begitu dalam dan dihembuskannya secara kasar. Dia berusaha meredakan emosi yang memuncak agar istrinya itu senang.Â
"Apa kau tak malu dengan sifatmu yang seperti ini tapi keadaanmu sangat mengenaskan?" todong Bara berkata pada Narumi.Â
"Apa maksudmu?" seru Narumi yang sedang memegang erat di jeruji besi.Â
"Kakimu sudah tak ada, matamu buta. Tapi kenapa kau tak mau bertobat?"Â
"Hahaha." Narumi tertawa bertepuk tangan.
Dia memainkan tangannya di atas rambut dan mengusapnya secara acak. Penampilannya benar-benar membuat siapapun merasa iba dengan keadaannya.Â
"Tobat...tobat. Adnan kau dengar dia, Sayang?" teriaknya sambil tertawa histeris. "ATM berjalan kita berbicara kepadaku?"Â
Bara hanya bisa menghela nafasnya begitu berat. Lalu dia segera menatap istri dan pengacaranya bergantian.Â
"Ayo, Pak! Saya akan memberikan keputusannya di luar," kata Bara kepada pengacaranya.
"Siap, Pak Bara."
Mereka segera berjalan meninggalkan Narumi. Namun, suara langkah kaki yang menjauh membuat perempuan itu kembali berteriak histeris.Â
"Hey kalian mau kemana?"Â
"Mas Bara jangan tinggalkan aku!"
"****** laknat kau, Almeera. Kau harus mati!"Â
Teriakan tiap teriakan tentu sangat terdengar di telinga Bara dan Almeera. Bahkan tanpa sadar perempuan itu meremas lengan Bara saat kalimat menyakitkan keluar dari mulut mantan istri suaminya.
__ADS_1
"Jangan dengarkan dia, Sayang! Dia gila," kata Bara mencoba menenangkan istrinya.Â
Almeera membuka matanya. Dia menganggukkan kepalanya mencoba melupakan perkataan menyakitkan yang Narumi lontarkan. Setelah itu mereka segera keluar dari kantor polisi dan mencari tempat yang cocok untuk mengobrol.
Akhirnya setelah mencari tempat yang tepat. Ketiganya menemukan dua buah kursi panjang yang berhadapan dibatasi sebuah meja. Bara dan Almeera duduk berhadapan dengan pengacaranya.
"Bagaimana, Pak?" tanya sang pengacara menatap Bara.
Pria itu tak menjawab. Dia malah menatap istrinya hingga membuat Almeera kebingungan.Â
"Kenapa, Mas?" tanya Almeera pada suaminya.
"Aku serahkan semuanya sama kamu, Sayang. Hukuman Narumi berhak kamu tentukan," ucap Bara lembut sambil menepuk pantat Bia yang tubuhnya menggeliat dalam gendongan.
"Tapi, Mas…"Â
"Kamu yang pantas mengambil keputusan. Dia telah menyakitimu dan anak-anak."Â
Jika sudah begini Almeera tak bisa memaksa suaminya. Dia memijat kepalanya saat rasa bingung hinggap di kepalanya. Bagaimanapun apa yang dia putuskan akan mempengaruhi kehidupan seseorang.
Masih terbayang bagaimana keadaan Narumi yang memprihatinkan dan begitu menyedihkan. Almeera tentu merasa sangat kasihan. Namun, kejahatan yang dilakukan oleh wanita itu pada keluarganya, membuat jiwa keibuan Almeera muncul.Â
"Saya ingin dia dibawa ke rumah sakit jiwa. Biarkan dia diobati dulu dengan pantauan polisi. Saya tak mau dia lolos dari jeratan hukum, Pak," kata Almeera tegas yang membuat Bara tersenyum.
Jujur dia senang istrinya bisa mengambil keputusan yang tepat. Mengesampingkan rasa kasihan dan mengutamakan keselamatan mereka dan keluarganya.
"Terima kasih banyak, Pak. Terima kasih sudah membantu kasus ini sampai proses pengadilan."
"Sama-sama, Bu Meera."Â
...🌴🌴🌴...
Sedangkan di tempat lain, seorang perempuan yang sedang terbaring di atas ranjang mulai menggeliat. Dirinya merasa tubuhnya jauh lebih baik sekarang. Amarah yang tadi berkobar sudah meredup diiringi dirinya yang tenggelam di dasar mimpi.
Perlahan tubuhnya terlentang. Meregangkan otot-ototnya hingga suara lenguhan dengan diikuti mata terbuka secara perlahan. Tangannya mengusap kedua matanya secara pelan lalu dia menatap sekeliling hingga mengingat kejadian sebelum dirinya tidur.Â
Ini adalah ruangan pribadi suami sahabatnya. Dirinya tak sengaja ketiduran saat bercerita dengan sahabatnya, Almeera. Namun, kemana mereka saat ini. Kenapa ruangan ini terasa sangat sepi dan tak ada suara apapun.
Perlahan dia mengangkat tubuhnya. Adeeva mencoba duduk sambil merapikan rambutnya yang berantakan.Â
Perempuan itu menghembuskan nafas kasar saat mengingat masih banyak pekerjaan yang harus dia kerjakan. Namun dia akan membawany pulang karena tak mau bertemu dengan pria itu lagi.
Tanpa kata, Adeeva segera keluar dari ruangan Bara. Hingga tanpa sengaja matanya menangkap seorang pria yang sedang tertidur dengan posisi duduk di sofa yang berada di ruangan Bara.
"Siapa dia?" gumam Adeeva lalu semakin mendekati sosok yang hanya terlihat kepala belakangnya.
__ADS_1
Saat sampai di dekatnya. Mata Adeeva terbelalak. Pria yang sangat membuatnya kesal itu ternyata ada disini.Â
"Kenapa dia tidur disini?"Â
Tak mau melihat wajah Reno. Adeeva segera berjalan menuju pintu ruangan Bara. Dia segera membukanya dan menutupnya hingga menimbulkan suara yang membangunkan sosok Reno.Â
"Siapa disana?" Reno segera meletakkan laptop yang ada di pangkuannya di atas meja.
Lalu dia segera menyusul membuka pintu itu dan melihat sosok yang diminta Bara untuk menjaganya sedang membereskan segala peralatan miliknya di meja kerja Reno.Â
"Adeeva!" panggil Reno yang tentu tak mendapatkan jawaban.Â
Adeeva benar-benar menulikan telinganya dan mengabaikan keberadaan pria itu. Dia masih mengingat kejadian tadi siang. Bagaimana pakaiannya yang basah ketika dia sudah lelah dengan pekerjaannya.Â
Tawa bahagia Reno juga masih terngiang-ngiang di kepalanya. Ditambah wajahnya yang menyebalkan semakin membuat Adeeva ingin segera pergi dari sini.
"Adeeva!" Reno mulai kesal karena diabaikan.Â
Pria itu segera berjalan mendekati wanita yang merupakan sahabat dari istri bosnya. Dia segera meraih lengan wanita itu, hingga membuat Adeeva menajamkan matanya.
"Lepasin!" serunya dengan marah.
Mata Adeeva melotot tajam. Dia benar-benar tak mau berhadapan lagi dengan Reno. Apalagi satu ruangan dan satu pekerjaan membuatnya tak betah untuk berlama-lama disini.
"Mau kemana!"Â
"Bukan urusanmu!" sentak Adeeva dengan marah.
"Itu urusanku!" seru Reno tak kalah garang. "Bara menitipkanmu kepadaku."
"Aku bukan anak kecil lagi!" ujar Adeeva dengan tegas. "Aku tak butuh siapapun."Â
"Terserah kamu mau bilang apapun! Yang terpenting, sebelum Bara sampai, kamu adalah tanggung jawabku!"Â
Adeeva mengepalkan kedua tangannya. Dia kembali merasa kesal akan sikap Reno yang mencoba mengintimidasi dirinya. Dia tak suka diatur-atur. Apalagi oleh pria yang menyebalkan.
"Lebih baik urus urusanmu sendiri!" pekik Adeeva dengan marah. "Aku akan pulang dan aku berjanji tak akan menginjakkan kakiku lagi disini."Â
Nafas Adeeva memburu. Dia menghentakkan tangan Reno hingga cengkraman tangannya terlepas.
"Aku benci padamu dan aku tak mau melihat wajahmu lagi!"Â
~Bersambung
Hiyaa kapok we Ren! Deeva ngamuknya gak main-main loh.
__ADS_1
Yang minta kisah Reno Adeeva, Jimmy dan Zelia sabar yah. Gantian, ini kan novelnya mbak meera. Tapi khusus Reno sama Adeeva bakalan disini sampai akhir. Kalau Jimmy ada novelnya sendiri.
Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.