Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku

Berbagi Cinta : Hasrat Terlarang Suamiku
Kotak Misterius Untuk Adeeva


__ADS_3


...Pria ini benar-benar tak menyerah. Bahkan hal gila seperti ini dia lakukan agar aku memberikan maaf. ...


...~Adeeva Khumairah ...


...🌴🌴🌴...


"Apa Papa dan Mama tahu, kalau Kak Jim berhubungan dengan sahabatku, Mas?" tanya Almeera saat dirinya baru selesai membantu Bia membersihkan diri. 


Dia segera masuk ke dalam kamar untuk membersihkan dirinya juga sekaligus menemui sang suami yang tak kunjung keluar dari kamar.


"Sepertinya belum. Daddymu juga sibuk dengan urusan kantor, 'kan? Aku lihat dia terus berada di ruang kerjaku dan berhubungan dengan sekretarisnya," kata Bara sesuai dengan penglihatannya.


"Iya sih. Sepertinya keberadaan Papa sama Mama disini, membuat pekerjaannya sedikit terganggu," ujar Almeera dengan jujur. 


"Tapi mereka tak pernah mengatakan itu, Sayang. Semua demi Bia," ucap Bara sambil mengusap kepala istrinya yang sudah melepaskan jilbab. "Mandilah dengan air hangat. Ini sudah terlalu malam."


"Baiklah, Mas. Aku mandi dulu "


Setelah istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Bara segera keluar dari kamar. Bersamaan dari samping kamarnya, terlihat putranya yang juga baru saja keluar. 


"Sudah mandi?" 


"Udah, Pa," sahut Abraham lalu mendekati papanya.


"Kamu mau kemana?" 


"Ke bawah," sahut Abra lalu berjalan berdampingan dengan sosok papanya.


"Gimana kalau kita main PS?" tawar Bara yang membuat Abraham menoleh.


Remaja itu tak menyangka jika papanya mengajaknya bermain sesuatu yang dulu menjadi kebiasaan keduanya. Mereka selalu bermain PS dan mempermainkan permainan bola serta keduanya  taruhan. Jika yang kalah akan mentraktir yang menang apapun itu. 


"Oke. Taruhan, Pa?" kata Abraham saat mereka mulai menuruni tangga.


"Deal." 


Bara merangkul putranya menuju ruang tamu. Mereka segera duduk di atas karpet setelah menyalakan PS dan televisinya. 


"Yah, Papa. Real Madrid aku," keluh Abra mencebik tak suka.


"Siapa cepat, dia dapat," sahut Bara mengangkat bahunya tak acuh.


Jika sudah begini, Abraham tak bisa memaksa papanya untuk bertukar tim. Dia segera memilih tim yang lain untuk melawan Bara malam ini. 

__ADS_1


Waktu yang sudah menunjukkan pukul sembilan malam, tak membuat keduanya merasa lelah. Bahkan bibir mereka begitu heboh ketika lagi-lagi tendangan mereka dihalangi oleh satu dengan yang lain.


"Papa curang!" seru Abraham dengan mata terus menatap layar yang menyala.


"Biarin!" sahut Bara tak kalah fokus.


"Papa!" seru Abraham saat Bara berhasil memasukkan bola ke gawangnya.


"Hahaha. Yah, Abang kalah!" ejek Bara menjulurkan lidahnya. 


"Waktu masih banyak. Abra pasti bisa ngalahin, Papa." 


"Papa tunggu!" 


Kehebohan mereka tentu menarik perhatian Almeera yang baru saja turun dari tangga. Dia melihat suami dan anaknya begitu heboh. Bersamaan dengan itu, Mama Tari dan Papa Darren juga baru saja keluar dari kamarnya saat kehebohan mereka semakin menjadi.


"Suami dan anakmu?" tebak Papa Darren sambil geleng-geleng kepala.  


"Iya, Pa. Siapa lagi jika bukan mereka." 


"Bia kemana?" tanya Mama Tari bersamaan mereka menyusul Bara dan Abraham.


"Udah tidur, Ma. Kelamaan di mall, dia kecapekan." 


Ketiganya segera ikut bergabung duduk di atas karpet. Mereka sama-sama saling mensupport antara Bara dan Abraham. Kehebohan dari bibir mereka tentu membuat siapapun yang mendengar, merasa iri.


...🌴🌴🌴...


Keesokan harinya, seperti biasa, Adeeva akan membacakan semua jadwal setiap pagi pada atasannya, Jonathan. Dirinya lah yang selalu mengingatkan setiap pertemuan Jonathan dengan para rekan bisnisnya.


"Pak Jonathan memiliki pertemuan dengan Pak Bara setelah jam istirahat," kata Almeera membacakan setiap kegiatan Jonathan hari ini. 


"Baiklah. Kamu siapkan segalanya, Deeva," ucap Jonathan menatap sekretaris andalannya.


"Siap, Pak."


Setelah tak ada lagi hal yang dibicarakan. Adeeva segera keluar dari ruangan Jonathan. Dia mengeluarkan laptopnya dan mulai menyiapkan berkas yang akan dipakai atasannya untuk melakukan meeting bersama rekan bisnisnya hari ini.


Perempuan itu benar-benar tak pernah mengeluh sedikitpun. Walau dia merasa tak enak badan, Adeeva selalu berusaha untuk masuk kerja daripada absen. Seorang wanita perfeksionis yang sangat amat menjaga pekerjaannya.


Dia bahkan tak pernah meminta bantuan siapapun selagi ia bisa mengerjakannya sendiri. Hal itulah yang membuat Jonathan senang bekerja dengan Adeeva.


Dia berbeda dengan sekretaris yang lain. Pakaiannya tak pernah ketat. Bahkan dia tak pernah mencuri pandang pada Jonathan yang notabenenya memiliki wajah tampan. Tingkah lakunya yang sopan dan santan serta ramah pada siapapun, membuat mereka yang ada di dekat Adeeva merasa nyaman. 


Saat dirinya terlalu fokus dengan pekerjaannya. Suara ketukan sepatu dengan lantai membuatnya menoleh. 

__ADS_1


"Loh, ada apa, Pak?" tanya Adeeva mengerutkan keningnya dengan kedatangan satpam kantor yang membawa sebuah kotak lumayan besar.


"Ini ada paket buat, Mbak Deeva," kata satpam itu dengan ramah.


Adeeva menatap kotak berwarna hitam dengan pita merah itu. Dia segera meminta satpam tersebut meletakkan paket itu di atas mejanya.


"Dari siapa, Pak?" tanya Adeeva melihat tak ada nama pengirim disana.


"Gak tau, Mbak."


"Terus yang anter ini, siapa?" tanya Adeeva semakin merasa bingung.


Selama ini ia tak pernah mendapatkan paket selain paket belanjaan online. Dirinya juga tak memiliki kekasih atau teman spesial yang akan mengirimkan paket untuknya.


Lalu dari siapa paket ini? 


"Itu, Mbak. Yang anter ini, Mas-Mas ganteng banget. Pakaiannya rapi kek kantoran gitu." 


Penjelasan satpam itu semakin membuatnya bingung. Akhirnya Adeeva hanya mengangguk dan mengucapkan terima kasih.


Setelah kepergian satpam tersebut. Dia segera mendudukkan dirinya kembali. Matanya menatap kotak itu dengan penasaran.


Apa isi di dalamnya? 


Dirinya merasa seperti ada di film-film yang tayang di televisi saat mendapatkan kotak misterius. Adeeva bergidik ngeri membayangkan jika di dalamnya berisi tikus mati atau darah. Namun, Adeeva segera mengusir pikiran gilanya saat menyadari ia tak pernah punya musuh. 


Akhirnya tak mau semakin menebak-nebak. Adeeva segera menarik pita merah itu. Jantungnya semakin berdegup kencang saat pita yang melilit kotak itu mulai terbuka. 


Tanpa kata dirinya mengangkat penutup kotak itu, hingga terlihat isi di dalamnya. 


"Astaga!" Adeeva terpekik terkejut.


Matanya membulat penuh menatap sekotak coklat yang begitu banyak. Bahkan bukan itu saja, terdapat setangkai bunga mawar dan sebuah surat yang ada disana. 


Hatinya sedikit tersentuh dengan isi di dalam kotak itu. Apalagi Adeeva hanyalah seorang wanita. Suka hal-hal yang berisi kejutan tak terduga.


Tak mau membuatnya semakin bingung. Dia segera membuka surat itu. Membaca deretan kalimat yang tertulis rapi di sana hingga sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas, menampilkan sebuah senyuman tipis.


Aku tak tahu apa yang kamu suka. Tapi menurut informasi yang aku ambil dari google. Jika wanita sangat menyukai coklat dan bunga. 


Kotak ini sebagai hadiah permintaan maafku. Mungkin harganya tak seberapa tapi aku benar-benar menyesal telah berkata pedas padamu.


^^^Reno^^^


~Bersambung

__ADS_1


Bang aku juga mau coklat, Bang. Beneran nih!


Jangan lupa klik like, komen dan vote yah. Biar author semangat ngetiknya.


__ADS_2